Namaku Lilin, Lilin Farahliastri. Aku tinggal disebuah komplek perumahan Andara yang terkenal sebagai hunian para sultan. Ayahku adalah seorang dokter spesialis bedah, sementara ibuku adalah guru besar di sebuah universitas ternama di Indonesia. Aku merupakan anak bungsu dari 2 bersaudara, kakaku adalah seorang perwira TNI sedangkan aku sendiri adalah seorang dokter spesialis bedah saat ini mengikuti jejak ayah. Hidup kami benar benar sempurna sebelumnya. Yah mungkin sebelum kejadian malam itu.
Di usiaku yang genap ke 26 tahun ini aku memiliki seorang suami bernama Abimana Aryatama. Kami sudah menjalin ikatan pernikahan semenjak aku semester 7 sampai sekarang sudah jadi dokter spesialis bedah. Mas Abi dulunya adalah teman yang dikenalkan kakakku sebab kebetulan Mereka adalah teman seperjuangan semasa masih menjadi Tamtama. Saat pertama kali bertemu kesan aku padanya sangat baik, bahkan dia terlihat seperti laki-laki dewasa dan sempurna di segala aspek. Semua itu terbukti dari siakpnya yang penyabar, pengertian dan selalu memperlakukan aku sebagai prioritas ditengah segala kesibukan yang melanda dirinya sebagai perwira TNI. Bahkan di usia kami yang sekarang mas Abi tidak pernah menuntut aku untuk segera memiliki anak. Katanya "Terserah kamu saja, ini kan badan kamu. Selama kamu masih belum siap aku juga tidak akan memaksa." Huh beruntung sekali aku.
Kisahku dengan Mas Abi bagaikan sebuah perbincangan hangat yang selalu menjadi buah bibir warga kampus. Bisa dibilang hubungan kami terlihat sempurna baik dari segut keluarga, pekerjaan dan penampilan. Ntahlah tapi itu yang orang-orang katakan tentang kami.
Hingga suatu hari aku mengajak Mas Abi menghadiri sebuah pesta ulang tahun sahabatku, Riri namanya. Mas Abi sempat menolak karena sedang ada dinas diluar kota yang selesai besoknya tepat setelah malam ulang tahun Riri. Namun hari itu bodohnya aku terus bersikukuh memaksa Mas Abi datang kepesta. Aku bilang padanya melalu pesan WhatsApp “Mas minta izin saja pulang lebih awal beberapa jam. Tidak masalah Mas datang terlambat juga aku akan terus menunggu. Mas tidak pergi, maka aku juga tidak.” Membaca pesanku itu, Mas Abi akhirnya setuju dengan catatan mungkin dia datang sedikit terlambat. Aku mengiyakan saja, yang penting Mas Abi datang dan aku memiliki gandengan tangan untuk datang ke pesta ulang tahun Riri.
Malam itu udara berhembus sangat kencang, langit nampak mendung hingga Cahaya rembulan dan kelip bintang terhalang awan tebal. Aku duduk diteras rumah dengan menggunakan dress hitam yang pernah Mas Abi berikan padaku di hari jadi pernikahan kami yang ke-3 tahun. Aku terus menanti kedatangannya, berulang kali melihat ponsel namun belum menunjukkan notifikasi apapun dari Mas Abi. Yang ada hanya spam notif dari Riri yang memintaku segera datang sebab acara akan segera dimulai. Kala itu aku seorang diri dirumah, karena ayah dan ibu tengah pergi makan malam bersama om didi dan Tante Revi jadi sedikit khawatir menitipkan pesan kepada siapa jika seandainya Mas Abi datang terlambat dan aku akan langsung duluan berangkat ke pesta Riri.
Lama menunggu, tiba-tiba sebuah notif dari nomor tak dikenal muncul dilayar ponsel yang sedang aku tatap. “Apakah ini dengan mbak lilin? Ini dari pihak kantor kepolisian di******. Atas kecelakaan yang menimpa Bapak Ardi dan Ibu Novi dimohon mbak segera datang ke rumah sakit pelita harapan.”
