Bagaimana jika tiap hari ada belatung didapurmu? Setiap hari selalu ada belatung. Padahal tidak ada bangkai sama sekali.
Ini lah yang aku rasakan selama 3 bulan terakhir di rumah baruku.
Belatung mengeliat di lantai tiap kali aku bangun pagi.
"Ini bangkai dari mana? Plapon juga ngak ada! Si Moza juga gak suka makan bangkai tikus. Udah di bedah semua rumah tetep ngak nemuin bangkai. Tapi kok ada ni belatung. Dari mana Asalnya,"
Aku bergumam sendiri melihat belatung di lantai dapurku, yang tengah mengeliat - geliat. Geli? Pasti iya.
Ku putus kan, untuk menyapu belatung - belatung itu hingga bersih tak tersisa.
"Awas aja kalau besuk ada lagi tak bakar jadiin ulat sagu goreng,"
"Ada apa sih? Pagi - pagi kok ngedumel sendiri? Apa lagi Yank? Belatung?"
Suara suami ku satu ini memang mengelegar bak guntur di tengah hujan. Bagaimana tidak! Istrinya tengah memarahi belatung - belatung itu. Eh dia nongol tanpa Assalamualaikum.
"Untung Mas bojomu iki ngak punya riwayat jantung! Kok ada tadi wes kejet - kejet. Jangan ngagetin napa,"
Buk.. Ku pukul pundak suami ku itu dengan pelan.
"Lah hampir tiap hari kamu selalu ngedumel perkara belatung,"
"Lah memang tiap hari ada belatung kok Mas di dapur itu, tauk lah dari mana asalnya,"
"Mangkane kalau ada makanan basi buang jangan di simpen yo. Iku yang bikin belatungan,"
"Ya allah. Wong sudah kelewat itu kejadian e. Kok sek di bahasi ae! Kan itu nasi pemberian Ibuk mu. Malam di kasih kok pagi udah ada belatung nya,"
"Yo ngak mungkin lah Ibuk ngasih makanan basi. Wong aku ini anak kesayangan e! Jangan ngaco kamu itu! Mentang - mentang jadi Istri sekarang se enaknya bilang yang engak - engak tentang ibuk,"
"Kamu kalau ngak percaya yo wes! Aku ngak ngotot! Ngak nyuruh kamu percaya. Pokok e wes tak bilangin. Memang iku ibuk mu! Tapi kok lebih sayang ponakan dari pada cucu sendiri,"
"Mboh lah! Awakmu nek di bilangi wong lanang yo ngunu iku. Ngeyel ae!"
Brak..
Suami ku pergi.
"Minggat o lek pulang bawa uang seng banyak,"
Ujarku pada lelaki yang menghidupi ku selama 5 tahun terakhir. Memang rumah tangga kami tak luput dari cekcok kecil, dengan gaya bahasa yang agak kasar.
Suamiku adalah tipe orang yang jika seorang ibu bisa di sembah selain tuhan. Ia akan menyembah ibunya. Meskipun ibunya sangat pilih kasih dengannya. Tidak mengangap anakku sebagai cucu. Dan hanya mengangap suami ku jika kesusahan.
Tidak terlalu aku pikirkan. Toh sepulang kerja ia akan amnesia, hilang ingatan seperti biasanya. Datang dengan cengar - cengir. Seakan tadi pagi tidak ada pertengkaran di antara kami.
"Gimana Nik? sudah kau tanyakan pada orang pintar kah?" tanya seorang tetanggaku yang menghampiri ketika aku menyapu teras.
"Astaufirullah Mbak Leha! Tadi pagi Mas Adam sekarang Mbak Leha. Lama - lama saya punya serangan jantung beneran ini Mbak," sambi aku mengelus dada menetralkan jantung yang hampir copot.
"Yo maap tah Nikmatul Az-zahro. Aku ngak tahu kalau kamu punya jantung lemah," Sambil nyengir menunjukkan deretan gigi yang di pagar rapih takut di colong maling.
"Loh .. Ngerayu kan! Pakek pangil nama, di lengkap - lengkapin pulak! Ngak terpengaruh aku! Ngambek ini ngambek aku,"
Aku berpura - pura melipat dada.
