"Malam Mbak." Aries menyapa dengan sopan saat melihat seorang wanita berdiri tak jauh dari kamar kosnya.
Tak ada jawaban hanya tatapannya sendu menatap kosong ke arah Aries. "Permisi Mbak," sapa Aries ulang.
Akan tetapi, tak satu pun jawaban yang Aries dengar. "Aneh ...." Hanya ini yang keluar dari bibirnya dan tak lama memasukkan anak kunci ke pintu, "Hash ... kenapa tiba-tiba tubuhku meremang dan merasa dingin," lirih Aries.
Aries hanya menggeleng, membuang pikiran negatif yang tiba-tiba muncul begitu saja. "Ah. Enggak mungkin, selama satu minggu aku tinggal di sini aman-aman saja," gumamnya sendiri dan kemudian membuka pintu, entah mengapa ada sesuatu yang membuatnya ingin menyapa gadis itu ulang.
"Mbak ...." Suara Aries terputus begitu saja.
"Aneh, lalu ... Mbaknya tadi?"
Aries kembali menggeleng dan masuk dalam kamarnya, meraih handuk dan kembali keluar menuju kamar mandi umum. Pandangannya tak lepas dari kamar yang hanya berjarak dua petak dari kamarnya, berhenti melihat ke arah kamar seakan dia ingin memastikan sesuatu. Aries berulang kali mengusap tengkuknya yang tiba-tiba terasa berat dan bau wangi aneh yang tidak pernah Aries cium.
"Mas ...." Suara lirih seorang wanita memanggil.
Aries seketika menoleh, mencari sumber suara berasal. "Aneh ... lalu siapa yang menyapaku? Bukankah, mereka juga belum pulang."
"Mas ...."
"Siapa?" balas Aries akhirnya sembari tangannya mengusap tengkuk yang tiba-tiba meremang hebat.
Langkahnya yang pelan, suasana lantai dua yang sepi membuat Aries semakin hati-hati, pandangannya tertuju pada kamar yang dilihatnya tadi. "Mas! Tumben sudah pulang," sapa Jono mengejutkan.
"Argh ... kamu! Mengejutkan saja," balas Aries sembari mengusap dadanya.
"Kenapa? Ada apa?" tanya Jono curiga.
Aries menarik tangan Jono sedikit menjauh dari tempatnya berdiri, menatap sekilas ke arah kamar. "Jon ...." Aries memanggil pelan.
"Ada apa?"
Aries tak kunjung menjawab, tetapi netranya terus melihat kamar yang menurutnya aneh. Jono yang melihat gelagat aneh dari Aries seketika ikut melihat ke arah Aries memandang. "Kamu, melihat apa?" tanya Jono berbisik.
"Itu ...." Aries menjawab sembari menunjuk kamar yang di maksud.
"Kamu ... kamar itu, kamar yang tengah?"
"Hem ... benar," jawab Aries jujur.
"Lupakan, sekarang cepat mandi aku tunggu," titah Jono aneh.
"Ta-tapi Jon," tolak Aries tak terima.
Jono tak menghiraukan semua rasa penasaran Aries, mendorong tubuh Aries masuk dalam kamar mandi dan menunggunya sedikit jauh. "Cepat!" hanya ini yang Jono katakan dan kemudian duduk di bangku kecil yang ada di dekat kamar mandi.
Aries dengan semua rasa penasarannya, memilih memnyelesaikan mandinya dengan cepat, keluar dari kamar mandi, langkah Aries kembali terhenti, bibirnya seketika kelu menatap ke arah Jono. Tanganya serasa berat untuk di gerakkan, Aries berulang kali berusaha untuk berjalan, tetapi kakinya serasa terpaku di tempatnya. 'Ada, apa ini?' batin Aries.
"Jo-Jono!" teriak Aries akhirnya.
Jono langsung berdiri menghampiri, bibirnya tersenyum, menepuk bahu Aries beberapa kali. "Masuklah, dulu. Nanti aku akan menyusul," pinta Jono sembari menatap ke arah kamar yang tertutup rapat dan gelap.
"Mas, tidak ada yang aneh 'kan?"
"Ssssttt ... dengarkan," jelas Jono dan menyuruhnya diam.
"Aries, apa kamu bertemu dengan seorang wanita di lantai dua ini?" tanya Jono hati-hati.
Aries hanya mengangguk sebagai jawaban.
Jono langsung menatap Aries, bibirnya kemudian terkembang sempurna. "Akhirnya kamu bertemu juga," ujar Jono puas.
"Ma-maksud Mas Jono?"
