-Prolog
Tidak ada yang pernah menyangka bukan. Jika aku saat ini tengah berada dengan dekat aktor Zhuang Yuu.
"Kau kan fans ku, jadi apa salahnya kita melakukan ini?"
Apa salahnya, kau bilang!.
Sudah jelas ini merupakan kesalahan. Bagaimana jika kita tertangkap oleh seorang fans fanatik mu?! Itu hanya akan menghancurkan karir mu, bukan.
Agh! Aku tidak tau lagi.
Kenapa bisa aku saat ini bergandengan tangan dengan mu, ZHUANG YUU!!
1. Aku menggemarinya.
Melaina Ming, itulah nama ku. Cukup sederhana dengan panggilan Mela. Aku bukan orang yang populer ataupun tergolong terasingkan di lingkungan, hanya sosok perempuan yang biasa-biasa saja yang aktif di kegiatan klub seni.
Semenjak SD aku selalu menyukai apapun yang berhubungan dengan seni, entah itu tarian, nyanyian, ataupun gambar.
Bahkan hingga kuliah ini pun aku tetap menyukai seni.
"Gila! Keren banget Zhuang Yuu!" pekik ku kala melihat poster aktor muda itu yang terpajang di dinding kamar.
Zhuang Yuu, aktor muda yang baru saja naik daun sekitar lima bulan yang lalu. Seseorang kelahiran Tiongkok dan berkarir menjadi sosok pemeran dari kebanyakan peran antagonis.
"Aku gak sabar banget buat besok Sabtu! Film pertamanya Zhuang Yuu jadi protagonis," ucapku girang.
Aku sama sekali belum pernah melihat Zhuang Yuu menjadi pemeran utama, semua yang dia perankan adalah sosok penentang dari protagonis. Dan tentunya ini merupakan berita yang bagus untuk ku.
Terlalu bersemangat, aku sampai lupa jika sore ini aku ada kelas. Buru-buru aku segera berkemas dan pergi ke kamous, ah, tentunya jimat ku, sebuah keychin Zhuang Yuu.
Aku selalu membawa itu kemana pun aku pergi.
Di perjalanan cukup macet entah kenapa. Padahal lampu sudah berubah menjadi hijau, tapi kendaraan yang di depan ku ini sama sekali tidak bergerak, hingga akhirnya aku mengetuk pelan jendela mobil itu supaya bergerak agar tidak menghalangi jalan.
Ketika jendela depan itu dibuka, aku reflek terkejut. Pasalnya, yang di dalam sana adalah Zhuang Yuu dan seorang yang ku tebak adalah managernya.
"Maaf, tapi sepertinya mobil ini mogok. Nona, bisakah anda mengantar anak ini ke tempat yang kami tuju? Ini sangat penting." Manager itu berkata pada ku, sampai membuat ku terdiam.
Tidak ingin membuat mereka menunggu jawaban ku terlalu lama, dan beberapa kendaraan yang berada di belakang ku ini terus saja mengklakson. Aku sontak memperbolehkan untuk mengantar Zhuang Yuu.
Kapan lagi kan aku bisa bertemu dengan idola ku? Mana aku mengantarnya lagi. Kesempatan langka jangan diabaikan.
Zhuang Yuu langsung saja keluar dari mobil dan duduk di jok belakang motor ku, tentunya dia tidak lupa untuk menyamar.
Akan sangat merepotkan bukan jika bertemu dengan sosok fanatik yang mempaparazinya.
"A-aku jalan ya."
Zhuang Yuu dengan suara serak dan beratnya, dia menjawab," Iya."
Ah! Aku baru saja mengobrol dengan pria itu.
Yah, meski hanya sedetik.
2. Zhuang Yuu sangat tampan.
Setelah aku mengantarnya di tempat yang dimaksudkan, yaitu acara fans meeting di aula. Aku segera pergi ke kampus.
Bisa ditebak di sana aku datang terlambat, dan tertinggal cukup banyak materi.
