Malam itu langit sangat gelap. Gelap menghiasi bumi. Membuat semua orang membuka cahaya dirumah mereka. Cahaya yang dibuat oleh ilmuwan terdahulu.Pintu tertutup rapat, menghentikan hembusan angin yang ingin ke dalam.
Beberapa menit yang lalu, terdengar suara para wanita bersama bunyi kaki. Mereka berlarian dengan anak di tangan kanan mereka. Jangan lupa ditangan mereka terdapat sapu lidi, sandal jepit sebelah. Entahlah itu sandal kanan atau kiri.
Wajah mereka penuh ketakutan. Disela-sela ketakutan mereka, mulut mereka tidak berhenti mengeluarkan kata-kata. Kata-kata untuk anaknya.
Seorang ibu menghampiri ku dan menyuruh ku cepat pulang. Katanya sebentar lagi akan mangrib. Aku tau, aku juga dengar di masjid sedang berkumandang beberapa ayat Al-Qur'an. Tapi, aku menghiraukannya.
Aku berjalan dengan santai. Jangan lupa handset di telingaku yang ku pasang setelah mendengar ocehan wanita tua tadi. Tentu saja dengan sedikit omelan yang keluar dari mulut ku.
Terdengar suara burung di langit. Tumben burung itu mengeluarkan suara. Biasanya mereka akan terbang tanpa mengeluarkan suara dari paruh mereka. Tapi, ku abaikan.
Suara adzan berkumandang. Kulihat kanan dan kiri, sepi. Tidak ada manusia satupun kecuali aku. Ada beberapa lelaki tua yang berjalan menuju masjid. Tapi semakin lama, semakin jauh dari pandangan ku.
Aku menuruni sebuah bukit. Rumahku berada di bawahnya. Aku paling benci jika turun, karena aku merasa tubuhku tidak seimbang. Tapi mau bagaimana lagi, hanya ini jalan satu-satunya menuju rumahku.
Aku melewati beberapa rumah. Disana aku melihat anak-anak yang diomeli ibu mereka hanya karena menyuruh mereka menunaikan kewajiban. Ah, aku jadi kangen bunda. Aku harap aku bisa bertemu dengannya. Walaupun kami beda alam.
Setelah melewati lima rumah, aku melewati hutan. Hutan yang penuh dengan pohon disekitarnya. Apakah salah ku di masa lampau. Sampai-sampai aku harus berjalan melewatinya ketika pulang. Itu karena rumahku berada di paling ujung perumahan.
Langkah kakiku berhenti saat mendengar suara burung. Dibenakku bukankah seharusnya mereka sudah jauh dari sini. Mereka terbang, dan ku yakin kecepatan mereka lebih dari diriku.
Aku melihat ke atas dan melihat burung gagak. Burung tanda akan kematian. Kata ibu-ibu kuno. Kenapa? Karena itu semua tahayul.
Ketika aku ingin melangkahkan kakiku, terdengar suara jeritan dari arah kananku. Hutan. Aku hanya diam dan menyakinkan diriku, mungkin aku salah dengar.
Aku pun melakukan langkah pertama setelah beberapa menit lalu berhenti. Lagi-lagi ku dengar suara jeritan. Pikiran ku saat ini adalah, bagaiman jika ada wanita yang butuh pertolongan.
Tanpa pikir panjang, aku menghampiri hutan itu dengan langkah yang besar. Aku berjalan dan memasuki hutan, menghilangkan tubuhku.
Aku mencari sumber suara. Sayangnya aku hanya mendengarnya dua kali. Saat aku masuk tidak ada suara jeritan itu. Hanya hembusan angin yang menyentuh dan memasuki ke dalam lubang telinga ku.
Aku membalikkan badan. Aku melihat pohonan yang lebat menghalangiku. Tidak, tepatnya aku tidak tau jalan arah pulang. Aku langsung bergegas tanpa melihat jalan yang ku jalani tadi. Bodohnya aku.
Aku mengambil hp di sakuku dan membuka layarnya. Ah sial, ternyata tidak ada sinyal disini. Aku mengeluarkan nama hewan dari mulut ku. Entah sudah beribu kali aku menyebutnya tanpa menghitungnya.
Aku melihat ke kanan, dan untuk sekian kalinya aku hanya melihat pepohonan yang lebat. Sepertinya aku harus tinggal disini semalam. Besok aku akan cari jalan keluarnya.
Aku melihat ke arah kiri, dan pandangan ku terfokus pada satu pohon. Pohon pisang. Aneh, pohon pisang diantara pohon yang besar dan lebat. Pohon itu dari mana?.
