Di rumah sakit itu, seorang gadis remaja melihat dengan tatapan kosong ke arah dua orang yang sudah di tutupi oleh kain putih.
Dia tidak tau, mau sedih atau kah senang. Orang tua nya baru saja meninggal, tapi ada perasaan aneh di dalam hatinya.
Mereka bukanlah sosok yang baik untuk gadis itu. Mereka menelantarkan, menganiaya, menyiksa adalah hal yang sering dilakukan pada putri semata wayang mereka, Starla.
"Nak, kami turut berduka untuk orang tua mu," kata dokter beserta suster yang menangani kecelakaan orang tuanya. Starla mengangguk dan pergi tanpa mengatakan apapun.
Hari itu bertepatan di awal musim dingin, Starla mendapatkan hadiah yang cukup membingungkan. Ada plus minus dari kejadian Ini.
Salah satunya dia akhirnya dapat terbebas dari kekangan orang tuanya. Gadis belia itu melihat langit yang menurunkan salju, sambil bergumam, "Dengan ini apakah aku bisa mendapatkan kehidupan yang ku impikan?"
Ketika jenazah kedua orang tuanya dikebumikan orang-orang pada menangis, bahkan kerabat dan tetangga. Berkebalikan dengan Starla, ia tidak meneteskan air mata. Dia hanya menatap kosong orang-orang yang ikut berduka.
Dikarenakan kematian orang tuanya, Starla yang masih berusia 15 tahun membutuhkan wali, kakek neneknya semua sudah meninggal disaat gadis itu kecil. Sekarang harapannya hanyalah para kerabatnya.
Namun kerabat-kerabatnya pada melempar tanggung jawab mereka, enggan merawat gadis malang itu. Berpikir apabila mereka merawat Starla ekonomi mereka akan menipis belum lagi merawat anak-anak mereka. Lebih tepatnya Starla hanyalah beban bagi mereka.
Hingga sampai akhir, tak ada seorang pun yang berkeinginan menjadi wali gadis itu. Dengan senyuman ia rela dan tidak mempermasalahkannya. Meskipun tidak ada yang merawatnya, dia tetap saja mendapatkan uang saku, tentu dari hasil kerja dan belajar atau beasiswa.
Hari berikutnya dia jalani dengan normal, meski ada yang berbeda di rumahnya. Tempat yang selalu berisik akan adu debat dari orang tuanya kini menjadi sunyi, larangan yang di tuliskan oleh ibunya di pintu kamar Starla sekarang hilang, rumah sekarang tidak ada bedanya dengan kuburan, mati.
Di sekolah, Starla memang anak disiplin, rajin, dan selalu rangking satu paralel. Pernah dia mengikuti berbagai olimpiade dan selalu juara satu dengan berbagai hadiah.
Tapi sekarang, karena tidak ada lagi siapa pun yang menuntut dirinya untuk menjadi sempurna, ia ingin melakukan semua hal yang dia ingin.
Keesokan harinya selama pelajaran, dia tertidur sampai guru membangunkannya dan meminta dia menyelesaikan soal di papan tulis. Guru tersebut mengira dia tidak akan bisa menjawabnya, namun Starla berhasil mengerjakannya meski dia tidak terlalu memperhatikan.
Kemudian, di jam berikutnyanya yaitu olahraga Starla membolos. Dengan santainya dia berkeliling sekolah sambil mengemut permen. Si siswi brilian itu merasa segar, walau ia tau perbuatannya Ini tidak terpuji tapi dia senang.
Tak masalah dia melakukan apapun. Dia tidak akan di pukul lagi ketika di rumah, tidak ada yang mengomelinya ketika nilainya kurang dari 100, bukankah Ini luar biasa?
Starla terus begitu untuk sebulan kemudian, dengan menyeringai ia selalu bergumam, 'Hari yang begitu menyenangkan untuk berbuat nakal.'
Teman-temannya merasa kasihan akan Starla, mereka berpikir jika dia seperti itu karena terpukul akan kematian orang tua. Mereka juga tidak tau jika hubungan dia dengan keluaraganya cukup buruk, yang mereka tau keluarganya begitu harmonis, sebab ketika ibu dan ayah Starla datang melihat pameran di sekolah, ketiganya cukup akur dengan canda gurau.
"Dia udah berapa kali ngelanggar aturan sekolah?" tanya salah seorang teman sekelas Starla, dia sering di panggil Lilith.
"Sejauh yang ku hitung kayaknya 14 peraturan? Dia bahkan berani buat datang ke sekolah mengenakan pakaian selain seragam," balas Sophia. Sama seperti Lilith dia juga teman sekelas Starla.
Karena mereka tidak tahan ketika temannya seperti itu akhirnya suatu hari saat kelas sepi karena jam pulang sekolah mereka bertiga berbicara. Starla awalnya enggan tapi dibujuk oleh rayuan Sophia dan akhirnya Starla membiarkan waktunya untuk mendengar celotehan gak jelas mereka.
