Riko tidak paham, apa maksud dari Liora tentang perkataan nya barusan, mengapa dia mengatakan jika umurnya tidak panjang. sedangkan bidan itu tampak menyembunyikan sesuatu dari dirinya.
" sudah, sana pergi. " usir Liora . Tapi Riko tidak begitu saja pergi, tatapan matanya mrngarah pada bidan itu. Sepertinya ada yang aneh. Seharusnya Riko tidak kepo dengan apa yang Liora alami, tapi jika keluarganya saja tidak tahu apakah keluarganya akan menelan pil pahit jika suatu saat ada kabar yang kurang enak datang dari Liora?
" Tapi, "
"Pergi, atau aku yang pergi... " Riko tampak harus memilih salah satu pilihan
dan dia memilih untuk pergi, karena tidak mugkin jika menyuruh Liora yang pergi.
Riko pergi namun sebelum pergi dia melirik ke arah Liora yang masih terbaring dan tanpa mengatakan apa pun.
" Dia teman mu?"
" teman? Tampaknya bukan? "
" Tampaknya kamu harus memberitahu kan orang tuamu mengenai penyakit mu ini. " Liora menggeleng, tidak akan ada yang perduli, terutama ayah nya, yang di utamanakan ayah adalah prestasi yang bukan tentang kesehatan Liora.
" Tidak... " jawaban yang selalu Liora katakan pada wanita ini.
" Apakah nantinya orang tuamu tidak akan menyesal mengetahui keadaan mu yang sekarang?"
" Mereka tidak perduli, yang aku khawatir kan saat aku sakit pun harus di paksa untuk belajar. " Bidan itu tampak bingung bukankah prestasi dari Liora sudah cukup baik? Lalu apa lagi yang harus dia lakukan?
" Prestasi mu, buka lah sangat baik dan kamu juga masuk sepuluh besar di setiap kelas?" Liora tertegun karena yang orang tua ya inginkan adalah juara satu di setiap kelas dan bukan di kelasnya saja. Tampaknya dia harus berjuang lagi dan menghadapi penyakitnya sendiri, tapi yang jelas mengapa Riko selalu saja menganggu hidupnya?
"Sudah lah.... Dokter tidak akan mengerti. " Liora mencoba untuk bangkit dari tempat tidurnya seperti nya dia akan merasakan sakit lagi jika terus berbaring seperti ini. Liora harus kembali ke kelas tidak boleh sampai ketinggalan pelajaran.
" Ingin pergi ke mana?"
" Kembali ke kelas... "
" Dengan keadaan mu yang seperti ini? Kamu harus istirahat, "
Liora tidak mau mendengar kan apa yang dikatakan bidan itu, Liora kembali ke kelasnya, tampak guru menatap Liora dengan lirikan mata yang tidak percaya?
𝙰𝚙𝚊𝚔𝚊𝚑 𝚊𝚗𝚊𝚔 𝚒𝚝𝚞 𝚜𝚞𝚍𝚊𝚑 𝚋𝚊𝚒𝚔𝚊𝚗? 𝙰𝚝𝚊𝚞𝚔𝚊𝚑 𝚍𝚒𝚊 𝚖𝚎𝚖𝚊𝚔𝚜𝚊𝚔𝚊𝚗 𝚍𝚒𝚛𝚒 𝚕𝚊𝚐𝚒?
Memang guru itu tidak mengutarakan pikiran nya namun dia hanya melihat dan memandang anak itu dengan gelengan kepala.
Sambil melihat ke arah Liora hingga jam pelajaran ke empat usai. Guru itu melirik dari kaca sebelum meninggalkan kelas. Liora tampak diam mendengarkan saja, tidak ada yang di keluhkan selama jam pelajaran ataukah anak itu menahannya dengan berbagai cara.
Ayah sudah melihat ke arah Liora yang main asal masuk dalam rumah dan tanpa mengucapkan salam padanya, anak ini semakin hari semakin parah saja etikanya.
" Apakah orang tuamu mengajarkan mu kurang ajar! Hah! " Liora menghentikan langkahnya yang gontai.
Tidak ada jawaban dari Liora, dia melangkahkan kakinya lagi padahal ayah nya sudah memberikan kata kata yang seakan menyendir dirinya, namun tampaknya tubuhnya yang engan untuk menanggapi apa ucapan yang selalu keluar dari mulut ayah.
Jika kakak yang pulang pasti di sambutnya dengan sapaan yang hangat, tidak seperti dirinya, pasti akan kena marah, hah tidak mau jika harus mencari perhatian ayahnya.
"Sudah pulang, ganti baju dan makan, " Liora mengangguk ketika ibu mengatakan hal yang biasa terdengar saat dia pulang dari sekolah, berbeda dengan ayah yang menyindir nya tapi tidak di masukkan dalam hati...
" Mengapa kamu lama sekali mengganti baju? Pasti main ponsel lagi kan? " Walaupun di meja makan seperti ini pasti Liora yang akan kena omelan. Kapan sih ayah akan mengerti akan dirinya?
" Ayah, sudahlah jangan seperti itu... " Ibu membela Liora. Namun ayan tampak tidak senang akan hal itu.
" Kamu loh bu, selalu saja seperti ini, lihat semakin hari anak ini selain tidak sopan sana. " Viola melirik ke arah adiknya yang diam tanpa suara.
"Dek, jangan di ambil hati ya, ayah memang seperti itu. " Viola mencoba untuk memahami adiknya namun Liora tak menanggapi dan hanya makan makanan yang di masak ibu untuk nya.
Setelah selesai makan Liora segera pergi meninggalkan orang tuanya dan kakaknya yang masih makan.
" Kan kurang ajar tuh anak... "
" Ayah, sudah lah.... " Liora hanya mendengar kan saja ketika ayah masih saja mengatakan hal buruk tentang dirinya, tidak ada air mata yang jatuh dari pipi Liora, tampaknya hal ini biasa terjadi.