Namaku Yerin Chaterin. Aku adalah wanita berusia 24 tahun yang bekerja di perkantoran. Orangtuaku meninggal sejak aku masih kecil, dan aku tinggal di panti asuhan karena tidak ada yang mengurusku. Saat umurku menginjak 10 tahun, aku pindah ke rumah peninggalan orangtuaku. Sampai aku remaja, aku mulai sekolah SMA, aku bekerja paruh waktu setiap hari untuk bertahan hidup.
Sampai di mana, aku bertemu dengan seorang bernama Darrel Kyle Erikson. Di masa SMA, dia adalah sosok yang sangat popular dikalangan cewek. Selain karena ketampanannnya, dia terpandang karena keluarganya yang sukses. Sampai sekarang pun aku masih tidak percaya bahwa sosok Darrel yang diinginkan puluhan perempuan malah menginginkanku. Ya, sampai sekarang Darrel adalah pacarku sejak SMA.
Sudah enam tahun sejak di mana Darrel memberiku kejutan sampai satu sekolah heboh. Hidupku yang datar, karakterku yang dingin dan acuh tak acuh, tidak pernah tergerakkan oleh pengejaran Darrel dari saat aku kelas satu 1 SMA. Banyak perempuan yang iri denganku, namun aku tidak peduli dan terus fokus untuk belajar.
Sampai kejutan itu tiba, aku berpikir tidak salah menyambut Darrel ke dalam kehidupanku. Lagi pula, Darrel terlihat sangat tulus mencintaiku dan selalu pantang menyerah. Dia teramat sabar dan selalu tersenyum walaupun aku memperlakukannya dengan dingin. Sampai sekarang aku tidak pernah tahu alasan mengapa Darren mencintaiku. Aku tidak secantik gadis-gadis yang mengejarnya, aku juga tidak memiliki apapun bahkan sebuah keluarga yang lengkap. Tapi aku berpikir, justru cinta yang tanpa alasan itulah yang merupakan cinta sejati.
Seperti kisah klise sebuah novel, keluarga Darren tak ramah kepadaku. Teruma ibunya. Tentu saja karena aku tidak memiliki apa-apa dan miskin. Tapi Darren tidak terhalang oleh itu, dia tetap berada di sisiku sampai sekarang.
“Sayang? Kenapa melamun? Bolehkahkah aku tahu apa yang ada diisi kepala kecilmu?”
Aku menatap lembut pria tampan dewasa dengan pakaian formal di hadapanku. Dia bukan hanya menjadi pacarku, dia juga adalah bosku sejak lama. Tentu saja semua orang di kantor sudah tahu. Walaupun diperlakukan berbeda, aku bekerja seperti karyawan lainnya—sangat serius tanpa berleha-leha. Aku tersenyum kepadanya tanpa berbicara.
Darren menyipitkan mata menatapku dengan curiga. “Hmm … senyummu, ekspresimu, dan bagaimana caramu menatapku sangat tidak biasa. Apakah kamu berniat selingkuh? Atau kabur berniat pergi dariku?”
Aku memutar bola mata dengan jengah saat melihat tatapan tajamnya. Dia sangat posesif sehingga aku sudah terbiasa dicurigai. “Tidak. Mungkin kamu sendiri yang akan melakukan itu.”
Darren terlihat tertegun. Kini giliranku yang menatapnya curiga. “Jangan bilang itu benar?”
Darren tergagap. “Ti-dak! Aku tidak akan pernah melakukan hal jahat itu kepadamu! Aku lebih baik mati daripada melakukannya!”
Meskipun aku sedikit terkejut akan intonasinya yang tinggi seolah panik, aku tidak berpikir lain. Atas kesetiaannya bertahun-tahun ini, tentu aku sangat percaya kepadanya.
“Ya, ya. Aku percaya kepadamu,” kekehku pelan.” Aku berdiri dan memasukan ponsel ke dalam tasku. “Untuk malam ini jangan lembur. Kamu harus banyak istirahat.”
Aku menoleh melihat Darren yang melamun. “Hei? Apakah kamu mendengarku?”
Darren berkedip menatapku dengan rasa bersalah yang aku lihat sekilas. “Ya. Aku akan mengantarmu pulang.”
Aku terdiam lama sebelum mengangguk.
~*~
“Ada apa?”
Aku menatap datar wanita glamor paruh baya yang duduk dihadapanku. Dia adalah ibu Darren. Sebelum dia berbicara pun aku sudah tahu apa niatnya. Dia pasti menawarkan uang bermilyaran dengan syarat untuk meninggalkan Darren. Walau dia tidak pernah menyerah sampai puluhan kali, aku tidak pernah goyah.
Avelin yang biasanya memiliki senyum sarkasme, kini dia tersenyum lebar menghadapi wajah dinginku. Sepertinya sekarang akan berbeda.
“Aku tidak akan menawarkan uang seperti biasa, namun niat aku bertemu denganmu hanya untuk memberimu kabar baik.”
Mustahil kabar baik itu berpihak padanya. Dari senyumannya pun penuh arti sehingga aku mengernyit dengan firasat buruk yang samar. “Apa maksudmu?”
Avelin menyesap minumannya dan mencondongkan tubuh untuk berbisik. “Apakah kamu tahu mengapa putraku tidak pernah memberimu kepastian? Selama enam tahun pacaran, dia hanya menganggapmu pacar tanpa berjalan ke tahap selanjutnya.”