"Argh ... kenapa aku yang harus cerita," lirih Jono sembari menggaruk kepalanya, berdiri dan keluar dari kamar Aries.
"Mas, kok pergi!" sergah Aries kecewa.
"Aries, baik-baik di lantai dua, aku kemari hanya ingin berpamitan pulang kampung. Jaga diri baik-baik," jelas Jono dan pergi begitu saja.
"Aneh," kata-kata ini yang kembali keluar dari bibir Aries.
Satu minggu kemudian, Aries kembali di kejutkan oleh kemunculan gadis itu. "Mbak," sapa Aries.
Aries yang merasa di acuhkan, kini hanya membungkuk untuk menyapa ulang dan berlalu begitu saja. Akan tetapi, Aries terkejut saat gadis ini sudah berdiri di depannya. "Mba-Mbak," ujar Aries tak percaya dan menoleh ke arah gadis ini berdiri tadi.
Hanya tangannya yang terayun seakan mengukur jarak, "cepat sekali," lirih Aries sembari berbalik.
"Mbak ...." Panggil Aries terkejut saat gadis itu sudah tidak ada di depannya.
"Mbak ...." Aries memanggil untuk memastikan, mencari keberadaan sang gadis.
"Klik." Suara tombol lampu di tekan.
"Kriieeet ...." Suara pintu berderit.
"Mbak ...." Aires kembali memanggil.
Panggilan Aries yang berulang tak kunjung mendapat jawaban hanya suara-suara pintu yang terdengar terbuka dan tertutup seperti tertiup angin. Rasa penasaran Aries mengalahkan semua rasa takut dalam hatinya. Malam ini benar-benar membuat nyalinya terpacu, melangkah perlahan mendekati suara yang sejak tadi menganggu telinganya.
"Mbak," panggil Aries saat langkahnya berhenti di depan kamar yang tiba-tiba menyala.
"Kosong,lalu .... Aries sembari melongokkan kepalanya untuk melihat ke dalam kamar.
"Aneh ... kamar ini ...." Aries tak melanjutkan ucapannya saat ada yang menyentuh bahunya, tangan dingin yang memegang bahunya erat.
"Si-siapa?"
"A-a-aku," jawab suara berat dan tersengal.
"Tolong ... tolong ...." Suara lirih menyanyat hati.
"Jangan bercanda," tegas Aries kesal.
"Aku tak bercanda, lihat aku."
Aries, berusaha melepas tangan yang terus berada di bahunya, "ke-kenapa tangan kamu dingin sekali," ujar Aries masih dengan posisi yang sama.
"Hihihi ... kamu, takut?"
Mendengar tawa yang aneh, Aries langsung berbalik, tetapi semua prasangka Aries salah besar, Aries tak bisa menemukan gadis yang sedari tadi berdiri di belakangnya.
"Hihihi ... kamu mencari ya? Aku di sini," ujar gadis ini bersamaan angin yang berhembus kencang dan udara malam yang semakin dingin.
"Mbak, jangan bercanda," tukas Aries tak suka.
"Aku tidak bercanda, tengoklah kemari," titah gadis ini.
"Shiit ...." Umpat Aries kesal saat gadis ini mengecohnya untuk kesekian kali.
Aries perlahan berbalik, saat ini netranya benar-benar membola lebar dan tak percaya dengan apa yang dilihatnya, tubuhnya gemetar dan kakinya lemas seketika. "A-ada, ha-hantu ...." Teriak Aries keras, sebelum tubuhnya limbung jatuh ke lantai dan tak sadarkan diri.
Aries kembali tersadar saat aroma minyak kayu putih menohok dalam hidungnya tajam, netranya perlahan terbuka, melihat sekilas di mana dia berada. "Hantu ...." teriaknya tanpa sadar.
"Aries, ingat, sadar. Apa yang terjadi?" tanya ibu kos pelan.
"Bu, ka-kamar itu. Benar kamar yang berada di tengah, kamar itu," jelas Aries.
Mendengar ucapan Aries, ibu kos seketika menatap Aries tak percaya. Bibirnya seketika terkatup rapat seajan menahan suara yang ingin keluar dari mulutnya.
"Maaf," hanya ini yang keluar dari bibir ibu kos, pandangannya kini tertuju ke arah kamar yang terkunci rapat.
"Aries, setelah Ibu cerita nanti, kamu akan pergi dari kos Ibu?"
"Maksud Ibu," jawab Aries bangkit dan memilih duduk bersandar di dinding.
"Apa yang kamu lihat semalam?" tanya ibu kos ulang.
