Perkenalkan namaku lucy, sejak lahir aku hanyalah anak dari seorang peternak babi yang hidup di sebuah perkampungan kecil dan sangat terpencil. Aku hidup Bersama Ibuku, ya dia adalah Ibu yang buruk. Setiap hari ia memukulku dan memarahiku “kamu harus menjadi orang sukses!!! Cepat belajar! Makanlah sedikit karena jika kamu kenyang kamu akan mengantuk dan tidak bisa belajar!” begitulah kata Ibuku setiap hari, tidak ada istirahat yang cukup, tidak ada makan yang cukup teruslah belajar sampai nafas terakhir, menjadi orang sukses membanggakan Ibu itulah yang ia mau.
Ayah, aku tak pernah mengenalnya aku tak tahu bagaimana sikapnya, bagaimana kepribadiannya, bagaimana dengkuran nafasnya, aku tak tahu semua hal tentangnya,bahkan ku tak tahu bagaimana dulu ia hidup yang ku tahu hanyalah wajahnya yang selalu ku lihat terpampang di ruang tengah rumahku yang seperti gubuk ini. Setiap kali ku bertanya kepada Ibuku bagaimana dulu Ayah hidup dan seperti apa Ayah itu ia hanya menjawab bahwa ayah adalah orang baik, dia selalu ada saat ibu kesusahan, ia bagaikan malaikat yang tuhan kirimkan untuk Ibu, namun tuhan teramat sayang terhadap ayahmu sehingga tuhan mengambilnya lebih dulu. Yah, dulu aku hanyalah anak kecil yang tak tahu apa-apa tapi seiring berjalannya waktu dan aku pun beranjak dewasa, semakin banyak pertanyaan-pertanyaan yang bermunculan di kepalaku “Bu...bisa kamu ceritakan bagaimana Ayah meninggal?” tanyaku kepada Ibu yang sedang mencuci piring , namun Ibu hanya menatapku dengan tatapan yang tidak dapat di artikan. Wajar saja jika Ibu kaget dengan pertanyaan ku karena kejadian kematian ayahku sudah terjadi lama sekali mungkin sekitar 18 tahun yang lalu ketika aku masih berada dalam kandungan Ibu. Namun ternyata setelah ia selesai mencuci piring ia datang menghampiriku dan duduk di meja makan tepat di hadapanku, “Mengapa kamu menanyakan itu nak?” tanyanya, aku pun menatapnya dengan serius “Bu...aku tahu ada yang mengganjal pada kematian Ayah, aku mendengar dari warga sekitar bahwa dulu Ayah meninggal karena bunuh diri, tapi aku tak mempercayaiya! Tidak mungkin Ayah bunuh diri karena tidak mengharapkan aku lahir kedunia!” kataku dengan sedikit emosi “Nak...Ibu akan ceritakan apa yang terjadi 18 tahun lalu, jadi dulu Ibu dan Ayah memiliki peternakan babi yang cukup besar mungkin sekitar 3 hektar jika di ukur, kemudian pada waktu itu datanglah seseorang dari kota yang ingin membeli tanah milik kita, namun pada saat itu Ayahmu tidak setuju karena pada saat itu peternakan babilah yang menjadi sumber kehidupan kami dan Ayahmu ingin kamu kelak sebagai anaknya mewarisi peternakan babi yang kami rintis dari nol. Namun pada saat kami telah terlelap api berkobar dari arah kandang babi, kami berlari dan berteriak sekencang-kencangnya agar warga bisa mendengar dan membantu kami, api pun terus berkobar semakin besar dan terus semakin besar, pemadam pun datang memadamkan api, namunn nihil tak ada seekor babi pun yang bisa kami selamatkan, sumber penghasilan kami satu-satunya hilang dan disisi lain ibu yang tengah mengandung mu selama delapan bulan empat minggu dan hanya beberapa minggu lagi ibu akan melahirkan. Ayhmu duduk tersungkur di depan kandang babi yang sudah habis di lahap si jago merah, namun di kejauhan ayahmu melihat seorang pria tersenyum di dalam mobil mewahnya dan meninggalkan lokasi kebakaran, ia bercerita kepadaku bahwa laki-laki yang tersenyum itu adalah pria yang tadi siang datang untuk membeli tanah kami, kemudian Ayahmu pergi mencari bukti bahwa kebakaran itu bukan kecelakaan melainkan sudah direncanakan oleh orang yang tidak bertanggung jawab, dan setelah ia mendapatkan bukti ia berkata akan menyerahkan semua bukti ke polisi tapi kemudian ia tak kunjung pulang, hilang, kemudian ia dikabarkan bunuh diri” tutur ibu dengan mata yang berkaca-kaca “aku sudah menduga dari dulu bahwa ada yang tidak beres dengan kematian ayah, aku akan balas dendam!” ucapku “maafkan ibu mendidikmu dengan keras sampai saat ini, karena kita tidak bisa mengalahkan yang kuat jika kita tidak memiliki kekuatan”. Aku tahu aku sudah menduga semua ini, aku tahu Ayahku bukanlah seorang pecudang dan akan ku buktikan itu.