Deg...ponselku jatuh kelantai sebab otot-otot syaraf yang rasanya melemas. Tatapanku yang kosong tiba-tiba diiringi deraian air mata yang mulai jatuh berbarengan dengan kesadaran ku yang hampir hilang. Sesak rasanya dada sampai ingin menangis namun malah tak bersuara, Kakaku masih diluar kota sedangkan Mas Abi masih belum datang, bingung bercampur rasa sedih dan takut kehilangan benar-benar membutakan pikiran aku saat itu.
Aku lihat ponsel yang masih sepi dari notif. Dengan gelisah yang mulai menyeruap aku mengambil kunci mobil dan segera berangkat menuju rumah sakit. Disepanjang jalan aku coba memanggil kakak namun ponselnya tidak aktif, begitu juga dengan Mas Abi. Aku hanya bisa menangis sejadi jadinya didalam mobil, bahkan aku sempat menabrak sebuah motor sebab terlalu ugal-ugalan dikuasai rasa panik.
Sesampainya di rumah sakit, aku berlari menuju ICU. Kulihat Tante Revi tak sadarkan diri di dalam pangkuan Om Didi sementara beberapa suster tengah berusah menyadarkannya. Langkahku mulai
berat, rasanya sangat tak sanggup mendekati mereka dan bertanya apa yang sebenarnya terjadi. Jalanku kian menggontai dan berat, hingga Om Didi menyadari kehadiranku dan bergegas mendekat. Aku lihat seluruh tubuhnya dipenuhi oleh cairan merah yang telah kering, bahkan tangannya juga terlihat seperti habis dicelupkan kedalam seember darah. Melihatnya aku tak mampu apalagi membayangkan kondisi orang yang menumpahkan darah sebanyak itu.
Aku mundur perlahan dan jatuh terkapar di lantai dengan tatapan kosong hingga Om Didi memegang pundak ku dengan tatapan iba seraya berkata “Lilin sayang, ikhlaskan kepergian kedua orang tuamu, semua ini adalah takdir dari yang maha kuasa.”
Degg.... perasaan sesak itu kembali menyeruap tatkala aku mendengarnya, aku berusaha menengadah keatas namun semuanya terlihat gelap dan aku pun jatuh tak sadarkan diri.
Saat aku bangun, yang kulihat pertama kali adalah Tante Revi yang memegang tanganku dengan erat sembari terus menangis. Saat ini aku sudah berada dirumah, nampak hari sudah pagi dan suasana mulai ramai. Aku sempat berfikir semua ini hanyalah mimpi, namun aku ternyata salah. Mengapa disaat banyak mimpiku yang belum tercapai malah sesuatu yang tidak pernah ku mimpikan yang tercapai.
Melihat tiga mayat terbungkus kain kafan didepanku itu membuat Perasaanku semakin hancur dan kembali menangis sejadi jadinya. Hingga aku baru menyadari, kenapa tiga? Siapa satunya? Dengan kaki yang berat dan jalan ku terpatah patah, aku merangkak mendekati mayat yang terbujur kaku di ujung itu. Aku buka perlahan-lahan kain penutup wajahnya dengan tangan gemetar.
“ABIIIIIII” Aku berteriak histeris. Tak terbayangkan bahwa itu adalah mayat dari laki laki yang kunantikan semalaman kehadirannya. Nafasku terasa benar benar sesak, aku melihat semua orang nampak menatapku iba, termasuk Tante Revi yang telus memelukku erat. Tangisku mungkin terdengar menggema diseluruh ruangan, terdengar sayu dan menyedihkan.
Tak lama pandanganku beralih pada seseorang lelaki berbaju loreng yang datang berlari dari luar dengan isak tangis dan air mata berlinang. Tak disangka dia adalah kakak ku yang langsung pulang setelah mendapat kabar kematian kedua orang tua kami. Tangisku kian pecah saat aku melihat kakak terus mencium kaki ayah dan ibu berulang kali sembari berucap “Arya bukan anak yang berbakti. Arya sibuk bekerja hingga tidak sempat menemani detik-detik terakhir kalian di dunia ini.”