"Nik .. Ojok ngambek talah Nik! Aku mintak maaf yo," tangannya memegang tangan ku yang sedang terlipat dan wajah memelas. Mbak Leha sukses membuatku tertawa.
"Hahahha.. Aku lo ngak marah mbak tadi! Tapi pengen saja ngerjain Mbak Leha," aku terpingkal - pingkal memegang i perutku yang kaku.
"Bocah edyan.. Wani - wani ngerjain orang tua! Awas yo kamu gak tak kasih tahu campur Julehah. Beli pun ngak boleh. Aku BLACK LIST dari daftar pelangan warung ku,"
Mendengar ancaman Mbak Leha. Aku pun menciut, bagaimana bisa tak makan tahu campurnya. Bahkan di kampung Wuluh ini tahu campur Mbak Leha terkenal juara.
"Ora Mbak .. Ora ampun tenan. Jangan di black list yo mbak,"
"Yo wes ngak Mbak Black List. Tapi pertanyaan Mbak tadi belum kamu jawab? Jadi ngak tanya ke orang pinter,"
Aku sedikit tertegun menangapi Mbak Leha, sudah beberapa kali ini beliau menawarkan untuk mengentarku ke dukun. Guna melihat siapa yang mengirim belatung - belatung itu di rumah.
"Aku masih belum kepikiran kesana Mbak! Toh kalau aku nanti tahu orang e. Aku bakalan benci banget ke dia, mending ngak tau aja lah,"
"Ini mumpung belum Nik .. Tahu sendiri kan kalau Teluh Santet dan teman - teman e itu berbahaya,"
"Iyo aku paham Mbak, tapi aku loh wes ngak mau berhubungan dengan dunia mistis. Mbak tahu kan critaku. Matabatin ku di tutup sampek aku di doa - doa in Mbah ku!"
"Iyo tahu Nik seng kamu ngelihat mata merah menyala pas mati lampu itu kan,"
"Iya Mbak! Dari situ aku trauma ngak mau urusan dengan mereka. Ya meskipun kadang tubuhku sedikit peka, tapi pengelihatan ku seperti orang buta. Ngak bisa melihat mereka dengan jelas,"
"Ya sudah Nik .. Aku nih sebagai duta tetangga baik, wes mengingatkan kamu dan merekomendasikan kamu untuk ke dukun. Tapi kalau kamu ngeyel ndak mau ngak papa! Jika suatu saat butuh bantuan jangan sungkan pangil Mbak Leha,"
Mbak Leha pergi dengan raut yang sedikit kecewa. Aku juga tidak enak, karena tidak mendengarkan kata Mbak Leha tentang ke Dukun. Aku masih trauma takut.
Karena Mbah ku pernah berkata.
"Sesok akan ada 1 orang dalam 1 generasi yang bisa melihat mereka. Di generasi ini sudah ada kamu, nanti di generasi berikutnya akan ada lagi. Entah itu anakmu. Anaknya Sari (adik ke 2 ku). Anak e Rama (adik bungsu ku).
Saat itu dengan bercandaku! Aku menjawab kakeku.
"Terserah mau anak e Sari atau Rama yang penting bukan anakku,"
Mendengar itu Kakekku hanya tersenyum dan memandang ku.
"Astaufirullah Mbah .. mugo ojok anakku Alfatihah Mbah Taram," aku kembali masuk rumah setelah menyelesaikan menyapu di teras.
Kemudian aku melihat anakku yang baru bangun. Namanya Nahda usia 3 th.
Sekeras apapun kamu menghadang ombak, suatu saat pasti akan lolos juga. takdir jangan di tolak. Ujian jangan di ratapi.
Itulah pepatah yang tepat untuk mengambarkan kehidupan ku. Sekeras apapun aku meminta jangan sampai anakku bisa melihat mereka.
Ternyata allah kabulkan. Anakku bisa melihat mereka, dan bisa menjabarkan bentuk mereka dengan jelas. Seperti yang terjadi ketika Nahda berumur 2,5thn.
