Rita... Nama yang akan selalu ku ingat seumur hidupku. Nama yang akan ku kenang hingga akhir hayatku.
Orang yang sangat penting bagiku. Orang yang telah membuatku tersenyum dengan lebarnya. Orang yang akan selalu memiliki tempat khusus di hatiku.
(10 tahun lalu)
"Yuka! Mau makan bareng?" Seseorang menepuk pundakku. Aku dengan spontan menoleh.
Rita, seseorang yang dikenal sebagai gadis paling ceria di sekolah. Ia tengah menatapku sembari tersenyum lebar.
"Makan? Kenapa gak ajak yang lain, temenmu kan banyak" Aku tidak memberi banyak perhatian padanya.
"Dara lagi sakit, makanya dia gak datang ke sekolah" Gadis dengan nama Rita itu masih berdiri di sampingku sembari memegang sebuah kotak makan di tangannya.
"Yang lainnya mana?" Aku menatapnya kebingungan. Setauku dia salah satu orang paling populer di sekolah, mungkin faktor dari sikapnya yang ceria.
"Aku sengaja ajak kamu, soalnya kamu kalau istirahat cuman di kelas mulu" Ia menarik tanganku.
"Ayolah" Rita tersenyum lebar.
Tangannya terasa sangat halus, aku tak bisa melakukan apapun selain mengakui hal itu.
Aku merasa jantungku berdebar kencang. Apa perasaan ini? Mengapa aku merasakannya?
Aku tak tau harus apa. Baru kali ini aku mendapatkan perhatian dari siapapun. Biasanya aku hanya dilihat sebagai kulkas berjalan, mungkin akibat sifatku yang tak peduli dengan siapapun.
Aku perlahan mengikutinya dari belakang. "Aku seharusnya tidak mengikuti kemauannya, tapi apa boleh buat" Gumamku dalam hati.
"Makan di sini yok!" Rita menunjuk ke meja kosong di kantin. Aku mengangguk pelan.
Hari demi hari berlalu. Semenjak itu aku menjadi lebih dekat dengannya, tak ada yang dapat memisahkan kami berdua.
"Yuka, aku ke wc yah!" Rita meneriaki ku sembari berlari ke wc sekolah.
Aku mengikutinya hingga depan kamar kecil wanita.
"Kenapa lama sekali?" Gumamku dalam hati.
"Jiakhhh! Ahhh!" Suara teriakan terdengar nyaring dari dalam wc.
Aku berlari masuk ke dalam. Rita tengah terduduk di pojokan wc sembari mengusap air matanya. Ini pertama kalinya aku melihat dia tak tersenyum.
"Kenapa?!" Salah seorang guru yang sepertinya juga mendengar teriakan itu masuk ke dalam diikuti oleh beberapa murid yang juga mendengar teriakan Rita.
Badan Rita bergetar hebat. Dia tak dapat berbicara. Dia hanya menunjuk ke stal ke tiga.
Aku berlari menuju ke stal yang ditunjuknya, tak ada apapun didalamnya.
Apa yang sebenarnya terjadi?
Sky without stars coming soon!