"Sejak kapan?"
Perempuan yang melontarkan pertanyaan itu tidak menunjukkan ekspresi apapun kepada lawan bicaranya. Manik matanya hanya menatap lurus pada dua orang muda-mudi yang duduk gelisah di hadapannya.
Tangannya yang mulai berkeringat dingin terus saja memegang erat kertas hasil tes kehamilan yang tengah ia pegang. Namun sayangnya, kertas itu bukanlah miliknya sendiri.
"Ini bukan salah Mas Catur, Nea! Jangan salahkan dia aku mohon. I-ini namanya cinta."
Nea. Wanita yang usianya bahkan belum genap sepertiga abad itu kembali meminum kopinya yang mulai dingin dengan hati-hati. Gerakannya begitu lembut dan menunjukkan bahwa ia adalah seorang wanita dewasa yang tak perlu menabuh genderang perang hanya untuk meladeni perempuan di hadapannya ini.
Melihat Nea yang tak kunjung juga memberikan respon, maka Raina dengan begitu saja berlutut di hadapan Nea. Ia bahkan sampai repot-repot menyentuh lutut Nea untuk menunjukkan betapa dirinya telah menyesal.
"RAINA! BANGUN!"
Catur yang melihat perempuan itu berlutut di hadapan Nea tentu saja tak terima. Ia menatap nyalang ke arah Nea yang masih saja diam dengan wajah dinginnya.
"Hiks ... aku minta maaf, Nea. A- hikss aku ... tahu ini salah. Tapi cinta kami ini tulus. Kami sudah ditakdirkan bersama."
"Jangan menangis, Raina. Pikirkan kandungan kamu. Ayo bangun!"
Benar juga. Nea hampir saja lupa dengan kehadiran pria itu. Catur. Calon suami- ah bukan. Melainkan suaminya. Catur adalah suami Nea. Pasangan hidupnya.
Karena mereka berdua sudah melaksanakan akad pagi tadi. Dan rencananya, resepsi akan digelar nanti malam.
Namun rencana tinggallah rencana. Sebuah kabar hina tiba di saat Nea sedang dalam perjalanan kembali dari salon tempat ia berias diri. Nea sengaja tak memanggil perias tersebut ke rumah karena ingin bebas sejenak dari tekanan keluarga.
"Tidak bisakah kamu menjawab, Nea? Apa kamu bisu, hah?! Bagaimana bisa kamu mengabaikan sahabatmu seperti ini?! Dasar tidak punya hati!"
Benar. Nea mengakui hal itu. Mungkin dirinya memang benar-benar tidak memiliki hati. Sebab perasaan pertama yang ia temukan di saat Catur mengatakan bahwa ia telah menghamili Raina bukanlah kesedihan.
Nea, yang telah dihianati oleh sahabat dan suaminya sendiri tidak merasakan apa itu patah hati. Ia tidak marah. Juga tidak terluka.
Di dalam hatinya ... hanya ada kehampaan. Semuanya kosong.
Janji Catur yang mengatakan akan menghormatinya sebagai seorang istri dan memperlakukannya sebaik mungkin nyatanya hanya bualan manis belaka.
Semua itu palsu. Pura-pura. Sandiwara memuakkan bagi Nea.
"Bangunlah kalian berdua. Meskipun tidak ada orang di sini, tapi jangan membuat keributan karena itu akan sangat merepotkan."
Satu-satunya alasan mengapa kafe ini nampak begitu sepi adalah karena Catur sengaja menyewanya guna membicarakan permasalahan ini.
Dia tidak ingin aibnya diketahui orang lain.
Raina yang masih saja terus menangis menatap penuh harap pada Nea. Dia dibantu Catur kembali duduk di atas kursi, berseberangan langsung dengan Nea. Perempuan itu akan lebih menyukai jika Nea menampar atau menjambaknya. Karena dengan begitu, perasaannya akan menjadi lega.
Perasaan superior. Dimana ia akan menjadi seorang pemenang.
Raina Larasati, si juara dua, untuk pertama kalinya akan mengungguli Nea Nevada Diratama. Gadis itu benar-benar menyukai pemikiran bahwa Nea akan menangis memohon di bawah kaki Catur untuk tidak mencampakkannya.
Bahkan lebih baik lagi jika Nea akan hancur sehancur-hancurnya karena hal ini. Raina benar-benar mengharapkan hal itu. Dia tidak sabar menunggu keluarga Nea mendengar kabar ini.
Oleh karenanya, Raina sengaja menyembunyikan fakta kehamilannya dari Catur dan baru mengungkapkannya tepat setelah Catur dan Nea menyelesaikan akad nikah. Karena dengan begitu, Nea akan mendapatkan rasa malu luar biasa dengan bercerai sehari setelah pernikahan.
"Jadi, apa mau kalian?"
Kenapa seperti ini? Raina tidak mengharapkan Nea akan menanggapi berita kehamilannya dengan sangat tenang seolah tidak terjadi apa-apa.
Meskipun pada dasarnya Nea memang selalu dingin seperti es, tapi bukankah seharusnya dia akan merespon kehancuran rumah tangganya dengan sedikit lebih emosional? Bukankah begitu?
Sungguh ... Raina benar-benar marah dengan kenyataan yang jauh dari ekspektasinya ini.
Sedangkan Catur, ia merasa sedikit tercubit. Pria itu tidak sadar jika saat ini ia tengah kecewa dengan respon Nea. Walaupun semenjak awal mereka berkomitmen menikah tanpa didasari cinta, namun pria itu mengharapkan setidaknya Nea akan menitikkan sedikit airmata dengan penghianatan yang ia berikan ini.
Lantas mengapa justru dirinya lah yang merasa sangat kesal dan marah karena respon Nea? Apa yang sebenarnya sangat mengganggu Catur sehingga ia tak kuasa untuk tidak membentak Nea seperti tadi?
Entahlah. Pemuda itu tak paham dengan perasaannya sendiri. Dia ... tidak menyadari bahwa jauh di lubuk hatinya, Nea,- istrinya-, sudah merebut hatinya dari waktu yang sangat lama.
"Halo? Apa kalian masih ada di sini?"
"E-eh ... iya, Nea." Raina tergagap mendengar suara kalem Nea yang dibarengi dengan jentikan jarinya yang nyaring berbunyi tepat di hadapan wajah mereka berdua.
"Baiklah. Aku tanya sekali lagi. Apa mau kalian?"
"A-aku tidak ingin melahirkan anak tanpa ayahnya. Itu akan menjadi aib bagiku dan keluargaku. Jadi, tolong Nea. Mengalahlah untukku. Jangan serakah dan berbuat keji dengan merebut ayah dari anakku. Aku ... dan anakku berhak bahagia. Kami lebih berhak atas Catur daripada kamu."
