Bagaskara berada di penghujung hari ketika ku lihat, kulit putih dan bersih wajah pria itu menatap pancaran tak beriak air danau.
Hanya perasaanku, atau ikan ikan yang berenang didalam danau mulai mendekati kami yang berdiri di penghujung pagar pembatas besi? Air yang awalnya tenang pun menjadi beriak, lantas menambah kegelisahan hatiku yang tak henti memikirkan...
"Apa ku akhiri saja disini?" batinku, belum sanggup melepas pandang pada sosoknya yang ikut disinari kilauan semu.
Ya, dia adalah pria berusia 39 tahun yang telah bersamaku setidaknya dalam tiga tahun terakhir ini. Namanya Aljunan.
Aljunan Almanar.
Dia kekasih ku.
Bersama nya aku merasa nyaman.
Bagiku, dia bagaikan sosok kakak, teman, dan seorang pasangan yang memiliki rasa sabar seluas nabastala yang membentang indah, yang selalu menuntunku menjadi lebih baik setiap harinya.
Dia orang baik yang telah dan selalu menjagaku dalam hubungan ini.
Akupun menyukainya.
Sangat!
Sebab bersamanya aku merasa tenang, tapi akhir akhir ini... Ku sadari aku harus segera melepasnya pergi.
Tidak.
Bukan salahnya jika aku ingin mengakhiri hubungan kami.
Akulah yang egois.
Akulah yang selama ini terlalu mencintai nya, dan berlaku seolah cinta ini dapat menentang hukum dunia demi kami tetap bersama... Ya.
Aku yang salah.
"Sayang?"
Di gapai belaian jemari besar, wajah manis Aljun menggurat senyum menawan hati.
"Kamu pikirkan apa sih? Sudah lelah ya? Mau pulang sekarang saja?" tanya Aljun dengan lembut.
Aku spontan menggeleng. "Nggak. Sunset di sini aku masih ingin melihatnya, kamu juga suka sunset kan." jawabku mengalih muka, namun Aljun kembali meraih daguku, dia menunjuk matahari terbenam didepan kami.
"Tapi mata mu nggak melihat kesana... Pikiranmu berada ditempat lain, bahkan sejak kita bertemu siang ini, ada apa, hmm?" dengan hati hati, Aljun kini meletakkan tangannya diantara bahu ku disini. Raut wajahnya pun berubah khawatir.
"Alona sayang ..."
Dihadapkan lah olehnya tubuh kami, tanpa mempedulikan lalu lalang orang ditepian danau. Dia kembali berujar. "Hei, aku pasangan kamu, kan? Jangan pendam masalahmu sendirian sayang..."
"Tidak bedanya aku yang sering bercerita tentang masalahku padamu tanpa ragu, ku inginkan kamu juga membagi masalahmu padaku, Alona..." Tutur Aljun selembut sapaan angin yang meluluh.
Akupun terdiam tak menjawabnya.
Aku bingung.
Tak tau harus bicara apa atau harus dari mana memulai.
Perasaan ku hanya bergemuruh layaknya badai yang berkabut dalam bisu nya bibir ini.
Sekali lagi...
Aku sangat mencintainya.
Tapi...
Aku harus melepasnya... (?)
Sungguh.
Bukan salahnya jika harus ku akhiri hubungan ini, tapi,
Apa ini memang jalan yang harus kami hadapi (?)
"Aljun,"
Akhirnya...
"Iya Alona ku?~"
Mencoba memberanikan diri menatap kembali wajah menawan pria itu, kedua kaki ku gemetar karna tak kuasa menahan air mata yang telah membendung diantara kelopak mata.
Oh tidak, mataku mungkin sudah berkaca kaca di depan kekasihku ini.
"Alona? Kamu kenapa sayang??" Benar saja, Aljun pun panik seketika mendekapku ke dalam dadanya. "Alona? Hei... katakan apa yang mengganggu mu, sayang? Ada apa...?"
Semakin dia khawatir, semakin pecah tangisku di penghujung hari itu.
Alhasil, tak lagi ku pedulikan pandangan orang-orang disekitar yang mulai beranjak menjauhi kami. Di detik ini, aku hanya tak mau membohongi diriku lagi.
"Alona?"
"Hiks... A-aku mencintaimu... Juna~"
Aljun sigap mengelus punggung ku dengan tangan besarnya. Sentuhannya sehangat sinar mentari. "Aku tau, aku juga mencintaimu sayang... Jangan menangis,"
WUSHH~
Angin pun berhembus dan ku rasakan membawa udara malam.
Ahh benar.
Aku lupa matahari kini mulai terbenam. Sebentar lagi keberadaannya akan tergantikan oleh rembulan.
"Sial!" Memikirkan nya, kaki ku sontak menghentak bebatuan di tepi danau cukup keras.
"Hiks, aku sangat mencintaimu keparat!"
"Eh?" Aljun terkekeh. "Iya sayang...Aku juga~ Haha, kenapa tingkahmu jadi lucu begini?" - "Pfft!!"
Dasar...
Disaat seperti ini saja, tawa pria ini masih renyah seperti biasa.
"Alona ku..."
Tawa, suara, canda, kehangatan, kebersamaan kami yang selalu menemani hari hari ku selama tiga tahun terakhir ini. Apa benar benar harus berakhir???
