Mentari menurut KBBI merupakan sebutan lain dari Matahari. Dan Matahari itu sendiri adalah sebuah bintang di tata surya kita yang memberikan manfaaat Sangat besar bagi Bumi, singkatnya Matahari Sangat berpengaruh untuk Bumi kita. Jika dalam Bahasa kiasan Mentari bagaikan seseorang yang menerangi hidup dan berpengaruh besar dalam hidup kita. Jadi apakah kalian memiliki mentari di hidup kalian? Siapakah itu? Teman, kekasih, keluarga atau orang tua?
Jika kalian bertanya padaku apakah aku memiliki seorang mentari? Tentu saja aku punya. Sinar dari mentari itu selalu menuntunku menjadi diri sendiri dengan sinarnya yang hangat. Aku tahu mentari itu tidak bisa terus bersinar seperti matahari yang akan terbenam di sore hari lalu digantikan oleh cahaya bulan di malam hari. Seiring menghilangnya sinar mentari itu, membuatku juga kehilangan jati diriku. Mari sini kuceritakan tentang mentari dihidupku, walaupun wujudnya sudah tidak ada tapi sinar dan kehangatannya selalu menyertaiku.
Seandainya aku sadar lebih cepat akan hal itu, mungkin aku masih bisa mempertahankan mentari dalam hidupku. Tapi seperti itulah manusia selalu berandai-andai bisa mengubah sesuatu ketika suatu hal berjalan tidak sesuai keinginannya, maka dari itu penyesalan selalu datang terakhir. Mari aku ceritakan mentari dalam hidupku.
Januari 2015 –
Bulan pertama di tahun 2015 menjadi gejala pertama munculnya ‘hal itu’ pada mentari di hidupku, sayangnya aku baru menyadari hal tersebut beberapa tahun kemudian. Andai saja aku tahu lebih cepat akan ‘hal itu’.
Sial. Aku berandai-andai kembali.
Flashback; Gejala
“Bun, Yah. Nanti jangan lupa di sekolah aku ada rapat orang tua, kata Guru aku rapatnya bahas tentang perkuliahan” Ingat seorang gadis kepada kedua orang tuanya.
“Iya, tenang saja nanti Bunda datang” jawab Sang Bunda.
“Kalau gitu aku berangkat sekolah ya”
Setelah berpamitan Gadis itu mengambil sepeda di halaman rumah lalu menuntun sepeda tersebut keluar dan menaikinya menuju sekolah.
“Hati-hati di jalan, Sayang”
“Hati-hati di jalan, Nak”
Ucap kedua orang tuanya bersamaan.
~~
Sudah 20 menit semenjak para orang tua mulai berdatangan. Gadis tersebut yang awalnya tenang menjadi sedikit resah karena Sang Bunda belum kunjung datang, tidak seperti bisaanya yang selalu tepat waktu. Ia sudah menelpon dan mengirimi pesan kepada Budannya berkali-kali tetapi tidak ada satu pun yang dibalas.
“Nika, Bunda kamu belum datang juga, Nak” Tanya seorang perempuan sambil memegang bahu Gadis tersebut.
“Belum, Tan. Dari tadi aku sudah hubungi Bunda tapi belum dijawab” Jelas Gadis tersebut- Nika.
“Ayah kamu bagaimana?” Perempuan itu bertanya kembali memastikan.
“Ayah tidak bisa dihubungi juga, Tante” Gadis itu merasa sedih dan sedikit khawatir karena kedua orang tuanya tidak ada yang bisa ia hubungi.
“Yasudah, tidak apa-apa. Nanti kamu Tante wakilkan saja, kalau ada info penting Tante akan sampaikan ke Bunda kamu” Perempuan tersebut berusaha menenangkan Nika.
“Emang gak papa, Tan, Tha?” Tanya Nika tidak yakin apakah akan diperbolehkan oleh pihak sekolah dan juga Ia tidak mau membuat repot sahabat dan iBunda dari sahabatnya.
“Santai aja, Nika. Kayak sama orang lain aja, nanti aku bantu sekalian kasih tahu wali kelas kalau ortu kamu tidak bisa datang” Chesta Dhira Lalitha, nama yang tertera di seragam gadis bersurai sebahu.
