"Buk, itu bapak beli lulang lagi?"
"Iya ndhuk, kamu kan tahu sendiri hobi bapakmu itu apa"
"Lha, lulang kambing yang tahun kemarin kan masih ada, itu masih utuh digulung di samping rumah"
"Ya meskipun masih ada, tiap tahun kan selalu ada Idul kurban, jadi selalu ada lulang, baik lulang kambing maupun lulang sapi yang dijual murah sama mesjid, sayang kalau nggak membelinya, mumpung ada kesempatan, sebelum diborong sama bakul-bakul krecek dan rambak kulit"
"Meskipun murah tapi buat apa tho banyak-banyak, toh kalau sudah dijadiin wayang, ditambah ongkos bikinnya, natah dan nyungging, jatuhnya mahal juga!"
"Lagian buat apa tho punya banyak-banyak. Itu tembok rumah sudah penuh dengan tempelan wayang. Belum lagi dengan lukisannya mas Enggar, kalau tembok bisa ngomong, sudah sambat dia, ngeluh nggak kuat nahan beban segitu banyaknya"
"Terutama wayang dengan kulit kambing utuh itu, yang masih ada bulunya, kalau pas dibersihin terkadang mbrodol, kalau lewat didekatnya geli aku, terutama bagian buntutnya, hii...mana aku punya alergi sama bulu lagi!"
"Yo embuhlah ndhuk, memang begitulah bapakmu. Namanya juga hobi, kalau koleksi wayangnya dirasa belum komplit, belum merasa marem"
"Kalau buat wayangnya satu karakter satu wayang, sudah dari dulu komplit bu! Lha ini kan enggak. Werkudara nya sendiri aja sudah ada tiga, belum lagi Janaka dan tokoh-tokoh Pandawa maupun Kurawa yang lain. Kalau semua dibikin lebih dari satu, kan jadi banyak, kedobel-dobel"
"Lha maksudnya bapakmu itu buat cadangan. Soalnya, kadang-kadang ada temannya yang minta wayang buat kenang-kenangan."
"Lha kalau ada yang pengen, mbok disuruh beli sendiri saja, kan banyak yang jual, lagian di Malioboro juga banyak."
"Ya beda lah ndhuk, antara beli sendiri sama dikasih kenang-kenangan dari orang lain, rasanya itu lebih berkesan."
"Lah, sama saja buk, sama saja barangnya, sama-sama wayangnya."
"Karena bapakmu suka wayang, obsesinya dari dulu itu pengen jadi Dalang. Oleh karena itu, dulu dia sempat kursus Pedalangan. Makanya dia koleksi banyak wayang meskipun tidak untuk dipentaskan."
Tok tok tok! "Kulonuwun..!"
"Buk, ada tamu."
"Siapa? Mbok dibukakan pintunya sana!"
"Monggo pak, silahkan masuk!"
"Buk, tamunya sudah tak suruh duduk, itu pak Samin, datang jauh-jauh dari Imogiri, paling urusan wayang lagi."
"Sudah hapal dia, habis Idul kurban gini, pasti bapak punya banyak lulang, trus dia datang dan minta kerjaan untuk membuatkan wayang."
"Tahu gitu, tadi aku bilang saja bapak lagi nggak ada di rumah."
"Biar bapak nggak nambah bikin wayang lagi, biar wayang dirumah nggak makin numpuk. Lagian kotak penyimpanannya juga sudah penuh, mau ditaruh dimana lagi?"
"Kalau bapak ndandakke wayang lagi, satu lulang sapi bisa jadi lebih dari sepuluh wayang kecil."
"Kalau wayangnya besar seperti tokoh buto atau raksasa, bisa jadi empat atau lima wayang."
"Mana ongkosnya juga mahal. Perbuah ongkos bikinnya mencapai 250-500 ribuan. Jika dikalikan jumlah wayang, jatuhnya jutaan juga. Belum lagi gagangnya yang terbuat dari tanduk kerbau yang juga mahal. Lagian pesanan yang kemarin-kemarin kan masih ada juga yang belum jadi."
"Mendingan duitnya buat beli sepeda motor baru, buat ngganti sepeda motor yang sudah butut dan sering macet itu, lebih berguna, lebih bermanfaat."
"Ya kasihan tamunya tho ndhuk. Sudah jauh-jauh kesini kan capek. Mana cuma naik sepeda onthel lagi. Apalagi bapakmu itu kalau dinasehatin juga susah."
"Sewaktu ibu tahu bapakmu mau buat wayang lagi, ibu pernah meminta tambahan uang belanja dan menasehati bahwa ada kebutuhan rumah yang lebih penting dan lebih mendesak dari pada nambah koleksi wayang. Tapi buntutnya, eeh..bapakmu itu malah marah-marah."
"Hahh.., koleksi pancen mangan ragad."
****