Judul : Aku Miliknya
Karya : Daliyah Zaheer
Apa kalian pernah melihat genderuwo dari jarak yang dekat?
Aku pernah melihatnya, bahkan sangat dekat sampai tidak ada jarak diantara kami.
Inilah kisahku.
Entah mulai sejak kapan semuanya terjadi, yang aku ingat saat itu aku duduk ditingkat SMP. Saat itu waktu menjelang masuk isya, aku dan kedua temanku berjalan memasuki komplek perumahan baru di daerah Tangerang. Komplek perumahan tipe dua puluh dua, tipe RSSS alias rumah sederhana susah selonjor.
Rumah yang berjajar dan belum berpenghuni, kami memotong jalan agar cepat sampai ke tujuan kami, ada rumah paling ujung sudah terisi karena lampunya sudah menyala dan ada beberapa orang sedang duduk di sana, mungkin mereka sedang mengobrol. Lima rumah sebelumnya tanpa penerangan, ada suara anak menangis, kemungkinan anak itu berusia tiga atau empat bulan di gendong seorang wanita. Aku hanya menebak orang itu wanita, karena ia memunggungi kami dengan rambut di cepol seperti mbokku di kampung.
Posisi wanita dan anak itu memunggungi kami dan sedikit jauh dari kami yang belum melewatinya, anak itu terus menangis membuat kami terfokus memandangi mereka berdua sambil berjalan semakin mendekati ibu dan anak itu, anehnya ada asap di atas kepala wanita itu seperti asap rokok, aku pikir ia memang sedang merokok. Akan tetapi, wanita itu membuat kami bertiga terdiam seketika, bahkan mulutku gagap bicara.
“A-a pa i-i tu,” ucapku.
“Sari, ayo lari!” Aku melihat Ika menarik kuat lengan sari, mungkin waktu itu Sari refleks menarik kerah bajuku dan kami berlari secepat kilat bahkan sandalku tersisa satu. Wajah wanita itu rata.
Kami berlari tanpa menoleh mendekati rumah paling ujung yang lebih terang, orang yang sedang mengobrol itu berdiri karena melihat kami.
“Kenapa, dek?” tanya salah satu dari mereka seraya menoleh jalan yang sudah kami lalui.
“Setan!!” Teriak kami yang terus berlari tanpa berhenti.
Sejak saat itu, kami selalu sial, mendengar suara terkikik, melihat sosok bertubuh besar, dan setelahnya pasti sakit demam, hanya aku saja yang tidak pernah sakit.
Saat usiaku tujuh belas tahun, ini awal mula aku merasakan ia lebih dekat denganku. Setiap kali aku sholat aku pasti pingsan dan ketika sadar leher belakangku sakit, sepertinya aku dipukul di bagian belakang, seperti ada yang sengaja agar aku pingsan dan tidak sholat.
Setiap kali aku berucap pasti terkabul. Seperti waktu itu ini hanya salah satunya, aku suka sekali dengan stiker idola K-Pop, aku tidak akan bisa membelinya karena memang harganya lumayan mahal. Dan tring! Aku bagai punya ibu peri yang ada di dalam dongeng, stiker idola K-Pop itu ada di dalam laciku dengan jumlah yang sangat banyak dan aku bisa mendapatkan uang dari hasil menjual stiker itu.
Sampai suatu hari hal yang memalukan terjadi, aku datang ke sekolah tanpa pakaian dalam, untung saja teman wanitaku yang menyadarinya. Ia meminjamkan almamater klub eskulnya padaku, dengan malu aku meminjam telepon sekolah dan memberitahukan ibuku perihal pakaian dalam. Satu jam kemudian ibuku datang dengan pakaian dalam yang aku pesan sembari mengoceh.
“Kamu apa-apaan, sih Ka? Malu tahu!”
“Mah, sumpah, Kaka dari rumah pakai daleman kok,” ucapku.
“Nih, sana pakai.” Ibuku memberikan paper bag padaku.
Dan wow, ibuku tidak hanya membawa satu daleman tetapi lima dengan berbagai warna dan model yang dipakai wanita dewasa, ah.. aku tahu karena pakaian itu suka muncul di majalah dewasa milik teman laki-laki di sekolahku.