Teman-temannya di sekolah memanggilnya Chesta, berbeda dengan Nika yang memanggilnya Litha. Litha adalah panggilan kesayangan oleh Nika untuk Chesta.
“Makasih banyak Tante, Litha” ucap Nika tersenyum tipis, merasa lega.
“Eitsss… jangan lupa Batagor Mamang kayak bisaa” ucap Chesta usil.
“LITHA” tegur Sang Ibu menahan amarah
“Bercanda, Bu. Suer dah, beneran” bela Chesta seraya menunjukkan dua jarinya
“Makasih banyak ya, Tan. Aku sama Litha balik ke kelas dulu sebentar lagi jam istirahat habis” ucap Nika lalu berpamitan dengan Ibu Litha di susul Litha
~~
Lelah. Itu yang Nika rasakan setelah bertemu Ibu Litha, pelajaran untuk kelas selanjutnya adalah Matematika dan Wali Kelas Nika yang merupakan guru matematika tersebut dengan murah hati memberikan kuis dadakan. Sebenarnya Nika paham akan materi dari kuis tersebut, tapi tetap saja namanya kuis dadakan Nika tidak mempunyai persiapan.
Biarkanlah mau bagaimana lagi yang penting aku sudah berusaha sebisaku dan untuk hasilnya aku tidak berharap banyak’ Batin Nika seraya membuka pintu rumahnya.
“Nika… Bunda minta maaf tidak datanng ke sekolah kamu hari ini” kata Sang Ibu saat melihat putri semata wayangnya sudah kembali dari sekolah.
“Tidak apa-apa, Bun. Tadi Ayah sudah memberitahuku bahwa Bunda ada urusan walaupun Ayah memberitahunya telat. Apakah Ibu Litha sudah memberitahukan perihal rapat hari ini?” setelah meletakan tas nya di ruang keluarga, Litha melipat lengan seragamnya dan berjalan ke arah dapur berniat membantu Sang ibu mencuci peralatan makan.
“Sudah, tadi Bunda di telfon Ibu nya Litha. Nanti kita bicarakan setelah makan malam bersama Ayahmu” ucap Sang ibu menatap anak semata wayangnya.
"Maafkan Ibu Litha"
~~
Saat itu aku benar-benar berpikir bahwa Bunda ada urusan mendesak dan aku tidak mempermasalahkannya, bahkan aku tidak pernah bertanya tentang urusan mendesak itu karena aku yakin Bunda akan menceritakan padaku dengan sendirinya. Hingga empat tahun kemudian aku baru tahu urusan mendesak tersebut, itu pun aku mengetahuinya dari Ayahku.
‘Hal itu’ pun semakin memburuk ketika aku mulai duduk di bangku kuliah. Ingatan mengenai kejadian tersebut masih melekat dengan jelas. Bagaimana tidak, rasa bersalah, rasa sakit hati, dan rasa tidak terima berkecambuk menjadi satu dalam hatiku. Sungguh hancur rasanya melihat Mentariku mengalami ‘hal itu’
Flashback; Terungkap
“Halo, Nak. Kamu ada dimana?”
“Di asrama, Yah. Ada apa? Semuanya baik-baik saja, kan? Kabar Ayah sama Bunda gimana?”
“Ayah, Alhamdulillah baik. Kamu apa kabar?”
“Alhandulillah, aku baik juga, kok, Yah”
“Kamu, sudah libur, bukan? Kapan pulang?"
"Sudah, Yah. Seminggu lagi aku baru pulang, masih ada urusan yang harus aku selesaikan terlebih dahulu disini"
"Nak, Ayah minta tolong, boleh?"
"Boleh, dong! Masa minta tolong sama anak sendiri gak boleh. Mau minta tolong apa, Yah?"
