Gimana, gimana, gimana... Ucap seseorang yang muncul entah dari arah mana, dan tahu-tahu, ia dengan begitu sekonyong-sekonyongnya, sok aksi menepuk pundak seorang anak dara yang lagi serius mematukkan kedua biji matanya ke layar monitor laptop. Yang mana tepukan itu lumayan keras pula. Padahal ketemu juga baru, benar-benar sok akrab nih bocah!
Sunyi, nama anak dara yang sedang mematukkan kedua biji matanya ke layar laptop tersebut. Sunyi bereaksi dengan menjengkitkan kedua matanya.
Dia yang menepuk pundak tadi dengan tanpa sedikit pun rasa bersalah malah mengambil posisi duduk di sebelah kanan Sunyi sebab di sisi sebelah kiri Sunyi ada seorang yang lain yang duduk sambil memetik gitar kecil. Romi nama si pemetik gitar tersebut.
Hah... Terdengar hela nafas panjang dari si penepuk pundak tadi. Lalu ia pun berlagak dengan menggangguk-anggukkan kepala seturut irama yang keluar dari speaker laptop. Irama tersebut terdengar kencang dan menghentak-hentak disertai dengan suara lengkingan gitar yang lantang mengoyak-ngoyak kesadaran.
Metal... Pekik girang si penepuk pundak tersebut kemudian sambil mengacungkan tiga jarinya ke angkasa, siapapun tahu kalau itu adalah simbol khas dari para penggila musik keras tersebut.
Asik gak... Ucap si penepuk pundak tersebut. Sunyi hanya bereaksi dengan tolehan matanya, sejenak. Kemudian kedua biji mata itu kembali mematuk ke layar.
Si penepuk pundak tersebut tak ambil pusing ia malah teriak-teriak seturut irama lagi tersebut. Padahal gak jelas juga apa yang diteriakannya, tapi ia tetap saja berlagak, alias cuek bebek!
Hingga akhirnya Sunyi pun jengah kemudian berkata, "Loe serius mau bikin band atau loe cuma mau main teriak-teriakan doang! Apa jangan-jangan waktu loe kecil dulu loe tuh gak dikasih kesempatan untuk ngomong sama orangtua loe. Hingga akhirnya loe teriak-teriakan gak jelas gini!!"
Si penepuk pundak kaget, melongo bego. Si pemetik gitar, Romi, hanya terkikik kecil.
"Sayang bakat loe, Pret!!" Gerung Sunyi.
"Bakat!? Loe tahu apa tentang bakat, Cung!? Tapi by the way bus way thanks loe udah declare kalau gue punya bakat, sebelumnya... Loe orang yang pertama yang ngomong kalau gue itu punya bakat. Jangan kata bonyok gue, si Pleky anjing kecil kesayangan adik gue sampai mati muntah darah karena dengar gue bersenandung. Bayangkan itu masih bersenandung gimana kalau...."
"Iya dia bangkit dari kubur trus tuh anjing nampol kepala loe pake sendal," timpal Romi seraya meletakan gitar kecilnya ke lantai.
Sekonyong-sekonyong Sunyi ngakak, ngakaknya kenceng lagi. Bukannya kesal atau ilfil si penepuk pundak tersebut malah terlihat terkagum-kagum mendengar suara tawa kencang tersebut. "Pas! Loe pas banget! Pas banget! Loe pantas untuk jadi vokalis di band kita!!"
Sunyi menggeleng cepat. "Sorry Pret selera musik kita beda!"
Romi nyeletuk, " dari kemarin gue juga bilang apa!? Ini orang gak punya selera musik kayak loe!"
Si penepuk pundak itu mengangguk-angguk. "Gue tahu! Gue tahu! Gue tahu...!"
"Tahu, tahu, pala loe bau menyan," dengus Romi
"Kita punya selera musik yang sama kok," kilah si penepuk pundak menuding ke dirinya kemudian tudingan tangan tersebut berpindah ke Sunyi dan Romi. "Iya, sebenarnya sih baru kemarin-kemarin gue belajar selera musik loe dan ternyata gue juga menyukai jenis musik itu!" Si penepuk pundak manggut-manggut. Romi membelalak. "Masak sih,"
"Gue falling in love dengan jenis musik itu. Beneran! Suer tak kewer-kewer! Gue jatuh cinta dengan jenis musik itu!" Kata si penepuk pundak memastikan.
"Apa kata dunia, Bro. Seorang Freddy Mercury bisa-bisanya punya selera musik kayak begitu. Loe waras!? Semua orang tahu kalau loe itu. Lihat aja dandanan loe, metal abis!" Ucap Romi.
