"Mas Ben!!... " seru Gendhis riang ketika baru keluar dari lift dan mendapati suaminya yang tengah berada diluar ruangan kerjanya.
Merasa ada yang memanggilnya, Ben yang saat itu tengah mengobrol dengan atasannya pun menoleh.
Dengan girang Gendhis pun berjalan cepat menghampiri suaminya yang menatapnya bingung. Mungkin karena Gendhis datang kekantor tanpa mengabarinya terlebih dahulu.
"Surprise!!!... Ini aku bawain bekal makan siang untuk Mas Ben!!!" dengan senyum penuh percaya diri, Gendhis menunjukkan lunch box berisi makanan kesukaan Ben yang dia bawa dari rumah.
"Ekhemmmm.... Duh senangnya yang masih berasa pengantin baru. " goda pak Bahri, atasan Ben di kantor yang tengah mengobrol dengan suami Gendhis itu.
"Ya sudah, kalian berdua silahkan menikmati waktu istirahat makan siang bersama. Saya mau kembali ke ruangan saya lagi. " lanjut pak Bahri kemudian berlalu yang Gendhis tanggapi dengan anggukan dan senyum sopan.
"Kamu ngapain kesini hah? Ini tempat kerja! Bikin malu saja! " hardik Ben setelah atasannya berlalu dari hadapannya.
"Maaf, mas. Aku cuma mau nganter makan siang buat kamu. " ucap Gendhis tetap berusaha tersenyum.
Sikap dingin Ben kerap kali Gendhis dapatkan dalam rumah tangga yang sudah lebih dari 3 bulan mereka jalani. Pernikahan hasil kesepakatan orang tua, memaksa mereka untuk bersama. Walaupun awal dibangun tanpa cinta, tapi Gendhis terus berusaha mengambil hati Ben, agar nantinya rumah tangga mereka berjalan seperti rumah tangga pada umumnya yang penuh kebahagiaan dan kasih sayang, seperti yang diharapkan orang tua mereka berdua.
Namun, Ben masih belum bisa menerima pernikahan ini dengan lapang dada. Apa yang selama ini Gendhis usahakan dalam pernikahan mereka, belum bisa dibalas oleh suaminya itu.
Jika dihadapan orang tua mereka dan orang lain, maka Ben berusaha terlihat baik-baik saja. Namun jika mereka hanya berdua, maka sikap dinginlah yang Gendhis dapatkan darinya.
Gendhis mencoba untuk terus bersabar. Gendhis tak mau mengecewakan orang tuanya dan juga orang tua Ben. Gendhis akan terus berusaha untuk mendapatkan kebahagiaan rumah tangga bersama Ben. Gendhis yakin, suatu hari nanti hati Ben pasti akan terbuka untuknya.
"Sudah berapa kali aku bilang, tidak usah kamu nyamperin aku ke kantor. Lagian aku kan bisa makan dikantin, kamu gak usah nganterin makanan segala! " ujar Ben menahan emosi sembari sedikit mencengkram lengan Gendhis.
"Aku tau, Mas. Tetapi seenak-enaknya makanan luar, perlu kamu tahu, pasti lebih enak dan bersih makanan rumah. Kamu tahu kenapa? Karena, makanan rumah dibuat dengan kasih sayang yang bukan hanya untuk sekedar mendapatkan keuntungan saja." jawab Gendhis menatap lekat mata sang suami.
"Banyak omong! Kamu memberiku makan juga pasti untuk mendapat keuntungan kan?!" ujar Ben lagi sembari sedikit menghempaskan lengan istrinya itu.
"Ya... Kamu benar. Tetapi, keuntungan yang aku cari bukan untuk aku nikmati seorang diri. Orang tuaku, orang tuamu, dan kamu sendiri juga aku harap bisa menikmati keuntungan yang aku dapat itu." Gendhis tak mau kalah.
