Pelajaran yang terakhir adalah sejarah. Bu Susi selaku guru sejarah mulai memberikan tugas kepada kami. Penjelasannya singkat, hanya menjelaskan pokok utamanya saja.
“Anak-anak materi kali ini tentang hari kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tugas kalian untuk materi ini adalah membuat rangkuman tentang apa yang terjadi di tanggal tersebut. Boleh melihat di internet. Tugas ini di kumpulkan minggu depan,” pinta Bu Susi. Bel pulang berbunyi.
Semua murid bergegas membereskan barang-barangnya yang ada di atas meja. Begitu juga denganku dan Sila.
“Mal, enaknya cari di media mana—“
“Di internet lah Sil. Gitu aja gaktau.” Andi memotong pembicaraan Sila.
“Aku juga tahu, tapi kan internet banyak. Ada Youtube, Google, dan sebagainya.” Sila menjelaskan menyusul Andi yang sudah berjalan lebih dulu.
Dua anak itu memang suka berdebat. Sampai aku bingung, bagaimana memisahkan dua bocah itu. Kali ini tugasku menumpuk banyak tugas kelompok dan individu.
Sekarang kami kelas 9 tidak lama lagi aku, Sila, dan Andi akan terpisah. Waktu berjalan sangat cepat, tidak terasa bulan depan kami akan menghadapi ujian akhir semester.
Di depan gerbang dua anak ini belum pulang, mereka masih berdebat. Mereka tidak mau kalah.
“Hei sudah. Dari tadi kalian di lihat orang-orang, suara kalian terdengar keras.” Aku mencoba melerai mereka berdua. Sila langsung menguncupkan mulutnya dan membuang muka. Sedangkan Andi memutar bola matanya malas.
Lengang sejenak.
“Kalau saja kita bisa melihat langsung hari Kemerdekaan itu. Mungkin Sila tidak akan bingung harus mencari materinya dimana,” Andi bersuara melirik ke arah Sila.
Sila mendengar ucapan Andi juga ikut melirik ke arahnya, mereka saling lirik sekarang. Lalu membuang muka secara saksama. Aku menepuk dahi.
“Mungkin seru.” Sila bersuara menjawab ucapan Andi. Andi mengangguk.
Suasana kembali lengang.
“Hei kalian jangan diam-diaman. Aku seperti tidak punya teman sekarang.” Mereka menoleh ke arahku lalu menoleh ke arah lain lagi. Sudahlah kalau sudah begini harus menunggu besok.
Kami bertiga sedang menunggu angkot dari tadi kendaraan itu tidak muncul-muncul. Kakiku sudah tidak kuat berdiri, aku melangkah menuju bangku yang ada di samping gerbang. Mereka berdua menyusul lalu ikut duduk.
Andi berkali-kali membenarkan posisi duduknya, seperti ada yang ganjal. Dia mulai kesal lalu berdiri.
“Waw apa ini.” Andi mengambil sesuatu yang berbentuk seperti jamur, ukurannya kecil, dan ada tombol di sampingnya.
Aku dan Sila sontak menoleh ke arah Andi. Benda itu berwarna putih kekuningan. “Wah... lihat Mala, benda ini unik sekali. Apa ini?” Andi bertanya kepada kami.
Aku mengangkat bahu lalu mendekat ke arah Andi. “Ets, bentar Mal biarkan aku duluan yang lihat.” Tangan Andi menghentikanku. Andi melihatnya seperti menemukan harta karun.
“Wah ada tombolnya Mal, Sil.” Andi menunjukkan tombol itu kepada kami. Bentuknya samar-samar. Sila yang penasaran mencoba maju, tapi di hentikan oleh Andi.
Sila tidak terima, dia mendesakku mendekat ke Andi. Demi apa pun aku ingin berganti teman.
“Lihat Andi! Aku tidak kelihatan.” Sepertinya Sila akan merebut benda itu hanya untuk melihat tombol. Andi menjauhkan benda itu dari Sila, ia mengangkat tangannya tinggi-tinggi agar Sila tidak bisa menggapainya.
Namun, Sila tidak menyerah dia rela berjinjit berusaha menggapai benda itu. Andi pun sama dia berjinjit dengan tangan yang masih terangkat ke atas. Aku yang berada dipinggir hanya bisa melihat dan mencoba melerai.
Sila tidak menyerah dia mulai menggunakan otak cerdasnya. Ia menurunkan kakinya, tangannya mulai beraksi, dan langsung mematok pinggir perut Andi. Patokan itu membuat Andi geli dan tersentak ke belakang, benda itu terjatuh.
Benda yang berbentuk jamur itu mengeluarkan cahaya, cahayanya membentuk lingkaran sempurna. Terang sekali.
