Sinar mentari jingga nampak indah dan hangat sore ini. Pantulan langit cantik terlihat di permukaan air danau. Beberapa angsa putih masih berkeliaran, berenang kesana dan kemari bersama kawanan atau anak-anaknya, bahkan mungkin bersama pasangannya. Kala itu menjadi pemandangan elok bak sebuah lukisan realistik.
Hanan bersama dengan sang kekasih hatinya, Nawa, telah duduk bersampingan sejak hampir 2 jam lalu. Terdengar lama, namun bagi keduanya itu waktu yang terasa amat singkat. Menghabiskan waktu bersama dengan obrolan acak adalah salah satu dari banyak hal favorit mereka. Sebut saja quality time. Menikmati keindahan alam bersama orang yang dicintai, bukankah itu hal yang istimewa?
"Besok udah mulai sibuk ngurusin tugas-tugas akhir semester," Hanan menoleh pada Nawa yang kemudian Nawa pun turut melihat ke arahnya.
"Terus kenapa?"
Bibir Hanan sedikit mengerucut. Pemuda itu menyandarkan kepalanya di bahu kiri Nawa. Ia menghela, "Ya sibuk, atuh. Aku jadi takut gak punya waktu banyak buat kamu, buat kita. Kayak gini misal."
Gadis itu tertawa kecil, tangannya mengusap puncak kepala Hanan beberapa saat, "Apa, sih? Gak masalah kan karena sibuk. Aku juga, kok. Kita kan satu angkatan, kamu pikir kamu doang yang sibuk?"
"Iya, tapi aku gak mau begitu."
"Gak mau begitu gimana?" Nawa mengernyit samar.
"Gak mau sibuk terus jadi jauh sama kamu." Hanan memeluk Nawa. Nada suaranya terdengar sedikit manja meski lirih. Siapa yang tak gemas dengan sikap Hanan kini? Nawa benar-benar merasa bahwa ia tengah bersama seorang anak kecil.
"Lebay. Bisa chat, bisa telpon, bisa video call, bisa ketemu langsung tanpa ijin atau ngomong dulu, bisa apa lagi, ya? Banyak tau. Toh kita masih satu planet, satu negara, satu kota, satu kabupaten, satu RT, satu RW. Rumah kita cuma selisih 10 rumah kalau kamu lupa."
Kepala Hanan bergerak mencari titik ternyaman di bahu kesayangannya, "Bukannya kita beda galaksi? Aku kan di galaksi Bima Sakti, kamu di galaksi Andromeda."
Keduanya terkekeh.
"Kok gitu ngomongnya? Kata siapa aku sampai Andromeda?"
"Kata om nya Adudu."
"Kapan? Dimana kamu ketemu dia?"
"Kemarin Minggu. Dia mampir angkringan depan rumah."
"Ngapain?"
"Mau nyari sate ati buat isterinya. Isterinya ngidam sate ati angkringan depan rumah aku katanya mah, Ay."
"Aneh-aneh pisan kamu teh." Keduanya tertawa lepas. Tak lama Hanan memeluk Nawa semakin erat.
"Beneran tau ish kamu mah..."
"Apanya?"
"Akunya."
"Emang selama ini kamu palsu?"
"Gak gitu, sayang. Maksudnya tuh beneran aku gak mau sibuk nugas mulu."
Jemari Nawa mencubit lengan Hanan main-main, "Ya udah nanti gak lulus. Kita malah makin jauhan soalnya kamu masih di sekolahan aku nya udah ngerantau kuliah. Mau?"
Hanan menggeleng, "Enggak. Emang mau kuliah dimana?"
"Di Pluto. Mau jauh-jauhan gitu, hah?"
"Jelek kamu mah ngerantau di Pluto. Aku kangen nanti."
"Biarin. Salah sendiri gak lulus."
"Salah kamu."
"Loh, kok aku?"
"Salah sendiri gak mau ngasih semangat. Kan aku jadi letoy belajarnya."
Nawa kembali tertawa, ia menggeleng tak habis pikir. "Percuma aku kasih semangat. Kamu disemangatin iya-iya doang habis itu juga tiduran lagi."
"Jahat."
"Biarin. Dasar bocil. Bilangin bunda, ya? Bundaaaa ni anaknya ngeyel."
"Gapapa aduin aja. Paling disuruh nikah doang."
