Ian terbangun di tempat yang sangat sangat asing baginya. Dia tidak tahu dia sekarang berada di mana. Saat dia tengah menerka-nerka tempat itu. Pintu ruangan tempat dia berada sekarang terbuka dan masuk seorang gadis cantik bergaun hitam. Gadis itu membawa sebuah buku catatan dan alat tulis yang terbuat dari bulu angsa. Sampai di dekat ranjang Ian, gadis itu memulai obrolan dengan Ian. Dia memulai obrolan dengan berkata 'Oh, kamu sudah bangun? Bagaimana perasaan mu sekarang? Merasa lebih baik?'. Ian tidak menjawab pertanyaan gadis itu, dia menatap gadis itu selama beberapa detik dengan wajah bingung. Sambil menatap wajah gadis itu dia bertanya-tanya pada diri nya sendiri, bertanya tentang gadis itu.
Tidak mendapatkan jawaban dari Ian dan laki-laki itu malah menatapnya dengan wajah kebingungan membuat gadis itu bergerak untuk menyadarkan Ian dari lamunannya. Dia melambaikan tangannya di depan Iam dan memanggil namanya. Setelah Ian sadar dia mengajukan pertanyaan pada gadis itu. Dia berkata 'Siapa kau?' pada gadis itu. Sebenarnya Ian ingin bertanya banyak hal pada gadis itu tapi baru saja bertanya satu hal, gadis itu menyuruhnya diam dan memintanya untuk mendengarkannya setelah itu dia akan menjawab semua pertanyaan yang ingin Ian ajukan. Gadis itu membacakan tulisan yang ada di buku yang dia bawa. Tulisan yang gadis itu baca adalah semua yang berhubungan dengan Ian. Bisa dibilang buku itu berisi biodata Ian.
Ian mendengarkan dengan seksama semua yang dibacakan gadis itu tentang dirinya. Selama beberapa menit Ian hanya terdiam dan mendengarkan gadis itu. Tapi setelah mendengar gadis itu membacakan tentang kematiannya (tanggal kematian, tempat kematian dan penyebabnya) seketika mata Ian membulat sempurna karena terkejut.
Setelah gadis itu selesai membacakan semua yang tertulis di buku catatannya. Gadis itu meminta konfirmasi dari Ian. Konfirmasi tentang kebenaran dari fakta-fakta tentang Ian yang baru saja dia bacakan. Bukannya mengkonfirmasi, Ian justru meminta penjelasan mengenai kematiannya.
Gadis itu menjelaskan pada Ian bahwa dia sudah mati 7 bulan yang lalu dan sekarang dia hanya sesosok arwah yang menunggu antrian untuk menuju akhirat. Gadis itu juga menjelaskan tentang dirinya. Gadis itu memperkenalkan diri dengan nama Eline. Dia seorang malaikat maut.
Setelah mendengarkan penjelasan Eline, Ian masih tetap tidak percaya. Karena dia tidak percaya jika dirinya sudah meninggal. Ian meminta Eline untuk membuktikan perkataannya itu. Dan Eline pun memenuhi permintaan Ian.
Eline membawa arwah Ian ke masa lalu tetapnya di tanggal kematiannya.
Sampai di masa lalu, Ian di bawa di depan sebuah rumah mewah. Ian tidak mengenali tempat sekarang dia berada bersama Eline. Jadi, dia bertanya pada Eline mengenai tempat itu. Eline menjelaskan jika rumah yang ada di hadapan mereka adalah rumah Ian. Eline membawa Ian ke tempat itu karena rangkaian kejadian yang menimpa Ian sampai membuatnya meninggal di mulai dari tempat itu.
Seorang pemuda tampan berpakaian rapi dengan sebuket bunga di tangannya keluar dari rumah mewah itu. Dan pemuda itu adalah Ian. Ian melihat dirinya sendiri berjalan menuju mobil mewah berwarna hitam yang telah terparkir di depan rumah itu.
Eline menarik tangan Ian dan membawanya masuk ke dalam mobil itu. Eline dan Ian(arwah) duduk di kursi belakang. Lalu mobil itu berjalan dan meninggalkan halaman rumah itu.
