Rara mengernyit, gurat wajahnya memucat, sekian menit ia coba alihkan pandang, berpaling, menatap ke arah yang berlawanan, sambil sesekali mulutnya berkomat-kamit, hingga sesuatu yang berasal dari lubang telinganya bersuara, memerintahkannya untuk kembali bergerak, seseorang mengamatinya dari kejauhan, dari sebuah layar monitor.
Rara menghembus dan menarik nafas, itu terdengar cepat dan panjang, satu dua tarikan nafas, sepertinya ia mencoba untuk mengumpulkan kekuatan, memberanikan diri, perlahan-lahan kepala yang menoleh ke samping itu coba ia gerakkan balik ke posisi awal, menatap lurus ke jalan yang ada di... Sekonyong-sekonyong Rara mengusap dadanya, ia terlihat lega, tampaknya sesuatu yang sempat menghalangi jalannya sudah... Tapi sekian detik kemudian, Rara kaget, menjerit memekik, ada yang mencengkeram bahu kirinya.
Bukan cuma Rara yang kaget, pun yang mengamati dari kejauhan juga ikutan, sampai terlonjak jatuh, terlebih-lebih ia yang menepuk bahu kiri itu, ikutan menjerit dan memekik.
Mendengar suara pekikan yang kurang lebih hampir sama, tanpa bak-bik-buk, alias pikir panjang Rara pun sekonyong-sekonyong berlari dengan kecepatan tinggi, kencang.
Rara sudah gak ada bedanya dengan hulu ledak yang ditembakkan oleh serdadu di medan perang sana. Yang di belakang ikutan berlari, mengejar, dengan sebelah tangan yang terjulur ke depan, seraya memanggil-manggil. "Rara... Rara... Tunggu gue.... Woii....!"
Lorong yang panjang dan gelap itu ditelusuri dengan berlari tanpa jeda, sampai Rara keletihan sendiri.
Rara menghentikan langkahnya, bergerak menyenderkan tubuhnya, pada sebuah permukaan dinding batu di samping kanannya. Kepalanya kemudian ia tolehkan ke belakang, dengan mata yang membuka lebar, menatap ke arah lorong gelap yang tadi ia jalani, matanya seperti mencari-cari.
Lorong itu benar-benar gelap!
"Sialan! Sialan!" Rara mengumpat galak. Tangannya bergerak mengusap keringat yang membanjiri dahinya.
"Rara monitor. Rara monitor!" Sesuatu di telinganya kembali bersuara. Rara menyahut. "Delapan enam!"
"Loe kenapa!?" Tanya suara di telinganya. Terdengar deru nafas Rara memburu. "Bahu gue..." Rara bergidik. "Bahu gue dicengkeram sama..."
"Itu si Gadis, Rara." Ucap suara di telinganya, menyela. Rara sontak kaget bercampur bingung. "Si Gadis!?"
"Loe udah berhasil nemui tuh orang tapi loe malah..." Kata suara di telinga, menghardik kesal.
"Kok loe tahu itu si Gadis!?" Tanya Rara yang masih terlihat bingung bercampur gelagapan juga. "Gue tadi sempet denger teriakannya memanggil-manggil nama loe!" Seru yang mengamati dari kejauhan.
"Masak sih," dengus Rara.
"Sekarang loe segera balik kanan, loe susul tuh si Gadis. Gue yakin kalau tuh bocah nyusul loe. Buruan sebelum tuh anak koit karena kecapaian ngejar loe!" Perintah suara di telinganya.
"Dasar tuh gadis manja! Bikin perkara aja! Udah dibilang jangan masuk, jangan masuk, malah..." Rara ngedumel kesal. "Kalau bukan sepupu gue, udah gue..."
"Woii! Kok loe malah curcol sih! Buruan...!" Perintah suara yang di telinga.
"Loe yakin tuh si Gadis!?" Rara masih meragu. "Gue yakin seribu persen!" Ucap suara yang mengamati dari kejauhan.
Rara menegakkan badan, ia bersiap-siap untuk balik masuk ke dalam lorong gelap tersebut. Rara menarik nafas panjang. "Dasar bocah kuntilanak!" Gerung Rara menghentakkan kaki, kemudian berjalan balik memasuki lorong gelap itu.
Dengan bantuan lampu senter yang nangkring di kepala, lorong gelap itu pun dapat ditelusuri dengan mudah, tapi mau sampai berapa lama.
Yang mengamati dari kejauhan menggeleng was-was. " Rara... Rara... Rara..."
"Emang si Rara kenapa!?" Tanya seseorang yang menegur dari arah belakang. "Lagi masuk ke dalam terowongan itu nyari sepupunya si Gadis." Kata yang mengamati dari kejauhan tanpa menoleh ke belakang, pandangan matanya tertuju lurus ke layar monitor di depannya.
Disitu hanya terlihat lorong-lorong yang temaram, yang sepertinya itu menjadi temaram karena bantuan dari cahaya dari sinar lampu senter yang menggantung di kepala dan dengus suara, jelas itu dengus suara Rara. Ternyata ia juga menyertakan sebuah kamera yang menempel tepat di atas lampu senter tersebut.
"Emang gue kenapa!?" Tanya seseorang yang bergerak mendekatkan kepalanya ke bahu kiri dari seseorang yang mengamati dari kejauhan tersebut. "Gue kena-pa apa mak-sud lo-e!?" Ulang seseorang yang mengamati dari kejauhan itu, dengan terbatah-batah, yang sepertinya ia tersadar maksud dari pertanyaan yang terlontar tersebut, ia menoleh ke pemilik suara, sekonyong-sekonyong ia terlonjak kaget, telunjuknya menunjuk-nunjuk ke layar monitor. Di sebelahnya menatap kebingungan. "Tadi gue pup di sana!" Katanya menunjuk ke sebuah arah.
"Pup!?" Ulang suara yang mengamati dari kejauhan itu dengan gurat wajah yang ketakutan. Ada kepala yang terangguk-angguk. "Terus yang tadi gue lihat masuk ke dalam lorong terowongan itu siapa!?"
Ada kepala yang menggeleng-geleng cemas. "Terus Rara lagi nyusul siapa!?" Tanya suara yang mengamati dari kejauhan itu dengan ketakutan yang teramat sangat. Kepala tersebut kembali menggeleng. Yang mengamati dari kejauhan sontak melirik ke orang di sebelahnya. "Coba loe berdiri tegak."
Ada yang berdiri tegak. Yang mengamati dari kejauhan melirik orang yang berdiri tegak dihadapannya, dari atas ke bawah, dari bawah ke atas, berkali.
"Gue, Gadis, Tom." Kata orang yang berdiri tegak, menunjuk-nunjuk ke dadanya. Yang mengamati dari kejauhan mengangguk-angguk pelan. "Napak kok! Terus...." Yang mengamati dari kejauhan sekonyong-sekonyong bergidik ngeri. Sekian detik sepasang mata saling bersitatapan bingung.
Dari dalam lorong gelap ada suara yang memanggil-manggil. "Tom... Tom... Monitor... Tom. Tommy monitor..." Tak ada balasan, suara sepi dan senyap. Panggilan ia ulangi, sampai, lampu senter di kepala itu seketika mati mendadak. "Tommy monitor..." Rara meninggikan suara.
"Tommy monitor... Tommy monitor..."
Tak ada balasan. Sepi dan senyap!