Aku Alisha Sandra, gadis yang lahir disebuah keluarga yang kaya. Sejak lahir, aku dimanja dengan kekayaan. Seperti, pakaian yang mewah, tas mewah bahkan apa yang kuinginkan akan kudapatkan jika meminta pada orang tua. Aku anak tunggal, otomatis aku anak paling dimanja dan tidak ada persaingan dalam persaudaraan. Ayahku seorang pengusaha sukses dan ibuku bekerja dibatik miliknya sendiri.
Semua orang iri akan diriku, kekayaanku, ketenaranku dan sebagainya. Menurut mereka aku sempurna dimata mereka, aku bahagia. Sebenarnya tidak, aku memang dimanja dengan kekeyaan tapu aku tidak pernah dimanja dengan kasih sayang. Saat umurku 1 tahun 9 bulan, aku di asuh nenek dan seorang babysister. Saat itu ibuku langsung pergi entah kemana tanpa ku ketahui waktu itu. Apalagi ayahku yang tidak mengharapkanku, aku memang diberi segalanya apa yang ku mau. Tapi beliau melakukannya demi ketenarannya. Supaya tidak dihina oleh orang lain karena membiarkan sang anak tidak mendapatkan apapun. Beliau hanya menginginkan seoranga anak lelaki yang bisa melanjutkan perusahannya. Aku pernah dengar dari nenek kalau hubungan ibu dan ayah mulai retak sejak ibu divonis kanker rahim. Mereka memang masih suami istri, tapi hanya diluar saja. Jika didalam mereka betengkar sampe kuping ini cape mendengarnya.
Aku memiliki seorang sahabat yang bermama Tasya Liayana, gadis sederhana dan sholeha. Kami bersahabat sejak kami kelas 7. Hanya dia teman yang tulus yang ingin berteman denganku. Yang lain memiliki tujuan mendekatiku.
Hari ini sepulang sekolah, aku kerumah Tasya dengan berjalan kaki. Rumahnya tidaklah jaub dari sekolah, sehingga cepet samapai walaupun hanya berjalana kaki. Kami memberi salam sebelum memasuki kaki kerumahnya. Dari dalam terdengar suara lembut yang menjawab salam kami.
"Ehhh ada Alisha yah, masuk nak," perintah ibu Tasya padaku dengan senyuman dan suara lembutnya.
"Makasih bu," kataku.
“Ibu baru aja masak, mari kita makan bersama," tawarnya padaku. Saat aku ingin menjawan akan tawaran Ibu Tasya, sebuah suara lelaki terdengar ditelingaku.
“Assalamualaikum,” salam lelaki tersebut.
“Waalaikum salam,” jawab kami.
“Bapak udah pulang, mau mandi atau makan dulu. Mumpung ada Alisha. Kita bisa makan bersama,” tawar Ibu Tasya pada lelaki tersebut. Lelaki tersebut adalah Bapak Tasya.
“Ehh, ada Alisha yah. Maaf Bapak baru sadar ada kamu. Bapak kira cuman ada Tasya ama Ibu,” katanya sambil melihat dan tersenyum padaku,”Bapak makan dulu aja bu, kasiana ama anak-anak kalau bapak mandi dulu. Lagian kalian pasti nunggu bapak,” lanjut beliau.
“Yasudah kalau itu kemauan bapak, mari makan nanti dingin lagi makanannya,”ajak Ibu Tasya pada kami.
Tanpa berpikir panjang, kami semua menuju meja yang telah tersedia beberapa hidangan. Betapa sedehananya makanan tersebut, hanya ada nasi, ikan goreng dan sayuran. Kami makan makanan tersebut sambil berbincang di sela-sela makan kami. Aku merasakan kehangat jika bersama mereka, walaupun makanan mereka hanya ini. Setelah selesai, aku bersama Tasya menyelesaikan tugas dari guru. Setelah selesai menyelesaikannya, aku begegas pulang karena hari mulai gelap dan tak lupa pamit pada orang tua Tasya.
Di perjalanan, aku bergumam dalam hatiku yang dalam betapa bahagianya Tasya mendapatkan kasih sayang orang tua. Kasih sayang dimana setiap anak menginginkannya.
“Betapa serunya jika aku mendapatkan kasih sayang dari ayah dan ibu seperti tasya yang mendapatkan kasih sayang dari orang tuanya,” batinku.