Aku menyepitkan mata dan aku baru sadar ada seseorang disampingnya. Dia melambaikan tangan padaku. Aku tidak tau siapa itu. Badannya seperti anak kecil yang, dan bewarna gelap.
Aku menghampirinya. Tapi, dia mundur sambil tetap melambaikan tangan ke padaku. Aku berjalan dan dia mundur. Sepertinya dia ingin bermain denganku. Dan aku kesal akan itu. Padahal aku hanya ingin bertanya tentang jalan keluar. Dan mungkin membawa anak itu keluar dari hutan ini. Pasti orangnya susah menunggu dirumah.
Aku menghampirinya sampai disebelah pohon pisang. Dan anak itu menghilang. Menghilangkan diri dengan jalan secara mundur.
Aku menoleh ke sekeliling dan mencari anak itu. Tapi nihil, tidak ada. Lagian kenapa anak itu itu mundur saat aku menghampirinya.
Aku menyerah dan membalikkan badanku. Aku melihat sesosok wanita dengan baju kebaya putih. Pakaian pernikahan. Kebaya putih. Sanggulnya begitu cantik dengan bunga melati. Aku menyukainya. Yang ku anehkan, kenapa dia ada ditengah hutan ini. Apa yang dilakukannya. Apa dia baru kabur dari suaminya saat malam pertama. Tapi, kenapa kaburnya ke hutan.
Aku berjalan menghampirinya. Ketika jarakku dengannya sekitaran 1 meter. Entah kenapa aku berhenti mendadak dan mataku tetap fokus padanya.
Wanita itu membalikkan badannya ke arahku. Aku bisa melihat wajahnya. Wajahnya penuh ayu dan hiasan pengantin. Dia tersenyum padaku dan aku merasa hatiku bahagia dengan senyumannya.
"Kau suka dengan wajahku," ucapnya lembut dan dibalas anggukan olehku.
Suaranya lembut, wajahnya cantik, kulitnya sawo matang khas orang Indonesia. Membuat ku yakin semua lelaki terpikat padanya. Aku wanita saja bisa terpikat padanya apalagi lelaki yang memandang fisik.
Wanita itu menundukkan kepalanya. Tangannya mengarah ke depan ku. Aku merasa aneh akan kelakuannya.
"Kau suka pada wajah ini. Bagaimana jika wajah ini berubah seperti ini," ujarnya sambil menatap ku.
Mataku melotot dan seperti akan keluar jika aku tidak menahannya. Wajah ayunya berubah menjadi jelek. Kulitnya yang sawo matang menjadi hitam. Seperti gosong. Ditambah bau makanan yang gosong di hidungku. Rambutnya yang bersanggul dengan cantik, berubah menjadi berserakan dan panjang. Aku tau itu, itu sosok kuntilanak.
Dia terbang menuju ke diriku, dan aku langsung membolak-balikkan badanku dan berlari. Berlari sekuat tenaga. Berlari tanpa tujuan, hanya berlari lurus tanpa menoleh kebelakang.
Bulu ku merinding. Jangan lupa suara tawa terdengar di telinga. Dia benar-benar mengejar ku. Aku berlari sampai merasakan sebuah batu kecil yang membuat ku tersandung kedepan.
Aku terbangun, sepertinya aku jatuh karena batu itu. Matahari sudah naik. Aku melihat bayangan pohon yang pas dengan pohon tersebut. Sepertinya udah tengah hari.
Aku berdiri. Dari arah samping aku merasakan sepertinya seseorang sedang melihat ku. Aku menolehnya. Dan lagi-lagi mata ku hampi keluar jika tidak ku tahan. Aku melihat bundaku.
Aku menghampirinya. Dia senyum padaku, senyuman yang tak pernah hilang dipikiran ku. Aku memegang tangannya tanpa sadar. Aku memeluknya juga. Ketika aku memeluknya, aku baru sadar. Kenapa aku bisa melakukannya, padahal kami sudah beda alam.
Dia menarik tanganku dan membuat ku berdiri disampingnya. Dia menoleh kebelakang dan aku pun mengikutinya. Dan entah sekian berapa kali mataku hampir keluar jika tidak ku tahan.
Aku melihat beberapa orang berpakaian merah dan berhelm putih sedang mengelilingi sesuatu. Aku penasaran. Salah satu dari mereka berjalan menjauh dan disitu aku melihat tubuhku penuh darah dan tidak bergerak sama sekali.
Aku menoleh ke bunda. Dia melihat ku sambil tersenyum dan menganggukkan kepala. Tidak papa karena aku memenuhi keinginan malam itu.
"Bertemu Bunda"