Tanganku bergetar dengan hebat tatkala baru saja menerima hasil ujian kami. Angka delapan puluh tertera di atas kertas yang digoreskan dengan tinta berwarna merah. Ini bukanlah nilai yang diinginkan oleh Ayah. Ayah pasti akan marah besar. Pikiranku pun mulai melayang memikirkan bagaimana nasibku nanti di rumah.
"Dapat berapa, Din?" tanya Andri teman sebangkuku.
"Cuma delapan puluh."
"Cuma?" tanyanya tak percaya. "Aku saja dapatnya enam puluh lima."
Aku tersenyum tipis menanggapi ucapan Andri. Percuma aku menjelaskan padanya, mengapa aku m4ti-m4tian mengejar nilai. Dia tidak akan pernah mengerti dan memahami situasiku.
"Baik, anak-anak, nilai terbesar untuk ujian Matematika kali ini diraih oleh Mita. Berikan tepuk tangan."
Aku menoleh ke arah Mita yang sudah memasang wajah bahagia. Di tangannya terdapat kertas ujian yang nilainya sembilan puluh. Tepukan tangan dan sorak-sorai terdengar dari segala penjuru kelas. Tanpa sadar, bulir-bulir bening lolos begitu saja di sudut mataku. Mita merupakan teman dekat sekaligus sainganku di dalam kelas untuk meraih juara satu. Semester kemarin, dia masih menetap di posisi satu dan aku di posisi dua. Ayah begitu kecewa kala mendengarnya. Bahkan, setiap melihatku tatapannya penuh dengan kebencian. Hal itu terus berlangsung selama beberapa minggu.
Kakiku terasa berat ketika menyadari bahwa aku sudah semakin dekat dengan rumah. Pelajaran terakhir tadi di sekolah berlangsung sangat cepat. Padahal, biasanya tadi tidak seperti itu. Aku melangkah lesu memasuki pekarangan. Entah mengapa, setiap kali mendengar kata 'rumah' hatiku terasa pe dih. Mungkin karena luka sedari kecil yang tak kunjung sembuh.
Baru saja aku membuka pintu, Ayah sudah berdiri di hadapanku dengan tatapan mengintimidasi. Raut wajahnya yang sudah mulai keriput, terlihat garang. Bukannya bahagia jika disambut oleh Ayah di depan pintu, aku malah takut setengah ma ti.
"Kamu dapat berapa?"
Pertanyaan awal yang selalu muncul tiap pulang dari sekolah, tidak terlewatkan juga untuk hari ini. Aku menghela nafas pasrah. Sudah kuserahkan semuanya pada Yang Maha Kuasa untuk apa yang akan terjadi selanjutnya. Tanganku mencoba meraba sesuatu di dalam tas hingga akhirnya aku merasakan sebuah lembaran kertas menyentuh ujung telunjukku.
"Ini, ayah." Kusodorkan dengan ragu-ragu. Ayah langsung mengambilnya dengan paksa. Matanya membelalak kala melihat angka tertera di atasnya.
"Mita dapat berapa?" tanya Ayah.
"Sembilan puluh, Yah."
Ayah langsung menarik tanganku masuk ke dalam. Dia mengunci pintu, memastikan tidak ada yang mampu melihat ke dalam rumah lalu menatapku dengan wajah penuh kebencian. Dia seakan enggan untuk melihat wajahku saking dipenuhi dengan amarah.
"Ayah, 'kan, sudah bilang kamu gak boleh sampai dapat nilai di bawah sembilan puluh. Kenapa dapatnya malah delapan puluh?" Satu tamparan melayang di pipiku.
"Mau jadi apa kamu ini kalau besar? Mau berpenghasilan kecil kayak Ayah? Kamu harus bisa lebih unggul dari anaknya Madit! Gara-gara orang itu, ayah bangkrut dan ibu ninggalin kita!" Sudah tiga tamparan yang melayang.
"Asal kamu tahu, ya. Ibu ninggalin kamu karena benci lahirin kamu. Ayah bisa aja melakukan hal yang sama seperti ibumu, tapi ayah tetap rawat kamu. Seharusnya kamu tahu diri!"
Aku menahan rasa sakit yang begitu luar biasa. Fisikku terlu ka begitu juga dengan hatiku. Kedua pipiku le bam. Di sudut bi birku terlihat noda da rah. Aku hanya bisa pasrah siang itu menghadapi amarah ayah yang tengah memuncak.
***
Aku kembali masuk ke dalam kamar. Seperti tidak puas menya kiti anaknya, ayah melarangku untuk makan siang dan menggantinya dengan belajar supaya aku jera. Karena menurut dia, aku ini adalah anak nakal.
Aku termenung di pojok kamar. Bukankah aku pantas menerima kebahagiaan seperti temanku yang lain? Bukan salahku jika aku terlahir di dunia ini. Jika ke-dua orang tuaku tidak menginginkan aku untuk hidup, kenapa aku tidak ma ti saja? Dengan begitu masalah akan selesai, bukan?
Luka fisik masih bisa diobati walaupun berbekas nantinya. Tetapi, luka di hati tidak akan pernah bisa sembuh. Mengapa ayah setega itu padaku? Jika dia memiliki dendam terhadap ayahnya Mita, kenapa malah melampiaskannya padaku?
Aku terus berpe rang dengan pikiranku selama beberapa jam. Menangis tersedu-sedu merupakan kebiasaanku setiap hari. Setelah puas, aku tertidur lelap untuk melupakan masalah sementara.
Aku terbangun dan menyadari waktu sudah menunjukkan pukul 18:30. Mataku sudah bengkak karena menangis cukup lama. Kurasakan tubuhku panas. Sepertinya aku kurang sehat. Kubuka pintu kamar pelan-pelan agar tidak menimbulkan suara. Suasana rumah hening. Ku rasa ayah sudah pergi entah ke mana.
Aku berjalan ke ruang tamu ketika mendengar gelak tawa suara ayah. Pikiranku pun menerka-nerka dengan siapa dia berbicara? Ketika sudah dekat, ayah menutup telepon dengan wajah berbinar. Senyumnya masih bisa mengembang ketika putrinya sedang berusaha menahan tangis.
"Dinda, ayah bawa kabar gembira!" Dia berucap ketika menyadari kehadiranku. "Selamat, Nak! Nilai ujian IPA mu sangat bagus. Guru memilihmu untuk ikut olimpiade IPA. Ayah tidak sabar untuk segera memamerkannya. Apapun keinginanmu akan ayah kabulkan hari ini."
Mendengar hal itu, aku sama sekali tidak bahagia. Sudah cukup lelah bagiku untuk terus belajar. Kepalaku terasa berat dan ingin kembali beristirahat.
"Aku boleh istirahat, Ayah?" Aku hanya meminta hal sederhana padanya.
Ayah mengangguk sambil tersenyum. "Boleh, nak. Terserahmu kapan kamu ingin bangun."
Aku benar-benar bahagia. Akhirnya aku diizinkan untuk istirahat. Aku segera berlari menaiki tangga menuju rooftop di atas rumah, setengah berlari. Ini adalah keinginan yang selama ini selalu kupendam. Semua bebanku akan lenyap dengan istirahat. Tidak akan ada yang membenci dan terbebani dengan kehadiranku. Aku juga tidak perlu bersusah payah mendengar omelan ayah setiap hari.
"Malam ini merupakan malam terindah di hidupku," teriakku dengan lantang sebelum aku akan benar-benar terjun bebas dari atas sini dengan perasaan bahagia.
Tapi, setelahnya aku menyesal.
– TAMAT –
By: Vee B