"Ayah mau kamu besok lusa sudah disini, Nak"
"Hm… bukannya aku gak mau, tapi aku baru bisa pulang minggu depan, Yah"
"Ayah sudah beli tiket untuk kamu dan semua keperluan kamu untuk perjalanan pulang sudah Ayah siapkan, Kamu tinggal pulang saja, Nak"
"Apakah ada sesuatu yang terjadi, Yah"
"Bunda. Dia kangen sama kamu, hamper tiap hari selalu Tanya kapan kamu pulang"
"Baik, Yah. Besok aku pulang, InshyAllah lusa sudah sampai rumah"
"Makasih banyak, Nak. Maafkan Ayah maksa kamu pulang"
"Tidak apa-apa, Yah. Aku juga sebenarnya sudah kangen sama Ayah dan Bunda. Kalau gitu aku siap-siap dulu, Yah"
"Iya, kamu nanti hati-hati di jalan, Nak"
"Baik, Ayah"
Setelah menerima telfon dari Sang Ayah, Nika pun bersiap-siap mengemasi barang yang akan ia bawa pulang. Ia tidak membawa banyak barang, hanya barang-barang penting saja yang dia bawa, bahkan Nika hanya membawa 2 setel pakaian ganti. Lagi pula pakaian Nika masih banyak yang ditinggalkan dirumahnya.
Seperti yang sudah direncanakan hari ini Nika pulang ke rumahnya menggunakan kereta. Bisa dibilang Nika anak rantau, seperti yang sering orang katakan. Sekali lagi, kalau kata orang kota tempat Nika menimba ilmu sering disebut Kota Pelajar. Sekitar 15 menit sebelum sampai di stasiun tujuannya, Nika menelfon Sang Ayah untuk memjemputnya di stasiun. Perjalanan tersebut memakan waktu kurang lebih 8 jam, Nika sampai di kota kelahirannya pada malam hari.
“Kalau kamu lapar, di meja makan ada makanan. Habis makan jangan lupa bersih-bersih terus tidur. Pasti kamu lelah setelah perjalanan panjang” ucap Sang Ayah tersenyum memandangi putri semata wayangnya.
“Bunda kemana, Yah” Nika baru sadar dari tadi ia belum melihat Sang Bunda, bahkan Sang Bunda tidak ikut menjemputnya tadi di stasiun. Padahal ia pulang karena Bunda nya yang merindukannya.
“Bunda sudah tidur. Ayah mau bangunin Bunda buat jemput kamu tapi gak tega, kayaknya Bunda kelelahan karena habis pergi tadi siang” Jelas Sang Ayah.
“Seperti itu. Ya sudah, sekarang Ayah istirahat juga. Pasti cape jemput aku malam-malam” Nika merasa bersalah karena membuat Ayahnya harus keluar malam-malam untuk menjemputnya
“Apa sih yang enggak buat Anak, Ayah. Jam 2 malam kamu minta jemput, Ayah langsung jalan” Goda Ayah Nika.
“Bener, ya? Kapan-kapan aku jalan pulangnya sore biar sampai sini jam 2 pagi” balas Nika tak mau kalah.
~~
Terdengar suara ketukan pintu yang membangunkan Nika.
“Masuk” ucap Nika dengan suara parau
“Nak, Ayo siap-siap” kata Ayah Nika yang sedang menyibak gorden
“Siap-siap mau kemana, Yah?” Tanya Nika bingung, ia masih berusaha menyesuaikan penglihatannya dengan sinar mentari pagi.
“Ketemu Bunda” jawab Sang Ayah
“Loh! Bunda emang kemana, Yah?” Nika pun langsung terduduk dari posisi tidurnya.
Ayah Nika tidak langsung menjawab. Ia diam beberapa saat menikmati hangatnya sinar mentari di pagi hari lalu berbalik dan tersenyum melihat putri semata wayangnya yang Sangat ia sayangi.
“Nanti kamu juga tahu” Ucapan Ayah Nika membuat kerutan di dahi Nika terlihat jelas.
“Oiya, jangan lupa bawa baju ganti ya, Nak. Sekitar 6 setel cukup, kok” ucap Sang Ayah yang membuat Nika terkejut, pasalnya Ayah Nika hanya memunculkan kepalany saja membuat Nika berpikir ada hantu di pagi hari.
“AYAH, IH! Bikin aku kaget” ucap Nika sebal memanyunkan bibirnya.
“Hamba, mohon maaf, tuan putri. Saya tidak bermaksud membuat tuan putri terkejut” Inilah yang membuat Nika tidak bisa marah dengan Ayah terlalu lama, karena Sang Ayah tau bagaimana mencairkan suasana.