Waktu itu tidak sengaja aku meminjam buku Ardi temanku, ia menyuruhku mengambilnya sendiri yang ada di dalam tasnya. Nah, saat itulah majalah itu aku dapat, dan bodohnya Ardi tanpa malu sering menceritakan apa yang wanita dewasa pakai saat bercinta dengan pasangannya. Jadilah aku tau hal itu.
“Bu!” teriakku dengan kesal, apa-apaan ibuku ini.
“Apa?”
“Ini apaan?” Aku tunjukkan paper bag itu.
“Astaghfirullah, apaan ini?”
“Aku yang seharusnya bertanya, ibu bawa daleman siapa? Ini bukan punyaku.”
“Tapi, ibu tidak membawa ini tadi, ibu juga tidak tahu itu punya siapa.” Terpaksa aku memakainya karena tidak mungkin ibuku kembali lagi ke rumah untuk mengambil yang lain.
Sedihnya, setiap kali aku memakai daleman milikku, pasti kejadian itu terulang. Tetapi ketika aku memakai pakaian aneh itu aku selamat sampai di rumah. Kesalnya, setiap kali di dalam rumah pakaian dalamku akan kembali kedalaman lemari, meskipun aku memakai dalaman aneh itu. Sepertinya aku tidak diizinkan memakai daleman di rumah.
Kejadian aneh terus saja terjadi dalam hidupku, bahkan lebih parah lagi. Aku bermimpi bercinta dengan pria yang entah siapa tapi sangat tampan dan aku sangat menikmatinya sampai kemaluanku terasa sakit ketika bangun, aku khawatir jika keperawananku hilang. Dengan takut dan malu, aku bercerita kepada ibu mimpi yang hadir hampir setiap malam, karena takutnya aku sulit untuk tidur.
Ibu membawaku ke bidan untuk melakukan pemeriksaan dan syukurnya aku masih perawan, ibu sampai mencari ustadz bahkan orang yang viral di medsos dan minta pendapat mereka. Beberapa dari mereka bilang, bahwa ada jin yang sangat menyukai aku. Aku menepis omongan mereka, mana bisa jin menyukai manusia. Bodoh!
“Air apa ini, Bu?” Aku menemukan air di dalam botol aneh yang berada di atas meja belajarku.
“Itu air dari ustadz Yusuf, katanya kamu basuh ke muka sebanyak tiga kali.”
“Ck, aneh, Bu.”
“Kita sedang ikhtiar, Ka.”
Aku menuruti apa kata ibu, setelah melakukan perintah ibu, aku segera menarik selimut dan tidur karena waktu sudah jam sepuluh malam.
Sayangnya justru mimpi itu malah jadi semakin terasa nyata. Pria bertubuh tegap, putih, tinggi dan tampan itu datang memasuki kamarku, wajah yang sama yang setiap kali datang ke dalam mimpiku. Anehnya masih ada ibu yang duduk di dekatku seraya melipat pakaian, pria itu tersenyum menatapku.
Aku berusaha menarik lengan ibu untuk menunjukkan siapa pria yang datang itu, apa ibu mengenalnya sehingga ia dengan santai masuk ke dalam kamarku. Tapi, tanganku sulit menggapai ibu bahkan mulutku tak bisa memanggilnya.
Pria itu menarik kakiku menjauhi ibu, aku tidak bisa menjerit memanggil ibu, pria itu mulai mendekatkan wajahnya dan menciumi seluruh wajahku, dan ia mulai menindih tubuhku seperti sebelumnya. Malam ini aku merasa takut karena aku dapat menyentuh tubuhnya yang dingin, bahkan merasakan bau aroma wangi yang menyengat hingga membuatku sesak napas, ia tidak berhenti di wajah dan mulai melakukan aksinya seperti malam sebelumnya kali ini di hadapan ibu.
Aku menangis dan berteriak cukup keras karena takut, tapi suaraku tak dapat didengar oleh ibu yang semakin menjauh meninggalkan kamar. Sebelumnya hanya sekedar mimpi tapi kali ini sungguh terasa nyata bahkan rasa sakit juga sangat terasa. Ketika pria itu bangkit dari tubuhku aku belum berhenti menangis, hingga ibu datang dengan keadaan panik.