Namun, tak masalah. Aku punya mata-mata yang sigap menjelaskan padaku tentang materi yang diajarkan dosen.
Namanya Yoo Chaerin. Cewek asal Korea yang berkuliah di negeri ini. Cukup cantik hingga banyak orang terpesona padanya, dialah sosok most wanted girl sesungguhnya.
"Ada apa? Tidak biasanya kau telat." Pertanyaan itu langsung saja Chaerin lontarkan saat aku menaruh tas di bangku.
Aku menghela nafas sambil mengukir senyum. "Aku bertemu dengan Zhuang Yuu."
"Candaan mu sangat lucu," kekehnya yang tampak tak mempercayainya. "Dia orang yang super sibuk, mana mungkin kau bertemu dengannya di jalan."
'Tapi, nyantanya aku bertemu dengannya.' Aku hanya bisa berucap dalam hati.
"Oh ya, besok Sabtu mau pergi ke bioskop? Kita lihat filmnya Zhuang Yuu."
Ajakan apa itu, seharusnya Chaerin tidak perlu bertanya pada ku soal itu. Pastinya jawabanku aku akan pergi.
"Tentu!"
.
.
.
Aku, Zhuang Yuu. Seorang aktor yang baru saja terlambat dalam sesi acara fans meeting yang pertama.
Sangat bodohnya aku. Bisa-bisanya tadi aku masih tetap santai padahal firasat ku sudah buruk.
Tapi, yang jelas acara ini berjalan dengan lancar dan baik. Para fans ku banyak yang berteriak kala aku memasuki ruangan, bahkan mereka memberikan ku banyak makanan yang dapat ku makan ketika aku beristirahat.
"Zhuang Yuu. Aku akan melihat film mu besok Sabtu."
Ucapan itu membuat ku senang.
"Terima kasih, semoga besok kau menikmatinya," ujarku.
Berjam-jam kemudian, akhirnya acara ini selesai juga. Energiku juga sudah terkuras, rasanya aku ingin rebahan.
"Kerja bagus, Zhuang." Kepala ku menoleh ke arah suara itu, dia adalah manager ku, Tuan Len.
Aku menerima botol minuman itu."Terima kasih, Pak."
"Bagaimana dengan Nona itu?"
"Nona? Ah, yang tadi mengantar? Dia langsung pergi ketika ku turun dari motor, sepertinya dia terburu-buru."
"Pastikan kau berterima kasih padanya jika kalian bertemu," pesannya.
'Tentu saja, aku akan mengatakannya. Tapi, memangnya kami akan bertemu lagi ..?' tanyaku yang bisa ku katkan dalam batin.
Seperti keajaiban, benar saja apa yang Tuan Len katakan. Aku benar-benar bertemu dengan gadis itu sekali lagi di jalan.
Sontak aku menurunkan jendela mobil yang baru saja selesai diperbaiki, supaya dia dapat melihat ku dengan jelas.
Setelah jendela terbuka, nona itu menoleh ke arah ku. Seperti terkejut, dia membelalak.
Reaksi apa itu? Cukup lucu.
"Nona, terima kasih untuk yang tadi. Saya berutang budi," pungkas ku dengan suara lumayan pelan.
"Ti-tidak masalah, tolong lain kali jangan terlambat lagi."
Aku terkekeh mendengarnya. Suara lembut yang sedikit gagap itu membuat kesan imut padanya.
"Siapa nama mu, Nona?" tanya ku spontan.
"Eh."
"Ah, maafkan saya. Lupakan apa yang saya katakan tadi."
Aku seperti orang bodoh, kenapa aku tiba-tiba bertanya.
"Panggil saja saya Mela."
Aku tersentak mendengarnya. Ternyata dia menjawabnya.
Ingin sekali aku katakan jika aku adalah Zhuang Yuu, tapi aku tidak bisa biarkan suatu rumor menyebar di antara ku dan Mela.
"Saya Zua."
3. Pangeran ini.
Hari Sabtu yang ku tunggu, akhirnya tiba.
