Sekolah yang kumuh masih kekar berdiri. Hanya dihuni 15 Siswa. Tempat duduk dari belahan bambu dan meja belajar yang sudah reyod.
"Ton satu hari lagi kita upacara agustusan. Malang kali kita, tidak punya tiang bendera di depan sekolah."ucap Empud pada Toni. Mengingatkan yang memang tiang dari bambu yang dulu sudah tutup usia di makan rayap.
"Pulang sekolah Okehlah kita cari bambu ke hutan. ajak Supri."
"Okeh...okeh.."Empud.
Mereka bertiga pergi ke hutan umum mencari bambu yang pas untuk tiang bendera. Toni sebagai ketua kelas merasa bertanggung jawab. Empud sebagai penashatnya. Dan Supri meskipun malas dapat juga di andalkan sebagai ajudan Toni. Ibarat dalam negara mereka macam tokoh penting.
Setengah hari mereka mendapatkan bambu yang bagus. Bambu di cet merah dan putin macam warna bendera.
"ingat pri. Cat yang bagus.jangan malas lagi kau. Pahlawan kita dulu gak malas memerdekakan kita."Empud.
"Okeh."Supri.
Setelah selesai merapihkan tihang. Mereka tes untuk percobaan. Mereka naikan bendera untuk di kibarkan. Bendera yang sudah tua. Mereka namai bendera pusaka. Bendera yang katanya sudah puluhan tahun. Warnanya juga berkharisma.
"Hormat...grak!"seru Toni mengangkat memberikan penghormatan dengan mengangkat tangan kanannya. Di taruh di ujunga kanan kening. Disusul penghormatan oleh Empud dan Supri.
Senja menguning.Setelah tes dan percobaan mereka bergegas pulang.
"Ojeh..Ojeh..besok kita jadi upacara 17 agustusan."Empud, sebelum pulang.
Mereka bertiga sumringah, tersenyum.