“Permintaan Anda, saya terima tapi dengan syarat” Nika pun ikut pura-pura bersandiwara seperti Sang Ayah.
“Syarat apa itu, Tuan Putri?” Tanya Sang Ayah
“Syaratnya adalah carikan ketoprak yang paling enak untuk saya sarapan nanti” jelas Nika yang masih berpura-pura menjadi Tuan Putri.
“Baik, Tuan Putri. Jika itu syaratnya saya akan menyanggupinya. Kalau begitu saya pamit undur diri” Sang Ayah pun menunduk berpura-pura memberikan salam kepada Nika, Sang Tuan Putri
“Baik, saya harap Anda baik-baik saja diperjalanan” Nika pun membalas salam Sang Ayah
Kira-kira seperti itulah percakapan sehari-hari Nika dengan Ayahnya, terkadang Sang Bunda yang melihat itu hanya bisa menggelengkan kepala melihat tingkah laku suami dan anaknya. Dan jika kalian ingin tahu dimana tempat yang berjualan ketoprak berada, bisaanya para tukang penjual keliling akan berkumpul di depan pintu masuk komplek perumahan Nika, hanya membutuhkan waktu 5 menit dengan berjalan kaki untuk sampai ke sana.
~~
Sungguh perjalanan yang melelahkan, sudah lama sekali rasanya melakukan perjalanan menggunakan mobil. Kira-kira seperti itulah yang ada dipikirin Nika sekarang, sepertinya ia lupa bahwa baru saja semalam ia melakukan perjalanan yang lebih jauh dari kota tempat ia menimba ilmu menuju kota kelahirannya.
“Indah sekali” ucap Nika melihat bunga anyelir bermacam warna yang ada di depan tempat Sang Ayah memarkirkan mobil. Ia pun keluar dari mobil ingin melihat lebih dengan bunga anyelir tersebut.
“Nika, lihat itu” ujar Sang Ayah mengarahkan jari telunjuknya ke sisi yang berlawanan dengan tempat mereka parkir mobil sekarang, di sisi tersebut terdapat bunga kenop berwarna ungu.
“Ayo, Nika” Ajak Sang Ayah yang berjalan ke arah sebuah bangunan besar.
Bangunan tersebut masih kental dengan arsitektur Belanda jaman dahulu kala. Nika memperhatikan gedung itu dengan seksama berusaha mencari petunjuk gedung apakah itu. Seperti Nika tadi terlalu larut dalam pesona bunga-bunga yang berada di lahan parker hingga tidak sadar ada sebuah plang dekat air mancur yang berada di tengah-tengah lahan parker tersebut.
“Nika, kenapa kamu diam saja? Ayo, Bunda sudah menunggu di dalam” Sang Ayah menatap heran anaknya yang diam saja celingukan tidak bergerak.
“Tidak apa-apa, Ayah” Nika pun berlari kecil mengejar Sang Ayah.
Ketika memasuki ruangan tersebut Nika terkesiap dengan arsitektur peninggalan jaman Belanda yang masih kental sekali di gedung itu. Ia melihat banyak orang berlalu lalang kesana-kemari menggunakan seragam putih dan ada juga beberapa orang yang duduk di bagian ujung sisi kanan kiri seperti sedang menunggu.
“Selamat siang” sapa Ayah Nika kepada petugas resepsionis
“Selamat siang juga, Pak. Ingin bertemu siapa?” seorang perempuan yang tadinya sedang berkutat dengan laptop langsung melihat ke sumber suara dan tersenyum.
“Rajni Dahayu Nirmala” Nika yang mendengar nama Sang Bunda disebut, langsung berjalan menghampiri Ayahnya.
“Bapak siapanya Ibu Rajni?” Tanya resepsionis tersebut.
“Baik, Ibu Rajni ada di kamar A09. Nanti disana Bapak belok kanan lalu lurus terus, kamarnya di bagian kanan. Kebetulan sedang ada perawat yang memeriksa Bu Rajni, jadi Bapak bisa langsung ke kamarnya. Mohon Bapak tanda tangan disini sebagai bukti kunjungan” Jelas resepsionis itu panjang lebar.