Saat itu Ayahnya tengah melaksanakan sholawatan di kampung sebelah. Pulang nya sudah pasti malam, aku hanya berdua dengan anakku.
Waktu itu aku belum pindah ke rumah ini! Tapi masih mengontrak di rumah yang pemiliknya sudah meningal dan anaknya tidak mau tingal di situ dengan alasan tidak bisa tidur berisik orang ronda di pos.
Malam itu seperti malam biasanya. Tampak berbeda ketika memasuki ba'da sholad isya'. Di dekat kamar mandi yang bersebelahan dengan kamarku. Terdengar suara garukan.
Garukan mengaruk tembok. atau lebih tepatnya mencakar tembok. Dan anakku bertingkah sangat aktif biasanya habis isya' langsung tidur ini hingga jam 10 malam belum tidur masih melompat - lompat di kasur.
Susu sudah habis 4 botol besar uk 250ml. tapi belum juga ada tanda - tanda mau tidur. aku mulai gelisah ku tenang kan hatiku aku pikir itu hanya suara tikus.
Pindah ke kamar sebelah, kamar tempat menyimpan barang - barang pemilik rumah yang belum juga di angkut. Tok .. Tok .. Tok .. Tok .. Ketukannya konstan teratur seperti ketukan manusia.
Mana mungkin samping kan gudang. kalau pun orang iseng harus masuk melewati ruang tamu dan melewati kamarku untuk ke gudang itu. pikirku saat itu, ketukan itu semakin keras berirama hingga anakku menunjuk pojok kamar yang bersebelahan dengan kamar yang di jadikan gudang itu.
"Buk .. Buk .. Tihat tihat ada yang gini buk.. olopat .. olopat .. olpat unu buk," dengan bahasa khas anak balita.
Bagaimana gak panik anak usia 2,5thn gak pernah lihat youtube aneh - aneh bisa memperagakan gerakan POCONG. tangan di lipat ke depan dan melompat - lompat.
Aku membacakan ayat kursi. Aku kirimi fatihah pada pemilik lama rumah ini, dan akhirnya ganguan itu reda.
Hingga sekarang Nahda bisa menjabarkan apa yang di lihatnya.
"Astaufirullah hal Adzim semoga saja keluargaku di jauhkan dari marabahaya dan mereka yang jahil," aku beristifar ketika tersadar dari lamunan.
Aku memandikan anakku seperti biasa mengajaknya main dan sore. Menunggu Mas Ahmad pulang, deru suara Motor mengakhiri penantian ku.
"Da .. Itu loh ayah pulang," saat aku beritahu kaki kecil gadis berusia 3 tahun itu dengan lincah menuruni kasur dan berlari kedepan menyambut kedatangan Mas Adam.
"Ayaaahhhh," suara yang di rindu kan ketika Mas Adam pulang.
"Aduh .. Anak gadis ayah sekarang sudah tambah besar. berat sekali sekarang ini pipi tambah montok!"
Sambil menyubit gemas pipi Nahda.
Sore seperti biasa kita berkumpul dalam kamar. Hingga tidak terasa sudah pukul 10 malam.
"Nduk bubuk yuk! Sudah malam! ini lihat sudah gelap," Aku berusaha membujuk anakku untuk tidur.
Sekeras apapun aku membujuk Nahda tidak mau tidur, ia terus memandang pintu ke arah dapur serta berbicara.
"Dia jahat buk.. dia jahat.. dia kiriman orang jahat," Anakku terus mengumamkan kata itu.
Mas Adam mengambil segengam garam kasar di bacakan surah - surah ruqyah kemudian menaburkan garam yang di gengam tadi ke sekeliling rumah.
Nahda anak yang mulai dari kecil tidak pernah rewel dan tidur larut malam. Malam ini ia menanggis sampai sesengukan hingga tidur pun ia masih mengigau mengumamkan kata yang tidak bisa terdengar jelas.
"Mas bagaimana? Ini sudah menyangkut anak kita. Apakah akan kita biarkan saja,"
Bara dalam dadaku sudah berkecamuk, siapapun orang yang mengangu keluargaku akan aku lenyapkan. Bahkan ia berani menggangu ketenangan anakku, aku bertanya pada Mas Adam. Karena Mas Adam adalah kepala rumah tangga.
