Perpisahan adalah bagian dari kehidupan dan pertemuan adalah kenikmatannya. Oleh karna itu, setiap pertemuan pasti ada perpisahan. Perlu di ingat perpisahan bukan lah akhir dari cerita, tetapi awal dari sebuah kenangan yang tak terlupakan. Rasa kehilangan setelah perpisahan adalah harga yang harus dibayar atas indahnya pertemuan yang pernah kita miliki. Jadi jangan pernah bersedih karena perpisahan, bersyukurlah karena kita pernah bertemu.
****
Pagi itu ketika aku sudah sampai di sekolah, ternyata aku datang lebih pagi dari biasanya karena kondisi kelas ku masih terasa sepi tanpa ada siswa didalamnya. Aku pun langsung bergegas menuju tempat dudukku yang dimana letaknya berada di belakang pojok kanan satu baris dengan meja guru. Tanpaku sadari aku mulai tenggelam dalam lamunanku dan tak menyadari bahwa keadaan kelas mulai terasa ramai, hingga tiba dimana teman sebangku ku yang bernama Tia datang dan mengejutkan ku.
"Heyy, pagi-pagi udah ngelamun aja, nanti kesambet loh" sambil menggebrak mejaku.
"Astaga Tia kebiasaan deh" ucapku kesal.
"Hehe, ya habisnya pagi-pagi udah ngelamun, emang ngelamunin apa si?"
"Eh gak, oh iya kemarin kamu bilang hari ini bakalan ada murid baru kan?"
"Iya, emangnya kenapa? Emm aku tau nihh pasti kamu mau deketin si murid itu kan hayooo ngakuu?"
"Ngaco kamu, ya gak lah aku tuh cuma nanya Tia" elakku sambil pasang muka kesal padanya.
“Haha iyaa deh iyaa, tapi kalo mau deketin juga gapapa kok nis” godanya.
“Terserah deh”
Jujur, sebenarnya aku bukan hanya sekedar bertanya padanya, karna saat aku melamun tadi aku sempat memikirkan si murid baru yang diceritakan Tia padaku kala itu. Karna aku berpikir “masa iya pindah waktu udah semester 2 sih kenapa ga nunggu naik kelas aja? atau ga kenapa ga dulu aja si waktu semester 1 nanggung banget pindahnya” pikirku. Aku perpikir begitu bukan maksud apa-apa cuma aku takutnya dia kesulitan mengikuti pembelajaran kedepannya karena perbedaan pembelajaran dari sekolah lamanya.
Setelah jam pembelajaran dimulai, tibalah si murid baru dengan didampingi wali kelasku masuk kedalam kelas dan mulai memperkenalkan diri. Murid baru itu adalah seorang laki-laki yang baru saja pindah dari kota M ke kota S. Murid baru itu berbadan tinggi, putih, manis, dan berambut hitam dengan model two block yang menjadi ciri khasnya. Tapi yang paling mencolok dari laki-laki itu adalah dia tipikal orang yang cuek, irit bicara dan acuh tak acuh. Karna perkenalannya pun terkesan singkat karna hanya menyebutkan nama dan nama sekolah lamanya. Setelah itu, tanpa basa basi dia pun langsung berjalan menuju tempat duduk kosong yang kebetulan berada di samping tempat dudukku. Aku pun terkejut mengetahui kalau dia tipikal orang yang cuek, irit bicara, bahkan acuh tak acuh. Karna biasanya murid baru itu orangnya ceria dan sedikit cerewet untuk bisa berbaur dengan lingkungan barunya. Selama pembelajaran berlangsung aku pun sering mencuri pandang padanya yang sialnya dia tidak peduli bahwa aku mencuri pandang padanya.
Hingga dimana saat istirahat pertama banyak teman-teman kelasku yang mencoba berkenalan dengannya dan mengajaknya bermain, tetapi itu hanya sia-sia karena semua teman-teman ku hanyalah mendapat jawaban singkat dan terkesan tidak ingin diganggu. Setelah teman-teman kelasku pergi akupun memberanikan diri untuk mengajaknya berkenalan denganku karna sebelumnya aku sudah bilang pada Tia untuk duluan kekantin.
"Hai boleh kenalan gak?, kenalin aku Nisa"
"Mafi" jawab laki-laki itu datar sambil membalas jabat tanganku.
"Oh iya kamu ga kekantin?"
"Bawa bekal" jawabnya masih dengan wajah datarnya.
"Oh gitu, emm gimana kalo nanti istirahat ke dua kita kekantin bareng, biar kamu tau tempat kantinnya dimana, mau gak?"
"Boleh"
“Yaudah aku kekantin dulu ya takut keburu masuk” pamitku tanpa menunggu jawaban dia, setelah itu bergegas lari menyusul Tia.