“Keren.” Mata Andi tidak berhenti menatap cahaya terang itu. Begitu juga denganku dan Sila.
Tidak lama kemudian angin berembus kencang seolah ingin menarik kita ke dalam. Aku, Sila, dan Andi berpegangan ke bangku besi yang kami duduki tadi. “Astaga apa ini?!” Aku berseru panik. Begitu juga mereka.
“Semuanya berpegangan tangan!” Andi berseru mencengkeram lengan kami berdua. Kami telah tersedot ke dalam cahaya itu.
****
Suasana berubah menjadi malam hari. Kami melihat jam di handphone, tertulis pukul 22.00 WIB dan tanggalnya pun tidak sama. Tanggal 15, Agustus 1945 hari Rabu.
“Mal kok tanggal sama jamnya beda, kita dimana?” Wajah Sila terlihat cemas tangannya berpegangan ke lenganku.
“Entahlah Sil. Tapi ini di Jakarta.” Andi terlihat serius menatap sekitarnya. Andi mencoba berkeliling sampai ia menemukan papan jalan yang bernama. Jl. Pegangsaan Timur No 56.
Kami menyusul Andi yang masih berdiri menatap nama papan jalan yang rupa-rupanya tidak asing dibenaknya. “Sil kamu ingat jalan ini? Aku sepertinya tidak asing.”
Sila mengangguk begitu juga denganku. Kami ingat ini ialah jalan menuju rumah Bung Karno yang tadi di jelaskan oleh Bu Susi saat pelajaran sejarah. Aku terkejut, bagaimana bisa kami disini?
“Sil Mal, lihat disana ada rumah!” Andi menunjuk rumah besar yang memiliki luas bangunan 162 meter persegi, dibangun di atas lahan seluas sekitar 40.434 meter persegi, beratap limas, pintu masuk utama dan jendela berbentuk persegi, dan rangkap dua.
Rumah itu tampak ribut. Banyak orang yang berdebat di dalam. Andi memutuskan untuk menghampiri rumah dengan luas bangunan 162 meter persegi. Kami berdua mengangguk dan menyusul langkah Andi.
Kami mengintip dari jendela. Nampaknya kita tidak terlihat disini, lihatlah Andi ia iseng melambaikan tangan ke arah mereka. Sila menyikut perut Andi menyuruhnya diam. Hampir saja aku tertawa melihat ekspresi Andi yang kesakitan lalu di omeli oleh Sila.
“Mal di belakang ada yang mengawasi ya? Aku merinding Mal.” Memang dari tadi Sila tidak berhenti untuk menoleh ke belakang, melihat ada apa di belakangnya? Namun, begitu aku yang melihat tidak ada siapa-siapa disana.
“Kami akan siap melawan tentara Jepang jika terjadi pertumpahan darah,” Darwis menimpali jawaban Bung Karno.
Pendapat pemuda di tolak. Bung Karno memutuskan untuk berunding kepada sejumlah golongan tua. Disana terdapat Mohammad Hatta, Soebardjo, Iwa Kusumasomantri, Djojopranoto, dan Sudiro. Namun, perundingan itu juga ditolak oleh golongan muda.
Aku melihat wajah tegas Bung Karno, sepertinya ia juga masih memikirkan bagaimana cara agar proklamsi segera di selenggarakan. perdebatan masih berlangsung.
“Perdebatan ini seru Sil, aku akan mencontoh mereka agar aku menang berdebat denganmu.” Andi tertawa. Sedangkan Sila menyikut perut Andi lagi. Aku tertawa melihat tingkah mereka berdua.
Dari tadi kami bertiga menyimak percakapan mereka. Sampai akhirnya golongan muda keluar. Entah ke mana.
Sila menghembuskan nafas lalu meluruskan kaki, “Ternyata tidak gampang mencetuskan kemerdekaan. Banyak sekali rintangannya.”
Aku dan Andi mengangguk. Memang tidak gampang, banyak sekali rintangan yang harus di pikirkan baik-baik. Kalau saja mereka salah langkah, maka berbeda pula nasib yang akan kami jalani nanti.
Angin berembus kencang menabrak tubuh kami bertiga. “Dingin Mal, kamu ada jaket?” Sila memeluk tubuhnya. Aku menggeleng. Tidak lama kemudian, angin itu berubah. Angin yang tadinya hanya menerpa kami sekarang ia mau menyeret kami ke dalam cahaya yang berbentuk lingkaran sempurna. Entah datang dari mana cahaya itu muncul.
Andi berdiri lalu mencengkeram lenganku dan Sila. “Mala Sila berpegangan!” Kami bertiga tertarik ke dalam lingkaran cahaya.