“Kaka, kakak kenapa?”
“Ibu! Tolong aku, Bu!” teriakku. Tapi, sepertinya ibu tidak mendengar, padahal ibu sedang mengguncang tubuhku dengan kuat sampai ibu menarikku ke pelukannya. Ibu berlari keluar kamar sambil berteriak memanggil ayah.
“Ayah! Tolong Heni, yah!”
Ibu kembali dengan ayah, ayah juga terlihat panik dan menggendong tubuhku berlari keluar. Mungkin suara minta tolong ayah begitu keras hingga orang-orang lari keluar berhamburan mendekati aku.
“Tolong!” Teriakku. Meminta bantuan kepada mereka yang datang. Tapi, mereka juga sama sepertinya tidak mendengarku.
Ayah menaruh aku di salah satu mobil entah milik siapa, dan membawaku ke rumah sakit. Sesampainya di UGD dan dilakukan pemeriksaan keputusan dokter mengharuskan aku di rawat.
Stroke, begitu yang di katakan dokter tentang penyakitku yang hanya berbaring saja, hanya mata saja yang merespon maka aku tidak dinyatakan koma. Setiap kali suntikan itu menusuk kulitku aku terasa sakit dan menangis maka setiap kali di suntik jarumnya akan patah sehingga rumah sakit akan memberikan obat melalui selang infus.
Selama di rumah sakit, pria misterius itu tidak datang ke dalam mimpiku, aku hanya terbaring tanpa bicara di atas ranjang rumah sakit, hanya bisa mendengar dan melihat siapa saja yang datang menjengukku.
“Heni hanya bisa mengeluarkan air mata saja jika merespon sesuatu.” Begitulah yang ibu katakan jika ada orang yang bertanya tentang keadaanku, bahkan pihak rumah sakit hanya bisa menerka-nerka apa yang aku derita.
Sepertinya ayah kehabisan uang, sehingga aku terpaksa di bawa pulang dengan keadaan yang masih tak dapat bergerak. Teman sekolahku datang menjengukku saat aku sampai di rumah, beberapa dari mereka menangis melihat keadaanku.
“Jangan menangis!” Teriakku pada mereka tetapi sepertinya mereka juga tidak dapat mendengarkan aku.
Pria misterius itu datang di malam ketiga setelah aku kembali dari rumah sakit.
“Jangan mendekat, siapa kau!” Tiba-tiba saja suaraku keluar dari mulutku.
“Sayang, aku suamimu.” Itulah yang ia katakan.
“Aku tidak mengenalmu, jangan mendekat,” ucapku. Sepertinya kata-kataku membuatnya sedih. Aku tidak peduli karena memang aku tidak mengenalinya.
Tapi, justru aku membuatnya marah, ia melakukannya dengan kasar tidak lembut seperti sebelumnya, tubuhku sakit dan pegal. Setelah ia memuaskan hasratnya padaku, jantungku mendadak sakit, napasku sesak, ketika melihat wajah tampannya berubah menyeramkan, hitam, berbulu, bertaring, bermata merah dan bertubuh besar. Sangat jelek dan satu lagi ia bau bangkai.
Satu Minggu aku tersiksa seperti itu oleh makhluk buruk rupa dan menyeramkan.
“Ya Allah, ampuni aku, tolong aku, sembuhkan aku.” Itulah yang aku ucapkan setiap saat dengan mulut membisu.
“Ka, zikir ya, Ka.” Ibu memberikan aku sebuah tasbih. Tetapi, tasbih itu putus ketika aku baru menyebut laillahailallah, ibu memekik karena terkejut.
Radio, ponsel akan rusak ketika mengeluarkan suara murottal Al-Qur’an maka ibu yang akhirnya membaca Alquran di dekatku, orang tuaku tidak pernah membiarkan aku sendirian, secara bergantian ibu dan ayah menjagaku.
Sampai suatu hari aku kedatangan tamu, seorang gadis cantik, entah siapa gadis itu, Ia duduk di dekatku, dan menggenggam tanganku. Aku menyebutnya dewiku, dewi penolongku.
“Tubuhmu sampai habis seperti ini, apa makhluk jelek itu menyiksamu?”