Bioskop sudah mantap dengan posisi kursi yang berada di depan dengan pencahayaan bagus, terlebih lagi camilan. Aku dan Chaerin sudah siap menikmati film perdana Zhuang Yuu sebagai protagonis.
Mata ku sama sekali tidak berkedip saat adegan di menit awal, Zhuang Yuu sungguh tampan dengan hanfu itu!
Pakaian yang berlapis biru dan putih dengan rambut palsunya yang panjang diikat, bahkan pedang bersarang di sisi pinggangnya. Senyum manis di bibir beserta tatapan hangat itu sungguh membuat ku merasa meleleh.
Zhuang Yuu memainkan peran sebagai seorang kultivator yang terpisah dengan sosok cintanya yang berbeda sakte. Cukup menarik dan mempesona lelaki itu.
Hingga tak terasa satu jam itu akhirnya selesai. Aku dan Chaerin lantas keluar area bioskop kala film selesai.
"Zhuang Yuu keren banget di film ini, tapi menurut ku dia cocoknya main cast antagonis, sih," komentar ku.
Chaerin mengangguk setuju. "Benar, tampangnya itu seperti judes, yah meskipun ada saat di mana dia lembut seperti tadi."
Asik berbincang dengan Chaerin tak sadar jika aku menabrak punggung seseorang di depan ku. Lantas, aku langsung meminta maaf padanya.
Kala ku lihat wajahnya lebih dekat, tunggu, bukankah pria ini ... Zhuang Yuu.
"Ah, Zhu— maksudku Zua?"
Zhuang Yuu yang memakai kacamata dan masker itu seperti tampak berseri saat kami bertatapan. Meskipun aku tidak yakin.
"Mela! Kau menonton film ini juga?"
Aku mengangguk. "Iya, film ini cukup seru."
Melihat Chaerin yang kebingungan akhirnya aku pun memperkenalkannya pada Zhuang Yuu atau Zua.
"Zua, kenalin ini teman kuliah ku, Kim Chaerin," ucap ku sambil melihat Chaerin yang tersenyum sapa.
Lalu pandangan ku berbalik ke arah Zhuang Yuu. "Chaerin, ini teman ku Zua."
"Salam kenal," tegur mereka bersamaan.
Tiba-tiba saja telfon Chaerin berdering membuat perhatian kami terfokus ke arah gadis itu.
Chaerin lumayan terlihat khawatir di wajahnya, lalu dia meminta ijin untuk mengangkat telfon itu pada kami. Meninggalkan aku dengan Zhuang Yuu ini sendirian di lorong.
"Ngomong-ngomong, setelah ini apa yang ingin kalian lakukan?" tanya Zua pada ku.
Aku berpikir sejenak. Soalnya, kami tidak terpikirkan apapun setelah menonton. Mungkin kami akan pulang.
"Jika tidak ada kerjaan, bagaimana jika ikut pergi ke kafe yang baru saja buka di dekat stasiun?"
"Apa? Lalu bagaimana dengan pekerjaan mu?"
"Tenang saja, akhir-akhir ini aku belum mendapatkannya. Aku bisa bersantai," tawanya kecil.
Aku sedikit cemas pada manager Zhuang kali ini. Meskipun pria ini seorang aktor yang naik daun, tapi masih belum banyak yang mengenalnya. Aku lumayan kasihan padanya.
Kemudian, Chaerin kembali. Dia dengan berat hati mengatakan untuk harus pulang segera, pasalnya adik bungsunya tinggal di rumah sendirian tanpa pengawasan dan Chaerin harus menjaganya.
Aku tidak ingin menghalanginya, dan membiarkan gadis itu pergi.
.
.
.
Lalu, saat ini aku dan Zhuang Yuu tengah berada di kafe yang dimaksud.
Cukup sederhana dengan isi minimalis, sangat cocok untuk ku ketika ingin bersantai. Aku harus berterima kasih pada Zhuang.
"Bagaiamana menurut mu, Mela? Bukankah ini cukup tenang."