****
Suasana masih sama, namun jam sudah menunjukkan pukul 23.30 tempat kami bukan lagi di rumah Bung Karno. Namun kami berada di Asrama Baperpi di Jalan Cikini Nomer 71, itu kata Andi. Yeah– Anak ini memang suka dengan sejarah, namun kalah dengan pelajaran berhitung.
Terlihat disana dua pemuda masuk ke dalam asrama. Sepertinya mereka adalah Darwis dan Wikana, pemuda yang dicetuskan oleh Chairul Saleh ke Bung Karno. Pemuda ini ternyata keluar untuk pergi ke Asrama Baperpi.
Andi menyuruh kami berdua untuk mengikuti dua pemuda tersebut. Aku dan Sila saling tatap, aku takut keberadaan kita diketahui oleh mereka. Andi menggeleng, ia yakin bahwa kita tidak terlihat disini. Baiklah aku dan Sila menurut.
Kami membuntuti dua pemuda. Ternyata mereka menemui Chairul Saleh beserta pemuda lainya. Sepertinya mereka sedang merapatkan sesuatu.
Aku, Andi, dan Sila menguping.
“Kemerdekaan harus segera di proklamasikan Saleh. Kita tidak bisa menunggu lama. Ini adalah kesempatan kita.” Wikana mulai berbicara.
Chairul Saleh mengangguk, “Aku tahu. Ini memang kesempatan kita, kita harus melakukan sesuatu.”
Nampak wajah Chairul Saleh sedang berpikir beserta pemuda lainya. Ini memang kesempatan yang tidak boleh di lewatkan, karena hanya inilah proklamasi kemerdekaan bisa di selenggarakan.
Kami bertiga menunggu jawaban dari pemuda. Salah satu pemuda berdiri. “Kita akan menculik Bung Karno dan Bung Hatta.”
“Djohar Nur orang pertama yang mengusulkan aksi penculikan.” Andi menatap pemuda yang berkaca mata tersebut serta memakai peci di kepalanya.
Aku dan Sila mengangguk mendengar ucapan Andi barusan. Kami sekarang tahu siapa orang yang usul untuk menculik Bung Karno dan Bung Hatta.
Para pemuda setuju mengangguk mantap. Begitu juga dengan Chairul Saleh. Namun sebagian dari mereka ada yang tidak setuju. Mereka bertanya tentang tujuan penculikan ini. Setelahku dengar tujuan dari penculikan ini adalah untuk mendesak Soekarno dan Moh. Hatta agar kemerdekaan segera di proklamasikan. Serta Soekarno dan Moh. Hatta tidak terpengaruh dengan Jepang.
Aku sekarang mengerti akan aksi penculikan ini. Pemuda mulai setuju. Mereka membagi tugas penculikan Bung Karno dan Bung Hatta. Wikana, Soekarni, dan Chairul Saleh akan beraksi ke rumah Bung Karno.
Para pemuda sepakat. Mereka akan pergi ke Rengasdengklok membawa Bung Karno dan Bung Hatta tepat pada pukul 04.00 WIB. Inilah peristiwa Rengasdengklok yang dijelaskan oleh Bu Susi tadi.
Nampaknya Andi semangat mengikuti aksi mereka. “Lihat Sil! Pemuda ini tampak gagah. Lihatlah, mereka niat sekali. Menggunakan baju seperti penculik serta aksesoris pistol dipingangnya.”
Aku dan Sila saling tatap. Ini terlihat seram, baju mereka penuh dengan warna hitam di tambah mereka membawa pistol. Dimana letak gagahnya? Dasar laki-laki.
Tanggal 16, Agustus 1945 pukul 04.00 WIB.
“Sil Mal ayo ikut mereka. Mereka sepertinya akan pergi ke rumah Bung Karno.” Andi menunjuk tiga pemuda. Wikana, Soekarni, dan Chairul Saleh sedang menyiapkan kendaraan mereka. Aku tidak tahu pasti itu mobil apa, yang pasti warnanya serba hitam.
“Ayo Sil Mal!” Andi sudah melangkah maju serta masuk ke dalam bagasi. Ya hanya itulah tempat yang tersisa. Kami berdua ikut masuk ke dalam, untung saja kami tidak terlihat disini.
“Ini keren Mal.” Mata Andi melihat isi mobil serba hitam ini. Tiga pemuda itu sudah siap, menyalakan mesin mobil lalu melaju dengan cepat.
Langit masih gelap belum ada matahari yang naik ke atas. Di tahun kami, jam empat subuh sudah setara dengan jam enam pagi. Matahari cepat sekali muncul. Di mobil ini kami hanya diam, tidak bicara sama sekali. Pemuda itu juga fokus ke depan.