“Baik, terima kasih banyak” ucap Ayah Nika setelah tanda tangan dan berjalan sesuai yang diarahkan resepsionis tersebut.
Setelah belok kanan seperti yang diarahkan resepsionis tersebut mereka mulai memasuki lorong dengan banyak kamar. Selama perjalanan menuju kamar A09, Nika bisa mendengar suara teriak segelintir orang dan juga saat ia mengitip dari jendela kecil yang ada di pintu beberapa orang di dalam kamar tersebut hanya diam.
Karena Nika terlalu focus melihat sekeliling dan tidak memperhatikan jalan di depan, saat Ayahnya tiba-tiba berhenti ia pun menabrak punggung Sang Ayah. Nika langsung mengelus dahinya yang menabrak punggung Sang Ayah, berbeda dengan Ayah Nika yang ditabrak. Sang Ayah terdiam di depan pintu mengitip ke dalam melalui jendela kecil, terlihat Sang ibu yang sedang duduk menatap pohon Akasia yang berada di taman sambil asik merajut. Nika pun ikut melihat arah mata Sang Ayah dan tersenyum ketika melihat Sang Bunda yang ia cari dari semalam.
Setelah terdiam beberapa saat, Ayah Nika mengetuk pintu dan perlahan membukanya. Rajni, Bunda Nika tersenyum melihat kedatangan Sang suami, senyumannya bertambah lebar ketika melihat seseorang yang ia rindukan tepat di belakang suaminya.
“Bunda” seru Nika berlari menuju Sang Bunda dan memeluknya
“Sayang Bunda sudah datang” ucap Bunda Nika membalas pelukkan Nika.
Kurang lebih hampir 30 menit Nika dan Sang Bunda asik mengobrol diselingi gurau dari Sang Ayah. Terdengar ketukan pintu dan terlihat seseorang mengenakan seragam berwarna putih serta dibagian kiri seragamnya terdapat nama Haura Adisty. Perempuan itu adalah orang yang sama saat Nika pertama kali dating, perempuan itu sedang membereskan tempat tidur Sang Bunda.
“Ibu Rajni, waktunya minum obat” ucap perempuan itu halus.
“GAK MAU” teriak Bunda Nika
“Obatnya enak kok, Bu. Kemarin saja Ibu habis minum obatnya” bujuk perempuan bernama Haura tersebut.
~~
Setelah perjuangan Haura membujuk Bunda Nika untuk meminum obat, Ia pun pamit undur diri. Nika sekarang sedang terdiam melihat sang Bunda yang sudah terlelap, Ia masih tidak percaya dengan apa yang ia lihat tadi. Padahal tadi ia dan Sang Bunda masih asik mengobrol ketika dating perawat untuk menyuruhnya minum obat, Sang Bunda marah besar dan mengamuk.
Ayah Nika paham apa yang sekarang dipikirkan Nika, Sang Ayah memutuskan mengajak Nika ke tama yang berada di bagian tengah gedung terebut dan duduk di bawah rindangnya pohon Akasia, dari posisi tersebut mereka bias melihat sang bunda yang sekarang sudah tertidur pulas. Dengan berat hati Sang Ayah memberitahu apa yang terjadi pada sang istri kepada anak semata wayangnya. Mendengar penjelasan sang ayah, Nika bagaikan disambar petir di siang hari yang cerah ini.
~~
Jujur saja seminggu setelah mendegar hal itu aku masih tidak percaya dan tidak mau percaya Bunda mengidap penyakit Skizofrenia, tetapi perilaku Bunda selaras dengan apa yang terjadi.
Hancur, tentu saja orang mana yang tidak merasa hancur ketika orang yang mereka sayangi divonis penyakit tersebut. Satu yang aku takutkan, bahwa Bunda akan melupakanku, Ayah dan kenangan kami bersama.
Setelah mengetahui penyakit Bunda aku memutuskan pindah kuliah ke kota yang sama dengan tempat Bunda dirawat. Untungnya aku tidak perlu mengulang seperti satu kembali dan bias melanjutkan langsung ke semester 2. Dan hal yang aku buang jauh-jauh untuk dipikirkan pun terjadi. Saat sedang melaksanakan KKN di suatu desa aku menerima telfon dari Sanatorium tempat Bunda dirawat.