Aries diam sesaat, netranya menatap ke arah tiga temannya yang setia menunggunya termasuk Jono. "Bu, bukankah kamar tengah itu kosong, tetapi semalam saya melihat seorang gadis yang-yang ...." Aries tak melanjutkan ucapannya kembali menatap ke arah Ibu Kos.
"Akhirnya dia menunjukkan diri padamu juga," ujar bu Kos pelan.
Bu kos flashback on
Mungkin ini cerita yang sering anak-anak yang pernah kos di sini termasuk Jono, dia penghuni lama yang masih bertahan. Gadis itu Mbak Ning, dia ... memilih mengakhiri hidupnya dengan menggantung diri di kamar itu tanpa alasan yang tak pernah Ibu tahu. Jasadnya di temukan dua hari setelah kejadian dengan kondisi yang sangat menyedihkan.
Bu Kos flashback end
"Sejak saat itu kos-kosan ini menjadi sepi dan hanya ada Jono, Rusli, Eko dan Dendi yang bertahan dan juga kamu jika kamu mau tetap di sini."
Aries terdiam melihat ke arah Ibu Kos, ada cerita janggal yang Aries terima saat ini. "Lalu, apa hasil otopsi dari pihak rumah sakit?"
"Keluarganya, tak menginginkan jenasahnya untuk di otopsi, mereka langsung membawanya pulang untuk di makamkan," cerita ibu kos.
Aries menilik satu persatu wajah yang duduk di depannya, saat ini ada berbagai pertanyaan yang berkecamuk dalam kepalanya. Napasnya berembus berulang kali untuk melepas semua kegundahan dalam hatinya. Bu kos yang sejak tadi melihat ke arahnya tersenyum, berdiri, menepuk bahunya sesaat. "Ibu tidak memaksa kamu untuk tinggal di sini, pikirkan dengan baik-baik Aries," tukas ibu kos sebelum berlalu meninggalkan mereka.
Setelah kepergian ibu kos, mereka saling berpandangan lewat netranya, mereka seakan menyatukan pendapat dan mencapai kata setuju. "Bagaimana apa kalian merasa ada yang aneh dengan cerita Ibu Kos," bisik Jono akhirnya.
Mereka langsung mengangguk dan duduk semakin mendekat," tutup pintunya," titah Jono pelan.
"Ssssttt ... jangan bicara sekarang, Ibu Kos sekarang sedang membuka pintu kamar tengah," cerita Dendi sembari mengintip.
"Apa kita, perlu melihat dan ikut masuk?" tanya Rusli dam Eko hampir bersamaan.
"Jangan, Ibu Kos akan marah, aku pernah melihatnya saat Ridwan diam-diam mengikuti Ibu Kos masuk kamar itu. Ridwan langsung di usir dan uang sewanya di kembalikan genap enam bulan," cerita Jono.
"Apa? Sungguh aneh," ujar mereka hampir bersamaan.
"Lalu ...." Ucapan mereka terhenti saat mendengar suara batuk ibu kos.
Rusli segera mengintip ke arah kamar tengah, saat ini Rusli tak bergeming sama sekali, tubuhnya terlihat menegang. Eko yang melihat reaksi Rusli seketika mendorong tubuh Rusli begitu saja dan ganti mengintip. Eko langsung menutup mulutnya rapat-rapat, seakan tak percaya dengan apa yang di lihatnya. Eko segera mundur dan mengisyaratkan mereka untuk tenang dan menyibukkan diri.
"Jono keluarkan kartu remi kamu, cepat, sebelum Ibu Kos masuk kemari," titah Eko cemas.
Mereka tanpa mengocok kartu remi langsung membaginya begitu saja, benar yang Eko ucapkan tak lama terdengar langkah kaki mendekat, mengetuk pintu kamar Aries untuk beberapa saat. "Anak-anak," panggilnya.
"Jono intip dahulu," titah Eko khawatir.
Jono yang mengintip langsung membeku, saat ini dia tak percaya dengan apa yang dilihatnya. "Jon ...." Aries memanggil pelan.
Suara ketukan di pintu kembali terdengar. "Kalian tidurlah, biar aku yang membuka pintunya," ucap Aries akhirnya.
Perlahan Aries membuka pintu, senyumnya langsung tersungging saat ibu kos menyerahkan beberapa buku yang sudah tersimpan lama. "Buat kalian, baca-baca," ujar ibu kos datar dan pergi begitu saja.
Aries kembali menutup pintu, meletakkan begitu saja buku yang sudah menguning.
"Apa yang kamu lihat?" tanya Aries penasaran.