Hawa pagi yang hangat ditambah angin semilir yang begitu nyaman, agus duduk di mejanya dengan tatapan terpaku. Matanya terus mengamati sosok Dina, gadis cantik yang duduk di sebelahnya. Sudah setahun lamanya Agus menyimpan perasaan yang tak terungkapkan itu. Dari kelas 1 SMP, ia merasakan sesak di dadanya setiap kali melihat Dina.
"hei gus...gus..agus!"
"eh iya din?" aduh cantiknyaaa bidadariku ini
"melamun mulu atuh udah jam istirahat tau, aku mau kekantin nitip enggak?"
"oh enggak din, hati-hati yaa"
"anjay mau kekantin doang di perhatiin"
"apaan sih gas ganggu aja"
"ndak tau gas aya-aya wae agus mah, duluan yaaa"
"iya din" ucap kami serempak
"hey, udah. dina keluar aja di liatin mulu"
"apain sih gas biasa aja kali"
"guuusss kalo kamu suka ama dina sampaiin aja"
"ah apaan sih"
"dari pada nanti terlambat kan, dina itu udah cantik, baik, pinter, teteh asli bandung juga, kurang apa coba"
"ya dina nya sempurna nah kalo aku?"
"lho kamu kan anak dari pak haris, guru killer kita"
"anjir ya gak gitu juga dong"
"udah gini aja kalo gak di coba kamu gak bakal tau hasilnya kan"
"iya tau tapi kalo nanti gagal aku takut dia malah menjauh"
"yaudah terserah, pokoknya nanti kalo dia sudah sama yang lain dan kamu menyesal kumampusin kamu, mampus-mampus"
"yaudah-yaudah kamu ada saran gak?"
"nah gini"
-keesokan harinya-
Perjuangan Agus dimulai pada pagi hari yang cerah. Ia menggenggam buku catatannya dengan teguh saat berjalan menuju kelas. Rasa gugup dan harapannya bercampur aduk di dalam hatinya. Namun, ia tak ingin menyerah begitu saja. Agus telah menyusun rencana matang untuk menyatakan perasaannya.
Agus berangkat lebih pagi dari biasanya, ia segera duduk di kursinya. Dina belum datang. Agus mengambil nafas dalam-dalam untuk menenangkan diri. Ia memutuskan untuk mengambil inisiatif dan berbicara dengan Dina hari ini.
"hei gimana?, udah kamu catet kisi-kisi mendapatkan cinta yang ku kirim tadi malem?"
"udah-udah aman, btw itu blog siapa?. edgy banget"
"blogku lah"
"anjir aku minta cariin kok malah"
"eh udah, dina udah sampe tuh" sambil nunjuk pake mulutnya "udah duluan ya good luck"
Dina akhirnya memasuki kelas dengan senyum manisnya, Agus merasa jantungnya berdebar lebih kencang.
"Selamat pagi, Din," sapa Agus dengan sedikit gemetar.
Dina tersenyum lembut. "Selamat pagi, gus. Ada apa?"
Agus mengumpulkan keberaniannya. "Ehm, Dina, sebenarnya aku sudah lama ingin mengatakan sesuatu padamu. Aku... aku suka padamu, Dina. Sudah sejak kelas 1 SMP."
Dina terkejut mendengar pengakuan Agus. Wajahnya yang cantik dan perlahan memerahan. "Agus, aduh gimana atuh. Aku... aku juga suka atuh."
"ha, su..suka apa din?" ucap agus sedikit tergagap
"yaa suka kamu" berbisik
Walaupun pelan tapi suara itu bisa terdengar dengan jelas, wajah agus pun mulai memerah ia tak bisa mempercayai apa yang didengarnya.
"hei dina!"
"eh iya bu setyo?"
"ikut saya sekarang, penting!" ucap bu setyo sembari melihat sekeliling kelas dan melirikku singkat.
"ehm duluan ya gus"
"iya din"
(criiing)
Bel masuk sudah berbunyi tapi dina belum kembali juga, hubungan tanpa validasi ini membuat agus sedikit kepikiran gimana kelanjutan hubungan mereka,waktu yang cuma 10 menit itu terasa sangat lama.
Di arah lorong terdengar suara langkah lari, yap akhirnya dina datang.
"huft, capeknya. Kamu tau gak gus masa pagi-pagi udah di kasih pikiran yang berat"
(waduh, aku salah langkah!)
"kamu tau aku di tunjuk jadi ketua panitia pelaksana acara bulan depan"
"oo yaudah semangat dong, tapi din kamu mau gak jadi pacar aku" perasaan bingung tadi membuat agus tancap gas dan melupakan rasa malunya. Dina yang memerah lagi teringat pengakuan agus tadi pagi sontak memalingkan wajahnya.
"aduh" berbisik
"jadi gimana?"