Ingin sekali rasanya Nea mengatakan siapa yang lebih berhak atas siapa. Bagaimana bisa Raina lupa bahwa saat ini, Nea sudah menjadi istri sah dari Catur. Mereka adalah pasangan suami istri yang diakui baik oleh agama maupun negara.
Lantas dengan hak apa Raina berani berujar sesombong itu?
Nea benar-benar tidak habis pikir dengan pola pikir Raina.
"Baiklah, itu jawabanmu. Lalu bagaimana denganmu?" tidak ingin semakin pusing, maka selanjutnya Nea berganti pandang pada Catur.
Dia ingin mendengarkan jawaban suaminya sebelum melanjutkan obrolan ini. Meskipun semenjak awal keputusan Nea sudah ditetapkan, namun wanita itu masih ingin setidaknya mendapatkan hak untuk mendengar jawaban Catur.
"Tentu saja aku ingin bertanggungjawab pada anakku. Dia darah dagingku. Jadi jangan menghalangi apalagi mempersulit hubungan kami. Lagipula, sejak awal, kita menikah juga bukan karena cinta, kan? Jadi lebih baik memang seperti ini."
"Apakah kalian saling mencintai?" tanya Nea tanpa goyah sedikit pun. Meskipun ia sadar bahwa api kemarahan mulai merasuki hatinya setelah mendengarkan jawaban tak tahu diri dari kedua orang tersebut, namun Nea tetap berpegang teguh untuk tak menunjukkan kelemahannya sama sekali.
Dia tidak boleh terlihat goyah dan lemah di hadapan musuh.
"Aku sangat mencintai Mas Catur. Kamu juga kan, Mas?"
Nea menangkap perasaan ragu pada wajah Catur. Rupanya gelar S. Psi-nya bukan hanya sebuah rangkaian huruf semata.
Ilmu yang ia pelajari selama menempuh pendidikan di jurusan psikologi ternyata benar-benar mampu Nea gunakan dalam kehidupan sehari-hari.
"Ya. Tentu saja kami saling mencintai." kali ini Catur menjawab sambil mengeratkan genggaman tangannya pada Raina. Berusaha menunjukkan betapa mereka saling mencintai.
"Jadi, kita harus bercerai?"
"Ya. Tentu saja Mas Catur harus menceraikanmu. Aku tidak mau menjadi yang kedua."
Tapi kau sudah menjadi yang kedua. Pikir Nea dalam hati setelah mendengar jawaban itu dari Raina.
"Kita bercerai, Catur?" menyebutkan subjek pertanyaannya, Nea menegaskan bahwa ia menginginkan jawaban dari suaminya bukan dari Raina.
"Aku akan menceraikanmu."
Jauh di dalam hati, Nea tertawa sumbang mendengar jawaban Catur yang begitu lugas. Seyakin itukah dirinya? Bahkan tanpa berpikir dua kali, Catur nampak begitu serius dengan jawabannya.
Nea tidak tahu, jika jawaban yang diberikan oleh Catur muncul karena terdorong keinginan pria. Alam bawah sadar Catur ingin sekali ditahan oleh Nea. Dia berharap istrinya itu akan memohon untuk lebih memilih dirinya ketimbang Raina.
"Baiklah. Kita lakukan sesuai keinginan kalian. Mari kita urus surat pembatalan pernikahan kita. Dan setelah itu kalian bebas menikah."
Mendengar kabar gembira ini tentu saja bunga-bunga di taman hati Raina mulai indah bermekaran. Ia begitu bahagia karena Nea tidak membuat drama apapun.
Berbeda halnya dengan Catur yang merasa lemas seketika. Ia bagaikan kehilangan seluruh tulang di dalam tubuhnya ketika mendengar jawaban Nea yang sangat baik-baik saja dengan perpisahan mereka.
"Tapi kita harus tetap melangsungkan resepsi pernikahan kita sesuai rencana."
"Apa?! Kamu gila?!"
Bukan Catur yang terkejut dengan ucapan Nea melainkan Raina yang sudah kebakaran jenggot terlebih dahulu. Dia berpikir bahwa Nea sudah kehilangan akal dengan mengajukan hal gila seperti ini.
Bagaimana bisa resepsi dilakukan jika kedua orang itu akan segera bercerai?
Sungguh tidak masuk akal ucapan Nea di mata Raina saat ini.
"Bukankah akan aneh jika kita tiba-tiba membatalkan resepsi? Apa yang akan dipikirkan orang lain nanti? Akan ada banyak rumor yang beredar dan lama kelamaan semuanya akan terarah pada satu orang."
Arah tatapan Nea yang ditujukan kepada Raina benar-benar menyebalkan. Tentu saja itu menurut Raina. Karena seperti biasa, Nea sendiri hanya menatapnya datar tanpa menunjukkan emosi apapun.
"Tapi akan berbeda cerita jika kita bercerai setelah resepsi. Mungkin akan ada rumor lain. Seperti malam pertama yang tidak sesuai ekspektasi misalnya. Dengan begitu publik tidak akan berspekulasi yang aneh-aneh. Dan calon istrimu dapat hidup dengan tenang. Lagipula aku juga tidak suka keributan. Drama seperti perselingkuhan, orang ketiga dan lain sebagainya hanya akan mengganggu konsentrasiku dalam bekerja saja."
Catur tidak habis pikir bagaimana Nea bisa setenang itu dalam mengungkapkan isi pikirannya. Postur tubuhnya yang begitu tegap menunjukkan bahwa ia adalah manusia yang tumbuh dalam kewibawaan.
Nea ... selalu nampak elegan di mata Catur. Penuh dengan harga diri tanpa menyombongkan apapun. Tapi perempuan itu tak ayalnya hanya sebuah bongkahan es saja jika membicarakan perihal rasa.
Mungkin hal itu juga yang membuatnya terkadang merasa lelah dengan sikap Nea yang terlalu dewasa. Sangat berbanding terbalik dengan Raina yang lebih hidup.
Raina yang ceria dan Nea yang dingin. Raina yang lebih ekspresif dan Nea yang tak pernah menunjukkan emosi apapun. Raina yang terbang bagaikan kupu-kupu di taman bunga yang berwarna, dan Nea yang berenang bagaikan ikan koi di dalam kolam dingin tanpa warna.
Tenang ... dan menenggelamkan.
Sekali lagi Catur seolah tersihir kembali dengan mata yang begitu dalam nan gelap tersebut. Netra indah Nea selalu saja dapat menenggelamkannya dalam perasaan misterius yang tak kunjung usai.
Catur merasa bahwa-
"MAS!"
"E-eh iya, Sayang? Ada apa Rain?"
"Kamu memikirkan apa sampai tidak mendengarkan aku?!" meskipun usianya sudah akan memasuki 27 tahun, namun Raina dengan tingkah manisnya selalu bisa membuat Catur gemas. Apalagi jika ia menggembungkan pipi seperti sekarang.