Bagaimana ia tahu, aku segera menjawab. “Ya, aku di siksanya!” Aku berusaha berteriak tapi suaraku tak terdengar dan aku hanya bisa menangis.
“Aku bisa mendengarmu,” ucapnya.
Aku membulatkan mata karena terkejut. “Apa kau bisa mendengarku? Benarkah?”
“Ya, aku bisa mendengarmu.”
Aku menangis tergugu, aku tidak menyangka gadis yang usianya tidak jauh dariku bisa mendengarkan aku yang tidak bisa di dengar orang lain.
Ia menaruh lengannya di sekitar kepalaku tanpa menyentuh, perlahan turun sampai ke kaki. Rasanya hangat seperti memakai minyak kayu putih yang di balurkan ke seluruh tubuhku.
“Ini sedikit sakit, tahan ya,” ucapnya .
Benar saja, rasanya seperti bisul yang sedang di tekan, perih, nyut-nyutan, sakit, ketika ibu jarinya menekan keras di tengah keningku, air mataku mengalir turun ke telinga karena posisiku yang berbaring.
“Argh!!” Teriakku menahan rasa sakit berhasil menclos keluar dari bibirku.
“Heni!” Pekik ibu memelukku di kaki.
“Ia hanya bisa bicara sementara, tubuhnya belum bisa saya sembuhkan, mungkin nanti saya usahakan,” ucapnya.
“Terima kasih.” Ibu menangis tergugu.
Dewiku pamit pulang dan akan kembali lagi esok hari, dewiku yang tidak mau disebutkan namanya, dengan sengaja ia datang tanpa diundang dan mengetuk pintu rumahku. Mungkin Allah mengutusnya datang padaku.
Malam harinya, dinding kamarku penuh coretan dengan kata kotor dan nama hewan yang tidak boleh disebutkan, karena akan mengundang orang kesal jika mendengarnya dan telapak kaki berwarna merah, berbau darah. Mengeringkan!
Tubuhku yang tidak bisa bergerak ini tidak bisa di angkat oleh empat bahkan enam orang sekaligus, ibu dan ayah berniat memindahkan aku ke kamar lain demi menghindari suara yang mulai bising di telingaku, sepertinya makhluk itu sedang marah.
Beberapa orang dewasa mulai mengaji di dalam kamarku dengan bergantian, tapi dari mereka tak tahan berlama-lama karena mereka akan merasakan tubuh merinding bahkan sampai merasa mual.
“Makhluk sialan! Pergi kau!” Teriakku. Dijawab dengan suara kekehan berat. Aku menangis tergugu lagi.
Keesokan harinya, dewiku datang. Ia tersenyum manis sangat manis ke arahku. Sontak saja hatiku senang akan kehadirannya.
“Semalaman ia mengganggu?”
“Iya.”
Dengan sekali gerakan tangannya ke udara, tulisan dan jejak kaki makhluk itu menghilang, ajaib. Cekung di mataku akibat sulit tidur dan terlalu banyak menangis juga menghilang ketika gadis itu menaruh kedua tangannya di kedua mataku, rasanya sejuk.
Dewiku datang tidak sendiri, ia datang dengan empat orang temannya, dua perempuan dan dua laki-laki, aku rasa salah satu pemuda itu adalah kekasih dari dewiku karena tatapannya berbeda kepada dewiku. Mereka sepasang kekasih yang tampan dan cantik, meski tatapan pria itu terlihat dingin tapi senyumnya dapat menggetarkan. Maaf, bukan aku jatuh cinta padanya tapi ia memang terlihat seperti itu.
“Boleh kami menginap?”
Aku mengangguk kuat sambil tersenyum, ibuku pun langsung berkata. “Boleh, Nak. Dengan senang hati.”
Mereka meminta izin untuk merekam kegiatannya, awalnya aku keberatan tapi kamera itu sebagai bukti mereka pernah berinteraksi dengan si jelek, dewiku bilang bisa saja makhluk itu dapat terekam, itulah yang membuat aku setuju berharap makhluk menjijikkan itu dapat di lihat oleh kedua orang tuaku.