Aku tidak mau mengambil keputusan tanpa persetujuan dari Mas Adam. Terdiam sesat, aku sedikit ragu kalau Mas Azam mengangap ini masalah enteng.
"Kita ke Gus Adi ya! Aku butuh nasehat dari dia," Aku menganguk setuju.
Ke esokannya kita ke sana! Ke kediaman rumah Gus Adi teman Mas Adam semasa SMA, tapi beliau ini adalah putra pemilik pesantren terbesar di daerah kami dan sekarang mengikuti jejak Alm. Bapaknya mengelola pondok pesantren tersebut.
"Assalamualaikum Gus," Ucap suami ku.
"Alhamdulilah sudah aku tunggu kedatangan, mu! Dam,"
Deg.
Aku dan Mas Adam saling berpandang - pandangan. bagaimana bisa Gus Adi menunggu kedatangan kami?
Tak ada percakapan apapun tiba - tiba Gus Adi mendekat ke arahku menyentuh kening Nahda. Dan membacakan sesuatu.
"Untung saja Dam .. Anakmu ini cerdas melihat apa yang akan di lakukan mahluk itu! Kalau telat tadi malam Istri dan Anakmu pasti sudah di rebut Ruh nya,"
Aku semakin terkejut dengan pernyataan Gus Adi prihal yang di alami oleh Nahda.
"Terus bagaimana? Bagaimana mengembalikan ke tentraman rumah tangga ku?" Mas Adam terlihat putus Asa.
"Hanya istrimu yang bisa!" Gus Adi melihatku dengan tatapan tajam. Begitu pula Mas Adam melihatku dengan tatapan heran.
"Kenapa saya? Saya tidak bisa melakukan apa - apa! Saya tidak bisa apapun," ku peluk erat Nahda.
"Jangan terus menidurkan serigala yang ada dalam tubuhmu! Jika suatu saat ia bangkit. Dan kau belum siap mengendalikan! Kau akan menjadi gila,"
"Maksud Gus? Mata batin saya? Bukan kah itu sudah tertutup lama,"
"Memang bahkan ketika kau menikah dengan teman ku Adam. Serigala ini masih tertidur, entah karena ada yang mencoba membunuhmu ia memberontak ingin bangkit menguasai tubuhmu! Bukan kah engkau merasakan panas ketika menyentuh tanah pondok pesantren ku,"
Aku menganguk mengiyakan apa yang di katakan oleh Gus Adi adalah sebuah kebebaran. Aku merasa mulai tak nyaman pada tubuhku.
"Kendalikan dia! Kalau kau mau segeralah mengambil wudhu kita lakukan sholat. Dan Ruqyah untuk mengendalikan mahluk yang di bawa oleh leluhurmu,"
Aku melaksanakan semua yang di katakan oleh Gus Adi. Mulai di ruqyah badanku panas! Aku mulai kehilangan ke sadaran. Tubuhku terasa ringan kemudian aku merasa berada di ruang hampa. Di temani oleh se ekor serigala.
"Kau kesini mau mengajak ku damai? Atau kau akan membuat mati orang yang ingin membunuhmu?" ucap serigala itu.
Awalnya aku sedikit kaget karena seekor serigala bisa berbicara. Tapi segera aku netralkan rasa terkrjutku.
"Aku tidak menginginkan seseorang itu meningal aku ingin seseorang yang mencelakai aku itu mendapatkan balasan yang stimpal,"
"Hahaha.. Sungguh naif kau. Baik lah untuk kali ini akan aku bantu kau,"
Aku dibawa ke sebuah gubug dimana dukun laknat itu melakukan hal keji nya. Asap kemenyan membumbung memenuhi ruangan hingga sesak dan berhamburan keluar rumah.
"Apakah kau ingin masuk?" tanya Serigala itu, aku pun menganguk
Entah kekuatan datang dari mana. Aku menendang pintu itu dengan lembut dan yang terjadi pintu itu langsung terbuka dan hancur menjadi 4 bagian.
"Kurang ajar! Beraninya kau masuk ke dalam wilayahku," ucap Dukun itu dengan mengacungkan keris.
