"Hantu, hantu, hantu..." Teriak tiga orang pemuda tanggung berlari keluar dari sebuah rumah tua yang ada di ujung jalan itu. Mereka berlari dengan terbirit-birit. Seharusnya kelompok pemuda tanggung itu berjumlah empat orang, yang tampaknya baru saja balik dari bermalam mingguan, dengan berboncengan motor, niatnya salahsatu dari mereka ingin buang hajat kecil, yang tak ada lain adalah si orang keempat. Mereka berlari hingga jauh ke pos satpam yang ada di samping jalan besar. Mereka berhenti berlari setelah salahsatu orang petugas satpam yang sempat melihat dari kejauhan buru-buru menghampiri. Si petugas satpam bertanya, salahsatu dari mereka merespon dengan telunjuk yang ditudingkan dengan begitu rusuhnya sementara yang lainnya mencoba mengatur nafas. Mulut mereka sudah tidak ada bedanya dengan moncong lokomotif tua, bernafas dengan empot-empotan. Tak pelak si petugas jadi kebingungan. Si petugas beraksi meminta mereka untuk lebih tenang. "Atur nafas, atur nafas..."
"Si Baron dicekik hantu, Om!" Kata salah seorang pemuda, pemuda yang tampaknya sudah lebih tenang dari yang lainnya. Si petugas satpam sekonyong-sekonyong tersentak kaget. Si pemuda tanggung menggangguk-angguk kemudian melanjutkan omongan, dengan intonasi suara yang terdengar histeris."Hantu penunggu rumah tua itu...!"
"Inalillahi..." Seru si petugas satpam. Mendengar seruan di petugas, si pemuda tanggung makin terlihat histeris, begitupun yang lainnya. "Terus Barong masih disana!?" Tanya si petugas satpam.
"Lah namanya kena cekik pasti disana gak mungkin ikut bareng lari sama kita, Om!" Rutuk pemuda tanggung yang lain. Si petugas mengangguk paham. "Terus sekarang gimana, Om!?" Tanya pemuda tanggung yang lain lagi.
"Iya udah kita ikhlaskan saja," kata si petugas satpam dengan mengibaskan tangan. "Lah kata tuh bocah duit kececer diikhlasin aja," seru si pemuda tanggung kebingungan.
"Sekarang gue tanya balik loe berani gak ngampiri tuh setan!?" Tanya si petugas. Ketiga pemuda tanggung serentak menggeleng. "Apalagi gue!" Sambut si petugas menuding ke dadanya.
"Lah loe dibayar buat apa!?" Protes salah satu dari pemuda tanggung. "Buat jaga keamanan." Sahut si petugas satpam. "Lah terus..."
"Jangan kata sebiji, maling sepuluh gue jabani! Kalau setan... Sorry diperjanjikan kontrak kerja gue gak ada yang begituan! Iya kalo loe mau, loe tolongin aja sana. Apa loe lupa cerita tentang... Lagian loe pada iseng banget pake main disitu." Sembur si petugas satpam yang merasa direndahkan.
"Kasihan amat si Barong," celetuk seorang pemuda. Yang lain pada mengelus dada. "Lah palingan ntar dia nyari loe pada! Nuntut balas dia!" Respon si petugas satpam. Sekonyong-sekonyong tuh tiga orang pemuda tanggung meringgis ketakutan.