"Tidak!" Dengan tegas tetapi lirih aq mengatakannya, tepat didepan wajahnya. Bisa kulihat wajahnya memerah, dan matanya mulai membesar.
"Jadi, aku harus bagaimana dek?!, Menerima begitu saja?ikhlas??" Sambil mengepal kedua tangan dia berucap seperti itu. Aku berpaling ke arah jendela, sambil melihat air parit busuk yang kian naik karena hujan tak berhenti dari tadi malam. Aku pun sebenarnya tak tahu mengapa aku bisa menjawab seperti itu. Perlahan aku mendengar isak tangisnya, iya, walau berbadan besar dan kasar tapi hatinya sesungguhnya sangatlah halus. Seharusnya aku yang menangis, tetapi entah menguap kemana air mataku ini. Yang aku tahu sekarang adalah aku hanya harus mengakui semuanya, tanpa ada pengharapan apapun.
"Ibuuuuu...." Teriak anak perempuanku dari luar kamar, "adek mau sarapan" katanya, bergegas aku keluar kamar untuk mengambilkan anak bungsuku itu sarapan.
Terlihat di ekor mataku, suamiku mulai mencubiti dirinya dan menghantamkan kepalanya sendiri ke dinding sambil menangis tanpa suara.
"Adek makan sama mas ya di ruang tv, ibu mau kasi obat papa" pintaku, "papa kenapa bu? Sakit lagi?" Karena semalam dilihatnya papanya muntah muntah." Iya, papa demam" bohongku. Ketika aku kembali ke kamar, memar dan lebam2 tangannya, tanpa aku sadari mengalir air mata ini, menangis tanpa aku sadari, aku peluk dia, aku ucap maaf, maafin adek mas, maaf, maaf. Tak ada sahutan, hanya isakan tangis yg semakin kencang sambil memelukku balik.
Ya Allah, apa yang sudah aku perbuat ke keluarga kecilku? Sejauh ini kah aku tersesat? Sejahat inikah aku, sedzolim ini kah aku terhadap suamiku? Lelaki yang paling bertanggung jawab yang pernah aku temui. Ya Allah, ampunilah dosaku."dek" bisiknya. "Telepon bosmu, segeralah antar surat resign, aku gak kuat". "Aku tidak tahu mas, aku telepon dulu reka ya mas, ijin gak masuk"
"Aku mau kau resign, berhenti!!!!!!!" Teriakmu. Terdiam aku, tak tahu harus jawab apa karena sebentar lagi hasil promosi jabatan akan keluar dan aku salah satu pesertanya. Aku bimbang tapi aku sadar aku bersalah. "Iya, bentar, aku telpon reka" aku ambil handphoneku yang sedang dipakai oleh anak sulungku. "Ibu pinjam hpnya sebentar ya mas, temenin adeknya sarapan" "ya bu" jawabnya, tak aku suruh dia sarapan karena dia sudah duluan. Tuuut tuuuut tuut, haduuh kemana reka ini. Cklik "re, aku ketahuan" "ketahuan apa? Siapa? "
"Sama suamiku, selingkuhku" "astaghfirullah!!! Jd gimana? Koq bisa?"
"Nanti aku jelasin, buatkan aja dulu surat ijinku tuk bos ya, bisa kan?" "Oh, ok, aman" "makasih ya" lalu aku tutup hpku dan bergegas aku ke kamar karena aku dengar suara hantaman2 ke dinding.
"Udah lah mas, udaah, aku minta maaf"
"Iya dek iyaaa, cuma sekarang aku gak tahu harus gimana lagi. Jika dirimu hamil hasil selingkuhmu itu gimana? Aku terima dirimu, ikhlas aku karena kau ibu dari anak2ku. Tapi jika kau paksa aku terima anak hasil selingkuhmu aku gak sanggup dek, gak sanggup" jeritmu kembali membahana dengan tangan yang sudah berdarah, "aku takkan hamil, dia mandul" "ya Allah, kau permainkan takdir Allah" sambil mengusap muka kau berkata dengan lirih. Dengan segera kau sambar kemejamu lalu kau bangkit, sebelum keluar kamar kau berkata "ku cerai dirimu"
Antara lega dan sakit hati ini mendengarnya, lega karena selama pernikahanku aku tak pernah dianggap ada oleh suamiku. Sedih karena ternyata luka yang aku buat segitu besarnya untuknya.
Dia pergi dengan motornya, tak tahu aku kemana. Anak2 juga sudah berangkat sekolah dengan becak langganan. Ada apa dengan aku ya Allah, kenapa dengan diriku ya Allah. Ah, kemana handphoneku,"halo bang, lakikku tahu tentang kita. Dia bertanya dan aku katakan semua, jadi gimana kita bang?" Tanyaku kepada yang aku kira lelaki gentleman. "Mana dia sekarang?" "Keluar rumah, aku gak kerja. Udah telepon reka tadi" "yah udah lah, mau gimana lagi""maksudnya gimana?,tanggung jawab dong bang,kita jadi gimana ini? Tadi ditalaknya aku sebelum dia pergi""ya sudah lah kalau begitu.tunggu tenang aja dulu" tut, ditutupnya.
Inikah lelaki yang harus aku pilih? Inikah lelaki yang harus aku pertahankan? Kenapa dia mudah berkata seperti itu? Bukannya seharusnya dia berjuang untukku jika dia memang cinta aku? Bahkan dia sudah cerai dari istrinya, mengapa jadi seperti ini?
Apa aku salah pilih?
#part1