Aku tidak menyangka jika kita akan mengalami sebuah perpisahan.
Dulu, dunia terasa begitu indah ketika kita masih bersama. Kamu tahu? Setiap kali aku memalingkan wajah ke arah balkon kamarmu yang aku peroleh hanyalah kesepian dan kegelapan. Tidak ada lagi lampu kamarmu yang menyala, siluetmu yang tengah sibuk mengerjakan buku-buku olimpiade favoritemu, dan tidak ada lagi petikan gitar serta gurauan dari kamu.
Sas, duniaku berubah.
Kini menjadi sepi tanpa kehadiranmu.
Semua berubah secepat itu. Kamu pergi dan aku sendirian. Bohong jika Cakra akan selalu disampingku, bohong jika kamu akan menemaniku sampai aku berhasil menerbitkan sebuah buku tentang kita bertiga. Semuanya bohong.
Aku tidak tahu lagi dengan siapa aku percaya. Kepercayaanku hilang setelah mengenal kalian berdua.
Sas, sesusah itu kah kamu memberiku kabar?
Mengapa harus menghilang?
Mengapa kamu pergi tanpa mengabari?
Bahkan ungkapan selamat tinggal belum sempat aku ucapkan padamu.
Bahkan kita belum sempat berpelukan untuk terakhir kali.
Semua mimpi kita.
Semua angan-angan kita.
Semua hal tentang pertemanan kita.
Dan, semua hal tentang kamu, semua terasa menyakitkan.
Sas, mengenalmu itu menyakitkan.
Tetapi mengapa aku tidak pernah berhenti untuk menunggu kabar darimu?
Mengapa kita harus mengalami perpisahan?
Mengapa Tuhan sengaja memisahkan kita?
Sas, kalau seandainya aku berhasil menerbitkan sebuah buku tentang kita, apakah kamu akan kembali?
Apakah kisah indah tentang kita, bisa kita ulangi lagi?
Aku berharap penuh pada keajaiban dari Tuhan.
Semoga kita segera bertemu.
Bertemu di waktu terbaik menurut Tuhan.
Kamu dengan mimpimu.
Cakra dan mimpinya.
Serta aku dan mimpiku.
Semoga kita bertemu secara kebetulan dalam kondisi terbaik.
Aamiin.
Aku tunggu kabar darimu.
Semoga kamu baik.