Sampai akhirnya kami sampai di kediaman Bung Karno. Tiga pemuda itu langsung melesat keluar dari mobil, begitu juga dengan kami. Kami membuntuti mereka dari dalam.
Salah satu pemuda mengetuk pintu rumah Bung Karno. “Bung Karno, Bung Karno!” Pemuda itu ialah Wikana.
Dalam sekejap Soekarno membuka pintu, “Iya, ada apa?” Wajah Bung Karno nampak bingung.
“Anda harus ikut kami ke Rengasdengklok.” Chairul Saleh ikut berbicara sekarang.
Masih dengan wajah bingungnya, Soekarno menjawab, “Untuk apa aku ikut dengan kalian?”
“Ini sudah jadi kesepakatan para pemuda Bung, kami akan membawa Anda dan Bung Hatta ke Rengasdengklok.” Wikana mendesak Bung Karno.
Percakapan singkat itu cukup membuat kami geregetan. Bagaimana tidak? Ini demi kebaikan bangsa. Tapi akhirnya Bung Karno ikut perintah para pemuda dan menuju ke mobil serba hitam. Kami pun sama, mengikuti mereka.
Rengasdengklok ialah peristiwa penculikan yang dilakukan oleh para pemuda yang dipimpin oleh Chairul Saleh. Tujuannya memang mengesankan, mereka melakukan penculikan untuk menghindari pengaruh Jepang. Negara ini akan merdeka tanpa adanya campur tangan negara lain.
Akhirnya kami sampai di Rengasdengklok dan parkir di depan rumah seorang petani keturunan Tionghoa. Rumah Djiaw Kie Song. Pemuda dan Bung Karno turun dari mobil. Pemuda-pemuda itu langsung masuk ke rumah Djiaw Kie Song. Sekali lagi kami mengikutinya.
Kami masuk ke dalam rumah yang jauh dari pemukiman. Rumah ini tersembunyi, jadi aman untuk aksi yang di rencanakan oleh para pemuda. Kami berjalan melewati ruangan-ruangan.
“Sebenarnya apa mau kalian sehingga aku dibawa kemari?” Terdengar suara Bung Hatta di salah satu kamar di rumah Djiaw Kie Song.
“Begini Bung. Kami ingin anda dan Bung Karno segera melaksanakan proklamasi.” Pria berbadan sedikit berisi serta mempunyai kumis di wajahnya berseru kepada Bung Hatta.
Kami sudah sampai di kamar Bung Hatta dan kami juga mendengar percakapan antara Bung Hatta dan Soekarni. Orang yang baru saja berbicara dengan Bung Hatta adalah Soekarni. Aku melihat Soekarni melepas tali yang mengikat tangan Bung Hatta, seolah beliau habis di culik dengan nyatanya.
“Bung Karno!” Bung Hatta berseru terkejut melihat Bung Karno yang baru saja masuk ke dalam kamar.
“Hatta, ternyata kau sudah disini.” Soekarno menghampiri Bung Hatta yang sedang berdiri dekat dengan kursi kayu.
“Iya mereka membawaku kemari,” ucap Bung Hatta.
“Soekarni, ada apa sebenarnya? Kenapa kalian menculik kami?” Soekarno bertanya kepada Soekarni yang masih berdiri menghadap ke mereka.
“Begini Bung, kami ingin anda berdua segera memproklamasikan kemerdekaan kita. Jepang sudah menyerah Bung, ini saat yang tepat untuk kita memproklamasikan kemerdekaan Indonesia,” jelas Soekarni.
“Mengapa kau begitu muda percaya kepada kabar itu Karni? Jepang pasti akan memerdekakan kita. Tapi bukan sekarang.” Tampang Soekarno jelas tidak percaya.
Kami masih berdiri di tengah orang berdebat.
Wikana menerobos perbincangan, “Saya tidak setuju dengan itu Bung. Kami para pemuda ingin kemerdekaan atas jerih payah kami sendiri. Bukan hadiah dari Jepang,” tekan Wikana.
Soekarni mengangguk setuju, “Itu benar Bung, bila kita merdeka atas hadiah Jepang, maka kita adalah bentukan Jepang. Kita bisa di jajah lagi bung.”
Lengang. Hanya tersisa suara-suara serangga di luar.
Aku, Sila, dan Andi duduk melonjorkan kaki. Menunggu keputusan dari mereka. Aku melihat wajah Bung Karno dan Bung Hatta, mereka sedang berpikir keras.
