Yogi sudah layak nya seorang anak bagi mamanya, walaupun Yogi hanyalah anak angkat mama menyayangi Yogi dengan sangat, alasan mama juga tidak menikah lagi karena masih sama, tidak ingin jika laki-laki mengatakan jika mama adalah seorang wanita yang tidak bisa memberikan keturunan padahal mama tahu apa yang terjadi sebenarnya, tidak ada kena rana dari mata mama. tampaknya mama sudah melupakan hal itu.
" Mama nanti. Pulangnya agak larut. Jaga dirimu baik-baik. " Ucapan mama sebelum mama pergi ke kantor.
Sedangkan Yogi meneruskan makan paginya dan bergegas berangkat sekolah.
" Non... " Dia adalah pak Hendru, sopir pribadi mama tapi sekarang mama lebih mengutamakan pak Hendru untuk menjemput Yogi pulang dan pergi ke sekolah.
Alasan lain Yogi juga tidak tahu juga.
Setelah beberapa menit Yogi sudah berada di sekolah, tidak banyak teman yang dia dapatkan di sekolah hanya menghindari adik tirinya, kenapa dia bisa tahu adik tirinya juga bersekolah di sini karena Yogi melihat mama tirinya. Orang yang membuang dirinya saat usianya masih kecil. Rupanya sikap mama tirinya semakin hari selain menyebalkan.
Tapi bukan ingin mengurusi atau mencari tahu apa pun tentang adik tirinya itu tapi semuanya juga sudah menjadi masa lalu yang tidak akan ada artinya lagi.
" Buset, lihat apa mbak, sampai segitunya?" Ini dalah Nadia orang yang paling paling tidak biasa diam,
" Bisa tidak jangan ngagetin? " Nadia tersenyum seperti tidak mengenal siapa Nadia saja sih.
" Biasa nya juga gini kok, emang lihatin apaan? Segitunya? " Nadia celingukan tidak ada hal yang perlu di buat sampai melongko kan?
Bahkan Nadia juga tidak tahu jika Yogi memiliki saudara tiri, dia memang sangat tahu segalanya tapi tidak untuk tahu kehidupan Yogi.
" Kepo.. " Belum juga tahu siapa yang pagi pagi di kepoin Yogi nih Yogi sudah kabur meninggalkan Nadia yang masih penasaran siapa yang Yogi lihat? Apakah cowok ganteng? Emang sih Nadia yang selalu mencari cowok ganteng saja.
" Eh, Yogi.... Tunggu....!?!.