"Maaf, Sayang. Mas tadi hanya sedikit pusing."
"Kamu sakit, Mas?"
Satu lagi kelebihan Raina yang tak dimiliki Nea. Kehangatan dan perhatian.
Raina selalu bisa memberikan kasih sayang yang diharapkan oleh Catur. Berbeda dengan Nea yang hanya akan diam dan menatap Catur dengan tatapan dingin di saat ia memerlukan perhatian.
Pria itu memantapkan hati semakin yakin, jika Raina adalah pilihan yang tepat untuknya. Bukan Nea.
"Jadi bagaimana?" Nea kembali bertanya. Ia ingin segera menyudahi percakapan yang melelahkan ini.
"Sepertinya tawaran Nea itu lebih baik, Mas. Aku ... tidak mau dicap sebagai pelakor. Kalian bercerai setelah resepsi dan malam pertama saja. Tapi ingat! Kamu jangan melakukan malam pertama dengan Nea! Tidak boleh."
Nea juga tidak akan mau. Dia menawarkan pilihan ini hanya agar rencananya berhasil.
"Baiklah, Sayang. Jika ini kemauan kamu." Catur membalas Raina dengan penuh kemesraan. Ia bahkan mencium kening perempuan itu di hadapan Nea. Istri sahnya.
"Kalau begitu saya permisi. Jangan terlambat di acara resepsi kita nanti, Pak Catur."
"Sebaiknya kita selesaikan masalah ini setenang mungkin." jawab Catur menatap Nea dengan sorot kebencian.
Melewati suami dan selingkuhannya yang sedang menebar kasih, Nea berjalan sekuat yang ia bisa hingga kakinya terasa seperti melayang.
Tidak mungkin ia tak sakit hati. Meskipun gadis itu selalu mendoktrin dirinya sendiri bahwa semua ini akan baik-baik saja, namun Nea sadar ia juga telah merasakan kecewa yang begitu besar.
Hanya saja, kemampuannya dalam berpura-pura terlampau hebat. Nea mampu terlihat baik-baik saja bahkan ketika jiwanya telah lebur dalam debu.
Perempuan berambut hitam kecoklatan itu akhirnya dapat bernafas lega ketika dirinya sudah berhasil duduk di dalam mobil setelah berjuang sekuat tenaga menahan diri agar tidak jatuh di hadapan orang lain.
"Jangan menangis, Nea. Jangan menangis. Kamu kuat. Kamu kuat. Kamu hebat. Kamu sudah bertahan dengan baik." ucapnya berkali-kali.
Tangan kanannya sibuk menepuk bahu kiri dan sebaliknya. Seolah tengah mencari kekuatan yang hanya akan hadir dari tekadnya sendiri. Karena saat ini, tidak akan ada orang yang akan menolongnya jika bukan Nea sendiri.
Bahkan Nea tahu, bahwa keluarganya juga tidak akan mungkin berada di pihaknya.
Mereka semua pasti akan berdiri bersama untuk menjatuhkan Nea lebih dalam lagi pada keterpurukan.
Memandang Catur dan Raina dari balik kaca mobil, Nea kembali ditampar oleh kenyataan bahwa pemuda yang sangat ia percaya dan hormati itu nyatanya tak lebih dari sekadar kotoran serangga yang tak layak walau hanya untuk dilirik sekali pun.
"Ya ... mari kita lewati semuanya dengan sangat tenang. Setenang laut sebelum badai datang."
Menyalakan mesin mobil, Nea membanting stirnya untuk bergegas pergi menuju tempat yang ia tuju.
Seorang istri memang seharusnya menyiapkan pesta pernikahan paling berkesan untuk suaminya, bukan?
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Seumur hidup Nea tidak pernah berusaha untuk membalas dendam. Ketika keluarganya sibuk menjatuhkan atau berusaha menjegal usahanya, Nea lebih suka memilih diam. Menahan semuanya sendiri dan membiarkan kepahitan itu melumat hidupnya secara perlahan.
Satu-satunya waktu yang ia tunggu adalah pembebasan. Hadiah dari kakeknya yang mengatakan Nea boleh pergi setelah ia menikah dengan keluarga terpandang. Dalam artian, calon suami Nea haruslah memiliki pengaruh besar dalam dunia bisnis. Karena dengan begitu, usaha yang dijalankan oleh kakek Nea juga akan semakin bertambah besar.
Dan saat itulah ia bertemu dengan Catur. Putra sulung pemilik usaha tambang batu bara dan bisnis tekstil. Pria ramah yang selalu menyanjung kata cinta kepada Nea.
Di awal perjodohan mereka, Catur jatuh cinta kepada Nea. Sikapnya yang anggun, wajahnya yang rupawan, Catur menyukai segalanya. Nea sendiri sudah mengatakan segalanya kepada Catur di saat pemuda itu melamarnya.
Nea tak bisa memberikan janji akan mencintai Catur, tapi ia bersumpah akan selalu setia dan menghormati Catur sebagai seorang suami. Dan begitulah kisah mereka dimulai.
Tapi sayang, semua itu hanya masa lalu. Karena nyatanya, Catur pergi.
"Jadi ... Kamu sekarang janda?" tanpa basa basi lagi, Quinn, salah satu teman SMA Nea bertanya langsung pada intinya.
"Belum resmi. Tapi segera." jawab Nea tenang.
Mereka berdua duduk santai dan mengobrol layaknya teman lama di dalam apartemen Quinn.
"Wahhh ... selamat, ya. Gokil sih kamu! Fast banget prosesnya. Aku saja belum sempat mencicipi makanan di resepsimu. Eh, kamunya sudah janda saja. Ini, nanti malam, aku tetap bawa amplop atau tidak?"
"Jangan keras-keras. Ten bisa mendengar."
Nea menatap datar ke arah kamar tempat adiknya beristirahat. Bocah laki-laki berusia 13 tahun itu tidak mengatakan apapun di saat kakak perempuannya mengajak dia pergi dari rumah secara terburu-buru. Dia hanya menatap Nea dengan bola mata indahnya sambil mengatakan, 'Ten akan selalu ada di samping Kakak.'
Benar-benar sangat dewasa.
"Sayang sekali, padahal undangan kalian keren abis. Apalagi gelar namamu yang sudah seperti kereta api. Panjanggggggg banget."
Di usianya yang baru menginjak 21 tahun, Nea memang sudah menyelesaikan kuliahnya di jurusan psikologi dan bisnis manajemen. Ia melanjutkan pendidikan S2 di Harvard University dan mendapatkan gelar MBA tepat dalam waktu 24 bulan.
Lulus dari tempat itu, Nea kembali pulang dan melanjutkan pendidikan dengan kuliah di jurusan hukum sekaligus sosiologi. Kelas malam dan pagi ia ambil seluruhnya demi target mendapatkan gelar S.H. Sesuai perintah sang kakek.