Kaki melangkah dalam sebuah rumah bak istana yang megah. Telingaku menangkap dua suara yang seperti dua orang betegkar. Siapa lagi kalau bukan orang tuaku. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun aku langsung memasuki kamarku. Pertengkaran mereka belum usai, membuatku Lelah akan semuanya. Hanya bisa diam , menutup mata dan telinga ku sehingga aku bener-bener bisa tidur. Namun, ketukan pintu membangunkanku, dengan malas dan rasa kantuk, aku membuka pintu kamarku.
Tepat di depan pintu terdapat orang tuaku, tumben sekali mereka mengetuk pintu kamarku.
“Kamu ikut ayahmu, ibu dan ayah akan berpisah,” kata ibu dengan nada datar.
“Denganku?” tanya ayah dengan kesel “ ikut ibumu saja, aku ngak sudi punya anak sepertimu,” sambung ayah dengan nada angkuh dan sombongnya. Dan itu memuat hatiku sakit dan seperti ditusuk beribu jarum.
Melihat mereka begitu, aku pun berkata dengan nada lirih, “ Aku tidak akan mengikuti diantara kalian, aku akan hidup sendidi. Ada atau tidaknya kalian itu sama saja, aku tetap akan merasa sendiri.”
Dengan cepat, aku mengambil koper dan memasukkan beberapa pakaian didalamnya. Setelah selesai, aku langsung keluar dari rumah tanpa melihat arah kebelakang.
“Maksih atas semua yang kalian berikan selama ini,” batinku sambil melangkah pergi dari rumah.
******
Sudah empat tahun aku meninggalkan orang tua dan shabatku, Tasya.
Setelah meninggal kan rumah, aku tinggal di sebua kostan yang daket dengan sekolah. Syukurnya, aku memiliki uang tabungan, sehingga aku tidak memikirkan tentang ekonomi untuk beberapa bulan kedepan.
Dua bulan aku pergi dari rumah, aku memilih untuk ke luar negeri dan melanjutkan pendidikan disini. Di Sydney, Australia. Aku meninggalkan shabat dan orang tuanya. Tapi, kami tetap berkomunikasi sampai kini. Aku merindukan dia.
Aku Ingin pulang ke Indonesia, tapi kenangan dari masa laluku membuat aku takut kembali. Masa lalu yang mengerikan. Bahkan, ketika aku mengingatnya, bulu kudukku merinding.
Aku tinggal dengan kekasih ku, ralat calon suamiku. Aliando. Kami berkenalan ketika aku mulai bekerja di salah satu perusahaan disini. Dan di CEO nya.
"Melamun lagi?," tanya seseorang disampingku. Siapa lagi kalau bukan calon suamiku. "Sudah ku bilang, lupakan masa lalumu itu," lanjutnya.
"Bagaimana bisa aku melupakannya mas. Aku tidak diinginkan ayahku dari aku kecil sampai umurku berumur sekarang. Dan ibu ku sempat entah pergi kemana. Jika bukan karena reputasi mereka, mereka akan meninggalkan ku sendiri sejak aku bayi. Entah, bagaimana nasibku kalau itu benar terjadi," ucapku panjang lebar.
Dia tersenyum sambil memelukku dan mengusap punggung. Aku bersyukur memiliki calon suami sepertinya. Pernah beberapa kali aku menolak lamarannya dikarenakan aku takut akan berumah tangga. Tapi dia tak pernah berhenti mengerjar dan meyakinkan ku tentang pernikahan.
"Semua sudah berlalu, sekrang kamu tidak khawatir. Ada aku sekarang dan aku janji tidak akan menyakiti mu seperti yang mereka lakukan padamu," ujarnya. Dia mencium keningku, itulah hobinya.
"Kita akan membuat keluarga kecil yang bahagia. Kita akan menjadi orang tua yang baik dan bertanggung jawab. Secara nafkah dan mental mereka,"
Aku melihat matanya, benar-benar tatapan yang tulus. "Makasih mas untuk semuanya. Makasih udah meyakinkan ku tentang ini. Makasih sudah mendampingi dan menemaniku selama ini. Terima kasih," ucapku dengan tersedu-sedu.
"Iyah sama-sama. Sudah, sekarang kita fighting baju yuk," ucapnya sambil menghapus air mataku. Aku mengangguk dan berjalan mengikuti dirinya.
Makasih mas, batinku