"Dih? Nikah? Sama siapa?"
"Adudu. Ya kamu lah, sayaaaang. Pake nanya lagi. Cantik cantik ege." Hanan melepas pelukan, tertawa seraya menghindar dari pukulan main-main Nawa.
"Ege gini kamu tergila-gila, ya kan?"
Pemuda itu kembali bersandar pada pelukan gadisnya, "Iya, kata adek juga 'Itu si aa teh dibikinin rumah sakit korban Nawa' gitu katanya saking dia capeknya liat aku kayak orang gila di rumah kalau berurusan tentang kamu."
"Sinting beneran. Bisa-bisanya aku kena pelet kamu. Minta rahasia peletnya, dong."
"Buat apa? Buat pelet suami halu kamu itu?" tanya Hanan dengan nada kesalnya. Nawa hanya menahan tawa.
"Aku gak halu. Renjun kan emang suami aku. Kamu cadangan doang."
Hanan kembali melepas pelukan. Ia duduk dengan memeluk kedua lututnya yang tertekuk. Bibirnya mencebik. Kedua matanya menatap lurus. Melihat itu Nawa tertawa.
"Cieee ada yang cemburu, nih. Siapa, ya?" Nawa menoleh kesana-kemari berpura-pura tengah mencari sesuatu. Hanan berdecak sebal dibuatnya.
"Aku tuh kurang apa coba? Gantengan juga aku daripada dia. Yang bisa kamu peluk siapa? Aku atau dia? Yang selalu dengerin kamu ngoceh siapa? Yang selalu ada buat kamu siapa? Yang kenal kamu duluan siapa? Yang bisa cium kamu siapa? Yang siap sedia jadi samsak pas kamu lagi badmood apalagi pas PMS siapa? Yang sering bikin makanan buat kamu siapa? Yang antar-jemput kamu kemana pun itu siapa? Yang rela beliin seblak sambil hujan-hujanan siapa? Aku apa Renjun? Kurang apalagi coba?" jelas Hanan dengan cepat. Sementara gadisnya hanya tertawa sepanjang mendengar celotehan Hanan. Tidakkah pemuda itu mengerti ia begitu menggemaskan ketika sedang cemburu?
"Malah ketawa lagi. Jelek. Sana ke Pluto aja gak usah ke aku lagi. Bawa tuh Renjun mu yang gak seberapa itu. Sanah sanah! Gak usah chat aku lagi, telpon, atau nyamperin bunda biar aku maafin. Gak akan aku biarin bunda mau kerjasama sama kamu. Jelek," Hanan menjauhkan posisi duduknya dari Nawa. Bukannya meminta maaf atau membujuk, gadis di sampingnya justru semakin terbahak. "Sinting kamu, ay. Gak sayang aku lagi. Makasih 1 tahunnya."
"APASIH?! HAHAHA, HANAN!" Nawa tertawa lepas, ia menyeret tubuhnya untuk duduk mendekati Hanan. Lantas ia memeluk Hanan dengan gemas, "Gitu aja ngambek. Lebay. Aku sayang kamu loh masa disuruh pergi? Renjun emang nomor satu tapi kamu nomor 0."
"Kok 0? Gak ada nilainya berarti aku? Cukup tau. Awas ah jangan peluk aku. Peluk aja Renjun."
"Gak gitu, my big baby boy. Maksudnya kan 0 itu ada dimana? Sebelum 1 kan? Ya udah, berarti posisi kamu di situ." terang Nawa yang sesekali masih tertawa. Ia masih mencoba menahan rengkuhannya.
"Angka 10, 0 nya di belakang 1."
"Gak usah mancing emosi, deh, Han." Kemudian keduanya terkekeh dan kini Hanan balas memeluk Nawa. Menyalurkan rasa hangat dan nyaman satu sama lain. Lengang untuk beberapa saat.
"Nawa cantikku, aku beneran takut sibuk terus bikin kamu feeling lonely dan semacamnya. Aku takut sadar gak sadar nyakitin kamu seiring berjalannya waktu kita yang mepet-mepet kelulusan. Makin sibuk."
"Aku kan udah kasih tau di awal. Rumah kita cuma selisih 10 rumah, jaman sekarang udah canggih juga. Gak usah lebay, ih. Kamu mah kebiasaan hiperbola,"
"Aku tau, tapi aku takut aja. Serumah aja, yuk? Aku ajuin proposal ke Mama sama Ayah kamu. Pasti diizinin. Bunda pasti setuju terus bangga sama aku."