Tapi Nea yang mencintai kehidupan tentu tidak mau kehilangan apapun. Karena itu dia juga tetap meraih keinginannya dengan kuliah di jurusan psikologi serta sosiologi yang begitu menarik minatnya.
Tidak ada kata istirahat dalam hidup gadis itu. Jatuh sakit, tapi harus tetap berdiri. Mimisan di pertengahan malam juga bukan hal aneh lagi bagi Nea.
Dia sudah seperti mesin berjalan.
"Jadi bagaimana? Kamu bisa menolongku?"
"Hmm." Quinn nampak berpikir keras. Ia seperti sedang memperhitungkan sesuatu.
"Bagaimana? Aku pastikan akan mengembalikan semuanya, Quinn. Beserta bunganya."
"Apaan sih, kamu! Aku bukan rentenir." beranjak dari tempat duduknya, Quinn berjalan untuk mengambil sebuah kartu nama di dalam buku kartunya. Ia kembali pada Nea dan menyerahkannya.
"Kalau kamu sudah sampai di sana. Hubungi saja orang ini. Urusan pembatalan pernikahan kalian, serahkan saja padaku. Banyak kenalan orang dalam sahabatmu ini hehe."
"Terima kasih, Quinn."
"Tapi kamu yakin mau pergi begitu saja? Sayang sekali kalau bakatmu dibuang seperti ini."
"Hanya sementara. Lagipula, aku juga tidak akan berleha-leha saja di sana."
"Okelah. Senyaman kamu saja."
"Bagaimana kabarnya?"
Quinn yang paham betul siapa yang tengah Nea bicarakan hanya mampu tersenyum getir. Ia tidak bisa menjawab. Berpikir pun tak sanggup.
"Maaf. Aku tidak bermaksud melukaimu. Hanya ... jika kamu memerlukan tempat bercerita. Kamu bisa bercerita padaku, untuk yang terakhir kali."
"Gila kamu?! Sudah seperti orang yang mau mati saja."
Untuk pertama kalinya Nea tersenyum. Ia sangat jarang tersenyum setulus ini. Melihat gadis itu akhirnya bisa mengukir keindahan pada wajahnya, Quinn bersyukur karena ia ternyata masih berguna untuk orang lain.
"Kalau begitu aku pergi dulu. Tolong jaga Ten sampai jam yang kita sepakati."
"Tenang saja. Aku akan menjaganya seperti nyawaku sendiri."
Nea berdiri. Mengulurkan tangan untuk bersalaman. Tanda ia benar-benar sangat berterima kasih kepada temannya itu. Quinn terkekeh sejenak. Ia mengikuti alur Nea dengan ikut berdiri dan menyambut tangan dingin itu.
"Good luck, Nea."
"See you again, Quinn."
_ _ _ _ _
Acara resepsi berlangsung lancar di awal. Para tamu undangan mulai memenuhi ruangan yang Catur sewa untuk gelaran istimewa ini.
Nea terlihat begitu cantik dengan pakaian pengantin model sheath dress yang tengah ia kenakan. Rambutnya yang digulung ke belakang dengan hiasan tiara sederhana benar-benar menunjukkan sisi elegan perempuan itu.
Catur yang berdiri di sampingnya sepanjang acara bahkan sampai tidak bisa mengalihkan pandangan. Membuat Raina yang duduk bersama teman-teman SMA mereka meradang. Ia marah melihat bagaimana Catur masih tergila-gila pada wanita itu.
Meskipun berlagak tenang, namun jantung Nea bertalu-talu tidak karuan karena memikirkan keberhasilan rencananya kali ini.
Melihat sosok Quinn sudah berdiri di posisi yang Nea sebutkan, gadis itu merasa sedikit lega karena sepertinya semua akan berjalan sesuai rencana. Tinggal ekskusinya saja.
"Kita harus menyapa teman-teman." saran Nea kepada Catur saat ia melihat seluruh undangan yang sudah ia nantikan telah hadir, "Raina juga terlihat sangat kesal. Kita harus segera menyudahi acara ini dan melanjutkan rencana."
Rencanaku. Lanjut Nea di dalam hati.
Kedua pasangan yang nampak bahagia pada covernya itu kemudian turun dari singgasana mereka. Berjalan untuk menebar kebahagiaan dan menyalami para undangan.
Kedua belah pihak keluarga juga terlihat sangat berseri. Keluarga Catur sangat menyukai kepribadian Nea juga otaknya yang brilian. Sedangkan Keluarga Nea, begitu mencintai kekayaaan juga koneksi yang dimiliki oleh Catur.
Mereka bahagia di dalam satu frame yang sama namun di atas hal yang berbeda.
Semuanya terlihat begitu normal hingga suara Quinn membuyarkan kedamaian itu.
"Tes ... tes ... check 1 2 3."
Sudah dimulai. Pikiran Nea mulai bercabang begitu Quinn menyiapkan dialognya. Tangan Nea bergerak untuk menyentuh sesuatu di atas meja tempat Quinn duduk sebelumnya.
"Halo semuanya ... perkenalkan saya Quinn. Sahabat Nea sejak kami SMA, ah ... Mungkin bahkan sebelum itu."
Naskah dimulai dengan baik.
"Saya sangat menyayangi sahabat saya itu. Oh tidak-tidak! Lebih tepatnya, kami sangat menyayangi dia. Benar kan kawan-kawan?"
Kompak semua teman Nea menyetujui dan bersorak bahagia. Termasuk Raina yang harus berpura-pura bahagia di hadapan orang lain meski hatinya terbakar cemburu.
Tidak bisa dipungkiri, bahwa kebaikan Nea sampai saat ini masih terukir jelas di ingatan setiap orang. Meski ia selalu bersikap dingin, Nea bukanlah orang yang acuh. Dia membantu dengan caranya sendiri.
"Karena itu ... saya ingin memberikan hadiah terbaik untuk sahabat kita. Hadiah yang akan menunjukkan betapa berharganya dia bagi seseorang seperti Catur."
Catur yang namanya dibawa-bawa merasakan ada sesuatu yang tak beres. Dia memandang Nea. Begitu pun sebaliknya. Gadis itu berpura-pura sama terkejutnya dengan Catur.
"Tri Catur Djafar. Beraninya kau berselingkuh dengan Raina Larasati. Dia bahkan sampai hamil anakmu! Dasar brengsek!" Teriak Quinn penuh gelora sambil menunjukkan surat kehamilan milik Raina.
Meskipun orang-orang tidak bisa membacanya dengan jelas, tapi mereka tahu apa isi kertas itu berdasarkan ucapan Quinn.