Sampai tengah malam, makhluk itu belum juga datang, sampai gadis itu duduk bersila dan memejamkan matanya. Ia menggerakkan jarinya ke lantai dan menggambar sesuatu yang tidak bisa di tebak itu apa, yang akhirnya memancing makhluk jelek itu datang. Suaranya berat dan keras membuat bulu kuduk merinding.
“Jangan ganggu pengantinku, Arg!”
Dewiku terkekeh. “Sembarangan kamu, mau pergi sendiri atau kaki tanganku yang akan mengusirmu bahkan membuatmu menghilang.”
Makhluk itu berteriak hingga kamarku merasakan getar, orang yang berada di kamarku memekik, suaranya memekakkan telinga aku hingga menutup telingaku.
“Alhamdulillah tanganku bisa bergerak,” ucapku dalam hati.
Gemuruh mulai bersahutan di kamarku, hanya kamarku, benda berjatuhan. Bahkan Dewiku mengeluarkan darah dari mulut dan hidungnya, karena menggunakan tenaga dalamnya, kekasihnya mendekat dan membersihkan darah itu kemudian kembali mundur setelah membisikkan sesuatu ke telinganya. Mungkin kalimat doa atau cinta, ah.. aku tersipu jika mengingat mereka berdua. Setelah cukup lama adegan aneh di luar nalar itu berlangsung suara letupan muncul di belakang rumahku.
“Ibu, ada benda di belakang yang terbakar, biarkan itu terbakar sampai habis lalu tutupi dengan tanah setelah api itu padam.” Perintah dewiku pada ibu. Ibu segera keluar kamar di ikuti kekasihnya dewiku juga ayah.
“Si jelek sudah pergi,” ucapnya seraya tersenyum.
“Terima kasih,” ucapku. Dengan air mata yang tak mau berhenti karena terlalu bahagia.
Dewi penolongku mendekat, memijat kaki dan tubuhku yang satu persatu kembali dapat aku gerakkan. Lagi, aku menangis bahagia juga ibu yang kini sudah kembali ke kamarku karena ayah yang mengerjakan perintah dari dewiku.
Dewiku dan teman-temannya kembali pulang keesokan harinya setelah sarapan pagi yang ibu buat seadanya. Kami mengobrol sebentar sebelum ia pergi.
“Apa aku bisa menjadi temanmu?”
“Tentu saja,” ucapnya.
Ia memberikan nomor telepon dan memberitahukan dirinya berasal dari mana. Sekali lagi aku memeluknya dan mengucapkan terima kasih padanya berserta teman-temannya yang jauh-jauh datang ke rumah hanya dengan bantuan mimpi.
Satu bulan kemudian, aku bertanya kepada ibu, benda apa yang terbakar waktu itu.
“Pembalut, Ka. Mulai sekarang kamu harus membersihkan pembalut sampai bersih total. Kata gadis itu makhluk itu menyukaimu saat pertama kali kamu haid dan terus menerus mengikuti dirimu sampai kemarin.”
Aku kembali ke kamar dan memutar memori beberapa tahun lalu, berarti hadiah ibu peri, pakaian dalamku yang menghilang itu ulahnya. Kurang asem! Kesalku dalam hati. Seandainya aku memiliki kekuatan seperti Dewi penolongku sudah aku hajar pria busuk di balik pria tampan dan mempesona itu, yang seumur hidup belum tentu aku dapatkan di dunia nyata karena pria itu terlalu sempurna untuk hidup di dunia.
“Dasar, inilah yang disebut serigala berbulu domba. Eh buruk rupa bertopeng pangeran. Argh!” Kesalku memukul kepalaku. Bisa-bisanya aku terpesona waktu itu pada makhluk yang kenyataannya sangat jelek dan menjijikkan.
Aku kembali menjalani hidupku yang normal, lambat laun cerita itu hilang dari lingkunganku, meski hanya aku yang masih takut jika timbul suara, aku takut jika makhluk itu akan mencariku kembali, seperti kalimat terakhirnya sebelum ia menghilang malam itu.
“Sayang, aku mencintaimu, kita akan bertemu kembali.”
Jika mengingat kalimat darinya aku menjadi takut, sangat takut hingga napasku sesak dan tubuhku gemetar bahkan sampai jatuh terduduk ke lantai.
“Sayang, aku rindu.”
TAMAT