Cinta tak terbalas, ini hanya kisah cinta remaja. Cinta monyet katanya. Tapi sampai akhir, pengalaman ini akan menjadi pengalaman dan cerita yang tak akan pernah mudah dilupakan.
Di sebuah sekolah yayasan, dimana TK, SD, SMP, SMA, dan SMK menjadi satu. Mereka berdua bertemu.
Saat naik ke kelas 2 SMP, Vivi melihat dia. Fadhil, kakak kelas di SMA yayasan tempat mereka bersekolah. Vivi jatuh cinta pada pandangan pertama. Perasaan aneh terus muncul saat Vivi melihat Fadhil.
"Kamu lagi apa?" tanya Nessa pada Vivi saat melihat temannya itu menatap lurus ke segerombolan kakak kelas laki-laki yang sedang duduk dilantai sambil bermain game di handphone mereka.
"Dia lucu," gumam Vivi menatap lurus ke arah Fadhil berada, "Lucu banget, tipe aku."
"Heh, stres! Matamu copot nanti menatap orang segitunya!" jerit Nessa.
Melihat Vivi yang tidak bergerak sedikitpun saat menatap Fadhil. Nessa pun menarik paksa Vivi masuk ke kelas karena bel sudah berbunyi. "Ck. Cepat masuk kelas. Bel udah bunyi tuh," decak Nessa.
Hari demi hari dilewati, Vivi masih sering menatap Fadhil saat tidak sengaja melihatnya lewat. Bahkan Vivi sampai terus menerus menatap jendela hanya untuk melihat apakah Fadhil lewat atau tidak.
"Saran aku. Kamu mending sapa aja deh si kakak kelas itu. Daripada mati penasaran," gumam Nessa.
"Kakak kelas? Siapa tuh?" tanya Ica penasaran.
"Ck. Sibuk aja si kalian!" decak Vivi.
"Itu loh," ucap Nessa sambil menunjuk Fadhil yang sedang membeli makan dikantin.
"Loh itu mah aku tau dia. Namanya Fadhil, dia tetangga si Noval. Kemarin aku liat dia ngobrol sama Noval!" jawab Ica semangat.
"Kamu kenalin aja, Ca. Seret Vivi ke tempat dia sekarang. Aku takut liatnya si Vivi dari tadi fokus banget ngeliatin tu orang," ucap Desi.
"Haha. Kerasukan nanti," ledek Nessa.
Mereka terkekeh geli melihat wajah Vivi yang berubah masam karena mereka ledek.
"Apaan si. Aku biasa aja kok ke dia. Cuma suka aja liatnya, jadi gausah di lebih lebih in gitu," ketus Vivi.
"Alah. Kalo jatuh cinta ngomong aja. Ditahan malah bikin perasaan cintanya tuh jadi lebih besar. Nanti nyesel kalo ga jujur dari sekarang," gerutu Ica.
"Aku serius. Lagian aku ga pantes sama dia. Aku malu kalo kenalan, aku kaya gembel begini. Liat aja dia bersih," ringis Vivi melihat kembali dirinya yang terlihat seperti gembel dibanding siswi.
"Hahaha. Mana ada, kamu cantik. Tapi emang si kakak kelas nya aja terlalu bersih," ucap Nessa.
"Bening banget jadi cowok. Ngalahin kita yang cewek," canda Desi.
Memang benar, dibanding penampilan Vivi yang hitam manis, serta seragam kucel karena belum diganti setahun. Fadhil yang laki-laki justru berkulit putih, bibir pink seperti pakai pelembab, tinggi dan manis. Melihatnya sedikit saja sudah jelas laki-laki ini lucu.
Vivi benar-benar merasa minder, belum lagi Vivi cuma anak SMP. Sedangkan Fadhil anak SMA. Pergaulan dan derajat mereka pun beda.
Hingga beberapa waktu berlalu, kenaikan kelas tiba. Setelah melewati dua minggu ulangan yang membuat letih, pengumuman libur sekolah sebelum pulang membuat energi kembali penuh.
Semakin penuh karena Vivi melihat Fadhil didepan kelasnya. Tentu saja bukan untuk menemui Vivi, tapi untuk bertemu si Noval.
Walaupun begitu senang rasanya Vivi bisa melihat Fadhil yang berjarak kurang dari dua meter.
Memang benar, seharusnya Vivi jujur saja pada Fadhil kalau dia menyukainya. Tapi sampai akhir Vivi tidak jujur. Mungkin berkah dari tuhan Vivi bisa melihat Fadhil dari dekat.
Vivi pikir dia akan melihat Fadhil lagi untuk kedepannya, nyatanya tidak. Karena suatu kejadian alias Covid membuat Vivi tidak bisa melihat Fadhil dan akhirnya Vivi menyesal.
Vivi semakin menyesal karena 2 tahun setelah itu, Vivi mendapat kabar bahwa Vivi tidak akan pernah melihat Fadhil lagi untuk waktu yang lama.
Karena Fadhil telah berpulang ke tempat paling indah.
Mungkin benar, cinta pertama tidak akan pernah berhasil dan selalu meninggalkan bekas untuk waktu yang lama.