Flashback; Selamat Tinggal Mentari
“Apa?! Baik saya segera ke sana.”
Setelah menerima telefon tersebut Nika buru-buru merapihkan beberpa barang. Temannya yang melihat hal tersebut pun bingung.
“Nika, mau kemana?” Tanya teman Nika yang baru saja datang dari dapur.
“Tha, aku urusan tiba-tiba dan kemungkinan bakal izin asmpai 3 hari ke depan. Kalau yang lain nanya bilang saja aku ada urusan penting keluarga” jelasku yang sudah siap pergi.
“Eh, tunggu. Kamu yakin gak papa?” Litha yang sudah berteman dengan Nika dari sekolah menengah pertama tentu saja tahu banyak tentang Nika.
“Nanti aku bakal kasih kabar ke kamu, okay?” Nika pun tersenyum meyakinkan Litha.
“Ya, sudah. Kamu hati-hati dijalan, nanti aku kasih tahu yang lain. Jangan lupa kasih kabar” Dikalimat terakhir Litha sempat berteriak sedikit karena wujud Nika yang perlahan mulai menghilang.
~~
Isak tangis memenuhi ruangan A09. Hal yang menjadi ketakutan terbesar hamper seluruh umat manusia terjadi. Rajni Dahayu Nirmala, seorang istri, seorang ibu, seorang anak dan seorang saudari menghembuskan napas untuk terakhir kali pagi dini hari selepas sholat subuh bersama. Kemudian siang hari sesudah sholat dzuhur, pemakaman pun dilasakanakan. Bunda Nika dimakamkan di kota kelahirannya. Bandung. Menjelang sore hari para peziarah mulai pamit undur diri satu persatu. Tapi tidak dengan Nika, ia masih setia duduk disamping makam sang Bunda tercinta. Seakan tahu jika Nika sedang bersedih, langit pun ikut menumpahkan air sedikit demi sedikit.
“Nika, sudah gerimis ayok pulang, Nak. Nanti kamu sakit” ucap seorang perempuan yang menatap sendu Nika.
“Bunda pasti sudah bahagia disana dan tidak merasakan sakit lagi. Bunda saja kuat, Nika juga harus kuat ya, Nak” Perempuan tersebut masih berusaha membujuk Nika.
Lima menit kemudian, Nika pun akhirnya mau dibujuk pulang.
~~
Walaupun itu sudah terjadi satu tahun yang lalu, aku masih ingat setelah kepergian Bunda seminggu setelah aku tidak masuk kuliah. Untung saja teman-temanku berbaik hati memberitahukan tugas atau apa saja yang aku lewati, bahkan mereka juga meminjamkan aku catatan materi milik mereka.
“Sayang, ayo foto dulu sama teman-teman kamu” Aku pun menengok ke arah ayahku yang telah siap dengan kameranya.
“Satu, dua, tiga. Ganti gaya” Ayah dengan sigap mengarahkan aku dan temanku untuk berfoto.
Satu jam setelah acara kelulusan, aku berkeliling untuk mengucapkan selamat dan berfoto bersama temanku yang lain. Tidak aku sangka acara kelulusan akan melelahkan seperti ini.
“Langsung atau pulang dulu?” Tanya ayan kepadaku.
“Langsung saja, Yah” jawabku.
Satu jam perjalanan dari temanku menimba ilmu. Akhirnya aku dan Ayah sampai di tempat peristirahatan terakhir Bunda. Sebenarnya aku sangat berharap bahwa Bunda dan Ayah bias menghadiri acara kelulusanku bersam-sama. Tapi seperti kata pepatah bunga yang paling indah, paling cepat untuk diambil, begitu juga dengan Tuhan yang lebih menyangi Bunda.
Kepergian bunda sempat membuatku hilang arah, karena sinar mentari yang dipancarkannya sudah menghilang. Tetapi dengan harapan ayah, keluarga, dan teman-teman menuntunku kembali menjadi diriku seperti dahulu kala. Mungkin wujud mentari dalam hidupku sudah tidak ada, tetapi kehangatan masih bias kurasakan hingga sekarang sampai seterusnya. Jadi siapakah mentari dalam hidupmu?