Ya tuhan... hari ini aku akan mati.
Aku tak bisa lagi berkutik ketika semua pasang mata di ruangan yang di namai kelas 10 IPA ini melihat ke arahku,tepat setelah guru memanggil namaku untuk mengisi soal tentang Masa Atom di papan tulis. Bukan aku tak tahu jawabannya, tapi cara mereka menatapku seperti aku adalah penjahat yang siap untuk di hukum penggal.
Oke, maaf, itu berlebihan. Tapi masalahnya itulah yang kurasakan!
Aku keringat dingin, memaksakan senyum. Aku tahu bahkan kini untuk berdiri pun tak sanggup, akhirnya hanya gelengan kepala dariku, diikuti suara gagap sialan yang keluar dari tenggorokan,"Sa, Sa-Saya ng-nggak bisa, Pak."
Bohong, Nilaiku selalu bagus setiap menjawab soal. Itulah yang membuatku menjadi juara 1 di semester ganjil kemarin.
Eh, apa barusan aku sombong?
Seluruh napas yang ku tahan di paru-paru kini keluar begitu saja setelah guru itu mengoper pertanyaan ke siswa lain.
Astaga, padahal aku bisa dapat tambahan nilai kalau ke depan!
Inilah yang selalu kulakukan setiap pertanyaan di lempar kepadaku. Dan selalu merutuki kebodohanku karena aku terlalu pengecut untuk melawan... tunggu, apa ya harus ku sebut masalahku ini? Social Anxiety? Demam panggung? Atau... Derita introvert? Tak tahu! Pokoknya semacam itu.
"Ca, mau ikut ke kantin bareng kita-kita?"
Setelah Mata Pelajaran Kimia ini selesai. Perhatianku teralih pada semacam "geng" di kelasku yang diisi oleh cewek-cewek keren, cantik glowing, dan berotak kosong. Eh? Maksudku, maksudku, mereka cantik dan keren walau memang tak pintar sama sekali dan rajin mencontek. Eh? aduh... bukan begitu menjelaskannya. Pertama mereka cantik, kedua mereka keren, dan ketiga... pacar mereka keren dan tampan juga. Nah, ya itu maksudku!
Oh kembali pada mereka yang mengajakku ke kantin.
Aku tersenyum, "Oh, nggak Key. Aku bawa bekal. Makasih." Ya ampunn... entah keberapa kali aku merutuki diriku sendiri. Kenapa aku canggung sekali, sih?
"Oh, ya udah." Mereka pun berlalu begitu saja.
Lha, mereka sebenarnya berniat mengajak tidak, sih?
Lha, kata kamu tadi gak mau ikut?
Iya juga sih, tapi...
Dih, gengsian!
Udah, diem! Berisik! Urusan ke kantin kan gak di ajak juga bisa pergi sendiri!
Astaga, maafkan pikiranku yang berisik kawan-kawan.
"Kamu sendirian aja?"
Tiba-tiba seorang cowok tampan berkulit hitam manis duduk di sampingku membuatku membeku. Ini anak siapa tiba-tiba duduk di bangku orang? Apa dia buta atau bisa lihat makhluk halus?
Lagi, aku hanya tersenyum kikuk dan menjawab, "Iya, sendiri."
"Oh, kamu bawa bekal? Boleh minta?"
Jadi maksudnya ngedeketin cuma mau minta makan? Nggak di kasih uang jajan begitu?
Aku menggeser kotak bekalku ke arahnya tanpa mengatakan apapun. Tambahan senyum kikukku kepadanya.
"Kalau gak ikhlas mah gak usah, sih."
Nah, itu peka.
Tanpa pikir dua kali aku menarik kotak itu dan langsung memakannya karena memang sejak insiden soal pertanyaan masa atom tadi aku sudah kelaparan.
Aku mengernyit ketika Cowok di sampingku tiba-tiba tertawa. Ayolah... nggak ada angin gak ada hujan, apa yang lucu?
Sadar aku menatapnya dengan wajah bertanya, dia menjawab,"Nggak ada apa-apa. Makan aja."
Ngomong-ngomong, rasanya sedikit nggak enak juga makan sendiri di depan orang yang jelas-jelas minta makan.
"Mau nggak? Aku bisa bagi dua, kok."
Demi planet Neptunus..., darimana keberanian ini datang? Bukannya sebagai introvert aku sudah yakin banget gak bisa ngelakuin hal itu, deh.
Cowok itu ngangguk sambil senyum manis. Manis... banget. Manisnya candu.
PLAK
"Eh, kenapa nampar diri sendiri?"
Aku nyengir kuda, "Nggak pa-pa. A-Aku ke toilet dulu."
Aku berdiri. Ini kenapa gemeteran, sih?! Please jangan di saat-saat kayak gini! Entah kenapa rasanya sulit melewati bangkunya Si Cowok apalagi lututku terantuk bangku atau meja terdekat berkali-kali.
"Santai. Kalo kebelet gak usah gitu juga."
Refleks. Aku menepis tangannya yang menyentuh tanganku. Dan selanjutnya-
BRUK!
"Aduh..."
"Pffft!"
Aku menatap Cowok di hadapanku dengan kesal. Jika bisa aku ingin mencekiknya saat ini juga.
"Kalau mau ketawa ya ketawa aja. Nggak usah di tahan."
"Hahaha!"
Cowok itu akhirnya jongkok di hadapanku sambil tertawa. Bokongku masih sakit dan dia malah tertawa bahagia seakan beban hidupnya terangkat begitu saja setelah melihatku terjatuh.
"Sini Aku bantu berdiri." Ujarnya sambil mengulurkan tangan yang tanpa dua kali ku terima.
Syukurnya, tidak ada sakit serius hanya rasa nyeri di bokong.
Eh, kenapa cowok di depanku memandangku seperti itu. Seperti... Ekhem. Nggak, nggak jadi.
"Eca, mau jadi pacar aku?"
Maaf, perasaan aku yang jatuh kenapa otak dia yang rusak?