Pias sudah wajah Catur dan Raina. Mereka berdua tidak menyangka bahwa semua ini akan terjadi. Raina yang melihat Nea masih bersikap tenang meraskan gejolak penuh amarah. Ia berpikir bahwa Nea telah menjebaknya.
Maka dengan penuh emosi, gadis berbaju gold itu segera berdiri dan menjambak rambut Nea.
"Ahhh!" Nea berteriak. Bukan karena ia tidak bisa menahan rasa sakit. Tapi karena dia harus melanjutkan rencana.
Satu hal yang Nea sadari selama hidup di muka bumi ini adalah fakta ini. Bahwa manusia itu cenderung membela orang-orang yang lemah. Tidak peduli ada di pihak mana mereka. Salah atau benar, jika mereka nampak lemah maka dibela.
Jika Nea tetap bersikap dingin seolah tidak merasakan apapun, maka publik pasti akan menyalahkannya untuk kehancuran rumah tangga ini dan membela Raina yang nampak begitu lemah dan mencintai Catur.
Karena itulah, untuk pertama kalinya, Nea akan menunjukkan bahwa dia adalah orang yang lemah. Terlepas dari sikap independennya, Nea tidak ingin melewatkan kesempatan untuk menjadikan Catur dan Raina sebagai tokoh antagonis.
"BERANINYA KAU MENIPUKU! DASAR BRENGSEK!" Raina berteriak marah. Sedangkan Nea hanya bertindak seminimal mungkin untuk terlihat tidak berdaya. Dia hanya berusaha mencegah rambutnya agar tidak rontok saja.
"WOYY LEPAS!"
"ASTAGA GILA NIH ANAK! LEPASIN NEA BANGKE!"
"HEH! LEPASIN NEAAA!"
"ASTAGA! Stress nih orang."
Seluruh teman-teman SMA Nea dan Raina saling berteriak. Mereka berusaha melepaskan Nea dari jambakan Raina, hingga akhirnya kedua perempuan itu benar-benar terpisahkan.
Tapi bahkan setelah dipisahkan, Raina masih terus saja meronta-ronta ingin dilepaskan.
"LEPASKAN AKU! BIAR KUBUNUH KAU NEA! PENIPU! BIADAB KAU!"
"Kau sendiri yang bermain api kok malah menyalahkan Nea, sih? Gila ya?!" Erika yang berdiri sambil memegangi Nea menatap nyalang ke arah Raina. Dia dan Wella berusaha menguatkan Nea yang nampak tidak kuat berdiri.
"AKU TIDAK SALAH! AKU DAN CATUR SALING CINTA! NEA YANG SALAH DI SINI! DIA TIDAK BISA MENCINTAI CATUR!"
Semua pandangan lantas tertuju pada Nea. Gadis itu sudah memperhitungkan hal ini. Karena itulah, dia menyuruh Quinn untuk meletakkan olesan balsam di piring tempatnya makan dessert.
Nea sudah mengoleskan balsam itu sedikit di dekat area matanya. Sehingga saat ini ... matanya pun menjatuhkan bulir-bulir bening sebagai bentuk pertahanan kesehatan mata.
Nea terpaksa melakukan ini karena dia sudah lupa cara untuk menangis. Hatinya sudah lama mati.
"H-hiks ... a-aku tidak pernah mengungkapkan perasaanku. Hiks ... karena aku belum terbiasa Rain." melihat Nea, si hati baja menangis, tentu saja seluruh tamu undangan merasa begitu iba. Gadis itu nampak begitu menyedihkan.
Perempuan yang selalu bersikap kuat dan tegar itu kini terlihat rapuh. Secara alami orang-orang pun ikut terseret dalam pusaran drama ini.
Setidaknya itulah yang dirasakan semua orang kecuali keluarga Nea yang justru merasa sangat marah karena kegagalan Nea.
Ibunda Catur bergerak cepat. Mertua Nea itu segera menarik lengan Catur dan menamparnya begitu keras hingga suaranya bergema di dalam ruangan.
"ANAK KURANG AJAR!"
"Ma ... tenang Ma." Dianova, adik Catur, mencoba menenangkan ibunya.
Sedangkan Catur sendiri masih membeku di tempat. Ia syok bukan karena aibnya terbongkar. Melainkan karena untuk kali pertama selama menjalin hubungan dengan Nea, dia melihat gadis itu begitu emosional.
Catur menyesal.
Dia berpikir bahwa Nea memang mencintainya namun tak dapat mengungkapkan hal itu. Pikirannya tiba-tiba terbuka dan sadar akan kesalahannya.
Catur ingin memperbaiki segalanya. Dia mengabaikan ayah dan ibunya hanya untuk menggenggam kembali tangan Nea.
"Nea ... Sayang ... maafkan aku. A-aku khilaf. Semua ini hanya kesalahan. Nea-"
"MAS!" Raina berteriak marah. Dia tidak menyangka Catur akan melakukan hal ini.
"Lepasin dia!" Raina mendorong Nea. Waktu yang tepat untuk mengakhiri ini semua.
Berpura-pura tergelincir sambil memegang meja, Nea menjatuhkan diri bersama dengan barang-barang pecah belah. Dia sengaja memposisikan lengannya yang tak terlindungi apapun agar jatuh tepat di atas pecahan kaca.
Nea tak sadarkan diri. Dengan darah merembes keluar melalui lengannya.
"NEAAA!" Quinn berlari menghampiri gadis itu. Mendorong jauh Catur yang hendak menggendong Nea.
"Jauh-jauh dari dia sialan!" gadis itu menghardik Catur. Membuat pria itu kesal dan hampir saja Quinn dipukul oleh Catur jika seseorang tidak menghentikannya.
"Lebih baik kita bawa ke rumah sakit dulu." ujar pria bertubuh tinggi yang muncul entah dari mana. Dia mengangkat tubuh Nea dengan begitu mudah layaknya tengah membawa seorang pengantin menuju malam pertama.
Dia melewati seluruh undangan termasuk mengabaikan Catur yang masih sibuk diserang oleh Raina dan keluarganya sendiri.
Semua rencana berjalan sesuai kehendak Nea. Tapi variabel seperti ini muncul secara tidak terduga.
Harusnya bukan pria beraroma mint ini yang membawa Nea. Quinn dengan jelas mengatakan bahwa Angga yang akan membawa Nea menuju rumah sakit. Lalu kenapa tiba-tiba orang ini muncul?
Datang dari mana dia?
_ _ _ _ _
"Anda bisa menghentikan mobil ini sekarang."
"Oh? Anda sudah bangun, Nona Nea?"
Nea bersikap acuh. Dia sibuk membereskan penampilannya yang sangat kacau.
"Kita akan sampai di rumah sakit sebentar lagi."
"Mari kita perjelas semuanya, Bapak Pradhev."
"Anda masih ingat saya rupanya?"
Bagaimana bisa Nea melupakan wajah ini?
