Aku ingin menanyakan kabarmu di antara buku-buku berdebu yang tersusun rapi mirip dengan birunya rindu, sengaja tak usai kubaca agar segala tentangmu masih setia memanggil untuk kutemui sewaktu-waktu.
Kulihat, kau kian lama kian bersahaja, berusaha mengukir kisah dengan tinta paling bercahaya. Aku hanya bisa melihatmu dari balik jendela kata, mengikuti ritme jejak yang kau sembunyikan di antara larik-larik berspasi rapi.
Apa kau tahu? Akan selalu kutemukan bagaimana cara menghadirkanmu meski hanya sebatas kertas, juga pena yang tak akan pernah mengering.
Sajak-sajak ini akan tetap berhujan membasahi perjalanan dalam menemukan apa yang mereka sebut dengan kehilangan. Dan aku terus menjagamu dari ketidaktahuanku terhadap takdir-Nya.
Tulisan ini diketik oleh jari yang sama, jari yang sempat membalas pesan singkatmu.
Dan aku masih di sini bukan lagi menunggumu. Melainkan menikmati sisa-sisa rindu sebelum meredup bersama waktu.