Sebab rasanya baru kemarin kebersamaan kami terajut mesra. Sebab pada dasarnya, memang tidak membutuhkan waktu lama untukku mencintai sosok hangat seperti dia.
Dia adalah satu satunya pria yang berhasil mengobati luka ku yang disebabkan orang dimasa lalu.
Dan dia,
Telah memberiku kenangan terbaik sekaligus luka terbesar atas kehilangan sosoknya yang tak bisa ku terima.
"Alona...-"
"Tak karuan aku mencintaimu yang notabene, adalah orang baru dalam hidupku Aljuna... Pertemuan kita terjadi sesingkat senja dan hubungan kita berjalan sehangat terbenamnya matahari disana." tuturku. Perlahan lahan, pun kulepas dekapan Aljuna yang mendadak diam seribu bahasa.
"Aljun..." Kini jemariku lah yang menggapainya, namun kali ini, sudah tidak dapat kurasakan lagi kehangatan dalam wujudnya.
Tangisku tertahan dahsyat.
Mencoba sekuat tenaga tuk lanjutkan kata-kata, tapi aku ternyata sangat lemah. Derai air mataku tak bisa membohongi sesakit apa hatiku melihat raut pria itu tidak lagi sama. Wajahnya memucat, bersama terbenamnya matahari, sosoknya pun membias hilang dari netraku di hadapan danau ini.
Tidak!
Tidak!
Tidak !
TIDAK!
"JANGAN MENGHILANG ALJU -- hmph!!!"
"Tenang, Alona!!"
"Hmph!!!"
Berpindah dalam sebuah dekapan nyata. Tangan laki laki yang menarik ku kedalam peluknya itu enggan melepas tubuhku untuk berbalik menatap Aljuna yang masih berdiri di belakang.
"Hiks... Lepaskan aku Kian! Lepaskan !!" ronta ku memaksa.
Aku takkan membiarkan Aljunan pergi. Aku tau Aljunan masih berada disana.
Dan dia akan tetap bersamaku jika aku memintanya!
"DIA SUDAH TIADA ALONA!"
"NGGAK--"
"SADARLAH!" Suara berat Kian menggema.
Mendengarnya, tangisku pun tertahan mencoba mencerna tentang apa yang sedang terjadi sebenarnya...
"Alona..." Kian kembali bicara. "Kumohon, sadarlah menahan arwah nya dengan kekuatanmu hanya akan mengguncang dua dimensi yang tak seharusnya kita campuri... Lepaskan dia Alona,"
"T-tapi..."
"Biarkan ayahku berada di alam yang semestinya."
Tes.
"Eh?"
Bukan hujan.
Tapi air yang menetes jatuh membasahi punggung ku semakin deras bersamaan getar tangan Kian yang melingkari pinggang ku.
"Ki-Kian?"
Kenapa dia menangis?
"Hiks... Aku juga sulit menerima kematian ayah, Alona... Aku juga tak terima dia telah pergi dari hidupku begitu saja... Aku ingin dia tetap berada disini tapi... Tapi aku tau itu hal yang salah!"
"Kian--"
"Aku juga bisa melihatnya sama seperti mu Alona. Bedanya aku tidak berimajinasi bersama kekuatan ini... Yang kutahu, ayah ingin kita tetap hidup!"
"Ayah ingin aku tetap menjalani hidupku dan mengikhlaskan kepergian nya. Tapi... tapi aku lemah!! Aku masih anak anak dan aku tidak bisa berusaha sendirian melakukan itu semua makanya.. hiks!"
"Makanya aku membutuhkan dukungan mu sebagai satu satunya orang dewasa yang kumiliki saat ini, Alona..." Perlahan, Kian mengendurkan pelukannya untuk menatap ku dengan mata yang basah.
"Aku tidak memiliki siapa siapa lagi, selain dari dirimu." sambungnya serak.
Oh tidak...
Apa aku membuat anak laki laki ini menangis?
"Ki-Kian..." Dia yang bahkan tak menangis saat menghadiri acara pemakaman ayahnya sendiri, kini menangis tersedu-sedu didepan ku?
"Kian... Jangan menangis, Kian~" menyeka cepat air mata Kian, anak laki laki berusia 16 tahun itu kembali memeluk ku se erat pelukannya beberapa saat lalu.
"Percayalah... Kita bisa melewatinya Alona... Hiks! Kau yang bilang Ayah akan selalu hidup dalam memori kita. Kau yang mengajarkan ku menjadi anak baik... Jadi kali ini, ku mohon!"
"Ku mohon lepaskan ayah dan jadilah teman yang baik untukku..."
"Ku mohon temani anak malang ini melewati masa masa kelamnya, sekali lagi."
DEG.
"..."
Aljunan.
Matahari sore ini memang begitu hangat.
Bentangan Jingganya di sukai banyak orang, meski hadir hanya dalam sekejap mata, itupun jika nabastala sedang berbaik hati memberikan panorama indahnya tanpa kabut atau awan kelabu.
Aljunan...
Hangat yang menghilang, seiring tergantikan oleh cahaya dingin rembulan malam.
Hangat yang membias, seperti wujudmu yang kurasakan menghilang seutuhnya.
Kini udara telah dingin.
Hembusan anginnya menyelimuti aku dan Kian.
Dan permintaan putra mu yang menyadarkan ku akan hidup takkan berhenti sampai disini.
"Selamat tinggal, sayangku... Juna~"
*** Tamat ***