“Aku bingung Mal. Kenapa kita ada disini? Kenapa kita tidak pulang?” Wajah Sila terpampang cemas sekarang. Mungkin dia sedang memikirkan keluarganya yang mungkin khawatir dengannya.
Aku menggeleng pelan. Aku juga tidak tahu. Aku mengkhawatirkan orang tuaku yang mungkin panik sekarang. Kami memang tidak terlihat disini, kami aman disini. Tidak ada orang yang curiga dengan keberadaan kami. Tapi dengan tidak adanya orang yang melihat kami, maka kami tidak bisa pulang untuk sekarang.
Kecuali Andi. Dia masih asyik melihat suasana diskusi ini. Matanya menatap semua orang yang ada di dalam kamar rumah Djiaw Kie Song. Tidak ada raut wajah yang panik serta cemas, malahan dia menulis semua apa yang dia lihat. Dia orang yang ambis dalam pelajaran sejarah. Rapi dan rajin. Kurangnya, dia cerewet melebihi Sila, dan suka memotong pembicaraan orang.
Aku, Sila dan Andi masih terduduk. Terdiam menunggu jawaban. Lalu, Bung Karno berdiri di susul oleh Bung Hatta.
“Baiklah keputusan kalian kami turuti.” Suara Bung Karno terdengar begitu tegas di tengah kesunyian. Para pemuda menatap Bung Karno lantas berdiri dan bersorak bahagia. Aku, Sila, dan Andi juga berdiri, ikut bahagia.
“Sekarang kalian istirahatlah. Kita diskusikan ini besok, dini hari. Tepat pada tanggal 17, Agustus 1945. Di ruang makan dalam rumah Laksamana Maeda,” tekan Bung Hatta.
Para pemuda mengangguk mantap lalu berjalan ke kamar masing-masing di susul oleh Bung Hatta dan Bung Karno ikut masuk ke ruangan mereka.
Sekarang hanya kita yang tersisa.
“Menegangkan sekali diskusi kali ini.” Andi sepertinya menyimak dengan khidmat tadi. Lihatlah, matanya sudah mulai berat. Di susul oleh Sila, dia ikut tidur.
Mataku juga mulai mengantuk, tapi otakku penuh dengan pertanyaan-pertanyaan. Bagaimana bisa kami disini? Apa yang membuat kami disini? Dan cahaya apa yang mulai mendekat ke arah kami? Mataku silau. Tidak ada angin. Aku hanya melihat cahaya terang yang sepertinya mau menyantap kami bertiga. Cahaya itu mulai samar-samar, lantas gelap pun datang.
****
Terdengar suara-suara disini. Mataku mulai membuka, perlahan. Pemandangan telah berubah. Kita bukan lagi berada di ruangan rumah Djiaw Kie Song.
Segera ku ambil handphone -ku, melihat tanggal berapa sekarang. Belum sempat ku buka kalender, handphone ku mati.
“Andi! Andi! Bangun!” ku goyangkan tubuh Andi yang masih tergeletak lelap di lantai.
Andi menepis tanganku, “Aoha sih Mal. Aku masih nganthok.”
“Andi lihat! Ini kita dimana?”
Perlahan Andi membuka matanya, dan menyipitkan matanya. Silau. Matahari memang belum muncul, tapi lampu bersinar terang.
“eh.” Wajah kantuk Andi perlahan sirna. Ia menyelidiki tempat ini, mata yang tadi berat kini terbuka dengan lebar. “Rumah Laksamana Maeda.”
“Apa? Kita berpindah lagi?” aku bertanya kepada Andi. Andi mengangguk yakin.
Bagaimana bisa? Kami semalam masih ada di rumah Djiaw Kie Song dan tidak ada tanda-tanda angin kencang yang menarik tubuh kami.
“Sepertinya kita sekarang bukan di tarik Mal. Tapi dilahap,” ucap Andi yang masih mengelilingi ruangan.
“Dilahap?”
“Ya. Kita dilahap oleh cahaya yang berbentuk lingkaran sempurna Mal. Bukan lagi angin yang akan mengantar kita, tapi cahaya itu yang akan mengantar kita ke tempat selanjutnya.” Andi menjelaskan dengan yakin.
“Kemarin malam, kamu ada lihat cahaya Mal?”
Aku berusaha mengingat, sepertinya aku melihatnya. Cahaya itu berada tepat di depan mata. Aku mengangguk pelan.
“Baiklah. Ayo bangunkan Sila. Kita akan pergi ke ruang makan sekarang.” Perintah Andi membuatku bingung. Apa maksudnya dengan “Baiklah” dan kenapa dia mengajak kami ke ruang makan?
