"Putusin dia Din" Pinta Tama pada Diana.
"Siapa lo nyuruh-nyuruh gue?" Tanya Diana tidak terima.
"Gue tunangannya lo Din" Kata Tama mulai geram dengan tingkah Diana.
"Kalau gitu putusin Nanda, lo gak mau kan? Sama, gue juga gak mau" Kata Diana lalu pergi meninggalkan Tama yang kini terdiam dengan ucapannya Diana barusan.
Yap, Diana dan Tama sudah dijodohkan oleh kedua orang tua mereka, bahkan saat ini keduanya memiliki masing-masing kekasih, namun bagaimana lagi ini bukanlah pilihan mereka berdua.
"Padahal Dimas tidak sebaik yang lo kira Din" Lirih Tama lalu menghela nafas kesal.
Tama begitu mencintai Nanda begitupun sebaliknya dan hubungan mereka ada sebelum Tama dan Diana bertunangan, begitupun dengan hubungannya Diana dan Dimas.
Di sisi lain Diana saat ini sedang berkumpul di markasnya merencanakan sebuah rencana yang sudah mereka jalankan hingga saat ini, Diana tau ini sangat beresiko namun apapun itu Diana akan tetap melakukan hal yang menurutnya baik.
"Tama masih keukeh mempertahankan Nanda?" Tanya Ara.
"Bahkan dia berniat mau memotong tangan gue klau gue terus ngebully si Nanda" Jawab Diana pelan.
"Anji** tuh si Tama" Sahut Dimas.
Diana mulai menyusun strategi agar bisa menyelesaikan masalah ini, karna biar bagaimana pun jika di biarkan terus menerus akan berakibat fatal.
* * *
Setiap harinya hubungan Diana dan Dimas semakin mesra, meski pada dasarnya hubungan mereka berdua di tentang keras oleh kedua orang tua Diana, namun Diana tidak mempermasalahkan itu.
Bahkan keduanya terlihat sering memamerkan kemesraan keduanya di depan umum tanpa memikirkan semua masalah yang akan mereka hadapi setelahnya, bahkan Diana dengan sengaja mencium Dimas didepan umum.
Namun berbeda dengan hubungannya Tama dan Nanda yang semakin hari semakin merenggang, bahkan beberapa kali Dimas sempat dipergoki Nanda sedang menahan kekesalannya pada Dimas dan rasa cemburunya saat melihat Diana mencium pipi Dimas tepat didepan matanya.
Beberapa hari terakhir ini terlihat dengan jelas Tama mulai menyukai Diana meski Tama tidak mengakuinya, bahkan beberapa kali Nanda dibuat kecewa dengan tingkah laku Tama terhadapnya.
"Tama, akhir-akhir ini lo berubah tau, lo kenapa Tam?" Tanya Nanda dengan nada lembutnya.
Tama hanya diam tidak bergeming, saat ini keduanya sedang berada di belakang sekolah lebih tepatnya taman belakang, meski saat ini Tama sedang bersama dengan Nanda namun matanya tidak berhenti melirik Diana yang saat ini sedang bersama Dimas.
Nanda yang melihat tingkah Tama pun langsung menoleh kearah objek yang di lihat Tama, dan benar saja saat ini Tama sedang memerhatikan Diana dan Dimas, dan itu sudah cukup membuat Nanda kesal dengan tingkah Tama yang akhir-akhir ini menjadi dingin dan cuek terhadapnya.
"Aku disini loh Tam" kesal Nanda lalu pergi meninggalkan Tama yang terkejut melihat raut wajah kesal Nanda.
Sejak saat itu hubungan Tama dan Nanda semakin memburuk, bahkan Tama sering sekali mengabaikan Nanda dan memberikan perhatian-perhatian kecil kepada Diana.
Namun siapa sangka jika perhatian-perhatian kecil dari Tama kepada Diana membuat Nanda semakin kesal kepada Diana, dan bahkan Nanda berniat jahat pada Diana yang notabenenya tunangannya Tama.
Nanda bahkan berkali-kali mencelakai Diana tanpa sepengetahuannya Tama, bukan hanya itu Nanda juga selalu mengadu domba Tama dan Diana dengan mengatakan jika Nanda di bully oleh Diana dan teman-temannya Diana.
Tanpa sepengetahuannya Nanda bahkan Tama, Diana sudah merencanakan semuanya dan bahkan mengumpulkan semua bukti kejahatannya Nanda selama ini, namun Diana tidak bisa memberikan semua bukti-bukti itu jika Nanda masih bersama Tama.
"Apa drama kita di depan Tama akan di akhiri?" Tanya Diana yang mulai bingung harus berbuat apa selanjutnya.
"Jangan " Larang Arul.
"Terus?" Tanya Diana penasaran.
"Apa kita bongkar pas hari H aja?" Tanya Dimas mulai memikirkan rencana selanjutnya.
Yap, hubungan Diana dan Dimas hanyalah sebatas teman dekat saja tidak lebih, dan selama ini Dimas berpura-pura menjadi pacarnya Diana supaya bisa mengelabui Tama yang sudah di hasut oleh Nanda.
"Si Tama juga sih, cupu banget" Kata Arni pelan.
"Gitu-gitu tunangan gue tau, calon suami gue" Bantah Diana tidak terima.
"Lo ada rasa sama si Tama?" Tanya Dimas terkejut.
"Siapa bilang?" Elak Diana.
Karna tidak ingin memperpanjang pertikaian mereka, akhirnya Diana memilih untuk membahas rencana apa yang akan di jalankan selanjutnya, setelah lama membahas rencana mereka selanjutnya, Diana pun akhirnya pulang dengan diantar oleh Dimas.