Bohong jika aku menyangkal perkataannya. Aku memang sering berpikir seperti ini, terlebih umur kita berdua cukup matang untuk menikah. Namun, aku selalu berpikir positif bahwa Darren mungkin belum siap atau masih terfokus pada pekerjaannya. Dia pasti memiliki target kehidupannya sendiri. Namun mengapa pertakataan Avelin membuatnya sangat gelisah?
“Hmm … biarkan aku memberitahumu.” Dia terkikik yang membuatku semakin tidak nyaman.
“Putraku hanya mempermainkanmu selama ini. Sebenarnya dia memiliki wanita yang dicintainya, dan tentu saja lebih cantik dan baik darimu.”
“Tidak mungkin!” Jantungku berdenyut sakit. Itu benar-benar tidak mungkin! Mengapa aku terpengaruh oleh ucapan wanita ini?
“Mengapa menurutmu tidak mungkin? Bahkan pagi tadi mereka sudah bertunangan dan akan resmi menikah bulan depan. Jika tidak percaya, temui dia malam ini. Dan jangan sampai putraku tahu jika kamu akan datang ke kantornya.”
Aku membekap mulut dengan mata memerah. Dadaku sangat sesak sehingga sulit untuk bernafas. Aku ingin menyangkal ucapan wanita jahat ini, namun melihat wajahnya yang penuh kemenangan membuat tenggorokanku tercekat.
Apakah Darren benar-benar akan setega itu? Aku tidak percaya! Jelas bagaimana dia mati-matian mengejarku sejak SMA mengangkal semua fakta yang diucapkan Avelin.
Avelin berdiri dengan seringai. “Jika kamu sanggup, datanglah. Kamu akan menemukan kejutan di sana.”
~*~
Aku memandang pintu kantor Darren dengan jantung berdegup kencang. Aku mengepalkan tanganku yang gemetar. Kenapa aku setakut ini? Mungkin ucapan wanita itu hanya mempermainkannya. Memikirkan itu aku sedikit lega.
Darren tidak akan pernah melakukan hal kejam itu. Namun, apa yang aku takutkan benar-benar terjadi saat aku membuka pintu. Dua orang pria dan wanita dewasa kini terlihat berpelukan erat dan mesra. Wanita dengan sosok menggoda itu duduk dipangkuan Darren—pacarku selama enam tahun. Yang membuat hatiku hancur berkeping-keping adalah tatapan Darren yang jatuh datar padaku. Tidak ada kejutan seolah dia ketahuan selingkuh, namun seolah kedatanganku adalah hal yang diharapkan.
Bibirku gemetar, aku tidak membayangkan sepucat apa ekspresiku saat ini. Jantungnya seolah berhenti berdetak, dan rasa sakit yang menusuk dihatiku tak tertahankan. Aku ingin berkata sesuatu, namun tenggorokanku kering karena rasa sesak.
Aku menghapus air mata yang bercucuran dari mataku yang merah dan berkata lirih. “Dar-ren? Bisakah kamu menjelaskan sesuatu?”
Darren bersandar dan memainkan rambut wanita dipangkuannya dengan santai. Suaranya malas. “Penjelasan apa? Apa yang ibuku katakan benar. Aku mencintai Lea dan akan menikahinya bulan depan.”
Aku mundur dan menggeleng dengan getir. Sangat sesak! Kenapa hatiku sangat sakit! Tuhan … kuharap ini hanya mimpi buruk yang akan berakhir. Aku menangis tanpa suara. Seluruh tubuhnku gemetar lemas. Melihat wanita bernama Lea itu tersenyum manis padanya, lalu mencium pipi Darren dengan intim, aku hanya ingin mati saja karena rasa sakit ini.
Aku terengah-engah mencoba untuk bernafas. “Baik. Hubungan kita berakhir di sini. Terima kasih atas semua cinta palsumu. Aku pergi.”
Aku berbalik dan berlari sembari menangis. Tidak! Kenapa hidupku seburuk ini?! Seharusnya sejak dulu aku tidak menerima siapapun! Aku ditakdirkan untuk sendiri dan tidak di cintai!
“Ini sangat sakit! Aku ingin mati! Hiks! Aku ingin mati …” Aku berlari kencang ke arah jalan raya dan berteriak. “TUHAN!! AKU INGIN MATI!!"
BRUK!! Tubuhku terbanting seolah tulang-tulangku hancur. Tapi rasa sakit itu hanya muncul dihatiku. Semoga aku langsung mati tanpa mau menghadapi dunia kejam ini lagi.
“YERIN! KAU GILA! KAU BODOH! AKU TIDAK AKAN PERNAH MEMAAFKAN PERBUATANMU!”
Aku mencoba membuka mataku didetik-detik kesadaranku berakhir. Darren berwajah sangat pucat terlihat panik dan penuh marah. Air mata berlinangan di wajahnya. Aku tersenyum menatap buram sosoknya yang mulai memelukku erat. “Ak-u mencintaimu … selamat tinggal.”
“SIAPA YANG MENGIZINKANMU MATI!! YERIN!! BANGUN!! YERIIIIN!! KAMU TIDAK BOLEH MENINGGALKANKU! SADARLAH! HIKS … aku bohong .. aku hanya akan menikahimu hiks … YERIIIIN!!"