Di Pesisir pantai terdapat sebuah desa kecil yang aman dan damai. Mereka saling memberi dan membantu satu sama lain, tanpa memandang fisik ataupun ras.
Terdapat pasangan muda yang terkenal dilingkungan itu, yang Pria suka membantu para warga tanpa pamrih, yang Wanita suka mengajari anak-anak membaca, menulis, dan menceritakan dongeng.
"Dahulu kala ada Seorang Pengembara yang konon bisa melihat masa depan. Dalam ramalannya dia melihat bahwa kerajaan di Kontinen Barat akan musnah oleh amukan Penyihir Gelap."
"Penyihir Gelap itu akan memberikan kutukan yang sangat dahsyat. Karena takut oleh ramalan Sang Pengembara, Kerajaan pun melarang siapapun pengguna Sihir Gelap memasuki wilayah Kerajaan dan hanya mengizinkan pengguna Sihir Cahaya."
"Karena perintah Raja pada masa itu, kepercayaan tentang Pengguna Sihir Gelap semakin melenceng seiring generasi berlanjut. Ada yang berkata bahwa hanya dengan berdekatan dengan pengguna Sihir Gelap akan membawa kehancuran. Apa lagi mencintainya."
"Saling mencintai juga tidak boleh?" tanya penasaran anak berusia tujuh tahun.
"Heum, tidak boleh." jawab Rose seraya mengangguk pelan.
"Kenapa? Cinta itu bukan kejahatan!" rengek kekecewaan terdengar.
"Itu tidak adil," gumam anak-anak.
"Ya, betul. Cinta itu bukan kejahatan! Kalau begitu, selesai sudah cerita untuk hari ini. Kalian hati-hati dalam perjalanan pulang."
"Anu … Nona Rose. Apa ada Pengguna Sihir Gelap dan Cahaya yang saling mencintai? Lalu bagaimana dengan mereka, apakah hubungan mereka hancur?" tanya gadis remaja yang ikut mendengarkan cerita.
Rose terkejut mendengar pertanyaan itu, Rose mengangguk mengiyakan, "Ada, sepertinya? Entah akan bagaimana kedepannya." jawab Rose.
Rose tersenyum lembut melihat anak-anak yang terlihat lesu karena mendengar cerita hari ini.
"Besok, Saya akan menceritakan hal yang lebih menarik." ucap Rose membuat anak-anak bersemangat kembali.
"Sayang. Sudah selesai?" Jack menghampiri istrinya seraya membelai pipi sang pujaan hati.
Rose tersenyum cerah, dia menatap lembut kekasihnya. Tidak peduli apa pun tentang dunia. Apa salahnya saling mencintai?
Rose memberanikan diri mengambil keputusan yang sulit, bertahan hidup dengan pujaan hatinya.
"Nona Rose, terima kasih untuk cerita hari ini. Saya harap pasangan Pengguna Sihir Gelap dan Cahaya akan menemui akhir yang bahagia."
***
Suara langkah kaki ksatria kerajaan bergemuruh di seluruh penjuru. Kerajaan akan menghadapi kehancuran, kutukan Sang Penyihir Gelap.
"Ibu, Apa kita akan dikutuk?" gumam anak kecil pada ibunya, rasa takut muncul melihat sang ibu memasang raut wajah gelisah.
"Tidak apa, Nak." gumam sang ibu seraya memeluk erat anaknya memendam rasa ketakutan di dalam dirinya.
Teriakan ksatria menggema, suara pedang berbunyi nyaring memotong apapun yang menghalangi jalan.
"Pergi cari wanita terkutuk itu! Bawa paksa dia!"
"Lepaskan! Biarkan istriku pergi! Kalian Sialan" teriak marah Jack kearah ksatria kerajaan.
"Anda harus sadar Yang Mulia! Anda adalah Putra Mahkota. Anda pasti disihir oleh Wanita Penyihir Gelap itu!" sahut Wakil Komandan Ksatria.
Langkah kaki dan aura penuh tekanan. Setiap kata yang diucapkan oleh nya penuh rasa kecewa. Melihat putra semata wayang nya. "Kau sudah gila, Jack."
"Salam kepada matahari kerajaan!"
Semua ksatria membungkuk penuh hormat ke arah suara itu berada, Sang Raja. Raja Kerajaan Kontinen Barat.
"Ayah." Jack terduduk lemah dengan tangan dan kaki terikat serta segel pembatal sihir yang membelenggu nya. Mendongak ke atas melihat ayahnya berdiri tepat di hadapannya.
"Harusnya kau hidup seperti kau mati. Kenapa kau ketahuan dan malah membuat keributan." jawab Sang Ayah dengan suara dingin.
"Lepaskan Rose, dia tidak bersalah. Aku yang meminta nya untuk hidup bersama."
"Ayah … Ku mohon." lirik Jack.
"Bawa wanita itu kemari, dalam keadaan hidup atau pun mati. Lalu kurung Putra Mahkota dikamar nya." Sang Raja berbalik badan mengabaikan anaknya dengan tatapan dingin.
"Jika dia mati, saya juga akan mati." gumam Jack, hatinya sakit seperti tertusuk belati mengkhawatirkan Rose sang pujaan hati.