Sudahlah aku sudah pusing dengan kejadian ini. Aku membangunkan Sila. Sama sepertiku, saat Sila membuka matanya ia terkejut lalu bertanya, dimanahkah kita sekarang? Aku menjawab, kita ada di rumah Laksamana Maeda.
Kami mengintip dari balik pintu. Terdengar percakapan di dalam. Sila ingin bertanya tapi di tahan oleh Andi untuk diam sejenak.
“Saudara-saudara bagaimana bunyi naskah pro-kla-ma-si kita?” Terdengar suara Bung Karno yang sedang mengeja kata “Proklamasi”.
“Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia,” seru Soebardjo selaku perumus naskah proklamasi pada gagasan pertama.
Kami bertiga mendengar begitu khitmad.
“Baik sudah saya tulis.”
“Lanjutannya Bung, hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain dilaksanakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya,” ujar Bung Hatta menambah gagasan proklamasi.
Nampak Bung Karno mengangguk serta menulis sambil mengeja apa yang di katakan oleh Bung Hatta. “Jakarta, 17-8-05. Wakil bangsa Indonesia. Yak! Sudah selesai. Apakah anda semua setuju?” tanya Bung Karno mendongakkan kepalanya, menatap para pemuda.
Semua pemuda mengangguk setuju, “Setuju!”
Begitu juga dengan aku, Sila, dan Andi. Tepukan tangan terdengar, walau tidak terdengar keras.
“Baik. Lalu, siapa yang akan menandatangani naskah ini?” tanya Bung Hatta.
“Bagaimana kalau naskah ini ditandatangani semua yang hadir?” saran Soebardjo.
“Saya rasa jangan, terlalu banyak. Menurut saya, lebih baik Bung Karno dan Bung Hatta saja yang menandatanganinya atas nama bangsa Indonesia,” Soekarni menjawab saran Seobardjo.
Semuanya mengangguk setuju.
“Sayuti, tolong kau ketikan naskah ini,” pinta Soekarno kepada Sayuti Melik. Mohamad Ibnu Sayuti atau yang lebih dikenal sebagai Sayuti Melik, dicatat dalam sejarah Indonesia sebagai pengetik naskah proklamasi kemerdekaan Indonesia.
Sayuti menghampiri Soekarno lalu menerima naskah proklamasi yang di diskusikan tadi. “Siap Bung.” Langkahnya berjalan keluar.
Kami berpapasan dengannya tapi beliau tidak melihat kami bertiga. Sayang sekali kita tidak bisa menyapanya.
“Kapan kita akan melaksanakan proklamasi?” Bung Hatta bertanya. Kami menyimak lagi.
Soekarno diam sejenak. “Menurut saya, tanggal 17 adalah tanggal baik. Sebagaimana Al-Quran diturunkan tanggal 17, selain itu dalam sehari semalam orang Islam sholat sebanyak 17 rakaat. Jadi, bagaimana kalau hari ini, Jum'at legi, tanggal 17 Agustus?”
Kami baru tahu alasan Bung Karno kenapa dia memilih tanggal 17. Kami mengangguk, bangga mendengar pernyataan beliau.
“Setuju Bung, lebih cepat lebih baik. Pukul berapa kita akan melaksanakannya?” tanya Soekarni.
“Pukul 10.00 tepat, bagaimana?” Bung Hatta bersuara.
“Setuju!” Semuanya berseru kompak.
Tanpa basa-basi lagi Soekarno dengan tegas menyuruh Fatmawati untuk menjahit bendera merah putih. Keadaan mulai sibuk sekarang. Orang-orang hilir mudik menyiapkan acara kemerdekaan. Kita tidak bisa membantu, semua benda disini seperti tidak bisa di pegang.
Tak lama kemudian Sayuti kembali membawa naskah yang sudah ia ketik dan langsung memberikannya kepada Soekarno.
“Ini naskahnya Bung. Silakan di tandatangani.” Sayuti menyerahkan naskah proklamasi kepada Bung Karno dan Bung Hatta.
Mereka mengangguk. Tangan mereka sudah bergerak menandatangani naskah proklamasi.
“Diah tolong perbanyak naskah ini dan sebarkan ke seluruh Indonesia,” pinta Bung Hatta kepada seorang wartawan sekaligus salah satu tokoh, yang menjadi saksi perumusan naskah proklamasi di rumah Laksamana Maeda. Wartawan, B.M. Diah turut terlibat dalam penyebaran berita kemerdekaan.
“Siap Bung!”
Kami bertiga mulai bersiap. Keluar dari rumah Laksamana Maeda melihat keadaan di luar. Bendera telah siap, kursi serta mikrofon juga telah disiapkan.
“Kamu tahu gak Sil?” Andi mulai berbicara.