"Ah, sudahlah. Aku mau kembali kerja." ucap Ben akhirnya berusaha mengakhiri perdebatan.
"Ya sudah... Tapi jangan lupa makan siangnya yah. Kerja juga butuh istirahat, Mas... " Gendhis memberikan lunch box ditangannya, dengan tetap mempertahankan suara lembutnya.
"Tidak usah menungguku, nanti aku pulang malam, ada lembur. " ujar Ben, yang diangguki sang isteri dengan senyum manis.
Sungguh, sedingin apapun sikap Ben, suara lembut dan senyum manis tetap ia dapatkan dari sang isteri. Sesuai namanya, Gendhis.
"Kenapa lu bengong, bro? Yuk makan siang diluar! " seru salah seorang teman Ben tiba-tiba datang, membuyarkan lamunan Ben yang tengah menatap kepergian Gendhis, yang sudah berpamitan untuk pulang.
****************************
Senyum Gendhis memudar, ketika malam hari dia tengah berdiri di balkon kamarnya, dia mendapati sang suami tengah membuang sesuatu ke tempat sampah didepan pagar rumah mereka sepulangnya dari kantor, yang Gendhis sadari sesuatu itu adalah bekal makan siang yang dia antarkan tadi siang kekantor sang suami.
"Mungkin mas Ben hanya membuang sedikit sisa makanan yang tidak habis. " monolog Gendhis mencoba berpikir positif.
Seulas senyum kembali tersemat dibibir Gendhis. Dan tanpa berpikir panjang lagi, Gendhis segera keluar dari kamarnya untuk menyambut kepulangan suaminya.
***************
Ben urung membuka pintu mobil, sesampainya dia dirumah sepulangnya dari lembur kerja. Ujung matanya menangkap sebuah lunch box berwarna biru muda teronggok di jok disampingnya yang diantarkan Gendhis ke kantornya tadi siang.
Ben bimbang. Makanan dalam kotak itu sama sekali belum dia sentuh. Membawanya masuk kedalam rumah, dia tak enak hati pada isterinya karena makanan yang susah payah dimasak tak sedikitpun dia makan.
Sebenarnya bisa saja Ben cuek seperti hari yang sudah-sudah, namun hati kecilnya kali ini berbisik untuk sedikit menghargai usaha sang isteri.
Ben memijat pelipisnya pelan ketika rasa pening sedikit mendera kepalanya, efek minuman beralkohol yang ia minum sepulangnya dari bekerja karena diajak teman-temannya.
Sebuah ide pun telintas difikiran Ben. Dengan segera Ben keluar dari mobilnya sembari membawa lunch box-nya dan membawanya ke tempat sampah yang terletak di luar pagar rumahnya. Sekepal nasi dengan potongan daging dan juga irisan sayur hijau yang ada di kotak makan itu pun akhirnya berpindah tempat masuk kedalam tong sampah.
Dengan perasaan lega, Ben melangkah masuk kedalam rumahnya.
"Mas sudah pulang?... " sapa Gendhis ketika Ben masuk kedalam rumah.
𝘋𝘦𝘨
Jantung Ben seakan berhenti berdetak. Ben sedikit gelagapan, takut kalau Gendhis melihat apa yang dilakukannya tadi.
Ben makin gelagapan ketika mendapati Gendhis dihadapannya dengan mengenakan gaun tidur berbahan satin berwarna pink diatas lutut.
Selama usia pernikahan mereka, sebenarnya tak jarang kalau sedang dirumah Gendhis berpenampilan cukup terbuka dihadapan Ben. Dan Ben tak merasa terganggu. Tetapi, malam ini entah kenapa Ben merasa berbeda. Entah karena dia sudah mengkonsumsi sedikit alkohol atau memang hatinya yang sudah sedikit terbuka untuk isterinya itu.
"Mas Ben mau mandi dulu atau mau makan malam dulu? Biar aku siapin. " senyum manis tak luntur dari bibir Gendhis.