Pradheva Kavi. Mr. Crab- nya Indonesia. Begitulah Nea menyebut laki-laki ini.
Dia pernah berurusan dengan Pradhev karena masalah sengketa sebuah kafe. Tentu saja Nea berhasil memenangkan kasus itu. Dia secara diplomatik memberikan solusi terbaik untuk kedua belah pihak yang bersitegang.
"Jadi, apa kita akan terus berbincang di perjalanan seperti ini atau Anda mau menepi, Pak Pradhev?"
Pradhev menyukai sifat tenang Nea yang seperti ini. Bukan dalam artian romantis. Melainkan ia ingin merekrut Nea masuk ke dalam perusahaannya. Otak gadis itu sangat cemerlang. Jadi, Pradhev yakin Nea akan menjadi kuda hitam departemennya.
"Luka Anda harus diobati, Nona Nea."
"Saya yakin Anda memiliki kotak P3K. Jadi, mari berhenti karena saya juga memiliki kesibukan lain." tungkas Nea setelah matanya melihat mobil Quinn sudah berhasil menyusul mobil Pradhev.
Pria itu tahu jika dia tidak akan bisa menang melawan keras kepalanya Nea, karena itulah Pradhev memilih untuk menepikan mobilnya untuk membangun sebuah komunikasi yang baik.
"Anda terlihat sedang buru-buru." ucap Pradhev curiga ketika melihat Nea mengobati lukanya dengan asal.
"Dan Anda nampak begitu luang karena membawa pengantin orang secara sembarangan."
"Sinisme Anda masih sama seperti dulu rupanya."
"Langsung pada topik pembicaraan saja, Pak Pradhev. Kita harus saling menghargai waktu masing-masing, bukan?"
Tentu saja inilah Nea Nevada Diratama. Si ambisius yang tidak suka membuang-buang waktu.
"Bergabunglah dengan perusahaan kami, Nona Nea Nevada." tawar Pradhev dengan wajah cemerlang.
"Sepertinya Anda tidak bisa mengingat nama saya dengan baik." balas Nea dengan wajah datarnya.
"Tidak. Karena saat ini saya sedang merekrut Anda, Nona Nea Nevada. Cukup Anda. Jadi tidak perlu membawa-bawa nama keluarga Diratama."
Nea tersenyum. Dia menyukai kepekaan Pradhev. Pria itu menyadari bahwa Nea tidak menyukai fakta jika dirinya adalah bagian dari keluarga sampah itu.
"Jika saya menolak?"
"Anda sudah punya tujuan lain rupanya."
Nea tidak boleh lengah. Berurusan dengan orang seperti Pradhev pasti tidak akan berakhir baik jika ia ceroboh.
Pria diktaktor seperti Pradhev sudah bisa dipastikan akan menggunakan segala macam cara untuk mendapatkan keinginannya. Termasuk Nea.
Maka perempuan itu harus bertindak sehati-hati mungkin agar rencananya kabur malam ini tidak gagal.
Pradhev tidak boleh mengganggu.
"Anda sudah punya rencana lain, Nona?"
"Apa yang akan saya dapatkan jika saya bergabung dengan perusahaan Anda, Pak Pradhev?" Nea masih dengan wajah dinginnya. Namun kali ini dia berpura-pura tertarik. Untuk membuat Pradhev lengah.
Pria itu tersenyum melihat Nea bertanya. Karena itu artinya dia akan setuju.
"Gaji dengan angka nol yang banyak. Fasilitas rumah, mobil dan kartu kredit perusahaan tentunya."
"Bagaimana dengan kesejahteraan pasca saya pensiun dan kompensasi resiko dalam pekerjaan saya?"
Semakin panjang jangka berpikir seseorang, hal itu menunjukkan bahwa orang itu semakin tertarik dengan suatu tawaran. Pada titik ini Nea menunjukkan pada Pradhev bahwa ia ingin bekerja dalam waktu yang lama.
"It's a good question. May I ask you, why you chose this question?"
"It's my right, Sir. As employees of course. I have to prepare for my long life. Even if it's just a long shot that you will deceive me, but ... I have to calculate everything. "
Pradhev tersenyum mendengarkan jawaban Nea yang begitu flawless. Pria itu mengangguk paham.
"Datanglah ke kantor besok dan mari kita bicarakan lebih lanjut."
"4Angle Group?"
"Yap. Katakan saja Anda mempunyai janji dengan Pradhev dari departemen 5. Ini kartu nama saya." ucap Pradhev seraya menyodorkan kartu nama.
Nea menerima itu masih tanpa ekspresi. Dia berhasil menipu Pradhev.
"Pukul berapa, Pak?"
"Lebih baik siang. Kita bisa makan siang bersama setelah itu."
"Baiklah. Kalau begitu saya harus turun sekarang. Anda juga pasti sadar jika teman saya sudah mengikuti sejak tadi, bukan?"
"I'm not a Cave Salamander." canda Pradhev. Ia merujuk pada hewan salamander albino yang tinggal di dalam gua. Dan karena keadaan gua yang begitu gelap, maka fungsi mata hewan tersebut pun menurun hingga titik mereka tak dapat melihat lagi.
"Kalau begitu saya permisi."
"Ah Nona Nea." Nea berhenti sejenak. Dia gugup namun tetap tenang. Tidak mungkin Pradhev menyadari sesuatu pikirnya.
"Kenapa harus balsam?" pertanyaan absurd itu berhasil menghilangkan rasa takut Nea. Pradhev tidak curiga. Dia hanya penasaran dengan cara Nea menciptakan airmata palsu.
Pria itu begitu teliti hingga mampu menyadari hal sekecil itu.
"You are really not a Salamander, it seems. But ... How impressive ... You are as sharp as a dog."
"I take it as a compliment, Miss. You flatter me."
Pemahaman Pradhev terhadap ucapan Nea tidak sepenuhnya salah. Karena gadis itu memang memuji ketajamannya. Namun di sisi lain, dia juga menyindir Pradhev yang terlalu peka dengan keadaan sekitar seperti anjing. Kepekaan itulah yang membuat si anjing banyak sekali menggonggong.
"I like the smell. So refreshing." Nea menerangkan karena tidak ingin berlama-lama lagi di dalam mobil. Dia benar-benar turun kali ini.
"Okay. See you tomorrow, Miss Nea."
Dengan senyum tipis, Nea menutup pintu mobil tersebut. Dia berjalan menuju mobil Quinm yang parkir tepat di belakang mobil Pradhev.
Mereka saling menunggu satu sama lain untuk pergi. Dan pada akhirnya, Pradhev pergi terlebih dahulu.
_ _ _ _ _
"Terima kasih, Quinn. Kamu banyak membantu kami." Nea setulus hati mengucapkannya.