“Apa?”
“Mikrofon ini dulunya pinjam.”
“Pinjam ke siapa?” Wajah Sila terlihat serius.
“Menurut kesaksian Sudiro yang merupakan tokoh pejuang kemerdekaan mereka meminjam ke Gunawan. Entahlah aku tidak tahu nama panjangnya, tapi dialah yang mempunyai mikrofon tersebut.” Andi menunjuk mikrofon yang telah di dirikan tadi pagi.
Sila mengangguk. “Oh... ku kira mikrofon itu hasil curian dari Belanda.” Sila berkata polos.
Aku dan Andi saling tatap lalu tertawa bersama.
Jumat pagi pukul 10.00 WIB, semua orang telah berkumpul di halaman depan rumah Bung Karno di Jalan Pegangsaan Timur Nomor 56, Jakarta untuk mendengarkan pelaksanaan proklamasi. Bung Karno, Bung Hatta, keluar ke serambi depan rumah diikuti Ibu Fatmawati. Bung Karno mendekati mikrofon dan mengucapkan pidato pendahuluan.
Kami menyimak dengan khidmat.
"Saudara saudara sekalian!
Wahai, terimakasih sudah hadir di pagi hari ini menyaksikan peristiwa penting dalam sejarah negara kita. Peristiwa yang tidak boleh di lupakan sampai beribu tahun lamanya. Keringat serta air mata sudah kita keluarkan dengan susah payah dalam usaha memperjuangkan kemerdekaan kita, kebebasan kita, dari para penjajah. Wahai saudara-saudara ku berpuluh-puluh tahun bangsa Indonesia berjuang untuk kemerdekaan tanah air. Bahkan beratus-ratus tahun.
Gelombang aksi kita untuk mencapai kemerdekaan ada naik dan turunnya, tetapi jiwa kita tetap menuju ke arah cita-cita. Di zaman Jepang usaha kita tidak ada henti-hentinya.
Di dalam zaman Jepang ini, tampaknya kita menyandarkan diri kita kepada mereka. Tetapi pada hakikatnya, tetap kita menyusun tenaga kita sendiri, tetap kita percaya kepada kekuatan sendiri.
Sekarang tibalah saatnya kita benar-benar mengambil nasib bangsa dan nasib tanah air di dalam tangan kita sendiri, akan dapat berdiri dengan kuatnya. Saudara-saudara!
Dengan ini kami menyatakan kebulatan tekad itu. Dengarkanlah proklamasi kami!"
Bung Karno perlahan membuka naskah proklamasi yang tadi di musyawarahkan. Kami anteng, bersiap mendengar suara lantang Bung Karno.
PROKLAMASI
Kami bangsa Indonesia dengan ini menyatakan kemerdekaan Indonesia.
Hal-hal yang mengenai pemindahan kekuasaan dan lain-lain di selenggarakan dengan cara saksama dan dalam tempo yang sesingkat-singkatnya.
Bung Karno membaca dengan teliti dan dengan hati-hati. Terdengar lantang suaranya.
Lengang sejenak.
Para pemuda berdiri bersorak ramai berseru “MERDEKA!!” “MERDEKA!!” “MERDEKA!!” tangan mengepal terangkat tinggi ke udara. Kami menyusul berdiri berseru bersama, Sila menyeka matanya yang mulai mengeluarkan air mata. Pemuda-pemuda lain berpelukan, menangis bersama, terharu tak sia-sia dengan kerja kerasnya. Begitu banyak rintangan yang tak bisa di jelaskan secara kata-kata. Dan kini mereka telah berhasil menggapai kesempatan yang di tunggu-tunggu setelah puluhan tahun dijajah.
Andi nampaknya menangis. Lihatlah matanya, berkaca-kaca. Aku menyikut lengannya, “Lihat, cowok yang tidak biasanya menangis kini dia menangis juga.”
Andi langsung mengusap matanya. “Enak saja! Aku tidak menangis.”
Aku tertawa melihat wajah cemberut Andi begitu juga Sila dia ikut tertawa dengan sisa tangisnya.
****
Acara di akhiri dengan tepukan tangan. Perlahan orang-orang telah bubar dan hanya tersisa kami bertiga.
“Mal bagaimana kita pulang?” Suara Sila bergetar ingin menangis.
Aku juga bingung, aku hanya bisa menenangkan Sila bahwa kita akan pulang.
“Sepertinya kita harus menunggu cahaya lingkaran itu lagi Mal.” Andi memperhatikan sekitar. Dari tadi dia tidak bisa diam, terus mengitari lingkungan sekitar.
