Pada suatu hari,di sebuah kerajaan lahirlah seorang putri. Putri yang jelita nan anggun. Kelahirannya membuat raja Dan ratu bahagia, bahkan pangeran pertama, kakak dari sang putri rela bernyanyi di alun-alun.
Semua rakyat menyayangi putri itu, selain karena tampangnya, putri adalah seseorang yang terjun langsung untuk pergi melihat rakyatnya.
Putri tersebut bernama Aislin. Makna dari namanya adalah mimpi, orang tuanya berharap jika saat dewasa Aislin akan membawa kerjaan ini menuju mimpi yang di harapkan.
Aisilin tumbuh menjadi putri yang cukup terampil akan berbahasa asing, pandai dalam berkebun, serta ahli dalam menggunkan pedang. Namun, kemampuan yang dimilikinya mendapati banyak komentar buruk diantara bangsawan, karena Aisilin adalah putri maka seharusnya dia tidak menggunakan pedang. Aisilin yang berkeinginan menjadi ksatria wanita hanya bisa menanamkan hal itu di benaknya, berharap suatu saat nanti kan terwujud.
Ketika Aisilin berusia genap 16 tahun. Kerajaan menggundang banyak bangsawan untuk menghadiri pesta ulang tahun sang putri. Tapi sayangnya, dalam pesta tersebut tokoh utama tidak hadir, sehingga pangeran pertama atau kakak dari Aisilin mengulur waktu dengan berdansa.
Di sisi lain, Aisilin berada di taman istana. Dia mengayunkan pedangnya ke sana kemari seperti menari, sangat cantik. Dengan hiasan malam dan bulan yang cerah menyinarinya serta angin malam membuat sang putri terlihat begitu tajam dan anggun mengenakan pakaian kesatrianya.
Huh huh.
Suara nafas Aisilin bersemangat, dengan keringat yang keluar dari pelipis sedikit membasahi rambut pirangnya.
"Hanya karena aku ingin menjadi ksatria dan mengangkat pedang, bukan berarti juga aku lalai dalam peranku sebagai putri kerajaan," kesalnya.
Tiba-tiba seseorang muncul dari belakang Aisilin, membuatnya terkejut sampai dia tidak sengaja mengarahkan pedangnya pada orang tersebut.
"Wow wow tenang, putri. Ini saya," katanya.
Suara itu terdengar cukup familiar, kemudian dengan cahaya sinar bulan yang menyinari wajah orang di depan Aisilin itu terlihat. Sosok pria yang adalah temannya, Derick.
Aisilin menyingkirkan pedangnya dari Derick.
"Derick?! Apa yang kamu lakukan di sini?"
"Seharusnya saya yang bertanya pada anda putri. Kenapa tokoh utama hari ini malah sibuk bermain dengan pedang dibandingkan berkumpul di pesta?"
Aisilin terdiam. Dia mengalihkan pandangannya ke bunga di sebelah kanan, bunga mawar.
"Pesta itu membosankan Derick, meski hari ini ulang tahun ku sekaligus upacara kedewasaan tetap saja ini menjengkelkan," keluhnya mendapati helaan nafas kecil dari pria di dekatnya.
"Tapi putri, saya penasaran apa yang membuat anda berpikir seperti itu? Bukankah seharusnya pesta itu tempat yang cukup seru?" Derick mengumpan balik perkataan sang putri. Aisilin sedikit ragu untuk menjawabnya.
"Suara mereka yang berisik dengan banyaknya rumor aneh beredar di sana. Aku muak akan hal itu! Aku benci dibohongi!" Kata-kata Aisilin menjawab pertanyaan Derick. Pria itu sedikit tersenyum.
"Meski begitu putri, anda seharusnya tau bukan. Rumor itu berasal dari 10% kejujuran 90% kebohongan, lagi pula anda harusnya percaya apa yang anda dengar dan lihat sendiri dari orang bersangkutan bukan dari orang lain." Derick berjalan melewati Aisilin kedepan, hingga dia berhenti di sebuah gazebo taman yang cukup dekat dari jarak asal mereka.
Aisilin cemberut, dia merasa seperti anak kecil di depan tamannya itu.
"Iya iya, aku paham. Aku akan pergi ke pestanya!"
Derick yang melihat Aisilin menggembungkan pipi mungilnya merasa gemas,lalu dia melanjutkan pekataannya.
"Tapi saya penasaran putri, apa alasan sebenarnya anda benci dibohongi? "
"Oh itu, dengar ini Derick. Sebulan yang lalu aku dan temanku pergi ke pusat kota, tapi kemudian tiba-tiba ada seseorang yang menculik kami. Awalnya kami takut, lalu temanku ada ide, dia berencana untuk mengalihkan perhatian penculik lalu membiarkan ku kabur duluan." Aisilin bercerita, dia berhenti sejenak untuk mengingat kejadian itu.
Lalu dia melanjutkan, "Aku berhasil kabu. Dan membawa para penjaga ke tempat para penculik itu. Lalu tebak apa yang kami temukan? Itu mayat! Temanku dan para penculik terbaring dengan bersimba darah banyak, uhh, mengerikan."
Kemudian suara Aisilin berubah menjadi sedih.
"Tapi apa kamu tau, temanku itu bilang dia akan menunggu dan bertahan sampai aku kembali dengan para penjaga. Namun yang ku temukan dia malah mati, hahaha. setelah itu muncul rumor aneh, mereka bilang temanku lah yang mengajak ku ke luar istana, padahal itu aku sendiri."
"Huh ... itulah kenapa aku benci dibohongi ataupun romor," akhir cerita dari Aisilin.
Seketika Derick bertanya balik pada Aisilin."Oh cerita yang cukup menyedihkan, putri. Lalu siapa nama teman anda itu?"
"Namanya Der..." Aisilin merasa aneh, dia langsung mengingat kejadian bulan lalu. "..Rick," lanjutnya.
Dan akhirnya putri itu ingat. Temannya, Derick telah mati sebulan yang lalu.
Aisilin yang mengingat hal itu, lalu melihat Derick di depannya, maksudnya 'hantu Derick'. Dia tersenyum lembut mnbalas taapan heran Aisilin.
"Putri, saya ingin anda tau. Tolong maafkan kebohongan saya waktu itu, saya ingin anda melupakan kejadian menyedihkan hari itu. Melihat anda terus menangis membuat saya sakit putri," ucapnya sambil sedikit meneteskan air mata,dia menyentuh halus rambut hitam Aisilin.
Belum sempat Aisilin mengucapkan sesuatu yang berada di tenggorokannya, Derick telah pergi.
'Aku benci kebohongan mu, tapi aku lebih membenci kebohongan ku yang melupakan hari itu. Selamat tinggal, Derick.'
-Tamat.