Selama beberapa menit perjalanan, semuanya baik-baik saja tidak terjadi sesuatu. Mendekati lampu lalu lintas, sesuatu mulai terjadi. Lampu lalu lintas menyala merah yang berarti pengendara harus berhenti. Ian yang tengah menyetir mobil itu menginjak rem mobil itu untuk menghentikan mobil itu. Tapi rem mobil itu tidak berfungsi. Karena rem tidak berfungsi, mobil itu terus berjalan dan melanggar lampu lalu lintas. Lalu terjadi kecelakaan yang sangat mengerikan. Dari arah kiri melaju sebuah truk dengan kecepatan cukup tinggi. Truk itu menabrak mobil Ian. Mobil Ian berguling beberapa kali di jalanan sebelum mobil itu berhenti karena membentur pembatas jalan. Ian yang tidak menggunakan sabuk pengaman terlempar dari mobilnya dan berakhir terkapar di jalanan dengan posisi tengkurap. Kondisi Ian sangat buruk. Dia mengalami luka serius di kepala dan luka di beberapa bagian tubuhnya. Genangan darah mulai terbentuk di bawah tubuh Ian yang terkapar itu. Karena luka yang dia dapatkan, Ian sudah tidak sadarkan diri. Eline dan Ian (arwah) sudah berada di tepi jalan. Dari tempat Ian (arwah) berdiri dia dapat melihat bagaimana kondisi dirinya sendiri setelah kecelakaan itu terjadi.
Tak begitu lama, ambulan datang. Para petugas medis langsung mendekati dan mengerumuni Ian. Dengan penuh kehati-hatian, para petugas medis memindahkan Ian ke brankar yang mereka bawa. Setelah Ian di pindahkan di atas brankar mereka bergegas membawanya masuk ke dalam mobil ambulans. Eline menarik tangan Ian (arwah) dan membawanya untuk masuk ke dalam mobil ambulans. Mereka duduk diantara para petugas medis yang sibuk menangani Ian yang terluka.
Mobil ambulans lalu berangkat menuju rumah sakit. Selama perjalanan menuju rumah sakit Ian (arwah) dapat melihat bagaimana para petugas medis berusaha menolongnya.
Suasana di dalam mobil itu sangatlah begitu tegang dan serius. Ketegangan menjadi lebih besar saat tiba-tiba Ian sangat drop. Detak jantung Ian tidak stabil, tubuh Ian mengejang hebat dan sesak nafas Ian yang sangat buruk walau sudah di intubasi.
Ian sekarang ada di titik sekaratnya. Nyawanya di ujung tanduk. Inilah detik-detik menuju kematiannya.
Ian (arwah) tidak sanggup melihat ajalnya ingin sekali pergi dari sana tapi dia tidak bisa pergi karena Eline memegang tangannya sangat erat. Ian (arwah) meminta Eline untuk membawanya pergi dari tempat itu tapi Eline tidak memenuhi permintaan Ian. Dia berkata pada Ian kalo ini adalah permintaannya juga. Jadi sebelum meminta yang lain Ian harus menikmati dulu permintaannya yang telah di kabulkan.
Rasa sakit yang sangat hebat datang padanya saat dia melihat dirinya yang menghembuskan nafas terakhir di iringi dengan suara nyaring dari alat pendeteksi jantung yang menunjukkan garis lurus.
Mendengar suara nyaring itu para petugas medis dengan sigap mengambil alat pacu jantung untuk menghidupkan kembali Ian. Berkali-kali mereka mencoba alat itu pada Ian tapi tetap saja hasilnya nihil. Gagal menggunakan alat pacu jantung, para petugas menggunakan cara lain untuk mengupayakan keselamatan Ian. Salah satu dari mereka melakukan CPR pada Ian. Mereka melakukan CPR terus menerus.
Sampai di rumah sakit, ambulans berhenti di depan rumah sakit. Pintu mobil ambulans di buka dan dengan segera brankar yang di tempati Ian di turunkan dari ambulans. Setelah itu para petugas medis bergegas mendorong brankar itu menuju ruang emergency.
Sampai di ruang emergency, dokter dan perawat segera memasang berbagai alat medis ke tubuh Ian, menginjeksi beberapa obat pada Ian dan menangani luka Ian.
45 menit hampir 1 jam dokter dan perawat mengupayakan kehidupan bagi Ian. Segala cara yang mereka tahu mereka lakukan untuk menghidupkan Ian kembali tapi Ian tidak kunjung menunjukkan sinyal baik. Karena sudah melewati batas waktu pengupayaan penghidupan kembali, dokter dan perawat akhirnya menyerah dan mengumumkan kematian Ian.