Suasana sore itu benar-benar dingin, terutama karena ini musim dingin. Tak ingin basa basi, Lilith langsung k intinya
"Starla, aku tau kalo kamu lagi berduka untuk orang tuamu tapi kesedihanmu ini udah hampir sebulan, sampai kamu kayak orang lain gini." Lilith memegang jemari tangan Starla dengan lembut,tatapannya juga tak kalah khawatir. "Please, tolong kembali ke Starla yang dulu lagi"
Sophia setuju.
Kepala Starla pusing, dia tidak bersedih tentang a orang orang itu, orang tua yang tak ingin Starla ingat.
"Ha! Kenapa sih? Aku gak sedih kok. Lagian kenapa juga aku perlu sedih,aku Ini lagi senang ! Lilith, Sophia kalian itu salah"
"Gak! Kamu itu lagi sedih, La. Kita udah saling kenal sejak awalan masuk SMA, udah hampir setahun kita kenal. Mana mungkin kita gak tau." Sophia menyangkalnya dengan raut wajah heran sekaligus sedih. Temannya yang sangat ia kagumi sampai dia ingin mencontoh semua perilaku menjadi seseorang yang penuh empati.
"Sophia bener La, kamu lagi sedih selama Ini. Denger, sejak kematian orang tua mu kamu mulai menipu dirimu sendiri. Berkata pada sendiri jika kamu bahagia, senang padahal jauh di lubuk hati mu, kamu menangis kan. Keluarkan saja perasaan yang ingin kamu keluarkan. Jujur Starla !!"
Lilith sekarang benar benar menangis. Ia yang yatim piatu yang hidup di panti asuhan,yang menginginkan orang tua awalnya merasa iri pada Starla dan yang lainnya. Meski begitu dia tau betapa senangnya Starla ketika bersama orang tuanya itu. Walau yang dilihatnya hanyalah kebohongan.
"Kalian gak tau apa-apa. Kenapa kalian berpikir kalian tau semua tentang ku? Lalu Kembali menjadi Starla yang dulu? Gak mungkin,Lith. Sorry." Mau itu Lilith ataukah Starla mereka menangis. Air mata yang sama sekali tak tertahankan mulai turun membasahi pipi nya, matanya dan hidungnya berubah menjadi merah.
Dalam kelas yang sunyi itu dengan suara isakan dari Starla, dia mencoba menceritakan, mengeluarkan unek-uneknya. Semua alasan dia berbuat seperti itu, alasan kenapa dia senang, dan alasan mengapa dia sedih.
Cerita Starla membuat kedua sahabatnya itu membisu, tak bergeming sampai dia menyelesaikan ceritanya.
Lilith dan Sophia yang baru saja tau jika teman baik nya ini ternyata korban dari kekerasan dalam rumah tangga benar benar dibuat shock. Mereka yang dengan percaya dirinya merasa mengenal Starla, kini tidak bisa berkata apa pun.
Fakta yang mereka dengar membuat ketiganya menangis dalam pelukan, perasaan aneh dalam hati Starla semenjak hari itu sekarang perlahan mulai menghilang.
Selang beberapa menit kemudian akhirnya mereka berhenti menangis, mata mereka sembab.
Kemudian Sophia dengan hangatnya memuluk sebentar temannya itu llalu menatap lurus mata Starla.
"Starla,kami hanya ingin kamu tau dalam kasusmu mungkin memang kamu sedang senang. Tapi tidak bisa dipungkiri jika mereka adalah orang tuamu, setidaknya kalian memiliki memori yang cukup berharga," kata Sophia kemudian di sambung oleh Lilith.
"Aku tidak tau bagaimana kasih sayang orang tua itu, tapi yang ku tau mereka bakal lakukan hal apapun untuk menjaga anak-anaknya. Mungkin saja aturan di dalam rumah mu , dan larangan untuk mu bisa jadi adalah bentuk kasih sayang mereka tapi karena berlebihan itu berubah menjadi kekangan yang membuatmu tertekan"
Mereka tersenyum halus pada Starla. Begitu pula dengannya, dia senang memiliki teman teman seperti mereka. Berkat kata-kata Lilith barusan, ia mulai mengingat memori kebersamaan dengan orang tuanya.
Tawa, canda, senyum yang mereka tampilkan pada putrinya tampak tulus. Seperti ilusi, Starla sangat rindu akan momen seperti itu,namun takdir tidak mengijinkan.
"Kurasa itu benar, aku sedih karena orang tua ku pergi dan meninggalkan ku, selain itu aku bisa lepas dari kekerasan di rumah."
Jika dipikirkan bukankah lebih baik untuk melaporkan kelakuan mereka saja dari pada ujung ujungnya menyesal?
Mungkin mudah, namun Starla lah yang memilih untuk diam. Dia tidak ingin keluarga yang tak sempurna ini tambah rusak.
Starla melihat kedua temannya yang berjalan di samping kanan kirinya. Dengan senyuman dia berkata,"Oh ya,udah mau malam nih. Mau ke rumah ku saja? Sekalian nginap besok kan weekend." ajakan Starla dibalas anggukan dari kedua temannya itu.
-Tamat