Dia menggandeng Ten, adiknya, menggunakan tangan kiri. Sedangkan tangan kanannya membawa tas berisi berkas-berkas penting milik mereka berdua.
"Jaga Ten baik-baik. Kalau kamu butuh bantuan, aku selalu ada di sini. Ingat itu."
"Terima kasih. Oh iya. Bagaimana dengan Pradhev? Kalian teman satu kantor. Aku merasa sedikit tidak enak dengan menipunya."
"Tenang saja. Kami satu kantor tapi tidak akan pernah bertemu."
"Kenapa?"
"Jam kerja kami berbeda. Aku ini nocturnal."
"Apa maksudnya itu?"
Quinn benar-benar gemas dengan Nea. Perempuan itu jengkel karena Nea banyak bertanya. Dia mendorong sedikit bahu Nea agar segera berjalan menuju pos keberangkatan.
"Maksudnyaaaa ... sekaya apapun si Pradhev itu, dia tidak akan bisa menggangguku. Jadi kamu yang tenang di sana. Cukup jadi orang kaya, lalu kembali ke sini untuk membayar hutangmu padaku."
Ten yang melihat interaksi kedua perempuan itu hanya berdiam bingung. Dia tidak tahu bagaimana para wanita berkomunikasi. Karena itulah Ten lebih menyukai berbicara dengan komputer.
"Kita pergi sekarang, Kak?"
"Ya, Sayang. Ucapkan salam pada Kak Quinn dulu."
Ten menurut. Dia benar-benar mencium tangan Quinn.
"Terima kasih banyak, Kak."
"Sama-samaaa, Ten Sayang."
Perempuan penyuka adrenalin itu memeluk erat Ten dan Nea secara bergantian.
"Jaga dirimu baik-baik, Nea."
"Kamu juga. Sekali lagi terima kasih banyak Quinn."
"Bukan masalah besar."
Queen melepaskan kepergian mereka berdua dengan senyum lebar. Tangannya terus melambai hingga punggung sahabatnya itu tak terlihat lagi.
"Kalian harus bahagia." ucapnya lirih setelah melihat pesawat yang ditumpangi oleh kedua kakak beradik itu lepas landas.
Nea ... benar-benar pergi meninggalkan Indonesia.
_ _ _ _ _
"Kurang ajar!" Pradhev murka. Dia benar-benar berang karena sudah kecolongan. Apalagi dia merasa ditipu mentah-mentah oleh kedua gadis itu.
Pradhev baru tahu jika Quinn, sahabat Nea adalah anggota departemen 13 setelah dia mendapatkan kabar dari anak buahnya bahwa Nea terlihat pergi menuju arah bandara bersama Quinn.
"Kecolongan?" Devan menertawakan Pradhev yang sedang sangat emosi. Dia sudah merebahkan diri di atas sofa kantornya tapi tetap tidak mampu menurunkan amarahnya.
"Diam kau setan!"
"Sialan. Aku hanya mau memberikan info kalau Pak Randu sedang menuju ke sini."
Mendengar nama keramat itu, Pradhev pun segera bangkit untuk merapikan baju dan penampilannya.
"Kenapa baru kasih kabar sekarang, bangsat!" kesal sekali Pradhev. Karena dia yang biasanya berpenampilan rapi kini nampak sangat berantakan.
"Orang aku tahunya juga baru sekarang."
Tok ... tok ... tok ...
Suara pintu yang diketuk namun jantung Pradhev dan Devan yang bergetar. Mereka bukan takut dengan atasan mereka, Randu, melainkan dengan wakilnya.
Namun begitu melihat Randu datang tidak bersama dengan wakilnya, si perempuan berdarah dingin itu, maka kedua pria itu pun dapat bernafas lega.
Sebaliknya, Randu nampak berjalan dengan seorang wanita yang pandangan matanya seperti ikan mati. Kosong sekali.
"Ada apa dengan kalian?" tanya Randu heran.
"Ahahaha. Tidak ada apa-apa, Pak. Mari silahkan duduk."
"Terima kasih. Perkenalkan dia Laura. Kalian mungkin tidak pernah bertemu tapi dia adalah Kepala Departemen 13."
"Ya?" Pradhev mengalami penghentian sistem kinerja otak.
"E .... HAHHHH? Di-dia Kadep 13?" tanya Devan tak percaya. Keterkejutannya mewakili perasaan Pradhev juga.
Mereka kaget sekali dengan kehadiran Laura. Pasalnya perempuan itu tidak pernah sekali pun menunjukkan diri di hadapan Kepala Departemen lainnya. Bahkan ketika perusahaan mengalami situasi krisis beberapa tahun yang lalu, Laura tetap bergeming dan memilih absen dalam rapat darurat.
Randu terkekeh melihat respon dari kepala dan wakil kepala Departemen 5 ini. Dia tidak menyangka bahwa kehadiran Laura akan sangat mengagetkan mereka.
"Nah langsung saja, karena saya yakin kalian juga punya banyak urusan." ucap Randu memulai topik. Mereka berempat duduk melingkar di atas sofa dengan tenang. Meskipun masih banyak pertanyaan di benak kedua pria itu.
"Hentikan saja rekruitmen terhadap Nea Nevada. Lepaskan gadis itu."
Pradhev sangat sensitif dengan nama itu.
"Mohon maaf sebelumnya. Tanpa mengurangi rasa hormat saya terhadap Pak Randu. Tapi saya tidak akan berhenti mengejarnya. Karena saya sudah mengincarnya lama sekali, Pak." jawab Pradhev tegas.
Randu sendiri hanya tersenyum bijak. Ia mengerti bagaimana kekeuhnya Pradhev dalam setiap langkah.
"Berarti saya yakin kalian juga akan mulai menyelidiki Quinn, bukan?"
"Tentu saja, Pak. Dia gerbang awal informasi kami. Jadi-"
"Ganggulah dia dan aku akan membuat kalian hidup dalam bayang-bayang ketakutan setiap saat."
Mendadak suasana ruangan berubah suram. Aura mencekam mengalir kemana-mana hingga membuat bulu kuduk Randu, Pradhev dan Devan meremang.
Laura terlihat begitu misterius dengan segala sesuatu yang dia bawa.
Jujur saja Devan dan Pradhev tak pernah mempercayai eksistensi Departemen 13. Bagian khusus penanganan masalah dunia lain. Mereka menganggap itu semua adalah omong kosong.
"Oke-okeeee. Stop di sini. Menyalahgunakan kemampuanmu juga tidak benar. Bukan begitu, Laura?"
Merasakan tangan Randu menepuk pundaknya sedikit kuat, Laura memilih untuk menyudahi apapun yang tengah ia lakukan. Dan setelah perempuan itu mengangguk, maka suasana ruangan yang sebelumnya seperti sangat gelap kembali normal seperti sebelumnya.