* * *
Hari-hari Diana di jalani dengan semua rencana yang sudah di siapkan, bahkan semua bukti tentang rencana jahat Nanda sudah di kantongi oleh Diana, dan rencana Diana selanjutnya adalah membongkar seluruh kebusukannya Nanda di depan Tama tanpa ada korban, karna biar bagaimana pun Diana tau sejahat apa Nanda.
"Nanda pengen nyelakain Tama" Kata Diana setelah mengetahui semua gerak-gerik Nanda.
"Tama sepupu gue, gue gak rela Nanda nyelakain Tama" Kata Lya tidak terima.
"Tama tunangan gue, calon suami gue" Bantah Diana.
"Makin kesini gue makin yakin, lo suka sama si Tama" Seloroh Arul.
Diana menoleh kearah Arul dan melototkan matanya, namun Arul yang tidak peka dengan pelototan Diana hanya menoyor kening Diana pelan.
"Sakit !!!" Teriak Diana, namun tidak dihiraukan oleh Arul.
Dimas hanya menggeleng-gelengkan kepalanya lalu memberi tau rencana plan A yang sudah di siapkan, bahkan Dimas menyiapkan rencana plan B dan plan C jika rencana plan A dan plan B gagal.
Saat ini Tama sedang gundah, antara cintanya pada Diana atau pacarnya Nanda, namun entah mengapa setiap ada Diana di sisi Nanda pasti ada saja masalah yang datang.
Entah mengapa saat ini Tama sedang merasa tidak enak, entah perasaannya yang salah atau apa Tama juga tidak mengerti. Namun, saat ini Tama mencoba menepis perasaannya itu, karna Tama yakin semua akan baik-baik saja apa lagi beberapa jam lagi hari eneversery Tama dan Nanda.
Tama mulai menyemprotkan parfum pada seluruh badannya, setelah di rasa cukup Tama pun berangkat ke lokasi yang sudah di tentukan oleh dirinya sendiri dan juga Nanda.
Setibanya di lokasi, di sana sudah ada Nanda yang sudah menunggu kehadiran Tama, dengan senyum cerahnya Tama pun memberikan pelukan hangat pada Nanda, namun belum sempat Tama memeluk Nanda tiba-tiba Lya dengan segera menarik Tama dengan kasar hingga Tama terjungkal kebelakang.
"Lya" Terkejut Nanda dengan berbagai ekspresi.
Tama mengernyitkan alisnya saat melihat ekspresi Nanda yang tidak biasa, bahkan mata Nanda menjelaskan seberapa terkejutnya Nanda saat melihat kehadirannya Lya.
"Kenapa? Terkejut?, Gue tau lo bukan Nanda yang asli" Kata Lya dingin.
"Gue Nanda yang asli" Sangkal Nanda.
"Kalau lo Nanda yang asli, siapa nama lengkap lo, dan siapa nama lengkap Tama?" Tanya Lya.
Tama masih bingung dengan situasi ini, namun Tama penasaran apa yang akan di jawab oleh Nanda, dan saat ini Tama mulai ragu jika orang yang sedang berhadapan dengan Lya adalah Nanda atau bukan.
"Nanda Adira, ya gue Nanda Adira, dan pacar gue Fatih Pratama" Jawab Nanda dengan penuh keyakinan, meski dihatinya masih ragu jika jawabannya benar atau salah.
Lya menoleh kearah Tama "Sekarang sudah jelaskan siapa dia?" Tanya Lya dengan nada dingin.
"Dimana Nandaku?" Tanya Tama dengan nada dingin.
Nanda terkejut, ternyata tebakannya salah telak dan Lya lah penyebabnya, Nanda langsung merogoh saku celananya dan menodongkan pistol kearah Lya, karna penyamarannya terbongkar dengan mudahnya. Namun belum sempat Nanda kawe menembak Lya, tiba-tiba.........
DOR
DOR !............
Dengan segera Diana menembak Nanda kawe sebelum Nanda kawe melesatkan tembakannya kearah Lya. Di sisa-sisa hidup Nanda kawe, Diana pun menghampiri Nanda kawe dan berjongkok di hadapan Nanda kawe yang tersungkur di tanah.
"Bukan Nanda Adira, tapi Ananda zahra hafizah. Bukan juga Fatih Pratama, tapi Fitra prtama" Kata Diana lalu menusukan pisau kesayangannya tepat di jantung Nanda kawe.
Tama yang Shock dengan semua yang terjadi langsung menghampiri Diana dan Lya, saat ini Tama bertanya-tanya di mana keberadaannya Nanda yang asli.
"Nanda sudah meninggal setelah mendonorkan hatinya pada Lya" Jelas Diana tanpa menunggu Tama menanyakan hal tersebut.
Tama tertegun, bahkan saat ini Tama merasa tidak ada gunanya hidup, karna Nanda ternyata memang telah meninggalkannya dari dulu, mengharapkan Diana pun percuma karena Diana sudah memiliki Dimas di sisinya.
"Lo masih punya kesempatan untuk mendapatkan hati Diana, karna dari awal gue sama Diana hanya bersandiwara" Kata Dimas tiba-tiba.
Diana menolototkan matanya pada Dimas, namun dengan santainya Dimas berjalan kearah Diana sambil menarik tangan Tama, lalu Dimas pun menyatukan tangan Tama dan Diana.
"Di hati Diana cuma ada lo, bukan gue" kata Dimas pada Tama lalu pergi begitu saja sambil bergandengan tangan dengan Lya.
Tanpa bekata-kata Tama pun menatap mata Diana dengan sangat dalam, dan setelah mendapatkan anggukan dari Diana, Tama pun memeluk Diana dengan erat.
SELESAII.....