"Iya, terima kasih sudah mengajak ku."
Seorang pelayan datang menghampiri kami, menanyakan pesanan. Aku memesan kopi dan Zhuang jus.
Ya, bisa dimengerti jika kesukaan Zhuang adalah jus.
Tanpa sadar aku sedikit tertawa kecil, sampai membuat pria itu menoleh keheranan.
"Ada apa? Tidak ada yang salah dengan seorang pria memesan jus."
"Hahahaha, iya. Itu benar."
"Lalu kenapa kau tertawa?"
"Aku pikir kau sangat lucu, Zhuang."
Keceplosan detik itu juga membuat ku terdiam seribu bahasa selama kami berada di kafe itu. Bahkan Zhuang tidak berkomentar apapun sampai kami menghabiskan pesanan.
Dan ... Kami berpisah begitu saja tanpa adanya percakapan lain selain.
"Terima kasih atas waktunya."
4. Pengangum Rahasia?
Sudah sebulan semenjak hari itu, dan sudah beberapa Minggu berlalu setelah aku mengetahui jika aku dan Zhuang selalu bertemu di tiap hari.
Pernah berpikir jika itu hanyalah kebetulan, tapi setiap hari? Ku rasa itu bukanlah suatu kebetulan.
"Aku rasa Zua membenci ku," beber ku pada Chaerin.
"Apa? Kenapa? Kalian bertengkar?"
Aku menggeleng, tanda itu tidak benar.
"Entahlah, aku tidak tau. Tapi rasanya Zua selalu seperti menatap ku dengan tajam."
"Dia mungkin menyukai mu," ungkap Chaerin yang sempat membuat jantung ku rasa berhenti berdetak.
Zhuang menyukai ku? Tidak mungkin.
Dia adalah seorang aktor, sedangkan aku? Cewek dekil yang kebetulan numpang lewat di hidupnya.
.
.
.
Ah, hari ini sungguh sial.
Hujan menghalangi motor ku melaju, terlebih sangatlah lebat. Padahal ada pekerjaan yang harus aku kerjakan.
Bisa tidak kirimkan aku seseorang untuk menjemput ku.
Bagaikan langit mendengarkan doa ku, tiba-tiba saja sebuah mobil berhenti di depan ku. Lalu jendela mobil itu turun memperlihatkan, sosok Zhuang yang memakai kacamata sekaligus masker.
"Ayo pulang, ku antar."
Loh? Ada apa ini.
Tiba-tiba sekali Zhuang melakukan hal seperti ini.
Chaerin yang melihat itu langsung bersiul kecil seperti mengejek ku.
Awas saja kau!
Buru-buru aku masuk ke mobil itu meski dengan kebingungan. Di dalam sana aku sedikit mengomel-omel kecil pada Chaerin yang berada di luar.
"Aku jalan ya."
"Oh, oke."
Hm, percakapan yang cukup familiar.
"Bisa kau beri tau alamat mu?" Zhuang berbicara dengan suara lirih serak.
"Oh iya, turun kan aku di stasiun saja. Aku ada pekerjaan di sana."
Zhuang terdiam beberapa detik setelah mendengar itu. "Baiklah."
Tiba di stasiun, hujan sudah mulai mereda. Aku langsung pergi ke tempat ku bekerja paruh waktu sebagai kasir.
"Terima kasih sudah mengantar ku, Zua," imbuh ku.
Zhuang mengangguk. "Sama-sama, untuk motornya akan ku bawakan ke sini."
"Benarkah? Terima kasih sekali lagi."
Lalu, Zhuang mengendarai mobil itu pergi.
.
.
.
Semakin aku melihat Mela, rasanya dia semakin cantik dan mempesona. Selain itu, dia juga tau jika aku Zhuang Yuu.
Suara detak jantung ku rasanya dapat dia dengar tadi, tapi tak masalah. Aku tau jika aku menyukainya.
Dan lagi, aku tidak bisa bilang jika Mela cukup mirip dengan seorang junior ku dulu ketika aku SD.