Membuat Ben ingin merasakan manis bibir semerah ceri itu.
Ben menggelengkan kepalanya, mencoba menghilangkan pikiran kotor yang tiba-tiba hinggap di otaknya.
"A-aku... aku capek. Mau istirahat. " dengan cepat, Ben menepis tangan Gendhis yang hendak meraih jas dan tas kerja yang ia kenakan, dan segera berlalu kedalam kamar mereka.
Gendhis hanya bisa menghela nafas melihat sikap dingin suaminya.
Setelah memastikan semua bagian pintu dan jendela rumahnya terkunci sempurna, Gendhis pun melangkah masuk kedalam kamar untuk segera beristirahat.
Gendhis menghela nafas, ketika mendapati Ben yang tertidur menggunakan pakaian kantor. Dengan hati-hati,Gendhis mencoba membuka pakaian sang suami untuk menggantinya dengan baju tidur.
Tanpa Gendhis ketahui,Ben sebenarnya belum sepenuhnya tertidur, dan aksi Gendhis yang mencoba mengganti pakaiannya membuat Ben tak bisa menahan diri. Dengan sigap, Ben meraih pergelangan tangan Gendhis yang hendak membuka kancing bajunya.
"Mas...,kamu belum tidur? " tanya Gendhis kaget.
"Apa yang kamu lakukan? " tanya Ben dengan suara sedikit berat.
"A-aku cuma ingin mengganti pakaianmu,Mas." jawab Gendhis sedikit gelagapan.
Dengan gerakan cepat, Ben menarik Gendhis keatas kasur dan segera menindihnya.
"Ap-apa yang Mas lakukan? " tanya Gendhis kaget.
"Kamu yang memancing duluan. Jangan salahkan kalau aku meminta hakku. " ujar Ben tersenyum smirk.
"Tunggu, Mas! Kamu sedang mabok yah? " tanya Gendhis menahan dada Ben yang menempel kedadanya ketika Ben mendekatkan wajahnya hendak mencium bibir Gendhis.
"Sedikit." jawab Ben. "Please..., jangan tolak aku. " pinta Ben dengan suara berat dan tatapan mata sedikit berkabut, menahan hasrat yang makin melonjak.
"Tap-tapi Mas... kita... aahh.... " ingin Gendhis menolak, tetapi tubuhnya berkata lain ketika tangan dan bibir Ben mulai menyentuh setiap inci tubuhnya.
*********************
Sinar mentari menyusup lewat celah korden, sedikit membuat silau Gendhis yang hendak membuka matanya. Gendhis menggeliatkan tubuhnya. Sungguh, sekujur badannya terasa remuk. Apalagi daerah intinya, terasa sangat ngilu dan sedikit mengganjal.
Gendhis mengalihkan pandangannya ketika mendengar pintu kamar mandi terbuka, dan nampak Ben keluar dari kamar mandi dengan sudah memakai pakaian kerja rapi.
"Mas..... " sapa Gendhis dengan pipi merah merona ketika mengingat pergulatan mereka tadi malam.
"Aku ada kerjaan di Lombok untuk satu minggu kedepan. Uang belanja sudah aku transfer ke rekening kamu. " ujar Ben tanpa menoleh kearah istrinya sembari menarik koper kecil yang sudah teronggok didepan lemari pakaian, membuat Gendhis sedikit terkejut.
"Maksud kamu? T-tapi tadi malam kita.... "
"Maafkan aku untuk hal semalam. Aku terpengaruh alkohol yang diberikan pak Bahri sewaktu pertemuan dengan klien. " ujar Ben membuat hati Gendhis serasa disambar petir.
Sekuat hati Gendhis menahan airmata yang mengembun di kedua matanya, namun pada akhirnya airmata itu luruh juga dikedua pipinya.
*********************
Lima hari berlalu selepas kepergian Ben ke Lombok. Dan komunikasi antara Gendhis dan Ben terjadi hanya jika Gendhis menghubungi Ben lewat seluler, seperlunya.
