"Dor.. Dar... Der... Dor..." Tak satu biji peluru pun yang mampu menembus. Bukan cuma peluru tapi meriam hingga rudal sekalipun telah pula ditembakan. Tap sang jagoan itu tetap berdiri kukuh dengan sayap merah yang melambai-lambai dipermainkan angin. Yang menonton pun dibuat terkagum-kagum. Ada yang bertepuk tangan, ada yang bersuit-suit, dan tak sedikit dari mereka yang sampai bangkit berdiri dan berloncat-loncatan di depan kursi mereka. Ruangan gelap itu sangat bergemuruh pada akhirnya.
Perlahan-lahan kemudian, satu demi satu bola lampu yang ada di ruangan tersebut pun menyala. Ruangan menjadi terang benderang setelahnya. Satu persatu orang pun bersiap meninggalkan ruangan. Dengan kesan yang terpatri di dada masing-masing orang tentunya.
"Suatu hari kelak aku bakal menjadi si Jagoan itu," seru seorang kanak berkata dengan penuh keyakinan kepada seorang lelaki paruh baya yang berjalan sambil menggenggam tangannya. "Iya, aku yakin kau bisa, tapi apa kau tahu caranya!?" Ucap si bapak menggenggam lebih erat tangan si kanak.
Si kanak menggeleng.
Si lelaki paruh baya mengangguk. "Bapak tahu caranya."
Sontak mata si kanak membelalak takjub. "Beritahu aku caranya!?"
"Menjadi seorang superhero itu perkara mudah kau hanya perlu lebih banyak makan makanan yang bergizi dan belajar lebih rajin dan giat lagi. Dan sedikit mimpi besar yang mesti kamu punya. Dan hebatnya kau telah memiliki mimpi tersebut. " Kata si bapak dengan ketenangan yang teramat sangat. Si kanak mengangguk kagum, ia seperti menemu sebuah peti harta karun. "Oh iya cuma begitu saja, aku pasti bisa." Si kanak menjentikkan jemarinya.
***
Dan beberapa waktu kemudian. "Dar... Der... Dor... " Peristiwa tembak menembak tengah berlangsung di suatu sudut jalan. Ada dua kelompok yang saling berseteru.
Masing-masing kelompok kurang lebih berjumlah sepuluh orang. Peristiwa itu sudah berlangsung beberapa menit yang lalu. Lalu hingga pada akhirnya sesuatu muncul ke tengah-tengah mereka. Sesuatu yang muncul dari angkasa dan mendarat turun ke tengah-tengah mereka. Sontak adu tembak pun terjeda. Sesuatu itu bertubuh besar dan terkesan berat, itu tak lain karena rangkaian lempengan baja yang menempel memenuhi tubuhnya. Kepalanya pun ditutupi dengan penutup kepala yang juga terbuat dari lempengan baja.
Dia mengacungkan sebelah tangannya. Sekonyong-sekonyong dari jemarinya, ada butir demi butir peluru yang bermuntahan keluar. Yang diarahkan ke satu kelompok, tak pelak membuat kelompok tersebut menjadi kocar-kacir, tak sedikit dari mereka yang terkena. Tapi itu tidak membuat mereka menjadi mati cuma hanya menjadi lumpuh sesaat. Kelompok yang lain bergerak ke kelompok yang telah dilumpuhkan tersebut. Kelompok yang telah dilumpuhkan tersebut diamankan satu demi satu, dimasukan ke dalam mobil patroli polisi.
Si sosok baja itu begitu mendapat sambutan yang luar biasa. Tak sampai sedetik dari bawah kakinya muncul jejak-jejak api yang perlahan-lahan membesar dan sebentar kemudian mengangkat tubuhnya ke angkasa raya lalu ia pun menghilang dibalik rerimbun awan-awan.
"Ini adalah upah dari makan makanan bergizi dan belajar lebih giat dan rajin dan sedikit mimpi besar tentunya." Begitu kata seorang anak muda dihadapan khalayak di depan markas besar kepolisian, saat konferensi pers diadakan, menunjuk ke sosok baja buah karyanya yang berdiri tegar di sebelahnya. Robot Polisi begitu ia memberi nama pada buah karyanya.
Ramai orang-orang bertepuk girang, bukan cuma yang ada disitu, tapi juga orang-orang yang menonton di layar kaca, termasuk lelaki tua yang seluruh rambut di kepalanya telah memutih bersih, ia yang suatu kali pernah menggenggam erat tangan si lelaki muda yang tengah berbicara tersebut.