Pakaian serba hitam dengan ikat kepala khas jawa. seperti itulah gambaran Dukun biad*p ini.
Amarahku membuncah aku menyerang Dukun itu dari segala Arah pertarungan begitu sengit. Kadang aku yang terkena pukulan kadang juga dukun itu yang terkena pukulan ku.
Hingga di akhir kita mengeluarkan power kekuatan dalam level maksimal. Aku terpental menabrak dinding kayu milik Dukun itu. Sedangkan Dukun itu terpental hingga keris yang ia bawa menancap sendiri ke dalam jantungnya.
"Am .. Ampuni aku! Aku hanya di suruh! Aku akan membawamu pada orang yang menyuruhku. Aku akan memberi tahu orang itu padamu,"
"Aku tidak perduli selesaikan urusanmu dengan klien mu! Aku kesini hanya memberi peringatan padamu,"
"Kau mengingin kan aku memberi pelajaran pada orang itu,"
Amarahku kembali membuncah ketika ingat bahwa yang di serang juga anakku. Kalau hanya aku! Mungkin aku akan mengampuni dan memaafkan tapi ini anakku.
"Buat dia Stroke! Buat dia lumpuh biar dia merasakan perbuatannya di dunia. Aku tidak berhak menghukum nya lebih lanjut. Hukum tuhan lebih adil,"
Selesai mengatakan itu. Tubuhku bak seperti tersedot ke dalam sebuah lubang. Saat aku membuka mata ternyata Gus Adi Mas Adam. Juga anakku tengah menungguku.
"Uhuk .. Uhuk .. Hueekk," Aku memuntah kan berteguk - teguk cairan berwarna hitam. Mungkin bekas luka dalam di pertempuran tadi.
Gus Adi memberiku air putih tak lama keadaan ku mulai membaik.
"Bagaimana Nik? Apakah kamu sudah mengetahui orangnya? Tidak Mas aku hanya mengetahui dukun suruhannya. Dan sekarang dia sudah Mati,"
Aku sengaja tidak memberitahukan Mas Adam. Untuk membuat Stroke orang yang mencelakai aku. Kalau pun aku bilang pada Mas Adam pasti ia tak setuju.
Tapi aku ingin tahu siapa yang senang jika aku mati? dan yang mengingin kan aku mati.
Sepulang nya dari rumah Gus Adam. Aku istirahat di rumah Nahda pun tertidur pulas di kasur.
Tak lama telepon Mas Adam berdering. Saat aku lihat tertera DANI itu nama adik bungsunya.
"Tumben anak itu menelpon. Biasanya hanya tahu mintak uang saja tanpa perduli ekonomi kakaknya," Batin ku hanya melihat tanpa ada itikat untuk mengangkat.
"Nik.. Ada telepon kok ngak kamu angkat?"
"Aku lemas sekali mas! Tak tahu badanku terasa remuk," kilah ku pada Mas Adam.
"Halo Ada apa Dan?"
------------
"Apa? oke aku akan segera ke sana," terlihat raut panik dari wajah Mas Adam
"Ada apa Mas? Kenapa seperti panik? Apakah Dani kecelakaan lagi mengunakan motor temannya,"
"Tidak Nik .. Ibu Nik .. Ibu .." Mas Adam tidak meneruskan kalimatnya malah tergugu menangis.
"Ada apa dengan Ibuk? Apakah Ibuk sakit? Tapi kemarin baik - baik aja. Malah aku melihat beliau membeli gelang baru di toko emas,"
"Ibu jatuh di rumah sakit Nik.. sekarang Ibuk koma butuh biaya banyak. Sedangkan kamu tahu kan? Aku habis melunasi utang Alm.bapak 16juta,"
"Aku tahu kok Mas. Kan uang ku masuk juga! perhiasan ku juga kamu jual,"
"Terus bagaimana dengan Mas Setya dan Mas Bekti? Apakah kedua kakak mu itu mau membantu?"
Mas Adam mengeleng.
"Apa kita mengajukan pinjaman saja ya Nik?"
