Kisah ini adalah kisah yang saya alamai. Mungkin banyak orang yang tidak setuju dengan kisah ku, akan tetapi ini adalah kisah yang terjadi padaku. Saya akan menyamarkan orang-orang yang tercantum atau orang-orang yang ada di dalam cerita ini.
yapss..
inilah awal kisah ku
Aku terlahir dikeluarga sederhana, tak mempermasalahkan hal hal kecil yang memicu kerusakan. Aku tinggal di rumah kecil yang selalu membuatku bahagia. Di masa itu aku masih merasakan rasanya sebagai anak kecil yang senang bermain kesana kemari dengan anak-anak yang ada di lingkungan rumahku, bahkan aku pernah di marahi ketika aku bermain bersama mereka karena tak kunjung pulang hingga petang. Aku merasakan kasih sayang orang tua dan kedua kakak ku. Ya...aku memiliki 2 kakak yang hebat, kakak laki-laki yang suka mengusili adik-adiknya dan kakak perempuan yang suka membuat adek nya menjadi gendut(suka memasak).
oh iya...aku lupa memperkenalkan diri, aku Adi, orang yang menulis cerita ini.
Kegidupan ku masih bahagia saat aku tinggal di rumah kecil itu. Akan tetapi...
disaat aku dipindahkan ke rumah yang lebih nyaman aku bukannya bahagia, akan tetapi lebih merasakan banyak sekali perubahan, entah itu hanya perasaan ku karena lingkungan baru atau ada hal lain yang mengganggu pikiran ku. Saat aku pindah rumah bersama ibu,ayah, dan kakak perempuan ku, aku masih berusia anak-anak atau masih kecil, yaitu pada saat aku menduduki bangku sekolah dasar di kelas 3. Inilah awal mula aku merasakan perubahan, aku pindah ke desa yang sudah sejahtera, bertinggal kan di rumah yang nyaman, aku tak ingin berharap apa-apa, yang kuharapkan hanya kebahagian semata.
Tak ku sangaka orang tua yang menyayangi semua anak itu sedikit berbeda. Ya...orang tuaku lebih memperhatikan kakak laki-laki yang ditanggal sendiri pada saat dia sudah berusia 15 th. Apa yang membuat perbedaan itu sangat membuat ku merasa bahwa orang tuaku lebih sayang kepada kakak ku, orang tuaku lebih memperhatikan dia dari segala hal entah itu makanan, pakaian, alat elektronik, uang saku, dan keadaan yang selalu di tanyakan kepada kakak ku. Mungkin orang tua ku khawatir kepada kakak ku karena ditinggal sendirian.
"ya kan kakak mu sendiri disana tidak ada yang menemaninya.." ujar ibuku dengan rasa perhatian yang penuh. Padahal disana kakak ku bisa dibilang tidak pernah kesepian, dia membawa teman-teman nya untuk menginap, bukan nya aku egois untuk mendapatkan perhatian itu, tetapi perhatian yang mereka berikan kepada kakak ku tak sebanding dengan perhatian kepadaku. Hal lain yang membuatku merasa perbedaan kasih sayang adalah apapun yang diningin kakak ku, pasti akan ia dapatkan, entah makanan yang enak, baju yang bagus, peralatan sekolah yang harganya bikin aku shock. Merasa iri itu mungkin hal wajar pada saat itu, karena aku hanya mendapatkan barang-barang bekas yang sudah tidak layak pakai. "yah...aku mau tas baru dong!!!" ucapku kepada ayah ku "ya nanti ayah ambilkan tak lama kakak mu saja ya!!" jawab ayah ku. Kalao tas yang diberikan itu masih layak pakai, aku tak kan protes kepada ayah ku."yah...tas nya bolong ini, kalo alat tulisku jatuh bagaimana? Padahal ayah membelikan tas baru kepada kakak". Protes ku kepada ayah. Rasanya tidak adil sekali, bukan sekali aku mendapatkan barang-barang usang bekas kakak ku. Tapi aku pun masih berusaha untuk tersenyam. Beberapa bulan setelah itu ekonomi keluarga ku sediki menurun, dengan inisiatif ibuku, ia membuka sebuah warung makan. Bersyukur sekali warung yang ia buka memiliki pelanggan yang cukup memuaskan, tapi itu ada aku di baliknya. Yappsss... aku membantu ibuku untuk berjualan dan membantunya saat ada banyak pesanan. Tengah malam aku membantunya,mungkin hingga aku sakit dan demam. Bukan nya aku yang di perhatikan, Tetapi kakak ku yang beda rumah yang di tanyakan. Sakit sekali rasanya, demam yang tak kunjung sembuh,yang hanya mendapat obat warung, dan makanan yang seadanya, membuatku iri ketika melihat kakak ku sakit yang langsung di bawa ke klinik dan di berikan makanan yang enak. Jadi bungsu di keluargaku memang lah harus mandiri ya....hheheheh...
