Itu bunyi gemuruh bukan suara wajan yang dilempar jatuh, begitu Rita berkata pada dirinya sendiri, mengintip ia dari balik sebuah pintu. Sebuah pintu kamar di satu sudut rumah yang hanya memberi sedikit ruang bagi kepalanya untuk melongok keluar. Di situ, sekian detik Rita mencoba untuk tenangkan diri.
Kemudian ia pun bergerak menjauh, dengan lebih dulu menarik nafas lega, sebelah tangannya berkali bergerak menyapu ke dada.
Beberapa jam sebelumnya, dari arah dapur, dengan geram yang teramat sangat, seorang wanita paruh baya baru saja melemparkan sebuah wajan penggorengan ke arah seorang lelaki paruh baya yang berdiri tepat di depannya. Sebenarnya itu bukan lemparan pertama, bisa jadi itu lemparan yang ketiga, keempat, kelima atau... pokoknya setelah beberapa piring dan gelas, itu juga kalau tidak salah.
Perempuan yang selama ini banyak dikenal orang-orang tak ubahnya sebagai sosok bidadari, yang bukan terlihat cuma dari paras wajahnya saja tapi juga pembawaan atau sifat yang kurang lebih sama, lembut dan tenang; Sekonyong-sekonyong berubah menjadi sesosok iblis, sesosok iblis dengan dua tanduk di kepalanya.
Apa sebab perempuan paruh baya itu berlaku seperti itu tidak begitu penting, bukannya tidak mau ambil pusing, tapi ada yang lebih penting dari pada itu, tak lain dan tak bukan adalah apa yang ada di dalam benak si perempuan yang tengah bersembunyi di balik dinding kamar sebuah sudut rumah itu. Si perempuan muda yang beranjak remaja, iya, Rita sendiri.
Telah jauh-jauh hari, lebih tepatnya ketika perempuan baya itu kali pertama menginjakkan kaki ke rumahnya, manakala usianya belum lagi berkepala tiga, dan Rita pun pada saat itu masih lagi berusia kanak; Rita telah meyakini kalau sosok perempuan paruh baya itu sesungguhnya adalah jelmaan dari sesosok iblis; Sesosok iblis bertanduk! Begitulah Rita meyakini, terutama sekali kepada perempuan tua yang sedari bayi telah mengasuhnya, sang Oma, Oma Shinta namanya.
Rita menolak untuk tinggal bersama, ia lebih memilih untuk ikut dan tinggal bersama Oma Shinta, balik ke kampung. Bapak pun tak bisa berbuat apa-apa, kalau perempuan itu telah pula mencegah, dalam beberapa kesempatan berkali ia telah meminta dan membujuk Rita untuk mengurungkan niat. Tapi Rita keukeh--peristiwa itu terjadi tiga hari setelah pernikahan bapak dan perempuan itu selesai dilangsungkan.
Berhari, berpekan, berbulan, dan bertahun pada akhirnya Rita yang telah beranjak remaja dengan sangat terpaksa harus balik ke rumah, oleh sebab harus melanjutkan studinya, tapi yang terutama sekali oleh karena Oma Shinta yang sehari sebelumnya telah pula berpulang ke Rahmatullah--Rita tak punya pilihan.
Rita pun balik ke rumah dengan rasa prasangka yang masih juga sama, kalau perempuan itu sesungguhnnya adalah sesosok setan bertanduk.
Oleh karena prasangka yang melekat kuat di dalam benak tersebut tak ayal Rita terasa canggung kala bertegur sapa, sesungguhnya pun ia menolak untuk bertegur sapa. Rita lebih memilih untuk mengunci diri di dalam kamarnya atau jikapun harus keluar, ia lebih memilih untuk keluar rumah dan berlama-lama bertamu di luar sana.
Pernah satu dua kali Rita bermimpi; Dalam mimpi tersebut, perempuan yang dengan sangat terpaksa harus ia panggil dengan sebutan ibu itu, menjelma menjadi sesosok setan. Sesosok setan yang sesuai dengan apa yang ada didalam gambaran benaknya. Tak ayal mimpi tersebut sekonyong-sekonyong membuat Rita sampai terlempar jatuh dari ranjang tidurnya.