"Oh tidak TIDAK! Aku tidak mau. Cukup 5 tahun kita hutang terus. 1.kematian bapak Ibuk ngak mau mengeluarkan uang untuk tahlilan 2.Bapak meningalkan hutang begitu banyak hanya kamu yang melunasi. Dan itu semua gak nampak di mata Ibuk dan Adikmu yang kek Dajjal itu. 3. Sekarang kita mau hutang lagi! Ngak aku ngak setuju,"
"Terus gimana Nik?"
"Kita jual perhasan ibuk! Toh untuk berobatnya ibuk sendiri,"
"Kamu kok tega Nik jual perhiasan ibuk. Itu kan uang Ibuk Nik," Mas Adam membela
"Selama 1 tahun bapak gak ada Kamu yang nafkah in! Kamu yang lunasin hutang - hutang nya. Terus balasan ibumu apa ? Kita di usir dari rumah! Pontang - panting sedangkan aku hamil muda! Hingga aku kekurangan gizi untuk anakku!"
"Ibumu! berfoya - foya dengan santunan menggialnya bapak! tabungan bank koprasi ibumu semua yang pegang. Untuk membeli gelang kalung yang banyak. Sedangkan aku semua perhiasanku, kamu jual demi membayar hutang Alm. Bapak. Aku ngak ungkit - ungkit hanya terlalu sakit untuk di pendam,"
Aku meluapkan apa yang ada dalam hatiku. Yang selama 5 tahun terakhir ini aku pendam jauh dalam lubuk hati ternyata sekarang meledak juga.
Bak bom waktu yang bisa meledak. Ini lah saatnya ia meletus dengan semua panah yang siap menghujam siapapun yang menghalangi langkahnya untuk bicara.
"Sekarang kamu mau atau ngak? Terserah aku tidak mau ada hutang lagi dalam rumah tangga kita! Kalau kamu nekat hutang. Aku akan pergi, Rumah ngontrak anak masih kecil terus saja di repoti sama hutang keluargamu,"
Semenjak hari itu Ibu mertua sangat baik kepadaku. Bagaimana tidak baik, tiap hari aku yang memandikan menyuapi bahkan menjemur pagi hari. ke 2 menantunya yang lain tidak sudi mengurusi ibu mertuaku.
Padahal semasa sehat ke 2 menantu ini lah yang selalu di bangakan. Terlebih istri Mas Bekti yang pulang dari Hongkong.
Tapi apakah ibu mertuaku ini pelaku yang ingin membunuhku? Apa se tega itu beliau ingin melenyapkan aku dan juga cucunya.
1 tahun dari kejadian.
Satu badanku terasa panas, lemas sekali untum sekedar berdiri saja tidak kuat. namun setelah selang beberapa hari muncul duri di belakang leherku.
Seperti susuk yang sudah luntur. Duri ini menancap ke daging rasanya gatal dan sedikit muncul ke permukaan.
Ku ambil pinset aku mengaca dan ku jepit duri itu keluar. Pertama kali yang aku rasakan adalah lega, dan bekas tancapan duri itu terasa panas.
"Apalagi ini? Siapa langi yang mau mencelakai aku?" Ku amati duri sebesar duri bayam itu. Ini adalah kali ke 7 duri itu keluar dan sama. Ketika duri itu akan keluar badanku panas dan lemas.
Tiba - tiba pandangan ku menjadi gelap. Srigala yang dlu membantuku sekarang muncul lagi.
"Siapa yang menyerangku? kenapa masih ada lagi yang jahil,"
"Kau mau melenyapkan manusia biadab ini?"
"Tidak! Aku tidak mau menjadi pembunuh,"
"Kalau kau tidak terlindung ajian kakek mu! Sudah lama kau mati. Tapu tenang manusia laknat ini hanya seorang curut,"
"Buat saja ia mandul,"
Untuk duri ini aku tidak bisa memastikan siapa yang syirik padaku 2 kakak iparku sama - sama belum di karunia i anak. 1. 13 tahun menikah. yang ke 2. 2 tahun menikah. semuanya belum punya anak sementara Dani! Anak itu masih belum menikah.
Sekian sepengal kisah ku! terimakasih sudah membaca.