Dokter dan perawat melepas semua alat medis lalu menutup seluruh tubuh Ian dengan kain putih. Dokter keluar dari ruang emergency terlebih dahulu. Sedangkan para perawat merapikan alat medis. Setelah alat medis sudah tertata rapi mereka mendorong ranjang yang terdapat jasad Ian keluar dari ruang emergency untuk di bawa ke ruang jenazah.
Melihat ajalnya sudah membuat batin Ian (arwah) sangat menderita sekarang dia harus melihat orang tuanya yang sangat terpukul karena kematian dan juga melihat kekasihnya yang menangis histeris di kamar mayat di depan jasadnya.
Setelah melihat rangkaian kejadian yang sangat menyiksa batin Ian (arwah). Eline membawa Ian ke taman kota.
Tidak kuat lagi menahan rasa sedih yang dia tahan dari awal. Akhirnya di taman itu tangis Ian pecah. Melihat Ian yang bersedih Eline mencoba menenangkan Ian.
Butuh 4 jam lamanya untuk Ian bisa kembali tenang. Setelah Ian merasa tenang. Ian mulai memikirkan kembali kejadian tadi. Kejadian yang baru saja dia lihat. Dari semua kejadian yang sudah dia lihat dia menemukan satu kejanggalan. Saat melihat kekasihnya, Sona yang menangis histeris di kamar mayat. Dia melihat ada seorang cowok yang bersama Sona Tapi dia tidak mengenali cowok itu. Saat melihat cowok itu dia merasa ada yang aneh dengan cowok itu. Karena selama menemani Sona di kamar mayat. Cowok itu tidak sama sekali menunjukkan wajah sedih sebagai bentuk simpati. Dan lebih anehnya lagi, Ian tidak sengaja mendengar suara batin cowok itu dan di dalam hati cowok itu bilang 'Selamat Tinggal Ian, sekarang aku mendapatkan apa yang aku inginkan'
Ian tidak mengerti dengan cowok itu, kenapa cowok itu mengatakan itu di dalam hati nya?
Apa cowok itu ada hubungannya dengan kematiannya?
Ya, pertanyaan itu tiba-tiba saja muncul di pikiran Ian saat memikirkan tingkah aneh cowok yang bersama Sona di kamar mayat tadi.
Karena penasaran siapa cowok itu, Ian bertanya pada Eline. Lalu Eline menjelaskan tentang cowok itu. Cowok itu adalah Leo, saudara tiri dari teman Ian yang bernama Teo.
Setelah mendengar penjelasan Eline mengenai Leo. Karena Eline bertanya pada tentang alasan kenapa dia bertanya tentang Leo lalu Ian menceritakan keresahannya terhadap Leo.
Karena kerasahan itu membuat Ian bertekad bulat untuk menyelidiki Leo. Setelah menjelaskan semua yang dia pikirkan tentang Leo. Ian meminta pada Eline untuk memberi sedikit waktu untuk menyelidiki Leo agar Ian bisa pergi ke akhirat dengan tenang. Eline menyetujui permintaan Ian dan dia memberi Ian 7 hari untuk menyelidiki Leo.
Hari pertama
Ian mengikuti semua aktivitas Leo. Kemanapun Leo pergi Ian akan mengikuti Leo. Rencana Ian pada awalnya memang seperti itu, tapi di kenyataannya rencana itu tidak berjalan mulus. Tidak semua tempat yang Leo kunjungi, Ian bisa mengikuti karena di saat Leo ingin pergi ke suatu tempat untuk bertemu seseorang. Ian kehilangan jejak Leo karena dia tidak bisa fokus karena saat dalam perjalanan mengikuti Leo secara tiba-tiba suara banyak orang yang memanggil nya terdengar di telinganya dan karena suara itu tiba-tiba dia seperti di tarik menuju suatu tempat.
Suara-suara itu membawanya ke sebuah aula gereja. Di sana banyak orang yang berpakaian serba berwarna hitam tengah melakukan serangkaian upacara penghormatan terakhir. Setelah upacara itu selesai peti berisi jasadnya di bawa keluar gereja untuk di hantarkan ke pemakaman.
