Mabuk benar-benar membawa bencana untuknya. Di ambang batas kesadarannya, Annchi bisa merasakan tubuhnya yang entah dibawa ke mana hingga berakhir di atas sebuah ranjang empuk. Pun ia tidak tahu siapa orang yang membawanya itu, yang ia tahu hanyalah siluet seorang lelaki yang mengingatkannya pada pimpinan perusahaan sebelah yang tadi ditemuinya di pesta.
"Hmmnff.."
Bibir Annchi dipagut secara sepihak oleh sosok lelaki itu. Ia berusaha melawan, mendorong tubuh lelaki itu agar menjauh, tetapi apa daya. Dirinya yang sedang berada di bawah pengaruh alkohol membuat ia kehilangan tenaga. Alhasil ia tidak bisa melakukan apa pun saat lelaki itu berhasil menginvasi mulutnya.
Ketika Annchi menunjukkan tanda-tanda bahwa ia mulai kehabisan napas, barulah lelaki itu melepaskan pagutan mereka. Namun, bukan berarti ia berhenti. Lelaki itu beralih memberikan kecupan-kecupan basah di sepanjang garis rahang Annchi hingga membuat wanita muda itu mengerang gelisah di bawah lingkungannya.
Lalu turun ke sepanjang leher jenjang Annchi yang putih bersih. Tidak hanya memberikan kecupan basah, lelaki itu juga memberikan tanda kemerahan di pangkal leher Annchi hingga membuat wanita itu tidak tahan untuk tidak melenguh.
Tangan lelaki itu pun tidak tinggal diam sedari tadi. Bergerak di sepanjang tubuh Annchi, memberikan sentuhan-sentuhan seringan bulu yang mengantarkan sengatan listrik kecil pada wanita muda itu. Hingga akhirnya bergerak untuk membuka evening dress yang dipakai Annchi malam itu.
Selang beberapa waktu yang singkat, tubuh Annchi akhirnya menyatu dengan lelaki itu.
Kening Annchi sempat mengerut saat merasakan sakit pada inti tubuhnya. Apalagi ia tidak diberikan waktu sesaat, lelaki itu langsung mengejar kenikmatan atas tubuhnya.
Mereka bergerak dalam tempo yang seirama, diiringi lenguhan dan erangan dari mulut keduanya. Malam itu menjadi malam panjang yang berkeringat dan menggairahkan.
Sehingga pada saat pagi menjemput, Annchi yang lebih dulu terbangun dari tidurnya dibuat terkejut oleh keadaan mereka di dalam kamar hotel yang asing itu. Pakaian mereka berserakan di lantai kamar itu, selimut sudah jatuh ke lantai hingga tubuh polos mereka tidak tertutupi, dan ... Annchi tidak dapat menahan matanya untuk berkaca-kaca saat mendapati tubuh mereka masih menyatu. Ia dapat melihat noda yang menunjukkan bahwa dirinya benar-benar telah usai.
"Saya akan bertanggung jawab," suara berat nan serak itu terdengar dari belakang tubuhnya sehingga Annchi menoleh.
Benar saja, pemimpin perusahaan meubel dan furniture sebelah yang mengambil keuntungan dari dirinya yang mabuk. Annchi semakin tidak bisa menahan tangisan yang memberontak untuk dikeluarkan. Apakah ini balasan karena Annchi menolak membintangi iklan mereka?
Lelaki itu meraih tubuhnya ke dalam pelukan, berniat untuk menenangkan. "Saya tidak hanya memberikan omong kosong. Saya benar-benar akan bertanggung jawab," ucap lelaki itu seraya mengecup pundak polos Annchi.
◍
Makanan sudah tersaji di meja saat Annchi mendengar pintu kamar yang terbuka, lalu dengan cepat tertutup. Seorang lelaki tiga puluhan tahun yang sudah rapi dengan setelan kemeja serta jasnya terlihat di penglihatan Annchi.
"Mau sarapan dulu?" tanya Annchi seraya melepas celemek.
"Maaf, Ann, saya harus segera pergi. Kaili dan Arli sebentar lagi akan mendarat, jadi saya harus menjemput mereka."
"Ah.. iya."
"Kalau begitu saya pergi."
"Iya, hati-hati."
Bunyi pintu apartemen menjadi hal terakhir yang mengisi keheningan. Annchi terdiam di tempatnya berdiri tanpa berniat bergerak seinci pun. Perlahan, air mata jatuh dari pelupuk matanya.
Tentu saja lelaki itu lebih mengutamakan istri sahnya dan sang anak. Dirinya bukan siapa-siapa melainkan benalu dalam pernikahan Karsafa Abdita.
Kesalahan satu malam yang terjadi di antara mereka satu tahun yang lalu tentu tidak cukup untuk membuat perubahan besar. Annchi hanya berubah status menjadi simpanan pimpinan perusahaan sukses itu. Selain status itu, ia tidak boleh meminta lebih. Ia harus merasa cukup dengan dua hari dalam dua minggunya untuk bersama dengan Karsa, karena istri dan anak lelaki itu adalah prioritas utama.
Annchi harus merasa cukup bisa memandang Karsa dari jarak jauh saat mereka berada di pesta kolega yang sama, karena istri lelaki itu akan selalu setia berada di samping.
Annchi juga harus merasa cukup saat lagi-lagi mengunjungi dokter kandungan yang berbeda, ia mendapatkan hasil yang sama—ia terlalu lemah untuk mengandung. Tidak akan bisa ia memberikan anak pada Karsa, karena lelaki itu sudah memiliki pangeran kecilnya sendiri bersama sang istri sah.
Bukan keinginan Annchi untuk terjebak dalam kehidupan seperti ini saat dirinya yang seorang artis yang sedang naik daun bisa mendapatkan lelaki mana pun untuk dirinya. Namun, yang ia inginkan hanyalah Karsafa Abdita. Mau berapa banyak pun lelaki yang mendekatinya, mereka bukanlah Karsa.
Alhasil, Annchi harus merasa cukup untuk kesekian kalinya hanya dengan menjadi simpanannya.