Tapi prasangka dan mimpi tersebut sungguh sangat tidak berkesesuaian dengan kenyataan, setidaknya begitu kata banyak orang, kalau perempuan yang telah menjadi istri dari bapaknya tersebut adalah sesosok perempuan yang berhati malaikat, bukan cuma ringan tangan, alias suka berbagi, tapi juga... bagaimana tidak, sepekan setelah kepergian Rita ikut serta sang Oma, datang seorang perempuan muda ke rumah yang katanya hendak meminta pertanggungjawaban bapak. Untungnya perkara tersebut bisa diselesaikan secara kekeluargaan dan itu bukan kali pertama. Dan yang diluar dugaannya perempuan yang kerap Rita tuduh sebagai jelmaan sesosok setan bertanduk itu ternyata lebih memilih untuk memaafkan perbuataan sang suami.
Dan cerita itu kerap Rita dengar dari setiap mulut yang awalnya ia minta untuk mendengar keluh kesahnya.
Dan kebenaran cerita itu terbukti adanya, kali sekian datang seorang perempuan ke rumah, kala itu Rita sendiri di rumah, perempuan yang kerap Rita tuduh jelmaan sesosok setan bertanduk itu sedang tidak ada di rumah. Berjam-jam perempuan muda itu duduk menunggu hingga habis pula kesabarannya, dengan penuh serapah ia melaknat Rita, dan bukan cuma melaknat tapi juga menuduh kalau Rita adalah... sekonyong-sekonyong, dari arah belakang ada yang menarik bahunya, setelahnya menyusul sebuah tamparan yang mendarat keras di pipinya. Tapi bukan Rita yang melakukan melainkan sesosok perempuan yang kerap ia tuduh sebagai jelmaan sesosok setan bertanduk itu.
"Dia anakku!" Pungkas Perempuan yang kerap Rita tuduh sebagai jelmaan sesosok setan bertanduk. "Dia bukan perempuan murahan seperti kalian, camkan itu baik-baik! Pergi dari rumah kami!" Amuk perempuan yang kerap Rita tuduh sebagai jelmaan sesosok setan bertanduk itu.
Meski begitu Rita tak langsung luluh walau ia pun tak lagi galak menuduh.
Hingga pada satu ketika si lelaki paruh baya yang tak ada lain adalah suaminya, bapak dari Rita, menghampiri perempuan paruh baya itu, setelah tiga hari ia tidak menampakkan batang hidung.
Lelaki paruh baya itu berbicara kepada perempuan paruh baya itu, meminta kesediaan perempuan itu untuk dimadu, iya, ia hendak menikah lagi.
Sebenarnya perempuan paruh baya itu telah mengetahui, sebab cerita itu telah menjadi buah bibir pula, kalau lelaki yang diakui sebagai suaminya itu telah melakukan sesuatu perbuatan yang tidak pantas, yang berakibat pada harus bertanggung jawabnya ia-- kalau selama ini perempuan-perempuan yang datang ke rumahnya hanya meminta uang hasil kerja mereka memuaskan sang suami, tapi sekali perempuan berbeda datang beserta sanak keluarganya, menuntut agar sang suami untuk bertanggung jawab--pun usia perempuan itu tak jauh berbeda dari usia sang anak, Rita.
Tak pelak hujan amuk yang disertai dengan lemparan pun bergemuruh di ruang itu, si lelaki berkali mengelak, sang anak hanya bisa mengintip dari balik pintu sebuah kamar.
Sebenarnya perempuan itu telah merelakan dan ia pun lebih memilih untuk berpisah, tapi manakala si lelaki paruh baya itu mengancam, ia pun amuk sejadi-jadinya. Ancaman tersebut sungguh-sungguh diluar nalar, bagaimana tidak, sang suami mengancam kalau perempuan itu memilih untuk berpisah maka ia akan menikahkan putri satu-satunya, Rita, kepada seorang lelaki uzur yang uangnya kerap ia pinjami. Selama ini perempuan yang kerap Rita tuduh sebagai jelmaan sesosok setan bertanduk itulah yang telah membayari pinjaman tersebut dengan bekerja sebagai seorang pekerja administrasi di sebuah pabrik yang tidak begitu jauh dari rumahnya.