"iya-iya gus. aku malu tau" ucapnya sambil menaruh wajahnya di mejah di tutupi kedua tangannya.
Perjalanan agus dan dina pun dimulai. Perjuangan Agus ternyata lebih mudah dari yang ia bayangkan. Mereka pun mulai menjalani perjalanan romantis mereka.
Hari-hari berlalu, Agus dan Dina semakin dekat. Mereka menghabiskan banyak waktu bersama, berbagi cerita, dan mengejar mimpi bersama.
"ayo gus belajar yang serius, 2 minggu lagi mau ujian akhir lhoo"
"waduh bentar susah ini 2x kali 3y sama dengan... Berapa yaah?"
"yaa kan tadi aku gk di dingerin"
Namun, perjalanan cinta mereka tidak selalu indah. Agus mulai merasakan suka duka memiliki hubungan romantis.
Mereka berdua pernah mengalami kecemburuan yang menguji kesabaran mereka. Agus merasa cemburu ketika Dina berbicara dengan teman laki-laki lain, sedangkan Dina merasakan hal yang sama ketika Agus dekat dengan teman perempuan lainnya. Namun, mereka berdua selalu menyelesaikan masalah tersebut dengan saling memahami dan berbicara dengan jujur.
Namun, saat kelulusan semakin dekat, bayang-bayang perpisahan mulai menghantui mereka.
Mereka berdua menyadari bahwa mereka akan berpisah setelah lulus SMP. Agus dan Dina menghadapi dilema. Apakah mereka akan melanjutkan hubungan ini jarak jauh atau memutuskan untuk berpisah?
"anak-anak ujian nasional sudah dekat, selain kalian belajar untuk ujian kalian juga harus punya tujuan kedepannya, kalian harus bisa memutuskan masuk sma atau smk dan itu akan berlanjut lagi ke jurusan yang akan kalian pilih saat masuk smk"
"din, kamu habis lulus mau kemana?, kalo aku mau ke sma 1"
"hmmm gak tau aku gus masih bingung, kalo aku pingin masuk sma 1 juga tapi orang tua mau balik ke desa patuk"
"yaah kok gitu sih"
"ya gak tau lah orang tua ku yang pingin gitu"
Akhirnya, di sore hari sebelum kelulusan, mereka duduk di bawah pohon di halaman sekolah. Matahari terbenam dan suasana menjadi sepi. Mereka berdua merasa berat untuk mengatakan kata-kata perpisahan
"Agus, aku gak tau harus gimana, ini hari terakhir aku disini besok pagi aku sama orang tua bakal balik ke desa" kata Dina dengan suara yang lirih. "Aku takut hubungan kita menjadi beban bagi kita masing-masing kedepannya."
Agus menatap Dina dengan mata berkaca-kaca. "Aku juga takut, Dina. Tapi kita harus berpikir dengan kepala kita, bukan hanya dengan hati. Kita harus fokus pada masa depan kita."
Dina mengangguk dengan sedih. "aku mau kita udahan dulu ya? Setidaknya sementara waktu."
Agus sedikit tertegun dan mengangguk perlahan. "Iya, Din. gak papa kalau itu keputusan kamu tapi aku masih berharap suatu saat nanti kita akan bertemu lagi."
Mereka berdua saling berpelukan dalam keheningan. Air mata mengalir di pipi mereka. Cinta yang mereka miliki, kelas yang mempertemukan mereka, lorong yang sering mereka lewati bersama, dan tempat duduk ini yang menjadi tempat makan favorit mereka, sekolah ini menjadi saksi bisu kehidupan sekolah mereka berdua, perpisahan ini menjadi pilihan yang sulit namun bijaksana bagi keduanya.
Hari kelulusan tiba. Agus dan Dina saling berpelukan dan berjanji untuk tetap menjaga hubungan persahabatan mereka. Mereka tahu bahwa meskipun romansa mereka berakhir di sini, cinta yang mereka miliki akan selalu bersemayam dalam hati mereka.
Perjuangan Agus untuk mendekati Dina ternyata membawa mereka pada kisah cinta yang indah, namun penuh perjuangan. Mereka belajar tentang cinta, kebahagiaan, dan kesedihan. Meski perjalanan mereka berakhir di sini, kenangan indah yang mereka bagi akan selalu terpatri dalam ingatan mereka.
Agus dan Dina melanjutkan hidup mereka, menggapai impian masing-masing, namun mereka tahu bahwa cinta yang mereka miliki akan selalu menjadi bagian dari diri mereka. Mereka yakin bahwa takdir akan menghubungkan mereka lagi jika memang mereka ditakdirkan bersama.
Sekolah yang semakin lama berubah, kelas, lapangan, kantin bahkan lorong mereka akan selalu mengingat kenangan indah ini