Setelah aku sampai, ternyata kantin sudah mulai ramai dan mulai berdesak-desakan. Akhirnya pun aku memilih kembali kekelas dan memakan cemilan yang tadi pagi sempat aku bawa sebelum berangkat kesekolah. Dan saat aku tiba dikelas ternyata si murid baru sedang menyalin catatan dari pelajaran sebelumnya. Aku pun mendekatinya dan mulai mengajak ngobrol dirinya. Awalnya aku gak terbiasa dengan sikapnya itu. Tapi lama kelamaan sejak aku dan dia mulai berteman dekat aku pun mulai terbiasa, bahkan aku sempat dibuat kaget akan sifat lainnya. Karena dibalik sikap cuek, irit bicara, dan acuh tak acuh ternyata dia anak yang humoris dan ceria. Bahkan teman-teman kelasku dan Tia saja tidak tahu sifat lainnya karna dia lebih sering bersikap cuek, irit bicara, bahkan acuh tak acuh ketika di kelas hanya dengan ku lah dia menunjukkan sikap lainnya itu karna dia lebih dekat padaku.
Hingga tiba dimana kurang lebih sudah 1 bulan dari sejak pertama kali dia pindah ke sekolahku, tiba-tiba dia mengajakku berkunjung kerumahnya untuk berkenalan dengan keluarganya. Aku pun sempat gak percaya bahwa dia akan mengajakku untuk berkunjung kerumahnya. Awalnya aku pun menolak ajakannya itu tapi karna dia terus memaksa akhirnya pun aku mengiyakan ajakannya tersebut. Kupikir rumahnya berada di dekat-dekat sekolah, ternyata lumayan jauh dari sekolah. Jadi mau gak mau kita harus pakai angkot untuk kerumahnya yang jaraknya kurang lebih membutuhkan waktu 10 menit untuk sampai. Bahkan setelah kita turun dari angkot kita masih harus berjalan kurang lebih 1 km.
“Ini rumah aku, yuk masuk” ucapnya sambil menarik tanganku untuk ikut masuk kerumahnya.
“Rumahmu bagus fi, tapi ko sepi?” tanyaku
“Oh mama baru kerja di luar kota, aku dirumah cuma sama eyang, yaudah kamu tunggu dulu disini ya aku mau ganti baju dulu sekalian panggil eyang”
Saat aku sedang menunggu dia di ruang tamu, tiba-tiba mataku tertuju pada bingkai foto yang berisi foto bayi yang manis dan lucu yang berada di gendongan seorang wanita yang aku yakini adalah mamanya mafi. Akupun mendekati bingkai foto itu, tapi sebelum aku sampai tiba-tiba dia dan eyang sudah berada di ruang tamu.
“Sa..” panggilnya.
“Eh (tolehku sambil tersenyum) halo eyang, saya Nisa teman sekolahnya Mafi, izin main ya eyang” ucapku sambil mencium tangan eyang.
“Iya gapapa main aja, kalo bisa sering-sering main kesini ya nemenin Mafi kasihan Mafi gaada temannya dirumah”
“Hehe iya eyang, insyaallah”
“Yasudah eyang kebelakang dulu mainnya didalam aja ya gausah keluar”
“Iya eyang” jawabku dan Mafi bersama.
Setelah itu, akupun bermain dengan Mafi di taman rumahnya yang kebetulan berada di belakang. Kita bermain ular tangga, monopoli, kadang juga bercerita-cerita hal random. Saat kami asyik bercerita, tiba-tiba eyang lewat dan kembali berbicara hingga bercanda bersama kami. Hingga tiba dimana eyang pamit untuk kembali ke kamar untuk beristirahat.
“Yasudah eyang mau istirahat ke kamar, kalian jangan lupa makan ya, makannya udah eyang siapin di meja”
“Iya eyang terimakasih, maaf ngrepotin eyang” ucapku sambil malu-malu
“Gapapa” ucapnya sambil mengelus kepalaku.
Setelah eyang pergi kami pun melanjutkan cerita kami yang sempat tertunda.
“Eh eyang yang kamu lucu fi, haha”
"Eyang orangnya emang gitu, suka ngelawak makanya aku kalo ditinggal mana sendiri sama eyang gak begitu bosen"
"Ouh enak dong, tapi kamu 11 12 loh sama eyang kamu sama-sama suka ngelawak, haha" jawabku sambil tertawa kemudian disusul ketawa dari Mafi.
"Oh iya, mama kamu kapan pulang?" tanyaku
"Mama pulang besok"
"Oh"
"Besok kalau mama aku udah pulang, aku ajak kerumah kamu deh buat kenalan"
"Beneran, janji ya?" sambil mengacungkan jari kelingking ku.
"Iya janji" balasnya sambil tersenyum.
