Aku adalah hukum disekolah ini. Gak ada yang berani mengusik ku, bahkan guru sekalipun. Mereka semua takut kepada ku, karena identitas ku, sebagai anak dari konglomerat ternama, Alexander, CEO sekaligus Presdir dari perusahaan X-Corps, perusahaan terbesar di negara Zambrud Khatulistiwa.
Yah... Meskipun aku bosan hidup seperti ini, yang hanya mengandalkan identitas ayahku yang sangat berkuasa, tanpa memperdulikan usahaku yang sangat keras, aku tetap menjalani kehidupan ini seperti "Boneka emas" milik ayahku.
Aku pun mulai jenuh dengan kehidupan mewah ini, dan memilih untuk memberontak pada keluarga ku. Aku bosan dan kesal, karena apapun yang aku lakukan selalu dihubung-hubungkan dengan ayahku yang seorang konglomerat, tanpa memperdulikan perasaanku yang telah berjuang keras.
Aku diam-diam kabur dari rumah tanpa sepengetahuan keluarga ku, dengan membawa sejumlah uang tabungan ku, hasil dari kerja keras ku selama bertahun-tahun, dan menetap di sebuah tempat yang sangat jauh dari rumah.
Dan sekarang, aku memulai kehidupan baru, dengan identitas baru, sebagai Louis Anggara, murid SMA kelas 1, Sekolah Bina Insan Nusantara.
Eps 1
Aku, William Louis Alexander, anak dari konglomerat ternama, Alexander Graham Bell, pemilik dari perusahaan X-Corps, perusahaan terbesar di negara Zambrud Khatulistiwa.
Banyak yang iri dengan ku, karena status ku sebagai anaknya ayah. Mereka bilang: "Seandainya aku anak orang kaya...
Seandainya aku bisa bertukar nasib dengan nya...
Seandainya, Seandainya, Seandainya...."
Persetan dengan semuanya!!
Aku muak dengan kehidupan ini!! Hidup bagaikan tak hidup, bernafas bagaikan tak bernafas.
Seandainya aku tak dilahirkan sebagai orang kaya....
Seandainya aku tak dilahirkan ayah dan ibu....
Seandainya aku hidup di keluarga sederhana....
Seandainya... Seandainya... Seandainya....
Mungkin aku akan bahagia!
Ayahku selalu sibuk bekerja, ibuku juga sama, selalu sibuk bekerja.
Dari kecil aku dirawat dan dibesarkan oleh seorang pelayan keluarga ku, namanya, Jennifer Aniston. Aku sangat mencintainya melebihi cinta ku kepada kedua orang tua ku sendiri. Terkadang aku berfikir, bahwa Jennifer lah yang sebenarnya orang tua ku.
Aku selalu hidup bagaikan "Boneka hidup" orang tuaku. Mereka selalu menuntut ku, memaksa ku, dan mengatur ku.
Aku selalu memenangkan berbagai macam perlombaan, baik perlombaan yang menggunakan kekuatan maupun perlombaan yang menggunakan kecerdasan. Meskipun telah menang dan jadi juara satu, kedua orang tua ku selalu belum puas dengan hasil yang aku dapatkan, dan menuntut ku agar melakukan yang lebih, lebih dan lebih, tanpa memberikan sebuah ucapan "Selamat" kepadaku.
Bagaikan Anjing Peliharaan, aku selalu menuruti keinginan kedua orang tua ku. Tanpa aku sadari, sudah lebih dari 5 lemari besar yang penuh piala terdapat di sebuah ruangan rumahku.
Aku selalu dijadikan "alat pemuas dahaga" oleh kedua orang tua ku dan menjadikan ku sebagai pamor sosial mereka.
Hidup yang penuh tuntutan, mengekang kebebasan, dan selalu diawasi setiap hari membuat ku muak, dan jijik dengan hidup ku ini. Seringkali aku berfikir untuk bunuh diri, tetapi, ingatan tentang Jennifer selalu menggagalkan keinginan ku ini.
Bertahun-tahun telah berlalu, Jennifer yang ku anggap sebagai orang tua ku sendiri pergi meninggalkan ku seorang diri di "Penjara emas" ini. Ia telah meninggal dunia, karena komplikasi jantung yang ia derita, aku sangat sedih atas kepergian nya, dan menangis tersedu-sedu selama 3 hari.
4 tahun telah berlalu sejak kepergian nya. Kini, umurku 13 tahun dan aku kelas 1 SMA. Aku mengikuti program percepatan sekolah selama 3 tahun dan berhasil lulus. Aku murid paling muda di kelas.
Suatu hari, ayahku dan ibuku pergi ke luar negeri dengan waktu yang cukup lama. Aku memanfaatkan ini, sebagai "alat" ku untuk kabur dari rumah. Aku muak dengan semua ini. Menjalani kehidupan seperti neraka tanpa ada seseorang untuk ku sebut "rumah".
Aku berhasil mengelabui mata-mata ayah dan ibu untuk memantau ku. Dan pergi jauh, jauh, jauh sekali dari rumah dan orang tua ku. Sekarang, aku hidup bebas sesuai keinginan ku, dengan identitas baru sebagai anak SMA kelas 1, sekolah Bina Insan Nusantara, dengan nama Louis Anggara.