Aku merangkak menghampiri Kak Arya dan memeluknya erat, begitu juga dengan dia yang memelukku erat sembari berbisik “Dimana Abi? Tadi malam dia terburu-buru berangkat kesini untuk menemanimu kepesta sampai lupa makan." Ucapannya itu terasa benar-benar seperti pisau yang sangat tajam, mencabik cabik perasanku yang telah hancur lebur tak berbentuk.
“I-itu Abi.” Ucapku sembari menatap mayat yang terbujur kaku disamping kedua orangtuaku. Kulihat kak Arya mendekati nya dengan perlahan, membuka penutup kain yang menutupi wajah Mas Abi. Saat melihat wajah Abi yang cukup rusak, Kak Arya kembali jatuh tersungkur dengan tatapan kosong namun air mata terus berderai.
Kami berdua benar-benar jatuh dalam kesedihan yang mendalam kala itu. Bahkan setelah selesai pemakamanpun aku dan Kak Arya tak berhenti menangisi kepergian mereka. Apalagi saat melihat keluarga Mas Abi datang membawa jasadnya tanpa menatap atau menyapaku sedikitpun, aku merasa benar benar-benar bersalah.
Sepulang dari pemakamanpun dengan tenaga yang tersisa aku bertanya pada Om Didi dan Tante Revi mengenai apa yang sebenarnya terjadi. Bagaimana bisa ayah, ibu dan Mas Abi pergi bersama malam itu. Padahal mas Abi sedang dinas diluar kota dan kedua orangtuaku sedang makan malam di restoran.
“Saat itu kakak dan kakak ipar menyelesaikan makan lebih cepat dan mengajak kami berbelanja di mall. Saat melihat-lihat barang kami bertemu dengan Abi yang sedang mencari boneka kesukaan kamu sebagai hadiah pertemuan. Melihat itu lantas kami mengajaknya pulang bersama. Namun Tante dan Om pamit pulang duluan karena ingin mengunjungi beberapa tempat lagi. Tak disangka saat pertengahan jalan dan kami harus berpisah jalur, kami malah melihat sebuah truk melaju dengan cepat kearah mobil yang dikendarai kakak. Lantas mobil mereka terpental beberapa meter dan semuanya tewas ditempat.” Ujar Tante Revi sembari berlinang air mata.
Dia pun memberikan boneka yang sebelumnya dibelikan oleh mas Abi, dan sebuah tas yang dipilihkan oleh ibuku. Melihatnya aku semakin menangis kalang kabut hingga tak sanggup lagi berjalan. Orang tua yang selalu membanggakan aku dan Kak Arya kini sudah pergi tanpa berpamitan, begitu juga Pria yang kucintai setengah mati pergi meninggalkanku seorangdiri.
Jikalau harus kutulis sebuah kalimat yang bisa ku utarakan, mungkin hanya sebuah permohonan untuk mengundur waktu kembali kemalam itu, aku tidak akan memaksa Mas Abi pulang kesini ataupun membiarkan kedua orang tuaku makan diluar. Namun apa daya semua sudah terjadi dan tak bisa diulang lagi. Yang mampu ku lakukan hanya menjalani dan menerima apa yang terjadi. Yang pergi tidak akan pernah bisa kembali, sementara yang ditinggalkan hanya bisa terus melanjutkan hidup.
Bertahun tahun aku tak bisa melupakanmu dan kejadian itu, hatiku masih terkunci rapat untukmu, Mas Abi. Kunci hati ini telah aku buang jauh ke tengah lautan, biarlah hilang selamanya bersamamu. Tidak denganmu maka tidak dengan yang lain. Kamu sendiri disana, maka aku juga sendiri disini. Sampai jumpa di pangkuan tuhan yang maha kuasa, sayang.