Umurku memang 18 tahun tapi aku telah lulus kuliah pada umurku yang muda ini. Sejak SD aku sudah menjadi anak akselerasi sehingga aku bisa lulus diumur semuda ini, dan saat ini aku telah menyelesaikan studi hukum di universitas Indonesia dengan nilai cumloude, aku memang dididik sejak kecil untuk menjadi seorang jaksa dikemudian hari agar bisa menegakan keadilan terutama untuk kasus Ayahku dimasa silam. Kemudian tidak lama setelah aku lulus sarjana aku di pekerjakan di kejaksaan, dan aku pun mulai menyelidiki kasus meninggalnya Ayahku. Perlahan ku dekati orang-orang yang telah berlaku tidak adil kepada Ayahku. Pak tejo yang ternyata membakar peternakan babi kami yang bersekongkol dengan pak budi yang merupakan ketua di kejaksaan saat ini. Begitu tega dan hinanya mereka membuat keluargaku sengsara dan aku tidak bisa merasakan kasih sayang Ayah sejak aku lahir. Ku kumpulkan semua bukti untuk menjatuhkan mereka berdua. Namun kau tau? Mereka berusaha mencelakaiku mereka melakukan hal keji kepada para rekan yang membantuku bahkan saat ini aku terbaring di ranjang rumah sakit akibat kecelakaan yang ku Yakini kecelakaan itu terjadi bukan karena kelalayainku melainkan karena di sengaja. Segala strategi telah ku siapkan untuk menghancurkan kalian yang telah tega merenggut nyawa orang-orang yang tidak bersalah. Sampai akhirnya aku bisa menunjukan bukti yang sangat kuat untuk mereka berdua sehingga mereka berdua akhirnya di jebloskan ke dalam penjara dan divonis penjara seumur hidup.
“semua sudah selesai nak, mari kita ikhlaskan kepergian Ayahmu, Ayahmu pasti bangga melihatmu saat ini” begitu tutur Ibuku, semua omongan kasar dan pukulan yang ku dapat dari ibuku ternyata tidak lain untuk mengajarkanku betapa kejamnya dunia ini kepada kita yang lemah, kita yang tidak berkuasa, kita yang tak bisa membela diri di depan hukum, kini kita buktikan kepada dunia agar tidak menjadi seseorang yang lemah, dan terus bangkit dalam setiap keadaan. Ibuku bilang orang yang hebat bukanlah orang yang kuat dalam tinjunya melainkan orang yang dalam hidupnya terus di gencat dari segala arah namun ia mampu bertahan dan bangkit. Yah begitulah hidup, setelah ini mari kita hidup dengan lebih baik dengan harapan yang lebih baik tanpa ada dendam dihati, apapun yang terjadi hari ini dan beberapa tahun silam adalah pelajaran paling penting yang kami dapat selama hidup kami dan aku pun melepas kepergianmu Ayah. Selamat bertemu di syurga nanti