Seorang gadis cilik yang mencoba menghibur ku ketika orang tua tidak setuju aku bermain peran.
'Yah, berkatnya aku bisa menjadi aktor seperti ini. Aku harap bisa bertemu dengannya.'
5. Suka
Selama beberapa Minggu ke depan, aku dan Zhuang selalu bertemu. Tentunya dia menyamar.
"Mela, apa impian mu?" tanyanya pada ku.
"Aku ingin pergi ke luar negeri dan berkeliling menjelajahi dunia."
"Wow, aku pikir kau bisa mewujudkannya."
"Terima kasih," imbuhku senang.
Kami hanya diam seperti itu terus di dalam sunyinya malam. Tidak ada yang mengatakan apapun.
Sampai tiba-tiba saja sebuah benda langit bercahaya melintas di langit, membuat mata ku membola. Sangat cantik sampai aku ingin mengabadikan momen ini.
"Meteor ya."
Kepala ku menoleh ke arah Zhuang.
"Ternyata turun di hari ini," lanjutnya.
"Apa kau ingin membuat permohonan, Mela?"
Aku menggeleng. "Tidak perlu, kau saja."
Lalu Zhuang seperti berdoa, dengan mata yang terpejam. Mulutnya berbicara sesuatu.
"Semoga seseorang yang ku suka juga menyukai ku juga."
Deg.
Aku rasa aku merasakan jika jantungku berhenti sejenak. Orang yang disukai Zhuang? Siapa?
Ah, hatiku sakit.
"Ayo Mela, aku antar kau ke rumah," ajaknya sambil perlahan berdiri.
Secara reflek aku malah menahan tangannya, meminta dia untuk diam sebentar.
Aku ingin bertanya, tapi suara ku tidak bisa keluar.
"Mela, ada apa? Kau baik-baik saja?"
Aku menelan ludah kasar, mencoba mengumpulkan niat dan tekad.
"Siapa yang kau sukai itu?" tanyaku sedikit ragu.
"Hm, seseorang."
"Siapa?"
"Huruf depannya M."
Aku mengernyit, M? Siapa dia?
Aku cemburu padanya. Bisa mendapatkan hati dari Zhuang yang sudah lama ku sukai.
Lalu tiba-tiba tanpa mu sadari, rinai air mata itu turun membasahi wajahku.
Zhuang langsung melepaskan tangan ku yang mencengkeramnya, kemudian dengan paniknya suara serak pria itu bahkan sampai sedikit berteriak.
"Mela?! Kenapa kau menangis?"
"Aku ... sedih."
"Karena apa?" Zhuang masih berusaha menghiburku.
"Karena kau menyukai orang lain yang bukan aku." Aku terisak, lalu melanjutkan ucapan. "Aku sudah menyukai mu sejak pertama kau debut, tapi ... tetap saja aku hanyalah penggemar yang tidak bisa menaruh cinta pada idola ku."
"Dan sekarang kau menyukai seseorang." Aku tidak bisa berhenti menangis.
Zhuang tertawa keras, sampai membuat ku terkejut keheranan.
Aku sedang sedih loh!
"Kau menangis karena itu? Hahahaha. Mela, aku bilang huruf depannya 'M'."
"Lalu?"
"Dan huruf depan mu adalah ..."
"Ah, M."
Tunggu. Jangan bilang jika, orang yang disukai Zhuang adalah aku?!
"Aku menyukai mu Mela. Kau tau, saat aku melihat mu aku seperti bertemu dengan orang yang dulu menyemangati ku. Saat ku selidiki, ternyata itu memang kau. Melaina Ming."
"Aku tetap mengingat pesan mu itu, dan ... Sejak hari kita bertemu di masa lalu, aku sangat mengagumi mu," sambungnya.
Aku tidak tau harus bereaksi apa. Tapi, yang jelas aku benar-benar senang.
Rasanya doa Zhuang itu benar-benar terkabul.
-Tamat.