Gendhis mencoba untuk berfikir positif tentang apa yang terjadi antara dirinya dan Ben terakhir kali sebelum Ben berangkat ke Lombok. Lima hari berlalu setelah hari itu, dan hari ini Gendhis memutuskan untuk memberi kejutan pada Ben dengan menyusulnya ke Lombok.
"𝘐𝘯𝘪 𝘢𝘥𝘢𝘭𝘢𝘩 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘶 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘵𝘦𝘳𝘢𝘬𝘩𝘪𝘳 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘮𝘦𝘯𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯 𝘩𝘢𝘵𝘪𝘮𝘶 𝘉𝘦𝘯. 𝘑𝘪𝘬𝘢 𝘶𝘴𝘢𝘩𝘢𝘬𝘶 𝘬𝘢𝘭𝘪 𝘪𝘯𝘪 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘣𝘪𝘴𝘢 𝘬𝘢𝘶 𝘣𝘢𝘭𝘢𝘴, 𝘢𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘬𝘶 𝘪𝘬𝘩𝘭𝘢𝘴𝘬𝘢𝘯 𝘢𝘱𝘢 𝘺𝘢𝘯𝘨 𝘴𝘶𝘥𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘭𝘢𝘭𝘶𝘪 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘮𝘶 𝘴𝘦𝘭𝘢𝘮𝘢 𝘪𝘯𝘪, 𝘉𝘦𝘯. " batin Gendhis ketika pesawat yang ditumpanginya lepas landas meninggalkan kota Jakarta menuju Bandara Internasional Lombok.
Setelah menempuh perjalanan udara selama dua jam lebih, akhirnya Gendhis menginjakkan kakinya di Lombok. Dari informasi yang didapatnya dari orang kantor, Gendhis pun menyusul Ben yang saat ini tengah berada di area pantai Senggigi, pantai yang tak kalah indahnya dengan pantai di Bali.
Dengan sebuah buket bunga berukuran cukup besar untuk memberi kejutan pada Ben yang dibelinya dari toko bunga yang dijumpainya diperjalanan menuju pantai Senggigi, Gendhis melangkah penuh semangat masuk kedalam hotel tempat Ben menginap
"Gendhis, kamu bisa menyusul kesini juga? Ben bilang kemarin kamu sibuk, sehingga tidak bisa ikut perjalanan kesini? " sapa Pak Bahri ketika mendapati Gendhis yang tengah berada di lobby hotel.
"Iya Pak Bahri. Ini saya ingin memberi kejutan untuk suami saya. " jawab Gendhis dengan senyum bahagianya.
"Waah..., aura pengantin baru memang beda yah? Romantis terus. Hehehe... " ujar pak Bahri yang membuat Gendhis tersipu malu.
Setelah diberitahu oleh pak Bahri dimana letak kamar Ben, Gendhis pun bergegas menyusul ke kamar Ben. Senyum terus tersungging di sudut bibir Gendhis hingga ia keluar dari lift dan berjalan menyusuri lorong menuju kamar Ben.
Langkah Gendhis terhenti ketika melihat Ben dan beberapa temannya tengah bercanda ria melangkah menuju ke arahnya.
Hati Gendhis terasa seperti dicubit melihat Ben bercanda dan tertawa riang bersama beberapa temannya yang sebagian besar adalah perempuan.
Dengan cepat, Gendhis menutupi wajahnya dengan buket bunga yang ia bawa ketika Ben dan kawan-kawannya berjalan melewatinya.
