Tentang Kamu.
Aku sedang berada di dalam bus antar kota yang terjebak macet ketika menulis ini, dan aku tahu kamu nggak akan pernah baca tulisan ini. Karena aku nggak akan membagikannya pada siapa pun, termasuk kamu. Aku menulis ini untuk diri sendiri.
Akhir-akhir ini aku terlalu sibuk bekerja. Bahkan aku sering lupa waktu, tahu-tahu sudah lewat tengah malam padahal aku belum mandi seharian. Tapi sekarang aku nggak pernah telat makan lagi. Dulu kan kamu yang sering cerewet soal pola makanku agar penyakit lambungku nggak kumat lagi.
Sekarang aku makan teratur, tiga kali sehari. Banyak minum air putih dan masih berusaha buat rajin olahraga. Tapi aku nggak pernah janji buat nggak begadang lagi. Aku tahu kamu nggak pernah setuju soal ini. Kamu sering bilang kalau aku harus menjalani hidup sehat seperti kamu.
Yah, aku mana bisa seperti kamu, dan kamu pun tahu, aku dan kamu adalah dua kutub magnet yang saling berlawanan. Kamu utara, aku selatan.
Kamu orangnya tertata dan teratur. Sedangkan aku kebalikan kamu, nggak punya aturan.
Kita pernah saling mencintai dan juga pernah saling memiliki. Dulu.
Sebenarnya, aku baru menyadarinya. Meski kebersamaan kita nggak abadi, tapi aku sangat berterima kasih pada semesta yang pernah menyatukan kita meski hanya sebentar.
Aku nggak akan pernah tahu warna-warna itu kalau kamu tidak pernah melukiskannya dalam hidupku.
Bertahun-tahun aku hidup tanpa warna, sampai suatu pagi kamu yang pulang joging menyapaku yang cemberut menunggu ojol. “Lita, tulisan kamu bagus. Semangat terus, ya!”
Sumpah demi Tuhan. Waktu itu aku kaget banget dan yang ada di pikiran aku adalah; Kamu tahu nama aku? Wow! Orang seperti kamu loh ini.
Iya, orang seperti kamu. Kamu keren. Kamu orang hebat yang dikagumi banyak orang, dan kamu tahu nama aku, tahu buku aku dan yang paling aku nggak nyangka, ternyata kamu baca buku aku. Benar-benar seperti mimpi indah disiang bolong, nggak sih?
Lalu, kamu jadi selalu menyapaku di setiap perjumpaan kita. Jujur saja, awalnya aku merasa apa yang kamu lakukan itu bikin aku nggak nyaman. Soalnya, aneh aja. Meski kita pernah satu sekolah waktu SMA. Tapi, kita nggak pernah berinteraksi sebelumnya.
Apa cara kerja semesta memang sering nggak masuk akal gini, ya? Tahu-tahu kita sudah berbagi dunia. Saling mengisi dan menerima. Kamu yang ternyata cerewet banget kalau soal hidup sehat. Selain itu kamu nggak pernah memaksa aku menjadi orang lain.
Mengenal kamu dalam hidupku, seperti aku menemukan oasis di padang pasir. Bersama kamu aku hidup.
Mungkin buat kamu ini terdengar menggelikan. Terima kasih pernah hadir dalam duniaku.
I love you.
Kamu selamanya hidup di hatiku.