"Tau ah. Bukannya serumah biar fokus belajar malah gak bener."
Hanan meringis main-main, telunjuknya menunjuk Nawa, "Hayooo? Gak bener gimana hayoo? Kamu pikirannya jorok banget, aku yang cowok aja kalah. Ngeri,"
Selisih beberapa detik setelah berbicara demikian, pemuda itu mengaduh sakit menerima pukulan renyah dari Nawa.
"Ngaco. Aku sama kamu terus bukannya makin maju, makin waras, makin berkembang, malah makin sinting, makin pusing, makin gak bener, tau gak?" kesal Nawa. Gadis itu mendengus.
"Mang eak—eh eh iya iyaa maaf gak lagi gak lagiii, maaf sayang," Belum sempat meledek kembali, Hanan harus berusaha melindungi diri dari serangan tangan maut gadisnya. Ia masih sempat tertawa sampai pada Nawa berhasil mencubit paha Hanan cukup keras hingga sang Mpu mengaduh kesakitan. "Sayaaaaang! Sakit, beb. Kasian besok anak-anak kita kamu cubitin begini, aduuuh bengkak nih pasti nanti." telapak tangan Hanan mengusap-usap pahanya yang sakit berulang kali.
"Lambemu," Nawa melayangkan pukulan terakhir di lengan atas Hanan. Lantas ia melengos, "Ngeselin. Pulang ajalah sana!"
"Piling ijilih sini! Giliran ditinggal beneran, nangis."
"Gak."
"Masaaa?"
"Iya."
"Ya udah."
"Ya udah."
"Ya udah."
"Ya udah."
Keduanya kini terdiam. Sama-sama sok kesal dan jengkel. Mendiamkan satu sama lain dengan duduk lebih berjarak dan tak menatap satu sama lain lagi. Mereka saling merutuk dalam hati.
'Nyebelin, cowok gila, bikin emosi mulu, males.'
'Dasar cewek,'
Beberapa menit cukup lama, akhirnya keduanya pun sama-sama merasa jengah, tak betah terus bertingkah seperti anak kecil seperti sekarang ini. Meski begitu, pendirian serta ego mereka juga sulit diajak bekerjasama. Padahal ini kan hanya masalah sepele yang memang sejak dulu seringkali terjadi.
Hanan menghela, ia memutuskan untuk mengalah. Dengan ide cemerlang di otaknya, ia duduk mendekati Nawa lagi. Tersenyum kecil, jemarinya mengetuk-ngetuk bahu Nawa beberapa kali, "Nawa? Sayang? Hei? Beb? Ay? Hoi? Liat aku dooong..."
"Hmmm," Meski menjawab demikian, Nawa sama sekali tak bergerak.
"Eh, sayang?! Tolong, baju aku! Ada ulet bulunya! Ih, tolong, ay!" heboh si pemuda meski itu hanya akting. Hal itu berhasil memancing perhatian Nawa dengan cepat. Gadis itu bergerak kaget, menghadap ke arah Hanan dengan panik.
"Heh? Mana mana?! Mana, Han?!"
"Ini," Hanan tersenyum dan berhenti bergerak heboh. Ia mencuri kecupan di pipi Nawa. Keduanya terdiam saling tatap. Hanan yang masih tersenyum kesenangan, dan Nawa yang masih diam mencerna kejadian. "I love you, jangan ngambek, ya? Maaf. I love you too and more, sayang." Hanan mengecup pipi Nawa di sisi yang berbeda dari sebelumnya kemudian merengkuh tubuh yang lebih mungil darinya penuh sayang.
"HANAAAAAAAN!!! ORANG GILA!" teriak Nawa kemudian yang merona di dalam dekapan Hanan. Sementara sang pemicu sibuk tertawa seraya berusaha menenangkan kasihnya yang hendak tantrum itu. Sedikit perdebatan sebelum pada akhirnya sang gadis mengalah dalam diam. Keduanya berbagi peluk hangat. Berbisik saling cinta dalam kalbu. Mengirim sinyalnya melalui rengkuhan serta usapan ketenangan untuk satu sama lain. Seiring larutnya cahaya matahari di ufuk barat yang tak turut melarutkan kisah kasih asmara Hanan dan Nawa.