Hahahaha... Hahahaha... Hahahahahahah... Begitulah lagak setiap murid di ruang kelas itu setiap kali ibu ataupun bapak guru bertanya tentang cita-cita mereka kelak dikemudian hari. Iya, mereka akan ngakak sengakak-ngakaknya, kencang sekencang-kencangnya, terbahak serterbahak-terbahaknya, perihal itu terjadi kala giliran seorang anak dara diminta untuk menyebutkan cita-citanya.
Anak dara itu bernama Rossi tetapi teman-teman sekelas memanggilnya Ochi. Panggilan tersebut sesuai dengan permintaannya diawal pembukaan kelas dahulu. Katanya, itu nama panggilan sayangnya di rumah. Dan sepengakuannya juga ia kurang menyukai panggilan Rossi karena terlalu umum, begitu omongnya.
Ochi seorang anak kutu buku setidaknya itu terbukti dari kacamata tebal yang menempel di kepalanya. Dan akibat dari kutubukunya seorang Ochi setiap kali pembagian raport ia selalu diganjar dengan predikat juara.
Iya, Ochi selalu diganjar juara kelas, juara satu dikelas, dan belum tergoyahkan hingga ia menginjak kelas dua belas. Sebenarnya dia diminta untuk mengambil kelas akselerasi tetapi ia menolak, tegas malah.
Katanya, ia hanya ingin menikmati masa-masa sekolahnya ketimbang untuk menuntut dirinya. Iya menuntut diri menjadi lebih baik, lebih hebat, atau menjadi lebih pintar dari yang lainnya.
Katanya lagi, pintar itu cuma akibat bukan sebab. Hal tersebut akibat dari saya melakukan sesuatu yakni, belajar dan membaca, itu saja.
Jadi, saya gak mau kalau hal yang sangat saya sukai itu menjadi sesuatu yang saya benci, hanya karena saya menuntut diri saya untuk lebih berprestasi dari orang lain. Gimana terbukti kalau Ochi itu bukan anak yang sembarang.
Saking tidak sembarangnya anak dara ini pun punya cita-cita yang tidak sembarang juga. Iya, dia punya cita-cita yang diluar kebiasaan anak-anak sebayanya. Pastilah semua orang tahu apa kira-kira cita-cita anak seumuran begini, paling banyak itu iya jadi: dokter atau tentara. Tapi kalau Ochi berbeda. Padahal sesungguhnya, ia sungguh sangat pantas untuk bercita-cita jadi seorang dokter, dokter spesialis saraf pun pantas. Tapi Ochi malah bercita-cita yang lain, ia bercita-cita menjadi seorang pemulung!
APA!? Iya, Ochi si anak dara yang pintar itu bercita-cita jadi seorang pemulung! Dan perihal ini pun telah ia dengungkan sedari ia duduk di bangku taman kanak-kanak alias TK.
Seorang anak dara yang pintar dan juga berasal dari keluarga yang... Bayangkan saja tempat ia menimba ilmu itu sedari taman kanak-kanak hingga lanjutan atas begini adalah sekolah swasta yang punya embel-embel kata Internasional dibelakangnya, jadi cukup tahulah kalau dia ini berasal dari keluarga yang mapan, sangat-sangat mapan malah!
Kenapa harus jadi seorang pemulung!? Entah sudah berapa kali para guru mempertanyakan hal tersebut dari yang awalnya cuma iseng hingga sampai dari mereka yang ingin mengubah cita-cita tersebut. Dengan cara mencuci otak si anak dara tentulah. Tapi dengan santainya si anak dara berucap, lebih pasnya bertanya balik, kenapa harus jadi seorang dokter!?
Tentulah memunculkan perdebatan. Hingga semuanya berujung pada satu pertanyaan pamungkas, "Lalu dimana letak ketidak kemuliaannya seorang pemulung!?"
Setelahnya para guru itu cuma terdiam seribu bahasa. Terlebih setelah Ochi berucap kayak begini. "Bukan salah mereka jika mereka menjadi miskin, mereka hanya tidak diberitahu bagaimana menjadi kaya dari menjadi seorang pemulung. Sesungguhnya itu kan yang kita mau, menjadi kaya dari apa yang kita cita-citakan, meski hal tersebut pun tidak diajarkan secara terang-terangan di bangku sekolahan, malah kita menyamarkan atau bungkus dengan hal-hal yang berbau surga. Katanya dengan menjadi dokter bisa menolong orang yang sakit padahal... seberapa banyak dokter-dokter di negara ini yang benar-benar menolong. Katanya lagi, dengan menjadi tentara kita bisa membantu menciptakan kedamaian di dunia, sesungguhnya perang didunia didasari oleh apa, bukankah salahsatunya karena perlombaan senjata!? Capek-capek belajar kok hanya untuk menjadi kaya, padahal menjadi kaya bukan sesuatu hal yang sulit, kita tinggal memiliki sesuatu yang disebut dengan produk, kemudian sesuatu yang kita sebut dengan produk tersebut kita jual di pasar, itu saja. Semestinya kita hidup itu hanya harus memberi manfaat kepada kehidupan itu sendiri gak lebih gak kurang. Terserah kita ingin bercita-cita menjadi apa tapi muaranya cuma satu adalah bermanfaat bagi sekitar kita. Dan menjadi seorang pemulung itu bermanfaat, bukan sekedar cukup, tapi sangat-sangat bermanfaat mereka adalah pahlawan lingkungan, setidaknya buatku!"