“Tapi ini sudah akhir acara Andi. Kita akan menuju ke mana lagi?” aku bertanya kepada Andi. Nampaknya dia juga bingung.
Lengang. Sudah 30 menit kami diam duduk disini, di tempat acara tadi.
“Omong-omong apa yang membuat kita kesini?” aku memulai pembicaraan.
Andi dan Sila berpikir. Memikirkan kejadian sebelum kita berpindah tempat.
Lengang kembali.
“Senter jamur Mal. Bentuknya kecil, ada tombol di sampingnya. Mungkin pada saat kita bertengkar benda itu jatuh. Lalu tombolnya tidak sengaja ke tekan. Senter jamur itu kemungkinan mengeluarkan cahaya terang lalu menyeret kita ke dalam melalui angin yang menarik kita.” Andi menjelaskan begitu yakin.
“Lalu mana benda itu?” Sila angkat bicara.
Segera Andi merogoh semua kantong di bajunya, tidak ada. Dia menggeleng.
Sila kembali lemas, menghembuskan napasnya.
“Kalian mencari ini?” Bayang-bayang orang terlihat di balik kabut. Kami menoleh menatap bayangan tersebut.
Perlahan kabut itu hilang dan memperlihatkan seseorang di baliknya.
“Bu Susi!” Kami bertiga berseru bersama. Lihatlah, bagaimana bisa Bu Susi ada disini. Kami berlari menghampiri Bu Susi yang masih berdiri.
“Aduh kalian ini bagaimana bisa ada disini? Apa yang kalian lakukan.” Wajah Bu Susi terlihat cemas melihat kami bertiga.
“Mungkin sedikit petualangan kecil Bu,” kata Andi dengan ekspresi tidak menyesal.
“Astaga. Untung saja Ibu menemukan benda kecil ini, kalau tidak kalian mungkin akan terjebak disini selamanya,” tekan Bu Susi.
“Itu benda apa Bu?”
“Nanti saja. Kita pulang terlebih dahulu.” Bu Susi mengeluarkan benda kecil berbentuk jamur lalu menekan tombolnya. Suara gemuruh angin terdengar kencang siap untuk menyedot kami ber-empat. Cahaya lingkaran sempurna itu muncul tepat di depan mata. “Berpegangan anak-anak!”
Epilog
Suasana sore. Kami tiba persis di depan gerbang sekolah. Matahari belum terbenam, tanggal dan tahun sudah kembali seperti semula.
“Ini camera provecta. Kamera ini berisi tentang sejarah-sejarah masa lalu. Terutama soal kemerdekaan 17 Agustus 1945. Saat kalian menekan tombol ini, maka memori itu muncul. Kalian akan melihatnya dengan masuk ke dalam cahaya itu, seperti portal. Memori itu akan berjalan secara urut. Bukan lagi 3D melainkan seperti ada di kejadian tersebut.” Penjelasan Bu Susi membuat kami takjub. Benar, sensasinya berbeda. Bukan seperti melihat film, tapi ada di dalam film tersebut.
“Keren.” Mata Andi berbinar-binar melihat benda itu. Kami mengangguk setuju.
“Lalu Bu, bagaimana kami bisa masuk ke dalam memori kemerdekaan? Padahal memori di dalam kamera tersebut banyak jenisnya.” Sila angkat bicara.
“Kamera ini juga di lengkapi dengan keinginan para pengguna Sila. Mungkin kalian pernah berkata suatu hal?” Bu Susi berbalik tanya.
“Oh ya, aku pernah berkata bahwa 'seru kalau kita melihat kejadian secara langsung'.” Andi menjawab pertanyaan Bu Susi.
“Bisa jadi.”
Kami bertanya banyak soal benda ini. Benda ini milik Bu Susi, benda yang menemaninya belajar sejarah, katanya. Sangat menakjubkan belum ada benda secanggih ini. Orang yang menciptakaannya pasti bukan manusia sembarangan.
Keesokan harinya. Sekolah telah di mulai kembali dan tepatnya sekarang Bu Susi mengajar kelas kami. Meminta tugas yang seminggu lalu ia berikan.
“Wah bagus Sila. Rangkumanmu jelas, lengkap, dan singkat rinci sekali.” Sila mendapatkan A+ dari Bu Susi. Bagaimana tidak, Sila melihat kejadiannya secara langsung.
“Terimakasih Bu.”
“Boleh di coba lagi gak Bu? Barangkali kita melihat peristiwa-peristiwa masa lalu yang menakjubkan,” Sila sedang berbisik kepada Bu Susi.
Bu Susi membalasnya dengan gelengan tegas. Seolah memberi peringatan bahwa itu bisa berbahaya.
"Bercanda Bu."
Tamat.