Besoknya pun dia menepati janjinya padaku untuk memperkenalkan mama nya. Awalnya ku kira dia hanya bercanda ternyata dia datang bersama mama nya sore hari. Tapi yang menjadi fokusku kenapa dia datang sambil membawa sebuah layangan dan sebuah senar ditangannya? Aku pun tak bertanya padanya karna mungkin saja layangan itu akan dia pakai dirumah setelah pulang dari rumahku. Saat dia dan mamanya sudah sampai di depan rumah akupun keluar untuk menyambutnya.
“Sore tante, Hai fi” ucapku sambil tersenyum.
"Mah ini Nisa teman Mafi di sekolah yang sering Mafi ceritain ke mama" ucapnya sambil tersenyum padaku
"Hai cantik, ternyata kamu ya orang nya"
"hehe iya tante, oh iya tante sama Mafi silahkan masuk aku mau panggil ibuk dulu"
Akupun masuk dan bergegas mencari ibuk untuk memberitahu bahwa temanku dan mamanya sudah datang. Ku kira orang tua kami bakalan canggung karna baru bertemu, tapi ternyata salah karna orang tua kami malah seperti sudah kenal dekat satu sama lain. Disaat sedang asik duduk mendengarkan obrolan orang tua sambil memakan cemilan, tiba-tiba dia mengajak aku keluar sambil membawa sebuah layangan dan senar yang dibawanya tadi
“Mah, tante, aku sama Nisa izin main ke depan ya, mau main layang-layang“ pintanya.
“Yaudah sana jangan jauh-jauh ya“ ucap mamanya.
“Yukk” aku pun mengikutinya dari belakang hingga tiba di depan rumahku.
"Aku bosen didalam makanya aku ngajak kamu keluar, kamu bisa main layangan kan?"
"Lumayan bisa tapi nanti kamu ajarin aku yaa kalo misalnya aku gak tau”
“Iya, yaudah ayokk mainn"
Sore itu pun kuhabiskan dengan bermain layang-layang bersamanya di depan rumah. Rasanya sangat menyenangkan hingga tak kerasa sudah hampir mendekati magrib, hingga dimana dia dan mamanya pun harus pamit pulang. Jujur rasanya ga terima kalo dia pulang, ntah karna apa.
Hari-hari pun kami lalu bersama-sama. Keluargaku dan keluarganya pun sudah menganggap kami seperti anak mereka sendiri. Kami selalu kemana-mana bareng sampai dikira kita pacaran sama orang-orang. Hingga waktunya tiba, hari yang berat buat aku dan dia, karna dia harus pindah lagi ke luar kota bersama keluarganya. Aku pun sendiri tak tahu apa penyebab dia dan keluarganya pindah, karena dia tidak mau menceritakannya padaku bahkan tante sendiri tidak menceritakan alasannya pada ibuku.
"Kamu yakin bakalan pindah lagi?" tanyaku
"Iya, sebenarnya aku juga gak mau pindah lagi, karna aku udah seneng tinggal disini apalagi ada kamu yang jadi temen aku kemana-mana. Tapi aku juga gak bisa ngelawan mama buat tetep tinggal disini"
"Udah gapapa, nanti kita bakal bisa ketemu lagi kok atau gak kamu juga bisa kok main kesini lagi pas waktu liburan" ucapku sambil menghibur dia
"Tapi aku juga gak tau bakalan balik kesini atau menetap disana, atau bahkan pindah lagi. Aku takut kalau disana aku gak ada temen kaya kamu, kamu tau sendiri kan aku orangnya gimana" jawabnya sambil menatapku dengan tatapan sedih
"Iya aku tau kok, udah ya gak usah sedih kita masih bisa berkabar kok. Aku juga yakin kalau disana kamu bakalan dapet banyakkkk temen yang lebih dari aku bahkan lebih dari temen-temen disekolah, yakin deh" ucapku sambil tersenyum.
"Hehe iya semoga aja. Makasih ya Nis kamu udah mau jadi temen aku selama aku disini" Ucapnya sambil memelukku.
"Haha iyaa sama-sama, udah ahh daripada sedih-sedih gini, mending kita main aja yukk buat terakhir kali sebelum kamu pindah, mau kan?, udahhh ayokk gausah kelamaan mikir" ajakku sambil menarik tangannya.
Sejak hari itu, hari dimana dia dan keluarganya datang kerumahku untuk berpamitan. Dihari-hari berikutnya aku pun sudah tidak pernah lagi mendengar kabarnya. Bahkan hingga saat ini pun aku masih berusaha mencarinya, tapi dia seperti hilang ditelan bumi. Aku pun hanya bisa berdoa semoga dia disana baik-baik saja. Dari cerita ini aku bisa tahu bahwa setiap ada pertemuan pasti ada perpisahan. Walaupun kita tidak menginginkan perpisahan itu, tapi jika sudah waktunya kita hanya bisa ikhlas dan sabar.
Karya : BOCHIE