Di suatu siang yang mendung, terlihat seorang gadis cantik berambut pendek dengan setelan hodie berwarna ungu dan celana hitam tengah terburu buru menuju ke komplek apartemen baru yang berada tak jauh dari lokasinya sekarang.
Namanya Clara Angela, ia adalah siswi dari sebuah SMA ternama di kota Sky. Tujuannya pergi ke apartemen tersebut tak lain karena tugas dari gurunya yang mengharuskannya kerja kelompok dengan teman sebangkunya. Sesekali ia menengok ke belakang saat berjalan karena takut diikuti oleh seseorang.
Ya, akhir akhir ini Clara sering mendapatkan teror dari seorang stalker yang selalu membuntutinya kemanapun ia pergi dan ia tidak bisa membuat laporan pada polisi karena identitas stalker itu belum diketahui.
Beberapa saat kemudian hujan turun dengan deras disertai suara petir yang menyambar. Beruntung Clara berhasil sampai di depan apartemen temannya sehingga ia tidak kebasahan.
Apartemen tersebut berada di lantai paling dasar dengan urutan nomor 5, teman Clara tinggal sendirian di sana karena orang tuanya sedang bekerja di luar kota. Setelah sedikit merapikan penampilannya, ia pun memencet bel pintu apartemen tersebut.
Ting Tong!
Ting Tong!
Ting Tong!
Sudah tiga kali ia memencet bel, tapi tidak seorangpun yang keluar untuk membukakan pintu. Akhirnya Clara mengambil ponsel di tasnya untuk menghubungi sang pemilik rumah sekaligus teman sebangkunya itu.
"Steve kau ada dimana?, Sekarang aku sudah sampai di depan apartemenmu"
"Cepat sekali kau datang, padahal aku berniat memberikanmu kejutan kalau kau datang lebih lambat"
"Jawablah atau kita tunda kerja kelompoknya besok saja".
Sebenarnya Clara tidak begitu suka dengan Steve karena menurutnya sifat Steve benar benar menyebalkan.
"Baiklah jangan marah, tadi aku sedang pergi ke toserba tapi saat perjalanan pulang tiba tiba hujan turun dengan deras sehingga sekarang aku berteduh di halte bus"
Clara merasa aneh karena dari seberang telepon sama sekali tidak terdengar suara rintikan hujan apalagi petir, rasanya Steve sedang berada di sebuah ruangan layaknya rumah.
"Daripada kau kedinginan, lebih baik kau masuk saja ke dalam"
"Kode apartemenku adalah 230506, oh ya sekalian aku minta tolong padamu untuk memberi makan kucingku di dalam karena tadi aku belum sempat memberinya makan"
Clara sempat terkejut karena kode apartemen Steve sama seperti tanggal lahirnya yaitu 23 Mei 2006, tapi dengan cepat ia langsung membuang pikiran itu jauh jauh.
"Baiklah, aku akan masuk kedalam untuk memberi makan kucingmu dan ingat langsunglah pulang begitu hujan reda"
"Terimakasih, makanan kucingnya ada di samping rak sepatu di balik pintu"
"Iya, aku mengerti". Clara pun memutuskan panggilannya dengan Steve.
Singkat cerita, saat masuk Clara langsung disambut dengan kucing berwarna putih yang sudah setia duduk menunggu di balik pintu. Segera ia pun memberikan kucing itu makan sesuai instruksi Steve sambil beberapa kali mengelus bulunya yang lembut.
"Kau benar benar lapar ya"
Clara senang karena kucing itu makan dengan lahap. Sejenak ia pun kagum saat mengamati apartemen Steve yang benar benar bersih dan rapi.
Setelah menutup pintu, ia pun mulai mengerjakan bagiannya terlebih dahulu sambil duduk di atas sofa berwarna cream yang ada disana.
Tuk!
Tanpa sengaja Clara menjatuhkan pulpennya sampai akhirnya pulpen itu menggelinding ke bawah sofa. Dengan terpaksa ia pun turun dari sofa dan mulai merabah kebawahnya untuk mencari dimana pulpennya berada.
Saat sedang merabah, ia pun merasa aneh dengan sesuatu yang menonjol dari bawah sana. Tidak mau ambil sulit, ia pun akhirnya menggeser sofa tersebut yang kebetulan tidak terlalu berat baginya agar memudahkannya mengambil pulpen hitam miliknya.
"Sebuah pintu?"
Clara kaget karena ternyata di bawah sofa tersebut terdapat sebuah pintu persegi yang menuju ke arah bawah tanah. Diselimuti rasa penasaran, ia pun memutuskan untuk membuka pintu tersebut dan masuk ke dalam sana.
"Disini gelap sekali"
Clara pun menyalakan senter di ponselnya untuk menerangi penglihatannya agar tidak terjatuh saat menuruni tangga, dengan hati hati ia berjalan perlahan menelusuri ruangan bawah tanah itu.
"Apa jangan jangan tempat ini adalah basement untuk menyimpan barang barang?, Tapi kenapa akses masuknya ditutupi oleh sofa?"
"Duh apa yang sedang kulakukan?!, Lancang sekali aku masuk seenaknya kesini!"
Clara merasa tidak enak pada Steve karena sudah seenaknya masuk kesana tanpa izin darinya, tapi langkahnya terhenti saat hendak kembali ke atas karena cahaya senternya menangkap beberapa foto dirinya yang tergantung di langit langit ruangan itu.
Sontak saja ia pun shock karena bukan hanya satu atau dua saja tapi ada sekitar 50 fotonya yang tergantung di ruangan tersebut. Ia pun mulai merinding dan semuanya menjadi jelas saat ia melihat sebuah jaket warna biru donker dan sebuah topi bisbol yang juga terpajang disana.
"Ja-jadi stalker itu adalah!-"
Tiba tiba saja ponselnya berdering karena menerima panggilan dari seseorang. Dilihatnya nama kontak tersebut dan tanpa pikir panjang ia langsung mengangkatnya.
"Arthur!-"
"Clara tolong aku.."
Clara pun panik karena suara pacarnya yang terdengar begitu kesakitan dan tidak berdaya dari seberang telepon.
"Arthur ada apa?!, Apa yang sudah terjadi padamu?!"
"Di-dia.. adalah orang itu.."
Clara tidak mengerti siapa sebenarnya orang yang sedang pacarnya maksud.
"Bicaralah yang jelas, aku tidak mengerti apa maksudmu!"
"Steve... Dia adalah akh!!"
Clara menjadi tambah panik dan ketakutan saat mendengar suara teriakan Arthur bersamaan dengan suara tusukan.
"Hah.. aku kan sudah bilang jangan lari atau aku akan menghabisimu"
Tubuh Clara menjadi lemas seketika begitu menyadari siapa pemilik suara dari pria selain Arthur yang berada di seberang telepon.
____Tamat____