***
Rose berlari kencang kalang kabut, terduduk di goa yang tersembunyi di belakang kerajaan. Dadanya sakit penuh rasa khawatir memikirkan Jack. Kenapa? Kenapa ksatria kerajaan bisa menemukan Rose dan Jack. Padahal mereka sudah bersembunyi sebaik mungkin. Apa Rose dan Jack tidak boleh bahagia?
Ksatria menemukan Jack di daerah pesisir pantai dan membawa Jack kembali ke kerajaan dan Rose mengejarnya sambil bersembunyi, sekarang Rose menjadi buronan. Rose menahan diri untuk tidak menggunakan sihir nya, takut akan ketahuan dan takut bahwa Rose akan di cap sebagai pembawa kehancuran.
Rose bingung, dia menangis memikirkan harus melakukan apa sekarang. Apa dia harus menyerahkan diri agar Jack tetap hidup, atau menghilang dari dunia dan meninggalkan Jack, atau Rose harus membuktikan bahwa rasa cinta Rose dan Jack tidak membawa kehancuran.
Rose harus cepat mengambil keputusan, dia takut, dia khawatir dengan keadaan Jack.
"Baik, aku akan menyerahkan diri. Aku akan memohon ampun." Rose sudah yakin dengan keputusannya.
Rose berjalan dengan langkah tertatih ke istana, kehadirannya di sambut dengan meriah oleh ksatria.
"Kau menyerahkan diri? Menyedihkan." sindir ksatria.
Rose dibawa ke hadapan Sang Raja. Aula di penuhi tekanan, rasa nya sangat mencekik Rose. Bahkan segel pengekang sihir di leher nya tidak terasa sakit bagi Rose.
"Saya mohon. Biarkan Saya dan Jack hidup bahagia. Kami saling mencintai tidak mungkin perasaan kami membawa kehancuran." Rose memohon, menundukkan badan nya di lantai, sujud ke arah Sang Raja.
"Kau lancang!" teriak komandan ksatria seraya mengarahkan pedangnya ke leher Rose.
"Kenapa? Anda percaya ramalan itu? Lalu Saya dan Jack akan mati?" tanya Rose, wajahnya di banjiri air mata.
"Kau bodoh." jawaban tegas Sang Raja menusuk ke dada rose.
"Saya bodoh karena Saya mencari keadilan." jawab Rose tegas.
"Kau!" teriak ksatria, para ksatria mengarahkan pedangnya ke leher Rose.
"Bahkan jika semua pedang para ksatria menembus tubuh Saya, bahkan jika Penyihir Cahaya menyerang Saya, perasaan Saya pada Jack masih tetap ada." isak Rose.
"Apa saya tidak boleh mencintai Putra Anda hanya karena saya Penyihir Gelap?" Rose bertanya dengan lantang, air matanya tidak bisa berhenti mengalir.
Rose meratapi kesedihan, kenapa? Kenapa Rose harus lahir menjadi Penyihir Gelap dan bukan seorang Putri Bangsawan Penyihir Cahaya.
"Bunuh dia!" ucap Sang Raja.
"Apa Jack juga akan Anda bunuh?" tanya Rose.
"Dia putraku." jawab Sang Raja.
Mendengar itu air mata Rose mengalir semakin deras. Dia mengerti sekarang, Jack tetap saja putra Raja bagaimana mungkin Ayah tega membunuh anaknya.
Perasaan Rose lega, setidaknya Jack tidak harus mati mengenaskan hanya karena cinta. Cukup Rose saja.
Penyihir Cahaya mulai membuat lingkaran sihir, dimana saat sihir diaktifkan puluhan pedang akan menancap di jantung Rose.
Rose menangis keras, dia sedih bukan karena akan mati. Dia sudah tahu saat mengambil keputusan akan bersama Jack dia pasti akan mati kemudian hari. Tetapi Rose sedih, dia tidak bisa mengucapkan selamat tinggal dengan benar kepada Jack.
"Aku mencintaimu, Jack," batin Rose.
Sihir aktif, Cahaya terang menyilaukan mata. Rose tertawa mengingat jantungnya akan ditikam pedang.
Brak! Suara pintu terbanting keras.
"Rose!" teriak Jack lari memeluk Rose.
Rose terkejut kenapa Jack ada disini? Sihir mulai aktif.
"Jack! Pergi!" teriak Rose.
"Tidak, kau akan mati!" sahut Jack.
"Yang Mulia! Anda harus lari!" teriak para ksatria.
"Tidak … Jack!" Rose terpaku, lehernya terasa tercekik. Jack sedang memeluknya dengan pedang yang tertusuk di jantung.
"Ah … Aaaa … Jack! JACK!" air mata mengalir deras, pengekangan sihir di leher Rose lepas. Sihirnya mengamuk.
Rose mengamuk melampiaskan semua amarah dengan sihir yang menyebar ke seluruh kerajaan, menangis kencang dengan sihir yang berisi kemarahan.
Rose masih terduduk seraya memeluk Jack, jeritannya berhenti bersamaan dengan hancurnya Kerajaan Kontinen Barat.