Di pemakaman, Ian melihat semua prosesi pemakaman dari awal sampai akhir. Pelayat perlahan-lahan berkurang karena mereka sudah pulang. Pelayat terakhir yang bertahan lama di pemakaman adalah keluarga Ian, kekasih Ian (Sona) dan teman-teman Ian.
Sore menjelang malam, keluarga Ian, kekasih Ian dan teman-teman Ian pulang, menyisakan Ian (arwah) yang sekarang berdiri diam di depan makamnya sendiri.
Puas menatap makamnya Ian memutuskan pergi. Belum terlalu jauh dari posisi makamnya. Langkah Ian terhenti karena suara temannya Teo yang baru datang. Ian pikir, Teo tengah menyapa makannya jadi setelah sejenak berhenti Ian kembali melangkah pergi tapi langkah itu kembali berhenti setelah Ian mendengar suara Teo yang memanggil namanya dan menyuruh berhenti.
Ian segera menoleh dan menatap wajah temannya itu. Di lihat dari tatapan temannya padanya. Ian yakin jika Teo bisa melihatnya.
Gagal membuntuti Leo sepertinya membawa hikmah tersendiri bagi Ian. Dari kegagalan itu, dia mendapatkan harapan yang sangat menakjubkan yang bisa membantunya dalam menjalankan misinya.
Hari Kedua
Dia masih tidak menyangka jika Teo bisa melihatnya. Karena semasa Ian masih hidup, Teo tidak pernah cerita tentang kemampuannya itu. Kemampuan bisa melihat arwah.
Setelah Teo mencurahkan semua kesedihannya dan kegembiraan karena dapat bertemu dengan Ian walaupun dalam bentuk arwah. Teo membawa Ian ke apartemennya. Semenjak ayah Teo menikah lagi, Teo tidak lagi tinggal di rumah ayahnya. Di apartemen Teo, Ian menceritakan semuanya termasuk misinya menyelidiki Teo saudara tiri Taehyung.
Setelah mendengar semuanya dari Ian. Teo memutuskan untuk membantu Ian karena selain Ian, Teo juga merasa ada keanehan pada Teo saudara tirinya itu beberapa hari kebelakang. Seperti, beberapa hari yang lalu Teo mengunjungi ayahnya. Saat tengah bersantai di ruang tamu. Hp Leo yang berada di atas meja berdering, ada panggilan masuk. Si pemilik Hp tengah pergi ke kamar mandi. Awalnya Teo tidak perduli, tapi karena hp itu terus berdering akhirnya Teo memutuskan untuk mengangkat panggilan itu. Dia mengambil hp itu. Dia melihat bahwa yang memanggil adalah nomor tidak dikenal. Karena nomor itu adalah nomor asing jadi Teo memutuskan untuk menolak panggilan itu. Saat Teo ingin menekan tombol tolak panggilan. Leo tiba-tiba merebut Hp nya dan marah-marah padanya.
Tidak hanya Teo yang memutuskan membantu Ian. Teman-teman Ian yang lain juga memutuskan untuk membantu Ian setelah Teo mengumpulkan mereka semua di sebuah kafe dekat sekolah mereka dan menceritakan semuanya. Walaupun teman-temannya yang lain tidak bisa melihatnya tapi setidaknya mereka percaya dengan Teo bagi Ian itu sudah cukup.
Seterusnya sampai hari ke 7, Ian di bantu teman-temannya. Mereka bersama-sama menyelidiki Leo. Dari hari ke hari, Ian dan teman-temannya perlahan menemukan satu persatu bukti yang mengarah ke sebuah fakta bahwa Leo saudara tiri Teo adalah dalang dari kecelakaan yang menimpa Ian. Sampai di hari terakhir misi Ian, Ian dan teman-temannya menyusun rencana menjebak Leo. Di bantu dengan Sona. Mereka berhasil menjebak Leo tapi insiden tidak terduga terjadi. Saat polisi sedang menangkap Leo, Leo memberontak dan berhasil Leo berhasil merampas senjata milik polisi. Sebagai perlawanan, Leo menembakkan asal pistol yang dia ambil dari polisi sambil berlari menjauh. Salah satu peluru mengenai Sona. Karena peluru itu Sona terluka parah. Dan di saat kesadarannya menipis Sona dapat melihat Ian yang menangis di dekatnya. Setelah itu semuanya menjadi gelap.