"Persetan dengan dunia! Hidup cuma sekali, Rom! Bukan begitu? By the way siapa nama loe!?" Si penepuk pundak mengulurkan tangannya.
"Sunyi." Si anak dara memperkenalkan diri. Si penepuk pundak manggut-manggut. "Gue, Freddy. Freddy Mercury."
"Pastinya Bokap atau nyokap loe ngefans dengan Queen kan!?" Ucap Sunyi menebak. "Bukan! Selingkuhannya emak gue!" Sahut Freddy Mercury dengan mimik muka serius. Sunyi ngakak. Romi menuding. "Itu benar! Emaknya sendiri yang ngomong ke kita sehari sesudah Bokapnya koit!"
"Jadi maksud loe, loe ini anak..." Sunyi pun tak sampai hati melanjutkan perkataannya. Tapi Freddy Mercury malah nyerocos. "Gak! Gue udah dapat stempel kok dari MUI! Malah besok gue dapat stempel dari depertemen agama! Apalagi burung Pipit gue sudah kena gunting!" Lagak Freddy Mercury. "Bukan begitu Rom!?"
"Seratus persen tidak mengandung b*Bi!" Romi cengar-cengir. Sunyi ngakak kencang lagi. "B*Bi sih nggak, celeng iya!" Kekeh Freddy Mercury.
Sunyi ngakak sambil mencengkram perutnya. "Loe tuh grup band apa grup komedi sih,"
"Hampir kita bikin grup komedi. Kalau bukan gara-gara... Pedihlah kalau harus diceritakan lagi." Ucap Freddy Mercury.
"Serius!?" Sunyi menanggapi.
"Iya satu kali kita pernah ikut lomba lawak setingkat provinsi gitu. Nah sebelum kita diminta mementaskan lawakan kita di atas panggung, kita diaudisi dulu kan di sebuah ruangan. Nah, sewaktu kita diaudisi itu, si penilai awal itu mengatakan pada kita, dengan rasa hormat yang teramat sangat, begitu bilangnya, kita ini lebih pas jadi demonstran ketimbang ngelawak!" Ucap Freddy Mercury.
"Kok!? Bukannya grup metal atau... Kok malah jadi demonstran!?" Sunyi kebingungan.
"Loe pasti mau bilang kita ini juga pantas jadi boyband kan!? Kayak boyband negri ginseng gitu!? Benarkan!?" Selidik Romi sambil memainkan mata.
Sunyi menggeleng geli.
"Lah gimana gak dibilang demonstran wong materi lawakan kita itu terang-terangan menyindir penguasa. Lucu juga nggak!!" Kekeh Freddy Mercury.
"Emang lawakan loe gimana!?" Tanya Sunyi.
"Nih biar kita kasih tahu loe satu rahasia, kalau loe tahu loe pasti kaget. Loe ingat nggak pelawak senior yang diamanakan karena peristiwa uang lima ratusan itu!?" Ucap Freddy Mercury. Sunyi mengangguk.
"Itu materi lawakan kita. Si pelawak senior itulah yang ngomong ke kita, kalau kita itu lebih pas jadi demonstran ketimbang jadi pelawak!" Romi melanjutkan.
"Masak sih," Sunyi membelalak.
"Maka dari itu kita jadi frustasi, banting setirlah kita bikin duo band metal. Isinya iya kayak begitu itu." Ujar Freddy Mercury.
"Kenapa gak jadi demonstran!?" Sunyi penasaran. Freddy Mercury mendengus. "Loe nanya!?"
Sunyi mengangguk geli.
"Emak gue masih penasaran dengan masa depan gue!" Dengus Freddy Mercury. "Gak tahu kalau si Romi."
"Bapak gue, dari gue masih segede upil, udah mensugesti gue, kalau gue ini adalah orang yang pantas jadi penerus lengkingan gitar si raja dangdut. Ingat, bukan si raja dangdutnya, cukup lengkingan gitarnya!" Ujar Romi.
"Maka dari itu gue itu ngajak loe gabung ke kita untuk mewujudkan impian dari Bokapnya si Romi." Ucap Freddy Mercury.
"Loe serius Fredd!?" Sekonyong-sekonyong Romi membelalak. "Bahkan gue udah punya nama buat grup band kita. "Ucap Freddy Mercury.
"Emang namanya apa!?" Tanya Sunyi. "D'Band!" Kata Freddy Mercury. "Apaan tuh!?" Romi penasaran. "D' Band alias Dangdut band!" Terang Freddy Mercury.
Romi dan Sunyi ngangguk serempak. "Akur!!!"