Sunyi. Sepi. Cocok dipadukan dengan suasana malam di ibu kota. Bau petrichor masih menyeruak ke indera penciuman. Sejak siang tadi hujan mengguyur jalanan. Sekitar selesai azan magrib hujan berhenti.
Anindya mengerahkan kornea mata pada setiap sisi taman kota. Hanya beberapa manusia yang ada disana termasuk dia sendiri. Anindya sengaja datang sebab hati sedang bergemuruh menahan amarah.
Semua ekspetasi besar yang Anindya tulis dalam pikiran seketika buyar lantaran tak sejalan dengan realita. Angan-angannya musnah.
Ditemani es krim cokelat favoritnya Anindya duduk atas ayunan. Dingin malam menerpa tubuh padahal Anindya menggunakan sweater berbahan rajut.
“Sendirian saja,” tiba – tiba sosok pemuda berbalut jaket hitam tebal ikut duduk ayunan lain samping Anindya.
“Menurutmu?“ jawab Anondya acuh tak acuh.
Pemuda bernama Asoka tertawa pelan. Gadis itu tidak berubah. “Es krim? “ tanya Asoka saat pandangan jatuh pada benda yang Anindya pegang.
“Iya.”
Asoka menengadah ke langit. Bulir – bulir air dari dedaunan berjatuhan saat di terpa angin. “Dulu, ada seorang gadis muda penyuka es krim coklat. Dia gadis baik, manis, murah hati, dan.. “
Melirik Anindya sekilas kemudian melanjutkan ceritanya, “ ... sedikit galak."
Anindya tidak merespon. Memilih menikmati es krim favoritnya ketimbang cerita tidak jelas dari pemuda yang Anindya sendiri tidak tahu namanya.
“Ada suatu kejadian, dimana kami harus berpisah.. Kecelakaan. Kami mengalami kecelakaan tunggal berkat gadis penyuka coklat yang keras kepala mengalahkan batu.“
Lagi – lagi menoleh ke arah Anindya.
“Sepeda motor kami menabrak pohon besar di samping jalan. Lumayan parah, sebab gadis itu harus dilarikan ke rumah sakit akibat benturan keras."
Dada Asoka mulai berat. Peristiwa tersebut menimbulkan trauma cukup mendalam bagi Asoka. Sebab, peristiwa tersebut merenggut sesuatu yang berharga.
“Lalu nasib gadis itu bagaimana? Apakah dia selamat?“ entah mengapa Anindya tiba – tiba tertarik pada cerita pemuda tersebut. Seolah mengalami Dejavu.
Netra mereka bertemu.
“Selamat, tetapi dia kehilangan semua memori dalam ingatannya.”
“Amnesia?“
Asoka mengangguk.
“Kasihan..“
Menelan ludah susah. Tenggorokan Asoka mendadak kering. Dia mengulum bibir lantaran Anindya berpaling ke arahnya.
“Kira – kira siapa nama gadis muda itu? “ Es krim di tangan Anindya habis. Ia mengambil tisu dari dalam tas selempang warna hitam. Mengusap perlahan jari jemarinya.
Asoka diam. Justru beranjak dari ayunan. Hal ini mengundang banyak pertanyaan.
“Ada yang salah?“
“Tidak."
“Lantas mengapa kamu berdiri secara spontan?“
Kepala Anindya mendongak ke atas. Demi bertatapan langsung dengan netra sang pemuda. Sinar rembulan menyinari wajah Asoka, tanpa sadar sebuah peristiwa terlintas dalam otak Anindya.
“Asoka.“
Anindya terdiam. Mendadak ia merasakan rasa sakit kembali menyerang kepala Anindya. Cairan merah kental mengucur keluar dari hidung. Potongan peristiwa demi peristiwa mulai menyatu seperti puzzle. Membuat mata Anindya lama kelamaan berair.
“Asoka Diratama.”
“Asoka?" Nada suara Anindya bergetar. Gadis itu masih mencerna kejadian yang sedang ia alami sekarang.
Asoka tersenyum seraya melambaikan tangan layaknya salam perpisahan, “ Selamat tinggal, Anindya."
Setelah mengucapkan nama itu. Tubuh Asoka yang semula ada persis di hadapan Anindya. Kini tak lagi ada. Asoka menghilang tanpa jejak.
Tubuh Anindya bergetar hebat. Ia mengerang kuat bersamaan dengan derasnya air mata.
Asoka..
Anindya menangis sekuat tenaga. Cerita tentang kecelakaan tunggal memang pernah terjadi. Gadis muda penyuka coklat adalah Anindya sendiri.
Sedangkan Asoka, pemuda itu tewas di tempat sebelum sempat dibawa menuju rumah sakit terdekat.
Asoka Diratama..
Pantas dia tak pernah berkunjung lagi ke rumah. Mengajak Anindya bermain atau sekedar menonton film. Karena bagaimana pun, sosok Asoka yang selama ini mengisi hari – hari Anindya telah berpulang ke rumah Tuhan Yang Maha Kuasa.