Sona di bawa kerumah sakit. Sampai di rumah sakit, Sona di bawa ke ruang emergency. 4 jam dokter dan perawat menangani Sona. Setelah itu dokter keluar dari ruang emergency dan menyatakan jika Sona, nyawanya tidak dapat di tolong lagi. Mendengar itu seketika semua yang ada di depan ruang emergency itu, teman-teman Sona, keluarga Sona dan Ian (arwah) syok berat. Mereka sangat sedih dan hati mereka sangat terluka setelah mengetahui Sona telah meninggal.
Di tengah suasana sedih yang terjadi di depan ruang emergency, Eline muncul untuk menjemput Ian. Untuk membawanya kembali ke tempat seharusnya Ian berada.
Tapi sebelum itu Ian mengajak Eline untuk mengobrol sebentar di taman rumah sakit.Ian mengajak Eline untuk mengobrol karena Ian ingin meminta tolong kepada Eline. Tapi, sebelum Ian mengutarakan apa kemauannya, Eline sudah mengetahuinya. Eline tahu jika Ian ingin meminta tolong pada Eline untuk mengubah takdir Sona atau dengan kata lain Ian ingin Sona hidup kembali.
Permintaan Ian kali ini telah melampaui batas. Mustahil bagi Eline untuk mewujudkan permintaan Ian. Karena jika permintaan itu terkabul sama saja Eline menyalahi takdir yang telah di tentukan oleh sang pencipta. Yang berarti juga Eline menentang kehendak Tuhan.
Eline hanya seorang malaikat dia tidak punya kuasa lebih atas takdir manusia.
Setelah mendengar ucapan Eline, Ian merasa sangat hancur. Jadi karena itu Iab meminta waktu sedikit lebih lama untuk tetap di dunia. Dia meminta waktu sedikit lebih lama karena dia ingin menenangkan diri sendiri. Eline mengabulkan permintaan Ian, Eline pergi dan memberi Ian waktu untuk sendiri.
Setelah Eline pergi, Ian pergi ke gereja dan berdoa kepada Tuhan untuk Sona. Dia memohon pada Tuhan untuk menghidupkan kembali Sona. Apapun akan Ian lakukan agar doanya terkabul. Setelah selesai berdoa Ian pergi dari gereja. Dia kembali ke rumah sakit.
Sampai di rumah sakit, Ian segera masuk ke dalam rumah sakit untuk melihat Sona untuk terakhir kalinya. Saat tengah menulusuri koridor untuk menuju ke ruang emergency. Ian bertemu Teo dan Teo memberitahunya jika Sona kembali hidup tapi keadaannya sekarang masih kritis.
Mendengar informasi itu, Ian merasa sangat senang. Doa di kabulkan oleh Tuhan.
Tapi kegembiraan Ian tidak bertahan lama. Saat ingin menjenguk Sona, Eline datang dan memberitahu Ian jika semua yang Ian dapatkan sekarang itu tidaklah gratis. Di balik itu semua dia harus membayar mahal untuk itu.
Tuhan memberikan kembali kehidupan Sona, sebagai gantinya Ian akan kehilangan jiwanya. Yang berarti Ian tidak bisa pergi ke akhirat. Jiwanya akan menghilang menjadi butiran cahaya.
Mendengar itu, Ian menerima itu dengan lapang dada dan sebagai permintaan terakhirnya dia ingin bersama Sona di detik-detik terakhirnya.
Dia menemani Sona di ruangan tempat Sona di rawat. Ian mengajak Sona mengobrol walau dia tahu Sona tidak bisa mendengarnya, tiba bisa merasakan keberadaannya dan tidak bisa melihatnya.
Ian (arwah) merasakan tubuh transparannya mulai pudar. Ian tahu jika inilah saatnya mengucapkan selam perpisahan.
Ian memeluk kepala Sona dan mencium keningnya. Sambil berlinang air mata dia mengucapkan selamat tinggal pada Sona. Lalu tubuh hantu Ian terurai menjadi butiran cahaya.
Di dalam alam bawah sadar Sona. Sona bertemu Ian dengan pakaian serba putih. Ian tersenyum pada Sona dan mengucapkan 'Selamat tinggal cintaku, jaga dirimu dengan baik, aku mencintaimu' lalu Ian menghilang dari pandangan Sona.