Konon katanya cinta pertama anak perempuan adalah ayahnya. Tapi tidak semua anak perempuan merasakan kasih sayang seorang ayah. Pelukan hangat dari seorang ayah penting bagi perkembangan emosi sang anak. Kasih sayang dari seorang ayah akan menjadi suatu gambaran bagi sang anak untuk mencari pasangan hidupnya. Namun bagi anak perempuan yang kehilangan sosok ayah, kehilangan kasih sayang seorang ayah sudah tentu tidak memiliki gambaran yang demikian dan pada akhirnya akan selalu salah dalam hal memilih pasangan.
Hal ini juga dialami oleh Flo. Flo adalah anak perempuan yang cantik dan cukup supel. Bagi sebagian orang Flo adalah seorang anak yang periang dan mudah bergaul. Namun pada kenyataannya Flo adalah seorang introvert. Sebagai seorang introvert, Flo mampu menyembunyikam setiap lukanya dengan sangat apik.
Flo sudah membawa luka itu sejak hadir ke dalam dunia. Walaupun masih belum mengenal dunia tapi luka itu sudah terpatri di dalam diri. Terlahir tanpa kehadiran sosok ayah membuat Flo mau dan tidak mau harus menjadi perempuan yang kuat. Memiliki mental baja.
Sejak kecil Flo sudah memiliki sensitifitas yang tinggi terhadap lingkungan sekitar. Flo mampu merasakan luka itu tapi walau belum tau sebenarnya dampak dari luka itu. Sungguh paradox.
Terkadang dalam keheningan Flo kecil selalu bertanya kenapa saya berbeda. Tidak seperti mereka (sepupu) yang ada sosok ayah. Pertanyaan itu terus ada di dalam kepala sampai pada usia 15 tahun Flo akhirnya bertemu dengan ayahnya. Tepat di hari ulang tahunnya.
Suatu peristiwa yang sangat bersejarah. Pertemuan itupun juga karena usaha dari Flo sendiri. Usaha untuk mencari dimana dan seperti apa sosok ayahnya.
Tinggal di bawah kolong langit yang sama, menghirup udara yang sama, merasakan teriknya matahari dan dinginnya hujan yang sama, menginjakan kaki di tanah yang sama juga tidak dapat membuat Flo bertemu dengan ayahnya selama 15 tahun. Lama, itu sangat lama. Dengan penuh keberanian dan yang menggebu-gebu Flo akhirnya bertemu dengan ayahnya yang adalah seorang tentara.
Saat itu, entah apa yang dirasakan. Semuanya campur aduk haru, bahagia serta canggung. Flo tidak mengenali ayahnya. Untung ayahnya mengenalinya hanya karena wajah itu, mata itu, rambut itu yang mirip dengan perempuan yang dulu ayahnya cintai. 15 tahun baru bertemu dan hanya sebentar. Sejak lama Flo sudah tau ayahnya adalah seorang tentara, tapi baru kali ini Flo melihatnya ayahnya dengan pakaian kebanggannya dengan jarak yang sangat dekat. Sungguh perasaan yang tak dapat dikatakan. Semuanya jadi satu.
Namun, kebahagiaan itu tidak berlangsung lama. Di hari yang seharusnya merupakan hari bahagia bagi Flo pada akhirnya ditutup dengan air mata pilu, yang sungguh menyayat hati. Setelah menerima pesan dari istri ayahnya yang penuh dengan caci maki, maka berakhirlah kebahagiaan itu. Luka semakin menganga. Marah, benci tapi juga sayang. Setidaknya Flo tahu ayahnya masih menghirup udara yang sama dengannya.
*Flashback*
Orang tua Flo menjalin hubungan saat SMA sampai ayahnya Flo menjadi tentara. Ibu Flo yang menemani, dan hadirlah Flo. Tapi takdir berkata lain. Ayahnya lebih memilih wanita lain dan meninggalkan Flo dan ibunya. Bahkan di hari pernikahannya Flo kecil dan ibunya hadir, walaupun pada akhirnya terjadi keributan dan setelah itu Flo dan ibunya melanjutkan kehidupannya dengan keluarga masing-masing. Ayahnya menikah dengan wanita lain saat Flo masig kecil dan ibunya menikah saat Flo kelas 4 SD
*Flashback Off*
Walaupun sudah memiliki keluarga baru, tapi rasanya beda. Kasih sayang seorang ayah kandung itu beda rasanya. Sejak kecil Flo tidak pernah merasakan hangatnya pelukkan seorang ayah. Hal itu baru dirasakan saat berusia 15 tahun dan hanya sebentar tapi sungguh bermakna bagi Flo.
Setelah kejadian itu Flo dan ayahnya tidak bertemu lagi sampai pada akhirnya di usia Flo yang ke 24 tahun mereka bertemu lagi, tapi dalam keadaan yang berbeda, sudah tidak sama-sama menghirup udara yang sama lagi. Ayahnya meninggal.
Ketika mendengar berita itu, sekali lagi entah apa yang dirasakan Flo kaget, kosong, sedih. Seketika dunianya berhenti sejenak. Mencoba mencerna semua yang terjadi. Hanya bisa melihat tubuh yang terbujur kaku itu.
*POV RUMAH DUKA*
Sebagai penghormatan terakhir untuk ayahnya , dengan besar hati Flo datang melihat tubuh yang kaku itu. Sejak malam penghiburan hari pertama sampai terakhir semua berjalan lancar. Tidak ada keributan yang terjadi mengingat istri ayahnya tidak suka dengan Flo. Entah apa kesalahannya, bertemu saja baru sekali saat ayahnya meninggal. Tapi istrinya memiliki dendam kesumat untuk Flo.
Tiba saatnya hari pemakaman. Keributan pun terjadi Flo diusir dari rumah duka. Untuk melihat yang terakhir kalipun sudah tak bisa. Hancur sehancur-hancurnya.
Walaupun tak merasakan kasih sayang itu, tapi bagi Flo itu adalah ayahnya, pahlawannya, kebanggaannya.
Tapi Flo mencoba untuk bertahan tidak mengeluarkan setetes pun air mata sampai akhir seluruh acara pemakaman.
*POV KAMAR TIDUR*
Sesampai di rumah dengan seluruh keahliannya untuk tetap tegar di tengah kerumunan orang, akhirnya pertahanan itu runtuh saat masuk ke kamar. Tempat yang sangat aman untuk menyalurkan seluruh isi hati. Melepaskan semua beban di dada.
Luka itu semakin besar. Bahkan sampai diakhir hidup ayahnya pun yang tersisa hanyalah luka.
Entah harus setegar apalagi.
Hidup tanpa kasih sayang seorang ayah membuat Flo hidup dengan luka yang tak kunjung sembuh. Flo kehilangan figur ayah dan tidak mempunyai gambaran tentang kasih sayang itu. Sehingga Flo selalu salah dalam memilih pasangan.
Flo selalu berusaha untuk mencari pasangan yang bisa mengisi kekosongan itu. Untuk mengisi kantong kasih yang kosong itu. Tapi pada akhirnya selalu salah dan berakhir dengan semakin banyak luka yang ditorehkan.
Namun dibalik semua luka yang dialami. Flo akhirnya menjadi perempuan yang kuat, yang bermental baja. Tapi Flo juga manusia, Flo kuga perempuan yang membutuhkan kasih sayang itu.