Ketika kubuka mataku, aku berada di sebuah rumah kayu tua dengan penerangan yang saat minim. Lantai-lantai kayunya berdecit karena ketika aku bergerak meski sedikit saja.
Saat mataku mulai terbiasa dengan keadaan gelap, aku menatap berkeliling dan mendapati ada sekitar sembilan orang selain aku. Tak ada satupun wajah yang kukenali. Mereka duduk bersandar pada dinding kayu yang berdebu sembari memeluk diri mereka sendiri, bukan karena dingin namun seolah sedang menguatkan diri mereka yang saat ini terlihat begitu rapuh.
Aku tak tahu apa yang telah menimpa desa ini. Namun ketika aku menatap ke luar jendela yang keadaannya sudah tak utuh lagi dan mendengarkan suara rintik hujan yang berirama menghantam bumi, aku tahu...
[Di luar, dunia sudah berakhir.]
Pemikiran itu muncul begitu saja dalam benakku.
×××
Selang beberapa hari, penduduk desa yang tersisa kini secara perlahan bangkit dari keterpurukkan. Mereka memutuskan untuk tetap menjalani hidup dengan bermodalkan sisa-sisa makanan yang kami kumpulkan dari reruntuhan. Namun hal itu tidak cukup. Dengan sedikitnya persediaan makanan, mereka mulai bertengkar.
Di tengah-tengah pertikaian itu, seorang wanita paruh baya mengajukan diri untuk pergi ke luar desa. Ia bertekad untuk mencari bantuan. Wanita itu adalah sosok yang telah merawatku dan mengasihiku seperti anaknya sendiri sejak peristiwa itu ketika sebuah bencana menimpa dan menewaskan hampir seluruh penduduk desa. Aku tampaknya kehilangan seluruh anggota keluargaku. Namun aku tidak ingat. Secara natural orang-orang berpikir bahwa aku mengalami amnesia dan selalu menatapku dengan iba, termasuk wanita paruh baya itu yang kemudian dengan baik hati merawatku. Namun sejujurnya, tanpa memori, aku tidak merasakan apa pun.
Keesokkannya di pagi yang dipenuhi kabut tebal, kami melepas kepergian wanita itu dengan iringan doa agar ia kembali dengan selamat dan membawa bala bantuan. Sebelum pergi, wanita itu tersenyum padaku dan berpesan agar aku menjaga anaknya, seorang gadis berambut pirang yang sebaya denganku.
Hari-hari berlalu, wanita itu belum juga kembali. Kami terus menunggu dan menunggu sambil berusaha semaksimal mungkin mengais sisa-sisa makanan yang tertimbun reruntuhan.
Berbulan-bulan kemudian, wanita itu masih belum kembali. Kini hanya tersisa segelintir dari kami yang bertahan. Yang lain telah mati kelaparan atau kalah dalam pertikaian dan terbunuh. Gadis pirang yang wanita itu titipkan padaku dan aku masih bertahan. Kami sebisa mungkin selalu menghindari pertikaian dan bersembunyi. Kami selalu melakukan hal tersebut. Meski terkesan pengecut, setidaknya kami bisa bertahan.
Tak terasa, setahun telah berlalu dan kini hanya kami berdua yang tersisa.
×××
Sudah menjadi rutinitas setelah stok makanan kami habis, kami mengais makanan untuk hidup beberapa hari ke depan. Target kami kali ini adalah sebuah rumah besar berlantai dua di pinggir hutan. Namun setelah berkeliling ke seluruh penjuru lantai satu dan tidak menemukan begitu banyak makanan, kami memutuskan untuk menyusuri lantai atas. Berhati-hati, kami menaiki tangga kayu menuju atas.
Lantai dua kosong tanpa ada perabot apa pun. Hanya ada pintu-pintu kamar di sisi kanan dan kiri. Namun kamar-kamar di sisi kiri tidak bisa kami jelajahi karena lantai di depan pintu-pintu kamar tersebut telah hancur membentuk lubang besar, menampakkan ruang tamu yang berantakan berkat reruntuhan papan-papan lantai yang runcing di bawah. Sebuah kamar dengan pintu terbuka di sisi kanan tangga menarik perhatianku. Di sana aku melihat sebuah dus makanan sereal.
Seperti biasa aku menggandeng si pirang untuk mengajaknya mengambil makanan. Namun tanganku hanya berhasil menggenggam udara. Menoleh, kudapati gadis itu tengah mencondongkan tubuhnya ke arah lubang besar itu. Dengan cepat aku berlari ke sisinya dan kutarik ia menjauh dari jurang kematian itu, menggagalkan rencananya untuk mengakhiri hidup.
Sebelum sempat kumarahi, tiba-tiba lantai tempat kami berpijak bergetar dengan hebat. Tanpa pikir panjang kutarik gadis yang tampaknya masih linglung itu untuk lari menuruni tangga dan keluar dari sana secepat mungkin.
Seketika kami sampai di luar, rumah itu roboh tak berbentuk lagi. Aku menoleh pada gadis itu, hendak menanyakan apakah ia baik-baik saja namun urung kulakukan karena ia sama sekali tidak terlihat baik-baik saja; ia duduk terkulai lemas di tanah dengan tatapan kosong menatap lurus ke depan. Sesaat kemudian, gadis itu menangis sesenggukan sejadi-jadinya, memanggil-manggil ibunya.
Kami pun memutuskan untuk pergi dari desa itu, berharap dapat menemukan keberadaan wanita paruh baya yang telah lama tidak kami lihat. Tak lupa, kukais reruntuhan rumah untuk mencari makanan sereal yang sebelumnya kulihat untuk dibawa sebagai bekal.
Menelusuri jalan yang menanjak, kami kelelahan dan memutuskan untuk beristirahat sejenak. Kabut tebal yang sejak awal menemani perjalanan kami kini mulai menipis. Aku mulai bisa melihat dengan jelas sekelilingku. Rupanya kami berada di depan sebuah rumah. Aku bergegas berdiri dan mengamati keadaan rumah itu. Terdapat beberapa pasang sepatu dan sandal yang tertata rapi dan anehnya semuanya berwarna pink. Lalu, lantai rumah itu pun tampak sangat bersih, seperti disapu dan dipel setiap hari. Rumah ini pasti dihuni, aku menyimpulkan dan tanpa ragu menekan bel.
Seorang wanita tua dengan gaun berwarna merah gelap membuka pintu membuatku sedikit terkejut. Dari balik tubuhnya, aku dapat melihat bagian dalam rumah yang bernuansa klasik. Aku juga mendapati tiga kepala anak kecil yang melongok dari pintu kamar dengan pandangan penuh rasa ingin tahu. Mereka semua memakai pakaian yang senada. Hal itu justru membuat perasaanku tak enak.
Aku pernah mendengar tentang mereka. Sekelompok orang yang memiliki paham tertentu, khas dengan nuansa warna merah darah yang kental. Mereka... adalah para penyihir.
Yang paling membuatku terkejut adalah... aku mendapati seorang wanita yang dahulu pamit meninggalkan desa untuk mencari bantuan tengah menuruni anak tangga. Wanita itu juga terlihat sama terkejutnya denganku ketika melihat kami di ambang pintu. Perlahan raut wajahnya berubah. Ia menatapku sendu seolah meminta maaf. Mulutku kelu, tak bisa berkata apa-apa. Aku ingin berlari dari sana, tapi aku tak bisa bergerak sedikit pun.
×××TAMAT×××