setelah lulus SMP aku ingin memustus kan untuk bersekolah di sekolah farmasi,
hahahah...
iya..aku dulu pernah mendapatkan beasiswa di sekolah swasta farmasi. Hem...akan tetapu ayah ku bersikerah melarang ku mengambil beasiswa itu, karena ia menganggap jurusan farmasi tidak memiliki masa depan. Apa boleh buat aku harus masuk SMK Negeri dengan jurusan Komputer..
saat itu pandemi melanda,kakak laki-laki ku yabg merantau kesana kemari mencari uang
hehehehe uang nya bukan untuk ku ataupun orang tua ku ya...
dia bekerja merantau hingga keluar jawa, tapi pada saat pulang tidak membawa apa-apa, bahkan meninggalkan hutang saja, yaps...
sebelum ia pergi keluar jawa ayah ku berani mengambil pinjaman untuk membelikan nya kendaraan, katanya sih mau di bayar sendiri taunya tetap ayah ku yah membayar, seharusnya uang itu di gunakan untuk sekolah ku. Tanggungan ku di sekolah menumpuk karena itu. Tak tau harus apa, tetapi aku memilih untuk bekerja bersama ibuku. Ya maaf pada saat itu aku sekolah di smk dan aku seorang yang introvert.
Bekerja dengan ibuku hanya untuk mendapatkan uang saku sih..
lumayan bisa ditabung buat biaya sekolah. Rasa iri ku pun sudah mulai mereda, tetapi muncul lagi ketika kakak laki-laki ku demam dan ia berada di luar kota. Orang tuaku langsung menghampirinya dengan meminjam uang dan menyewa kendaraan. Huuuuhhhh....
pada saat itu aku merasa kesal sekali, uang yang seharusnya di gunakan untuk ku membeli laptop diambil kembali untuk keperluan nya. Ku pun merasa heran kemana uang yang di cari kakak ku selama ini?.
Akupun tetap sabar melihat itu,
waaawwwww....
rasa kesal ku kembali muncul saat kakak ku meminta uang setiap bulan kepada ayah ku. Karena apa?aku yang masih sekolah ini tidak pernah pun diberikan uang oleh ayah ku, bahkan 50 ribu pun tidak...
sedangkan kakak ku itu yang sudah bekerja di berinya 1 jt setiap bulan..
padahal aku yang membantu ayah berkebun, membersih kan rumah, bahkan saat merenofasi rumah pun aku yang membantunya, sedangkan kakak ku tak pernah sekali pun membantunya, tapi kenapa dia yang selalu mendapat kan upah...
beberapa kemudian kakak ku menikah.
hhhh...
ia menikah pun masih berhutang, dan memakai uang ayah ku. aku merasa bingung sekali...
apa sih yang dipikiran ayah?kebutuhan sekolah ku tidak terpenuhi giliran kebutuh kakak ku semua nya di penuhi..
tapi kenapa aku tidak bisa mengutarakan itu semua. Aku hanya bisa bersabar dan diam.
masalah bersama kakak laki laki ku tak selesai sampai disini.
Setelah ia menikah ayah ku merasa menyesal ia memperlakukan nya begitu...
kakak ku mendapat kan istri yang pemalas dan memiliki banyak hutang...
Sekarang aku sudah memasuki dunia perkuliahan.
kisahku sebenarnya tak hanya itu, ada kisah lagi bersama kakak perempuan ku...
mungkin nanti akan ku ceritakan di cerpen berikutnya