Bahkan lampu dinding yang sebelumnya mati juga tiba-tiba hidup kembali.
Saat ini ... baik Pradhev maupun Devan sama-sama mempertanyakan kepercayaan mereka.
Mereka jadi ragu. Dan mulai berpikir bahwa hantu itu benar-benar ada.
"Baiklah. Seperti yang kalian lihat, Quinn adalah anggota Departemen 13. Jadi jika kalian mengganggunya. Bukankah itu sama halnya dengan mengganggu rekan sekantor?"
"Tapi saya benar-benar tidak bisa melepaskan Nea, Pak. Dia terlalu kompeten untuk diabaikan. Apalagi kriterianya juga sangat cocok dengan perusahaan kita."
"Pradhev."
Tubuh Pradhev menegang. Cara bicara Randu yang seperti ini jauh lebih mengintimidasi dari siapapun. Pria itu seperti memiliki ribuan kepribadian yang siap digunakan kapan pun juga. Berganti setiap saat sesuai kondisi dan menyesuaikan siapa yang dihadapi.
Dan kali ini, dia menunjukkan sisi iblisnya. Randu tidak mau dibantah.
"Kamu lebih menakutkan dariku, Ndu." Laura melirik sedikit ke arah Randu. Mengingatkan jika pria itu sudah kelewatan.
"Eh? Apa iya? Ehehehehe ... maaf ya kalau saya menakuti kalian. Maklum. Banyak lemburan." Randu tersadar. Dia tertawa canggung seraya menggaruk tengkuknya.
Baik Pradhev maupun Devan sama-sama bingung dengan perubahan Randu yang melebihi kecepatan kilat. Mereka juga masih ganjil dengan sikap Laura yang berbicara pada Randu seolah mereka adalah teman. Padahal usia Laura dengan Randu terpaut jauh. Hampir setengahnya.
"Nah Pradhev ... percayakah kamu pada takdir? Kita memang wajib berusaha. Berdoa. Tapi takdir adalah sesuatu yang harus kita terima dengan lapang dada. Jika Nea memang ditakdirkan untuk kembali ke sini, saya yakin dia akan segera kembali dengan caranya sendiri. Dan begitu pun sebaliknya. Karena Nea memiliki pilihan dan takdirnya sendiri."
"Tapi saya akan mengubah takdir jika itu artinya saya dapat membawa Nea kembali, Pak."
"Jangan terlalu keras, Pradhev. Karena salju selalu kembali ke asalnya setelah musim berlalu."
"Salju, Pak?"
"Iya, salju. Ituloh ... benda putih kecil-kecil yang dingin. Kamu norak ya ternyata."
"Saya tahu salju, Pak. Tapi apa hubungannya dengan Nea?"
Randu hanya mengedikkan bahunya. Dia sengaja membuat Pradhev penasaran setengah mati.
Devan mulai curiga pada sikap Pradhev. Benarkah pria itu hanya melihat Nea sebagai SDM yang berpotensi besar? Sepertinya tidak.
"Aku sudah memperingatkan kalian untuk tidak mengganggu anggotaku. Terserah kalian mau bagaimana. Karena aku siap bermain kapan pun." usai mengatakan semuanya, Laura pergi mendahului Randu. Wanita itu terlihat sangat lelah. Apalagi kantung matanya benar-benar seperti panda.
"Jadi ... Apakah kita sudah mencapai kesepakatan, kan?"
Pradhev diam. Dia tidak mau membantah orang yang sangat dihormatinya, tapi tidak mau melepaskan Nea juga.
Melihat keraguan pada wajah bawahan sekaligus rekan kerjanya, Randu berinisiatif untuk meyakinkan Pradhev. Dia menepuk kuat bahu pemuda itu dan memaksanya untuk menegakkan kepala.
"Jangan pernah menundukkan kepala di hadapan orang lain, Pradhev."
"Baik, Pak."
"Dan mulai sekarang, coba kamu ingat-ingat lagi. Rasakan dengan perlahan. Apakah keinginanmu untuk membawa Nea ke perusahaan kita murni karena kemampuan gadis itu. Atau justru karena ada sesuatu yang lain di dalam dirimu yang menginginkannya?"
"Maksudnya, Pak?"
"Kamu tidak bodoh, Pradhev. Jadi saya yakin sebentar lagi kamu akan paham. Kalau begitu saya permisi dulu. Devan."
"Ya, Pak?"
"Terima kasih untuk tehnya."
"Sama-sama, Pak."
Begitu Randu sudah keluar ruangan, Devan mulai membabi buta melontarkan pertanyaan. Mengenai seberapa pentingnya Nea bagi Pradhev. Tentang kecurigaannya terhadap perasaan Pradhev. Semuanya ia keluarkan hingga membuat telinga Pradhev sakit.
"SHIT!"
Devan segera diam. Meskipun Pradhev tidak mengarahkan umpatan itu untuknya, tapi Devan tahu jika dia harus segera berhenti.
"I want her."
"Hah? Apa Dhev?"
"Aku suka Nea, goblog!"
"Gak usah ngegas setan!"
Mengapa Pradhev baru menyadari perasaan ini setelah Randu memancingnya?
Mengapa tidak dari awal saja dia sadar bahwa keinginannya untuk membawa Nea bukan hanya karena skills gadis itu melainkan karena Pradhev sudah terjebak oleh pesona Nea?
Dia benar-benar tidak habis pikir dengan kelambatan kerja otaknya.
"Terus maumu apa? Lagian info tentang dia juga bakal rapet digulung. Apalagi Pak Randu juga sudah campur tangan."
"Aku tidak akan melakukan apapun."
"Maumu apa, sih? Tidak konsisten sekali."
"Kau tidak dengar Pak Randu tadi bicara apa?"
"Banyaklah!"
"Salju."
"Hah? Kau ingin bermain salju?"
"Nevada itu artinya salju." jawab Pradhev tenang. Setenang kedatangan salju pertama.
Namun hal seperti ini justru membuat Devan ngeri. Dia begidik ketakutan saat melihat senyum devil ketua departemennya.
Pradheva Kavi, monster pencetak uang. Manusia paling ambisius yang rela melakukan apapun demi mendapatkan apa yang dia inginkan.
Jika Pradhev sampai diam dan menunggu sesuatu, itu artinya ... sesuatu itu adalah hal yang akan dia genggam sampai akhir hayat. Tidak akan dilepaskan setelah didapatkan.
Nea--- adalah sesuatu itu.
▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎Fin▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎▪︎
Pengen banget nulis masa lalu para Kepala Departemen.
Mungkin yang baca ini sekarang bakal agak bingung dengan sebutan-sebutan Departemen. Soalnya cerita mengenai semua departemen masih belum kupublish.
So ... kalau penasaran, tungguin meluncurnya story Departemen 9 dan Departemen 13 yaaaa🥰
Yoe