Mau semenyebalkan apapun, yang namanya orang tua, biar bagaimanapun juga harus tetap dihormati.
Cuma kadang aku heran dengan sifat bapakku itu. Mentang-mentang berprofesi sebagai Gumil (guru militer) serta komandan tentara yang terbiasa memerintah anak buah, apa sifat kerasnya itu sampai harus ikut dibawanya pulang kerumah juga? Apa kami anak-anaknya harus selalu jadi sasaran latihannya? Inikah yang dinamakan disiplin?
Aku ingat sewaktu aku dan saudara-saudaraku masih kecil. Meski keluarga kami tidak memelihara kerbau, cambuk kerbau selalu tersedia di sudut ruangan. Bukan sekedar hiasan, melainkan benar-benar untuk mencambuk ataupun sekedar menakut-nakuti jika kami berbuat kenakalan.
Jika dijaman sekarang dimana teknologi serba canggih, dan komunikasi telah berkembang pesat dengan adanya internet, mungkin akan viral diberita nasional dengan tema kekerasan terhadap anak.
Tapi dijaman dahulu, hal ini sudah merupakan hal yang lumrah bagi orang tua mendidik anak dengan cara semacam ini.
Bahkan, aku ingat waktu sekolah dasar, guru di sekolahku pun tak segan memukul tangan anak didik yang kukunya kotor dan tidak dipotong dengan bilah bambu yang digunakan untuk menunjuk tulisan di papan tulis.
Tapi menurutku, waktu itu kami sebagai anak tidaklah nakal-nakal amat. Kenakalan anak yang masih dalam batas wajarlah. Paling-paling cuma mecahin genteng tetangga waktu lempar batu ke pohon mangga sebelah.
Atau, harusnya jangan salahkam kami sewaktu burung perkutut pak Broto dimakan si Bagong, kucing peliharaan kami yang sedang kelaparan karena belum sempat dikasih makan. Salahkan saja kandangnya yang nggak rapat hingga si Bagong bisa menyambar perkutut pak Broto.
Alhasil, kamipun terpaksa harus melepas pergi dan menanggung kesedihan berpisah dengan si Bagong, agar tak dieksekusi mati oleh pak Broto.
Pada suatu hari di akhir pekan bapakku pulang dari dinas di luar kota. Karena lokasi kami tinggal berbeda kota dengan tempat bapakku bekerja, seminggu sekali bapakku pulang kerumah, selebihnya tinggal dirumah dinas.
Tidak seperti biasa, kebetulan hari ini bapak menengok kamar kakak ketigaku.
"Ketiban apess kowe mass..,he he he..!" Batinku devil.
Terlihat poster-poster favorit koleksi kakakku bertebaran menempel di seluruh bagian dinding kamar. Belum lagi koleksi kaset-kaset dengan gambar yang sama disampulnya.
Tertampang wajah-wajah pria asing, dengan rambut panjang pirang awut-awutan, kulit putih mulus khas bule, bibir merah bergincu, pakaian berantakan khas rocker, bahkan sekilas mereka terlihat lebih cantik daripada perempuan tulen sepertiku ini. Cih, bikin iri hati saja.
Mettalica, Gun's & Roses, Iron Maiden, Sepultura, Megadeth, Bon Jovi...
"Apa-apaan!!" teriak bapakku menggelegar, bahkan diikuti gemuruh guntur omelan bersahutan dibelakangnya.
Tanpa ba-bi-bu, langsung disobeknya semua poster yang menempel di dinding. Srat, sret, srat, sret, kreeeek...!! Pyarr!...prang! prang!..Suara sobekan dan lemparan kaset terus terdengar hingga beberapa waktu. Bahkan tape recorder pun tak luput dari sasaran kemarahan bapakku.
Lalu kamar ditinggalkan dalam kondisi kacau berantakan bak kapal pecah ditinggal awak dan nakhodanya.
Sepulang kakakku kerumah, betapa hancur hatinya. Hancur sehancur-hancurnya, pilu sepilu-pilunya. Rasanya seperti diputuskan ketujuh kekasihnya berbarengan.
"Oh, uang saku yang kukumpulkan berbulan-bulan...yang berubah wujud menjadi kaset dan poster kesayanganku...melayang sudah...huu huu huu!"
Andai waktu bisa diulang, takkan ditinggalkannya kamar dengan barang kesayangannya itu dalam kondisi yang bahaya.
Tapi sayang, membalik waktu tidaklah semudah membalik sandal yang tengkurap.
Sejak saat itu, setiap bapakku pulang kerumah di akhir pekan, dikuncinya kamar saat dia keluar. Biar tidak kemasukan tikus, eh...bapakku maksudnya.
Lain cerita dengan kakak sulungku. Hobinya adalah ngumpul dengan teman-temannya di pos ronda ataupun di perempatan jalan sambil jrang-jreng jrang-jreng. Gitaran.
Menurut bapakku itu adalah kegiatan yang tidak berguna, kegiatan orang pemalas, nggak punya kerjaan. Mau jadi apa masa depannya nanti?!
Bahkan hingga suatu hari, saking jengkelnya, gitar kesayangan kakakku di banting bapakku hingga hancur berkeping-keping dan dibuang begitu saja ditumpukan kayu di belakang rumah.
Dasar bapakku. Mengekang kreatifitas anak. Bagaimana si anak bisa berkembang jika sedikit-sedikit dikritik, ini nggak boleh itu nggak boleh, apa-apa nggak boleh. Bak bara api disiŕam air dingin. Cesss..! Langsung padam.
Terkadang aku berpikir, dulu apa saking nggak adanya makanan waktu latihan di hutan, sampai bapakku itu makan batu? Hingga sifatnya itu, kerasnya minta ampun. Selain keras kepala juga selalu merasa paling benar sendiri.
Beda halnya dengan pamanku. Meski masih satu cetakan orang tua dengan bapakku, akan tetapi berperangai lebih halus.
"Hah, kenapa aku terlahir jadi anak bapakku sih! Apess...apess!"
"Huss...! Nggak boleh gitu ndhuk! Biar bagaimanapun juga itu bapakmu, orang yang berjasa bagi kita, mencari nafkah buat kita sekeluarga" kata ibuku menasehati.
Kalau sudah begini sih, aku cuma bisa angkat tangan, mengiyakan ucapan ibuku. Benar juga, biar bagaimanapun juga itu tetap bapakku. Kalau nggak ada dia, nggak ada juga kami anak-anaknya.
Sebagai anak, ya..kewajiban kami untuk berbakti kepada orang tua. Termasuk bapakku, meskipun segalak apapun bapakku itu, aku yakin hal itu dilakukannya demi kebaikan anak-anaknya juga.