Seorang gadis yang selalu muncul di benakku itu adalah gadis yang benar-benar tidak bisa dilupakan olehku. Tak hanya meninggalkan sebuah perasaan abadi, ia juga meninggalkan segelintir kenangan.
Berawal dari sebuah pertemuan singkat yang ada di kelas 8 SMP, ia mendekatiku dan menanyakan beberapa hal mengenai pekerjaan rumah sebuah pelajaran.
Dengan mudahnya aku memberitahukan padanya, aku terpana oleh keindahan yang ada di depanku itu.
Apakah ia cantik? Tidak, ia hanyalah gadis biasa. Pintar? Kurasa tidak juga. Bersifat baik? Aku akan bilang bahwa ia adalah definisi gadis yang akan digolongkan standar rendah oleh beberapa lelaki.
Namun, satu aspek yang membuatku terpana saat melihat gadis itu. Dan aku rasa, dengan adanya aspek ini aku tidak bisa mendekatinya lebih jauh lagi, karena bukan ranahku.
Aspek yang aku maksud adalah aspek agama, aku tidak akan bilang bahwa ini mengekangku, melainkan aku tahu batasan-batasan yang melebihi batas moral ataupun batas wajar, untuk itu aku tidak memberanikan diri untuk bermacam-macam dengan moralitas yang ada dalam agamaku ini.
Aku selalu memandang indah pada gadis itu, senyumannya yang tak pernah aku lupakan. Beberapa kali aku menatapnya melebihi batasku, aku segera memalingkan wajahku.
Beberapa kali aku menanyakan pada diriku sendiri, sebenarnya apa yang sedang aku lakukan selama ini, menatap seorang gadis tanpa tujuan, mengharapkan sesuatu dari seorang gadis, bukankah aku sudah gila?
Temanku selalu mengingatkanku, bahwa yang kulakukan selama ini sudah berada dalam tahap keanehan seorang bergama sepertiku.
Mencintai seorang manusia yang bukan keluarga, sudahlah tidak mendapatkan perasaan yang serupa dari gadis itu, ditambah lagi melakukan 'hal yang sia-sia' selama ini.
Aku bukanlah seorang yang suci atau semacamnya, aku juga tidak pernah menyalahkan orang lain yang punya hubungan romansa. Hanya saja... Heh, sepertinya aku yang bermasalah sendiri.
Di kemudian hari, setelah aku sedikit lebih mengenal gadis itu, aku mengetahui bahwa dia adalah seorang penghafal kitab suci di usia yang masih muda ini.
Membuatku sedikit menjauhinya, karena kalau aku mengganggu konsentrasinya sebagai seorang penghafal.
Entah kebetulan saja atau bagaimana, seorang manusia yang sedang menghafalkan sesuatu lalu bertatapan dengan lawan jenis dan membuat hatinya bergejolak, maka kan membuat materi yang dihafalnya memudar.
Kenaikan kelas tiba, pembagian raport dihadiri oleh para orang tua. Aku tidak paham lagi dengan perasaanku, kala itu aku memberitahukan tentang gadis itu pada ibuku yang menghadiri pembagian raport.
Ibuku tidak menjawab apapun, hanya mengelus-elus kepalaku.
Di tahun ketiga ku di SMP, aku kembali sekelas dengannya lagi. Kali ini aku sedikit ingin menjauh darinya, karena ya... Tidak perlu aku jelaskan lagi.
Datanglah hari kelulusan, aku dan gadis itu akhirnya memiliki jalan masing-masing, SMA yang berbeda.
Selama 3 tahun di SMA, aku selalu terpikirkan keindahan masa SMP ku itu, dimana aku bisa mengenal gadis yang membuatku bersemangat setiap harinya.
Setelah kelulusan di SMA, aku bekerja di tempat pamanku sebagai seorang pedagang bakso di sebuah lembaga sekolah.
Dan...
Aku kembali bertemu dengan gadis itu, kali ini ia datang sebagai seorang guru di TK, di lembaga tempatku bekerja.
Sebenarnya sama seperti sebelumnya, aku tidak sebegitu dekatnya dengan gadis ini. Hanya saja, setiap hari ia menyapaku yang bekerja.
Dan ya, inilah akhirnya, aku dan gadis itu jarang berinteraksi, namun aku dan ia berakhir dalam satu ikatan abadi yang disebut pernikahan.
Tidak pernah terbayang sebelumnya olehku, bahwa aku akan menikah dengan seseorang yang aku idolakan selama ini.
Aku yang sebelumnya benar-benar tidak ingin "menyentuh" atau "mengotorinya", apakah ini takdir yang wajar untukku yang selalu menjaga perasaanku?
Who knows...