Hari ini, kupikir pacarku akan membunuhku. Jika dipikirkan kembali, tidak peduli dilihat dari manapun. Dia dan aku tidaklah cocok.
Seorang murid teladan dengan murid berandalan sepertiku. Ada selisih tinggi yang lumayan jauh, otak kami jelas berbeda, keseharian kami pun berbeda jauh, bahkan keluarga kami sangat bertolak belakang.
Aku yang memiliki keluarga serba susah, bagaimana pun tidak akan pernah cocok dengan seorang putri dari keluarga terpandang.
Masih menjadi misteri kenapa dia menyatakan perasaannya padaku. Pada awalnya, kupikir dia mungkin hanya mempermainkanku atau mungkin kupikir itu hanya kebetulan saja dia menyukaiku yang kupikir juga hanya sebentar.
Aku tahu aku tidak menjalani kehidupan yang lurus selama ini. Dan juga, mungkin aku pernah membuat seseorang membenciku atau mungkin lebih dari seorang.
Hari ini kejadian aneh terjadi, pacarku menjatuhkan kaca saat aku sedang tiduran, untungnya aku memiliki reflek yang cepat sehingga kaca itu tidak jatuh tepat di atas wajahku.
Kejadian aneh kembali terjadi saat aku kembali tidur siang di atap sekolah, pacarku menaruh kain tebal di seluruh wajahku. Tak berhenti disitu, dia juga melakban bibirku.
Kini keraguanku berubah menjadi keyakinan. Indra keenamku memberi tahuku, hari ini ada sesuatu yang akan terjadi padaku.
Hari ini aku akan pergi kerumahnya.
"Nggak ada siapapun dirumah hari ini?" Tanyaku, namun dia tidak menjawab. Dia hanya mempersilahkan aku duduk di ruang tamunya, kemudia dia beranjak kedapur dan menyuguhi aku minuman.
Tiba-tiba aku jadi mengantuk, mungkin gara-gara kurang tidur? Tidak..Tidak mungkin. Apa dia menaruh sesuatu di dalam minuman ini?
Tidak, aku harus bangun, bila tidak tetap terjaga mungkin suatu hal yang buruk akan terjadi padaku.
Pacarku tiba-tiba menatapku, mendekatiku dan kemudia menempelkan plastik wrap di mukaku.
Dan kemudian...
Dia menciumku...??
Sulit dipercaya, "Jadi, kamu mencoba berbagai macam cara untuk menciumku?" Pacarku hanya mengangguk, dan menundukkan kepalanya. Kupikir dia malu.
Jadi, ternyata pacarku sedang mengalami flu dan dia mencoba berbagai cara agar saat berciuman kami tidak menyentuh secara langsung. Dia takut aku tertular. Aku sudah salah paham padanya, padahal dia hanyalah pacar yang manis.
Aku tersenyum dan terkekeh, menarik pacarku ke pangkuanku kemudia mengecup keningnya.
"Aku sayang kamu."