"𝘈𝘱𝘢𝘬𝘢𝘩 𝘩𝘪𝘥𝘶𝘱 𝘣𝘦𝘳𝘴𝘢𝘮𝘢𝘬𝘶 𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳-𝘣𝘦𝘯𝘢𝘳 𝘮𝘦𝘮𝘣𝘶𝘢𝘵 𝘮𝘶 𝘮𝘶𝘢𝘬, 𝘉𝘦𝘯? 𝘉𝘢𝘩𝘬𝘢𝘯 𝘴𝘦𝘯𝘺𝘶𝘮𝘮𝘶 𝘶𝘯𝘵𝘶𝘬𝘬𝘶 𝘱𝘶𝘯 𝘵𝘢𝘬 𝘱𝘦𝘳𝘯𝘢𝘩 𝘢𝘬𝘶 𝘥𝘢𝘱𝘢𝘵𝘬𝘢𝘯. " batin Gendhis sembari memandangi Ben dan kawan-kawannya yang berlalu masuk kedalam lift yang tadi ia naiki.
Airmata Gendhis makin deras mengucur ketika memandangi buket bunga ditangannya setelah Ben pergi. Dan pada akhirnya ia pun membuang buket bunga itu kedalam tempat sampah di dekat lift, dan ia segera naik kedalam lift dan memutuskan pergi meninggalkan hotel itu.
*****************
"Loh, Ben. Kok isteri kamu tidak diajak turun? " tanya pak Bahri ketika Ben ikut berkumpul bersama ia dan teman-temannya.
"Maksud bapak? " tanya Ben bingung.
"Loh, tadi kan Gendhis nyusul kamu kekamar. Atau dia salah kamar yah?"
Ucapan pak Bahri membuat Ben teringat dengan sosok orang dengan buket bunga besar yang berdiri dilorong kamar hotelnya yang ia lihat tadi.
Ben segera berlari kembali menuju kamarnya. Namun ketika ia keluar dari lift, ia tak mendapati orang yang ia cari. Pandangan matanya menangkap sebuket bunga besar di tempat sampah. Dengan ragu ia mengambilnya. Dan sebuah kartu ucapan yang terselip di bunga itu langsung membuatnya tahu siapa orang yang membuang buket bunga itu.
𝘛𝘶𝘵𝘵... 𝘵𝘶𝘵𝘵... 𝘵𝘶𝘵𝘵...
Berkali-kali Ben mencoba melakukan panggilan ke nomor Gendhis. Namun sama sekali tak mendapat jawaban.
**********************
"Aku sudah mendaftarkan surat perceraian kita. Masalah orang tua kita, biar aku yang menjelaskan. Kamu tidak usah khawatir. " ucap Gendhis sepulangnya Ben dari Lombok beberapa hari kemudian.
"Apa maksud kamu?"
"Maafkan aku apabila pernikahan kita sangat menyusahkanmu selama ini. Aku tahu, apapun yang dipaksakan memang tidak akan berakhir baik. Usahaku sudah cukup sampai disini. Seandainya bisa memutar waktu, aku pasti akan memilih untuk tak melangsungkan pernikahan ini. Tapi kamu tidak usah khawatir. Mulai saat ini kamu bisa bebas melakukan apa yang menyenangkan untuk mu tanpa mendapatkan pertentangan dariku. Semoga kamu bahagia selalu Ben. Terimakasih untuk selama ini. " ucap Gendhis dengan tak mampu menatap mata Ben. Dan dengan segera, ia berlalu dari hadapan Ben dengan koper berisi semua pakaiannya yang sudah ia siapkan sepulangnya dia dari Lombok.
"Kamu pikir kamu siapa bisa melakukan keputusan sepihak ini hah?! " bentak Ben sembari menarik kasar lengan Gendhis hingga punggung Gendhis membentur muka pintu.
Airmata yang sudah Gendhis tahan sekuat tenaga, akhirnya jatuh tak terbendung. Tangisnya pecah dihadapan sang suami. Gendhis merasa tubuhnya tak bertenaga hingga merosot ke lantai.
"Aku mohon Mas... lepaskan aku. Sudah cukup apa yang aku usahakan selama ini. Sungguh aku tak mampu untuk bertahan lebih lama lagi. Huhuhu...... "